Menyusuri Lorong Chinatown (Singapore Getaway Part 4)

30 Agustus 2014

IMG_3075

Kalau menurut peta sih lurus saja,” ujar gue ketika keluar dari Stasiun MRT Chinatown.

Ramai banget yah di sini. Meriah..” tambah gue.

Gue langsung jatuh cinta dengan kawasan Chinatown sejak pertama kali melihatnya. Di sisi kanan dan kiri tempat gue berdiri terdapat jejeran ruko berlantai tiga dengan cat warna warni berjendela besar khas tempo dulu. Ruko-ruko ini mengapit lorong di mana banyak pedagang kaki lima yang menajajakan barang jualannya. Sebagian besar merupakan souvenir atau oleh-oleh khas Singapura. Ada tas, dompet, kaus gantungan kunci, tempelan kulkas, luggage tag dan lainnya. Semua barang tersebut dijual cukup murah untuk ukuran Singapura.

Mampir dulu yuk, Run. Tanggung sudah sampai sini.

Ya sudah, yuk..

IMG_3077

Sebelum kami berangkat ke Singapura, gue memang sudah memberitahukan Diah kalau tidak berniat membeli apapun. Tidak ada anggaran khusus untuk membeli oleh-oleh. Namun sekadar menemani untuk berbelanja, guie tidak masalah. Kami mampir ke salah satu toko yang tidak jauh dari pintu keluar stasiun.

Lo mau beli oleh-oleh?” tanya gue.

Iya, buat teman-teman gue.

Sekarang? Nanti saja kali yah. Kita putar-putar dulu. Siapa tahu ada yang lebih murah.

IMG_3083

Kami memulai petualangan dari Chinatown Heritage Centre. Kami meminta petunjuk pada seorang penjaga tentang tempat-tempat yang dituju. Tidak berapa lama berjalan, kami menemukan The Tintin Shop di sebelah kiri jalan. Gue mengetahui toko ini pertama kali dari blog teman gue, Farah. Sejujurnya gue tidak terlalu mengidolakan atau menggemari Tintin. Mungkin hanya sekitar sepuluh dari semua bukunya yang sudah gue baca. Walaupun begitu, gue punya koleksi yang lengkap untuk semua serinya. Di toko ini, tentu saja semua barang yang dipamerkan/dijual berhubungan dengan kisah Tintin. Harga barang-barangnya cukup mahal bahkan untuk bukunya. Gue juga tidak menemukan pembatas buku yang menarik untuk dibeli. Cukup singkat kami berada di toko ini dan keluar tanpa membeli apapun. Namun kalau ada kesempatan datang ke Singapura lagi, gue akan meluangkan waktu lebih banyak di The Tintin Shop.

IMG_3080

Keluar dari toko, kami melanjutkan perjalanan ke arah jalan raya. Deretan tenda kaki lima berhenti persis di depan sebuah kuil hindu, Sri Mariamman Temple. Di atas dinding samping kuil tersebut bertengger patung sapi yang berdampingan dengan burung-burung hidup. Bagian depannya persis berada di pinggir jalan raya. Di gerbangnya terdapat banyak sekali patung yang sepertinya merupakan dewa-dewi berdempetan hingga enam tingkat hingga puncaknya. Kuil ini dikunjungi banyak orang, tidak hanya oleh umat yang ingin bersembahyang tetapi juga pengunjung lainnya yang sekadar ingin melihat.

IMG_3092

Mau masuk enggak?” tanya Diah.

Duh, mesti lepas sepatu. Lo saja yang masuk. Sepatu gue ribet. Sekalian bawa kamera gue, nanti lo foto-foto di dalam.

Tidak lama kemudian, Diah keluar lagi. “Bayar, Run kalau mau foto.

Ya sudah, enggak usah,” jawab gue.

