Mengapresiasi Seni di Singapore Art Museum (Singapore Getaway Part 1)

Ke Singapura yuk!” ajak gue ke Diah yang sedang menyetir mobil birunya di jalanan Jakarta pada sebuah malam.

Perbincangan mengenai rencana kami ke negara tetangga tersebut berlanjut pada hari-hari berikutnya. Gue bersemangat karena ini kunjungan pertama gue ke luar negeri. Diah pun begitu karena tanggal kepergian yang kami rencanakan tidak jauh dari hari ulang tahunnya. Begitu semangatnya sampai gue jadi khawatir perjalanan ini akan batal. Konon seperti yang sering gue alami, sesuatu yang terlalu direncanakan akan pupus dengan berjalannya waktu karena berbagai alasan. Namun, Diah selalu meyakinkan bahwa semuanya akan berjalan dengan lancar dan sesuai dengan rencana.

29 Agustus 2014

Sepi banget yah“, ucap gue setelah berada dalam terminal di Bandara Changi Singapura.

Enggak banyak pesawat yang datang pagi-pagi,” jawab Diah sekenanya.

Ini sudah pukul sebelas siang.

Gue tidak setuju dengan alasan Diah. Ada perasaan yang aneh ketika kesunyian yang menyambut gue di negara ini. Ruangan besar makin terasa lengang karena hanya ada kursi-kursi kosong, toko-toko tanpa pengunjung dan beberapa petugas bandara berseragam. Suasana ini kontras sekali dengan Bandara Soekarno-Hatta yang hiruk pikuk meskipun matahari belum menampakkan diri.

Hahahahaha…

Suara ketawa lo kenceng banget. Yang kedengeran cuma suara lo saja,” ujar Diah.

Biar enggak sepi.

Kami pun terus melontarkan canda dan saling mengejek satu sama lain sambil berjalan ke arah Stasiun MRT Changi. Selama di Singapura, kami memutuskan untuk pergi kemanapun dengan menggunakan moda transportasi MRT. Setelah mengisi kartu MRT, tidak lama kemudian kereta datang. Suasana yang kami temui tidak begitu berbeda dengan sebelumnya. Masih sepi dan tidak banyak orang yang ada di dalamnya.

IMG_2899

Gue membayangkan kereta ini penuh pada jam-jam padat penumpang. Akankah situasinya sama seperti kereta Commuter Line yang gue naiki setiap sore hari. Apakah mereka juga tidak perlu berpegangan karena antar badan penumpang sudah saling berdempet. Sehingga tinggal mengikuti ke mana kereta akan membuat badan berdoyong. Di dalam kereta lengang tersebut, selain kami tidak ada lagi yang mengobrol.

“Mungkin orang sini, kalau ngomong pelan-pelan gitu. Atau malah enggak suka ngobrol,” bisik gue yang menyimpulkan dengan seenaknya.

Untuk sampai ke Stasiun MRT Bras Basah, kami berganti kereta dua kali di Tanah Merah dan Paya Lebar. Petunjuk yang jelas di dalam kereta ataupun stasiun memudahkan orang-orang yang baru pertama kali menggunakan alat transportasi ini. Sekitar pukul dua belas siang, kami sampai di stasiun tujuan. Kami keluar dengan menelusuri terowongan yang bernuansa modern dan gelap. Penerangan yang minim dan derit tangga berjalan membuat terowongan ini terkesan suram. Sekeluarnya dari sana, kami langsung menemukan sebuah gedung berarsitektur kolonial berwarna putih tepat berada di samping kiri.

IMG_2910

Gedung tersebut merupakan Singapore Art Museum. Dibangun sejak tahun 1855, dulunya gedung ini merupakan sekolah Katholik St Joseph’s Institution. Dari luar kami menyusuri lorong-lorong yang biasa kita temui jika datang ke gedung peninggalan kolonial. Dengan biaya sebesar 10 dollar kami  berputar di galeri yang tersedia. Dimulai dengan permainan “maze” yang membuat kami berputar-putar mengikuti garis panduan. Lalu ruangan berikutnya terdapat karya dari seniman Vietnam, Bui Cong Khanh. Instalasinya terdiri dari lukisan, foto, buku, video dan piring keramik buatan tangan. Kita juga bisa membaui aroma makanan di dalam mangkuk kecil. Seniman ini mengambil fokus tentang “Hoi An Chicken Rice” yang dilihat dari sudut pandang sejarah dan budaya.

