Melihat Singapura Dari Puncak Marina Bay Sands (Singapore Getaway Part 2)

29 Agustus 2014

Lo yakin jalannya lewat sini?” tanya gue yang berpikir kami sudah salah memilih jalan menuju hotel sehabis makan di Food Summon.

Seharusnya sih benar,” jawab Diah singkat.

Itu kuil apa?” tanya gue lagi, sambil menunjuk kuil yang sedang ramai dikunjungi.

Diah, itu Sri Krishnan Temple. Berarti kita malah menjauh dari hotel. Kalau begitu , kita balik arah saja.

Kami pun berbalik arah dan mulai lebih teliti dalam melihat petunjuk jalan. Akhirnya kami mulai menemukan titik cerah setelah melihat papan petunjuk untuk parkir di Hotel Bencoolen. Mengikuti petunjuk tersebut, kami masuk ke jalan yang sepi menuju parkiran di belakang hotel. Kami agak kesulitan menemukan jalan menuju hotel, karena memang tepat di depannya sedang dibangung stasiun MRT baru yang menyebabkan beberapa ruas jalan ditutup.

Kamarnya di-upgrade jadi deluxe. Superiornya penuh,” ujar Diah setelah check in.

Gue senang mendengar berita ini karena mungkin saja keberuntungan ini menjadi pertanda baik dalam memulai petualangan kami. Kamar yang kami dapatkan minimalis tetapi nyaman. Apalagi ada free wi-fi sehingga kami bisa tersambung dengan media sosial yang terpisahkan selama beberapa waktu. Sebenarnya bukan karena sok harus menginap di hotel. Namun ketika kami mencari hotel di Agoda, harga hostel dan hotel tidak berbeda begitu jauh. Lalu mengapa harus menginap di tempat yang menawarkan lebih sedikit fasilitas tetapi harganya sama saja dengan yang lebih baik?

*Sumber: Website Hotel Bencoolen*

Tidak memiliki banyak waktu, sehingga kami hanya beristirahat sebentar dan beribadah. Kami kembali menaiki kereta dari Stasiun MRT Bras Basah yang masih saja lengang. Turun dari kereta, kami mendapati bahwa Stasiun MRT Bayfront terintegrasi dengan kompleks Marina Bay Sands. Kami menuju lobi hotel dengan melewati deretan toko bermerk kelas atas. Sesampainya di lobi, kami langsung duduk di dekat sekumpulan wanita cantik yang memainkan instrumen musik khas Negeri Panda.

“Teman lo datang pukul berapa?” tanya gue.

“Mag sih jam enam. Kalau Dawn baru kelar kerja jam setengah tujuh.”

Waktu baru saja menunjukkan sekitar pukul lima sore. Lebih cepat dari waktu janjian yang disepakati. Kami berangkat lebih awal karena  takut MRT akan penuh dengan orang pulang dari sekolah atau kantor jika berangkat lebih sore.

“Muter-muter saja dulu kali ya.”

Kami berputar-putar menuju pusat perbelanjaan. Lagi-lagi melewati toko-toko dengan merk yang terkenal. Kami hanya lewat tanpa masuk. Kemudian saling memberikan informasi apakah toko-toko tersebut bisa kami dapati di Jakarta. Bosan dengan mal tanpa belanja, kami keluar dari gedung. Pemandangan sebuah kolam dengan bunga-bunga teratai berwarna ungu yang mengapung langsung menarik perhatian kami.

IMG_2967

Ternyata di atas kolam tersebut berdiri Art Science Museum. Kami tidak masuk karena sedikit waktu yang dimiliki sedangkan harus membayar harga tiket masuk yang tidak murah. Kami hanya masuk sebentar ke lobi dan berfoto di depannya. Ya, apalagi yang bisa kami lakukan sambil menunggu selain bercanda dan “bernarsis-ria”. Dari sana, kami turun ke bawah menuju pinggiran Sungai Singapura yang airnya berwarna kecoklatan. Namun tidak tercium bau aneh yang membuat mual karena memang tidak terlihat sampah mengambang di atasnya. Kami mengambil foto kembali dengan gedung-gedung tinggi sebagai latar belakang.

IMG_2971

IMG_2980

IMG_2975

Gerah, yah. Masuk lagi deh. Tunggu di tempat tadi,” ajak gue.

Tidak ada angin yang berhembus membuat udara lembab begitu terasa. Sehingga agak gerah walaupun tidak ada panas matahari yang menyengat. Tidak lama menunggu, Mag, teman Diah pun datang menghampiri. Mag, perempuan cantik asli Singapura dengan rambutnya yang panjang, langsung mengajak kami untuk naik ke lantai lima puluh tujuh Hotel Marina Bay Sands. Sesampainya di atas, kami bergerak ke arah bar. Walaupun hujan kecil turun tetapi tidak menyurutkan niat kami untuk berdiri di tepian dan melihat Singapura dari atas.

Dari sini, kita bisa melihat 25 persen negara Singapura,” ujar Mag.

Apa yang baru dari Singapura?” tanya gue sembari melihat barisan gedung pencakar langit.

Kau lihat bangunan setengah bola dengan atap terbuka, itu stadion terbaru kami. Baru saja diresmikan dua minggu yang lalu.

Selain itu?” tanya gue lagi.

Saya pikir tidak ada.” Mag berpikir keras lalu melanjutkan, “Pemerintah kami sekarang sedang mengembangkan berbagai macam seni.

