Ironi Pabrik Rokok (House of Sampoerna)

Ketika matahari sedang bersinar dengan teriknya, gue dan Mbak Christine memasuki sebuah jalan perkampungan di kota Suarabaya. Kami sedang menuju Museum House of Sampoerna. Salah satu museum terbaik di Indonesia menurut banyak situs. Setelah berulang kali ke Surabaya, akhirnya kesampaian juga untuk mampir. Sesudah memarkir motor, kami sudah disuguhkan sebuah mobil Rools Royce tua kepunyaan pendiri HM Sampoerna. Secara keseluruhan bangunan di komplek House of Sampoerna bergaya Belanda. Didirikan sejak tahun 1862,  dulunya bangunan ini digunakan sebagai panti asuhan. Namun, sejak tahun 1932 dibeli oleh seorang imigran asal negeri Cina, Liem Seng Tee.

IMG_1414

Untuk museumnya sendiri, terletak di bagian tengah komplek. Dari luar terlihat seperti bangunan yunani kuno. Dengan tiang-tiang penyangga yang tinggi dan besar. Museum ini bebas biaya masuk tetapi pengunjungnya diharuskan berusia 17 tahun ke atas. Kala di sana, pengunjung museum cukup ramai dari negeri sendiri ataupun luar negeri. Memasuki museum, di sebelah kiri kita bisa melihat replika warung kecil milik Liem Seng Tee ketika dia baru memulai usahanya. Warung ini dibangun pada tahun 1912 bersama istrinya, Siem Tjiang Nip. Tak hanya rokok yang dijual tetapi juga makanan pokok lainnya. Untuk menjajakan rokoknya, dia juga menggunakan sepeda menyusuri jalanan surabaya. Sepedanya masih bisa dilihat di museum ini, ada dua buah sepeda yang ditemukan di Prigen. Sedangkan di bagian kanan, terdapat sebuah ruang kerja lengkap dengan furnitur aslinya. Kita juga bisa melihat foto-foto keluarga dari Liem Teng See.

IMG_1392

IMG_1356

IMG_1360

IMG_1368

IMG_1370

Bagian tengah di lantai satu menyajikan jajaran foto-foto. Mulai dari tokoh-tokoh terkenal hingga pengurus PT Sampoerna sekarang. Juga ada foto-foto berwarna sephia yang menampilkan para pekerja pabrik rokok Sampoerna. Satu hal yang menarik ternyata Sampoerna juga membuat rokok khusus untuk keraton Yogyakarta yang hanya dikonsumsi oleh keluarga keraton. Sedangkan di bagian belakang sebelah kiri, gue melihat ada seragam serta peralatan Marching Band. Agak bingung juga pertama kali melihatnya dan bertanya-tanya apa pentingnya benda tersebut berada di museum. Ternyata, Sampoerna Marching Band mewakili Indonesia pada tahun 1990 dan 1991 di  Tournaments of Roses in Pasadena, California, USA. Dengan tema  “Unity in Diversity” , mereka memenangkan The 1st Prize for Non-American Participants (The International Trophy) in 1990. Di sudut lain juga terdapat sebuah mesin cetak tua yang mencetak bungkus rokok, label dan cetakan lainnya. Sejak tahun 1990, mesin tua ini diganti dengan yang lebih modern.

IMG_1376

IMG_1375

IMG_1378

IMG_1379

Kemudian kami menaiki tangga menuju ke lantai dua dan gue pun dilarang untuk mengambil gambar. Di lantai dua ini terdapat pernak pernik yang bisa dijadikan oleh-oleh. Dari sini juga terdapat sebuah kaca besar. Melalui kaca tersebut, kami bisa melihat sebuah aula besar. Di dalamnya terdapat ratusan wanita berseragam. Cara mengenali profesinya cukup melihat dari topinya. Kuning adalah pelinting rokok, hitam bertugas menggunting dan merapikan rokok yang terlinting sedangkan yang bertopi merah mengepak rokok ke dalam dus kemasan. Perasaan gue campur aduk ketika melihat mereka. Melihat banyak ibu-ibu yang tubuhnya bergerak ke kanan dan kiri. Begitu ritmis dan konstan. Tangannya dengan lincah melinting rokok. Menyatukan kertas papir dan racikan tembakau, cengkeh dan lainnya menjadi rokok Dji Sam Soe. Konon, katanya upah mereka dihitung dari berapa rokok yang bisa terlinting. Maka dari itu mereka dengan cepat bergerak layaknya robot untuk memaksimalkan produksi. Apakah pekerjaan mereka manusiawi? Entahlah tetapi menurutku yang penting halal. Meskipun menurut MUI salah satu daerah, rokok itu haram. Berarti semua orang yang terlibat di industri itu bekerja untuk menghasilkan produk yang haram dikonsumsi.