Gue mengambil kamera di tangannya. Diah kembali masuk kuil, sedangkan gue menyeberang South Bridge Road yang tidak terlalu ramai untuk mengambil foto Sri Mariaman Temple dari jarak jauh. Di atas jalan terdapat bunga-bunga beraneka warna yang menggantung. Terlihat seperti origami berbahan kertas, meskipun rasanya tidak mungkin. Karena kalau terguyur hujan, bunga tersebut pasti akan hancur berantakan. Namun apapun itu, aksesoris tersebut berhasil memeriahkan jalanan sepi.

IMG_3099IMG_3095

Ke kiri, Masjid Jama’e. Ke kanan Museum Buddha Tooth Relic.”  Gue memberikan pilihan kepada Diah.

Ke kiri dulu saja.

Kami pun berjalan menuju masjid yang ternyata lokasinya dekat sekali dengan kuil.

Ini kayak pesantren di kampung-kampung. Benar yah, banyak banget masjid di pelosok Indonesia yang bentuknya lebih bagus dari ini,” ujar gue saat melihat bangunan masjid hijau berlantai satu.

Kami pun akhirnya berbalik arah untuk mencari Museum Buddha Tooth Relic. Setelah bertanya, kami menemukan vihara atau klenteng tersebut. Bangunan tiga lantai tersebut terlihat megah dan elegan. Seperti kebanyakan kelenteng, merah menjadi warna yang dominan.  Dari luar, gue melihat beberapa umat sedang bersembahyang persis di bagian tengah antara gerbang dan bangunan utama. Suasana lebih berwarna dengan lilin dan bunga memenuhi bagian tengah bangunan utama di depan patung Buddha besar yang diapit dua dewi. Sedangkan di bagian sisinya terdapat banyak patung  Buddha dan dewa-dewi di dalam kotak-kotak terbuka. Untuk memasuki bangunan ini harus berpakaian sopan dengan lengan tertutup. Namun tidak perlu khawatir jika pakaian tidak memenuhi standar tersebut karena mereka akan meminjamkan selendang untuk menutupinya.

IMG_3111
IMG_3124
IMG_3125
IMG_3131

Sampai akhirnya keluar dari pintu belakang, gue tidak menemukan bagian mana yang memperlihatkan peninggalan berupa gigi Buddha. Bagian belakang dari klenteng langsung terhubung dengan pasar yang tadi kami lewati. Ada tawa banyak orang yang jarang terdengar di Singapura. Ternyata suara tersebut berasal dari kerumunan orang yang tampak seperti melakukan  team building. Kami kemudian menyusuri trotoar di bagian samping kuil. Di bagian atap yang menaungi trotoar tersebut, terjejer rapi lampion merah bertuliskan huruf kanji.

IMG_3134

Tujuan kami berikutnya adalah Maxwell Food Center yang terlihat dari depan Museum Buddha Tooth Relic. Setibanya di sana, sudah banyak orang sehingga agak sulit mendapatkan meja kosong. Ada banyak pilihan makanan yang sebagian besar khas pecinan. Sambil menunggu dan memilih-milih, gue mencoba beancurd rasa coklat.

Enak, rasanya kayak puding cokelat. Cobain deh,” ujar gue sambil menyodorkan mangkuk plastik ke Diah. Puding dingin tersebut menyegarkan kerongkongan gue yang kering.

lo mau makan apa?” tanya gue.

Kayaknya enakan yang tadi kita lihat di Chinatown Food  Street itu deh, Run.

“Mau makan di sana aja?”

Iya kayaknya.

IMG_3137

Akhirnya kami pun beranjak dan berjalan ke Chinatwn Food  Street yang terletak dekat di antara kuil dan klenteng. Memang di sana jenis makanannya lebih beragam.

Habis ini kita mau ke mana?” tanya Diah.

“Little India,” jawab gue singkat.

Kalau kita mau makan makanan India, kita makan di sana saja.

Gue pun mengiyakan pendapatnya dan kembali menuju stasiun MRT. Sebelumnya kami mampir terlebih dahulu ke kios yang tadi dimasuki. Diah sibuk memilih luggage tag untuk oleh-oleh. Sedangkan gue sibuk memikirkan nikmatnya roti prata nantinya…

(bersambung)

2 thoughts on “Menyusuri Lorong Chinatown (Singapore Getaway Part 4)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s