Perbincangan kami berlanjut dari membandingkan Singapura dan Jakarta dan banyak hal lainnya. Sampai akhirnya waktu sudah hampir pukul tujuh tetapi Dawn, teman Diah lainnya, belum datang juga. Ketika kami hendak turun, Mag berkata bahwa Dawn sudah selesai bekerja dan akan segera menghampiri. Dawn yang hari itu mengenakan baju terusan berwarna biru dan blazer hitam datang sambil meminta maaf karena kami sudah lama menunggu.

Karena Dawn adalah pegawai Hotel Marina Bay Sands, dia bisa membawa kami masuk ke area kolam renang. Setahu gue untuk masuk, kita harus membayar sejumlah uang. Kolam renang tersebut seperti berada di atas langit tanpa ada pembatas. Sepertinya menyenangkan sekali bisa berenang sambil menikmati pemandangan Singapura yang gemerlap.

IMG_2990

Mag juga membawa kami kembali ke dek di mana kami bisa melihat lebih jelas. Sungguh pemandangan yang memukau melihat perpaduan cahaya Singapura di malam hari. Angin yang berhembus kencang menyadarkan gue bahwa saat ini  sedang berada di puncak salah satu gedung tertinggi di Singapura.

IMG_2997
IMG_2989
IMG_3006

Puas dengan pemandangan malam Singapura, Dawn dan Mag mengajak kami ke daerah Kampong Glam untuk makan malam. Hujan besar menyambut kami ketika sampai di sana. Walaupun begitu, deretan restoran sudah ramai dengan pengunjung. Dengan modal satu payung untuk berempat, kami mencari restoran yang kami tuju yaitu Alaturka. Di restoran khas Turki ini telah menunggu suami Dawn, Teck. Seperti restoran lainnya, di sana juga sudah banyak pengunjung yang menikmati makanan sambil mengobrol.

Kami menaiki lantai dua di tempat yang sudah disiapkan. Beberapa bagian dindingnya dilapisi dengan keramik biru. Di sampingnya tergantung beberapa karpet dan piring keramik dengan corak khas Turki. Setelah memesan, kami pun melanjutkan perbincangan tentang Indonesia dan Singapura dari berbagai sudut pandang.

Agak berapa lama kami berbincang, datanglah sebuah piring besar dengan nasi briyani di tengahnya. Sedangkan pada sisi-sisinya terdapat kebab dari daging kambing, daging ayam dan sayuran segar. Piring lainnya berisi seperti lasagna tetapi isiannya adalah daging ayam dan terung Ada juga roti prata yang berisikan bayam dan keju serta garlic bread. Karena sudah sangat lapar, kami tidak sempat mengambil gambar makanannya. Kami langsung menyantap makanan yang begitu menggugah selera.

IMG_3016

Semua makanan rasanya nikmat kecuali gralic bread yang kurang terasa bawang putihnya. Porsi makanan yang besar membuat gue kekenyangan. Untung saja ada Teck yang bersedia melanjutkan sisa-sisa perjuangan kami sampai tuntas. Namun ternyata tidak berhenti di situ, kami memesan hidangan penutup yaitu Kunefe. Bentuknya seperti bihun yang digoreng kering lalu disiram dengan susu manis dan di atasnya ditaburi kacang pistachio

IMG_3021

Kita mau dianterin Dawn.

Gue rasa ini enggak terlalu jauh dari hotel deh. Jalan kaki saja bagaimana?” tanya gue.

Setelah Diah menyetujui usul gue, kami pun berpamitan. Langkah kaki kami terarah ke masjid yang terlihat jelas dari Alaturka. Masjid Sultan merupakan salah satu masjid terkenal dan terbesar di Singapura. Yang kalau dilihat-lihat lagi, sebenarnya tidak berarsitektur istimewa. Kita bisa melihat banyak masjid di perkampungan Indonesia yang lebih megah ataupun berarsitektur lebih menarik. Namun, bagaimanapun keberadaan mesjid di negara di mana islam menjadi minoritas pastinya menyejukkan. Semoga saja mereka bisa hidup berdampingan dengan baik satu sama lain untuk selamanya.

IMG_3027

Kayaknya kita salah jalan. Ini coba lo liat dulu petanya,” ujar gue sambil memberikan peta ke Diah.

Gue sih kalau jalan, jarang lihat peta,” ucap Diah yang ogah-ogahan melihat peta.

“Terus?

Ikutin saja orang-orang jalan ke mana. Ke arah keramaian.

Pengakuannya yang aneh membuat gue tertawa, tetapi tidak menolaknya. Kami pun menutup peta dan benar-benar mengikuti orang-orang yang ada di depan kami. Di tiap persimpangan, kami akan memilih daerah yang paling ramai dan berjalan menyusurinya. Sambil mengobrol dan saling meledek, tidak terasa sampai di daerah yang cukup kami kenal berada di dekat Hotel Bencoolen. Lokasi tempat kami menginap memang sedang ramai karena bersamaan dengan penyelenggaran Night Festival. Di depan Singapore Art Museum sedang ada pertunjukan laser bertajuk “Night Lights: Spirits Of Nature” yang dipersembahkan oleh Wecomeinpeace dari Perancis. Ini mirip dengan pertunjukan laser yang pernah gue liat di Museum Fatahillah berapa tahun lalu.

IMG_3032

Banyak orang masih berkelliaran tetapi kita memiliki agenda yang padat esok hari. Kami pun melangkahkan kaki menuju hotel. Meninggalkan banyak orang yang masih bersemangat menghabiskan malam tanpa tidur…

(bersambung)

2 thoughts on “Melihat Singapura Dari Puncak Marina Bay Sands (Singapore Getaway Part 2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s