Lalu, salahkah mereka? Bukankah mereka hanya mencari penghidupan. Di pabrik kecil ini saja sudah terdapat ratusan pekerja. Belum lagi di pabrik besarnya ataupun pabrik-pabrik rokok lainnya. Akan terjadi sebuah ledakan pengangguran yang besar ketika pabrik rokok ditutup. Seperti yang dituntut oleh banyak pihak. Gue meyakini kalau rokok memang sesuatu barang yang membahayakan orang yang mengkonsumsi dan orang di sekitarnya. Namun, tidak serta merta gue menyutujui pabrik rokok ditutup tanpa perencanaan yang matang. Yang perlu dipikirkan adalah menciptakan lapangan-lapangan pekerjaan yang bisa menampung para buruh yang akan dirumahkan. Karena ada keluarga mereka yang juga tergantung kehidupannya. Pastinya persoalan pabrik rokok bukanlah sebuah persoalan sederhana melainkan kompleks sehingga harus diuraikan satu-persatu.

Tentang Museum House of Sampoerna ternyata tidak memenuhi ekspektasi tinggi gue. Karena tadinya gue membayangkan akan melihat bangunan yang besar dengan koleksi yang beragam penuh pengetahuan. Namun, kenyataannya tidak begitu. Jika dibandingkan dengan Museum Kretek milik perusahaan Djarum di Kudus. Museum ini kalah dalam penyajian koleksi. Di Museum Kretek, koleksi barang kunonya lebih banyak dan informasinya lebih lengkap. Sehingga kita bisa belajar tentang sejarah rokok dan perkembangannya hingga sekarang.

IMG_1383

Keluar dari bangunan museum, Mbak Christine mengajak gue ke galeri seni yang terletak di bagian belakang kafe. Kali ini sedang memamerkan lukisan foto-foto pemuda pemudi dari Papua. Koleksinya bergantian tergantung dari pamerannya. Kami duduk-duduk sambil menunggu keberangkatan bus Surabaya Heritage Track. Kami mendapatkan giliran pada jam 1 siang. Dibandingkan dengan Bus Tingkat Wisata Werkudara di Solo, tentu bus ini jauh lebih kecil dengan kapasitas penumpang yang lebih sedikit. Maka dari itu jika ingin mengikuti tur di akhir pekan, harus memesan di hari-hari sebelumnya. Karena banyak sekali yang ingin menjadi peserta apalagi tidak dipungut bayaran untul mengikutinya. Namun, hanya tersedia satu mobil dan tiga kali keberangkatan.

Pukul satu tiba, kami menaiki bus berwarna merah dnegan goresan warna warni dibadannya. Lumayan segar dibandingkan dnegan udara di luar yang sangat panas. Mobil pun bergerak seusai dengan jalur yang telah dibuat. Selagi berjalan, pemandu sembari menceritakan bangunan-bangunan bersejarah yang kami lewati. Kami pun diturunkan di dua tempat yaitu gedung balai pemuda dan balai kota. Gue agak bingung kenapa memilih kedua tempat tersebut yang kurang menarik. Gue sampai berpikir apakah tidak ada tempat yang lebih bersejarah dan menarik lainnya. Menurut teman gue Rhea, jika saja gue ikut yang jam sembilan pagi, gue akan diajak untuk ke Tugu Pahlawan dan masuk ke museumnya. Kalau siang, sudah tidak ada lagi karena museum sudah tutup. Ah begitu rupanya…

IMG_1397
IMG_1402

IMG_1403

IMG_1410

6 thoughts on “Ironi Pabrik Rokok (House of Sampoerna)

  1. Pingback: PKMM Tembakau bagi pekerja pabrik rokok | Catatan Nanto

  2. setahu saya, itu dulu teater lalu pada akhirnya dijadikan tempat produksi dan masih aktif sampai sekarang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s