Menikmati Kuliner India di Mustafa Centre (Singapore Getaway Part 5)

30 Agustus 2014

Ada yang lupa,” ujar gue tiba-tiba mengagetkan Diah di dalam kereta menuju Little India.

Apaan?” tanya Diah penasaran.

Kita kan mau ke Red Dot Design Museum di Chinatown.”

Oiya…

Kami menertawakan kelupaan tersebut. Mungkin karena kami kelaparan sehingga yang dipikirkan hanya makanan saja sehingga ingin buru-buru ke Little India. Padahal kami sudah merencanakan datang ke museum tersebut sejak masih di Indonesia karena Diah suka semua hal tentang desain. Keluar dari Stasiun MRT Little India, kami menemukan sebuah bangunan pasar yang mirip dengan Pasar Senen di Jakarta. Deretan kios itu menjual banyak barang mulai kebutuhan sehari-hari hingga minyak wangi.

Kita mau makan di sini?” tanya gue sambil menunjuk foodcourt bertuliskan Tekka Food Centre.

Bukan, bukan di sini.

Terus di mana? Bukannya di sini. Itu tulisannya food centre.

Kita makan di Mustafa Centre saja seperti yang direkomendasi teman gue kemarin malam.”

Gue menyetujui usul Diah dan mulai mencari jalan di mana letak Mustafa Centre. Kami melihat peta dan ternyata jaraknya tidak dekat dengan Stasiun MRT Little India. Namun kami hanya perlu lurus saja menyusuri jalan yang terlihat bersih dengan sedikit kendaraan melintas. Seperti di Chinatown, di atas jalanan Little India juga terdapat hiasan yang menggantung. Kali ini berupa kelopak bunga berwarna ungu dengan sulur kuning di kedua sisinya.

IMG_3139

Sepanjang jalan yang kita susuri banyak ruko seperti restoran, agen perjalanan, toko bahan pakaian dan lainnya. Juga ada kuil yang pintu gerbangnya sama dengan Sri Mariaman Temple di Chinatown. Mungkin memang semua pintu gerbang kuil di Singapura modelnya seperti itu. Setelah berjalan agak jauh, akhirnya kami menemukan Mustafa Centre yang terletak di kanan jalan dari arah Stasiun MRT Little India. Di dalam Mustafa Centre ini bentuknya seperti ITC di Jakarta yang menyediakan apapun yang kita cari. Tidak perlu kemana-mana, semua dijual di sini dengan kualitas bagus tetapi harga murah.

Sesuai dengan tujuan semula, kami ke sini bukan untuk membeli oleh-oleh, melainkan untuk makan siang. Menurut petunjuk salah satu pramu wisma, letak tempat makannya berada di gedung baru sehingga kami harus turun ke basement. Dari sana kami tinggal berpindah dan melintas di penghubung gedung lama dan baru. Dari gedung baru, kami mengikuti petunjuk restoran yang ada di lantai. Petunjuk bergambar jejak kaki tersebut mengantarkan kami ke depan lift. Ternyata letak tempat makan tersebut berada di lantai paling atas.

Yang kami temukan ternyata bukan foodcourt, melainkan restoran bernama “Handi Restaurant & Cafe.” Pelayannya menawarkan kami untuk menikmati hidangan ala buffet.  Namun kami lebih memilih untuk bersantap siang ala carte saja. Menu yang kami pilih adalah dua jenis roti yaitu Plain Naan dan Laccha Paratha. Perbedaan keduanya adalah Naan itu seperti roti kebanyakan yang beragi sedangkan Paratha tidak beragi seperti roti cane. Selain itu kami memesan Palak Paneer dan Chicken Tikka Masala. Palak Paneer adalah makanan vegetarian berkuah kari hijau yang berasal dari bayam. Di dalamnya terdapat keju yang dipotong dadu. Untuk menu non vegetarian kami memesan Chicken Tikka Masala. Di dalam kuah kari pedas dengan rasa rempah-rempah yang kuat terdapat potongan ayam. Semua makanan terasa lezat dan nikmat dengan porsi yang cukup untuk kami berdua. Menurut gue, kuliner khas India ini lebih enak daripada yang dihidangkan di Komala’s Sarinah Thamrin dan Koh E Noor Plaza Festival Jakarta.