IMG_2924

IMG_2928

Setelah melihat beberapa instalasi lainnya, kami menaiki tangga dan menemukan fakta bahwa pameran ini bertajuk “Sensorium 360° “. Pameran ini menghadirkan seniman kontemporer dari beberapa negara Asia yang mengeksplorasi indera manusia untuk memahami diri sendiri dan dunia secara keseluruhan. Ruangan pertama yang kami lihat di lantai dua mirip sekali dengan laboratorium kimia. Ada beberapa tabung berisi cairan yang masing-masing mewakili nada, sehingga jika diurutkan akan menghasilkan melodi.

Kalau baunya semakin menyengat, nadanya semakin tinggi,” kata gue sambil menghidu aroma dari kertas yang telah ditetesi cairan berwarna kuning jernih.

IMG_2939

Kami menuju ke ruangan berikut yang gelap dengan sinar laser hijau yang membentuk garis-garis panjang seperti yang bisa kita lihat di film-film tentang pencurian barang berharga. Berikutnya kami melalui celah dari tali seperti sumbu kompor yang tergantung. Di sini, kami ditantang lagi untuk mengenali bau yang kita hirup, lalu menggali ingatan dan kenangan dari aroma tersebut. Dekat dengan ruangan yang di sudutnya terdapat buku-buku, ada pojok untuk menempel koin kertas. Di sana, kita menulis atau menggambar perasaan pada saat itu juga. Dari sekian banyak koin kertas yang sudah terpampang, sebagian besar bermakna positif.

IMG_2947
IMG_2950

Sudah mau pukul dua,” ujar gue sambil melihat jam di telepon genggam yang sudah disesuaikan dengan waktu setempat.

Mau udahan aja?“, tanya Diah.

Lihat sebentar deh ke lantai tiga, habis itu kita cari makan dan ke hotel,” jawab gue.

Kami sejenak menengok ke lantai tiga di mana ada pameran “Shapeshifting Material & Methods in Contemporary Art.” Sebelum memahami apa yang dipamerkan, kami sudah meninggalkan ruangan tersebut. Kami memang agak terburu-buru karena sudah ada janji dengan teman-teman Diah di Marina Bay Sands. Dari Singapore Art Museum ini gue belajar banyak hal. Adanya penjaga di tiap ruangan bisa menjelaskan lebih banyak tentang pameran tersebut. Meskipun sebenarnya, semua informasi lengkap disajikan di papan penjelasan yang ditempel ke dinding.

Mengunjungi Singapore Art Museum rasanya seperti datang ke Galeri Nasional ketika penyelenggaraan Jakarta Biennale. Namun sayangnya pameran tersebut hanya digelar sekali dalam dua tahun. Seharusnya kita dapat melihat berbagai seni dan kreativitas kapan saja. Juga tanpa dipungut biaya seperti di Singapura sehingga banyak warga yang akan tertarik untuk datang dan melatih kepekaan mereka terhadap berbagai macam bentuk seni.

IMG_2960

Kalian bisa pergi ke galeri lainnya lewat sini“, ujar seorang paman pegawai museum melihat kami keluar dari gedung.

Kami ingin sekali tetapi kita tidak punya banyak waktu, mungkin lain kali,” tolak gue sambil tersenyum.

Gue pun menanyakan arah ke Bencoolen Street di mana Hotel Bencoolen berada, tempat kami menginap. Paman tersebut dengan baik hati mengarahkan kami. Dari google map yang sebelumnya sudah di-screen capture, seharusnya kami akan menemukan Kopi Tiam Foodcourt dalam perjalanan kami menuju hotel. Namun ternyata kami terlebih dulu menemui foodcourt bernama Food Summon yang terletak di bawah apartemen di daerah Waterloo Street.

Lo sudah lapar banget? Makan di sini saja?” tanya gue.

Gue sih enggak apa-apa,” jawab Diah.

Ya sudah, yuk.

Mungkin karena lapar yang sudah tidak tertahankan lagi, kesepakatan dengan mudah tercapai. Walaupun sudah lewat waktu makan siang, masih ada beberapa orang yang sepertinya penduduk lokal bersantap makanan di sana. Di pojokan kami melihat sebuah kedai yang menjual makanan melayu Indonesia bernama “Java Fusi Indo Malay Fusion“. Kami memesan Mee Rebus. Bahan utamanya adalah mi kuning dengan tambahan telur rebus dan disiram kuah kari yang sangat kental. Makanan berharga seporsi tiga dollar ini ternyata nikmat juga. Setidaknya untuk sementara, siang ini kami merasa kenyang dan siap melanjutkan perjalanan…

IMG_2962

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s