IMG_3149

Gila! Panas banget,” ujar gue setelah kami keluar dari Mustafa Centre. Sinar matahari siang hari itu luar biasa menyengat kulit kami. Apalagi jarang sekali pohon yang ada di Little India.

Gerah begini, keringatan. Pulang ke hotel saja apa ya?”

Iya deh, masa’ bawa-bawa kantung plastik begini ke Orchard?” ujar Diah sambil menunjukkan barang belanjaannya di Chinatown.

Kami memutuskan untuk kembali lagi ke hotel untuk menaruh barang, mandi dan tidak lupa beribadah. Baru pada pukul empat tiga puluh sore kami pun berangkat kembali menuju Orchard Road. Namun, kami tidak turun di Stasiun MRT Orchard melainkan di Stasiun MRT Somerset. Stasiun MRT tersebut terhubung langsung dengan mal 313@Somerset. Kami sempat memasuki beberapa toko branded yang sebenarnya juga ada di Jakarta. Diah ingin mencari dompet untuk dirinya sendiri. Namun sampai keluar dari mal tersebut, kami tidak membeli apapun. Kami berpikiran bahwa mungkin saja akan ada barang yang lebih bagus di mal-mal lainnya.

Dari Somerset road, kami berjalan hingga Orchard Road. Karena begitu ramai, trotoar yang cukup lebar jadi terlihat sempit. Yang paling mengejutkan buat gue adalah terdengar nyaringnya kicau burung-burung di pepohonan sepanjang Orchard Road. Gue jadi membayangkan suasana ini bisa dinikmati juga di pinggiran Jalan Thamrin-Sudirman. Walaupun pada kenyataannya sekarang di jalan tersebut banyak  pohon yang ditebang untuk keperluan pembangunan stasiun MRT.

Takashimaya di mana sih yah?

Emang lo mau ke mana?” Diah balik bertanya.

Gue mau ke Kinokuniya.

Ya sudah lo ke Kinokuniya, gue mau ke Charles & Keith. Nanti kita SMS-an saja.

Sebenarnya membeli buku di Singapura tidaklah terlalu dianjurkan. Karena harganya tidak jauh lebih murah dibandingkan di Jakarta. Namun gue berhasil menemukan dua buku karya Shel Silverstein yang cukup sulit ditemui di toko buku Jakarta. Gue juga membeli tiga buku pemenang Newberry Medal Award  yang tipis kemungkinannya dijual di Indonesia.

IMG_3321

Sehabis belanja buku, kami kembali naik MRT menuju Stasiun MRT Clarke Quay. Banyak orang di Singapura yang menghabiskan waktunya untuk makan dan berkumpul di Clarke Quay. Di sana, kita dapat menemukan banyak sekali bar atau restoran yang berada di pinggir sungai. Sebenarnya kalau dilihat sungainya tidak jernih ataupun lebar. Namun dengan tambahan perahu wisata membuat sungai ini menjadi lebih menarik dan mendatangkan banyak wisatawan.

IMG_3172

Duduk dulu deh. Pegal banget kaki gue, kaki rasanya mau copot,” keluh gue.

Kami pun duduk sejenak di bangku yang terbuat dari sejenis batu di pinggir sungai tersebut. Sekadar mengambil waktu untuk meluruskan kaki dan mengatur napas. Setelah cukup beristirahat, kami kembali lagi menuju hotel. Di kawasan Bencoolen tempat kami menginap, suasana sangat ramai seperti malam sebelumnya karena penyelenggaraan Night Festival. Masih ada pertunjukan laser di Singapore Art Museum dan pagelaran musik di depan National Museum.

Wah Kopi Tiam-nya ramai banget. Lo enggak mau ya beli mi instan saja di 7 eleven terus makan di kamar,” tanya gue.

Gue sih enggak apa-apa.

Malam belumlah larut tetapi kami sudah kelelahan. Kami hanya duduk di kamar sambil menyuapkan mi sebagai makan malam. Dan, sayup-sayup terdengar keriuhan dari luar sana…

(bersambung)

One thought on “Menikmati Kuliner India di Mustafa Centre (Singapore Getaway Part 5)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s