Eksis Bareng Di Ujung Kulon (Bag. II)

Langit begitu kelabu. Entah mau turun hujan kembali atau memang sudah waktunya siang berganti malam. Kami diberikan pilihan apakah mau menunggu matahari terbenam di Karang Copong atau kembali ke dermaga. Kami memilih yang kedua. Karena kami memang tidak menyiapkan diri untuk menikmati sunset di sana. Tidak satupun dari kami yang membawa lampu senter. Hutan yang kami lewati sama dengan yang tadi tetapi kali ini berbeda jalur. Kami disuruh untuk jalan merapat karena ditakutkan bertemu dengan hewan liar berbahaya. Namun entah bagaimana ceritanya, gue dan beberapa teman yang lain mulai tercecer di belakang. Tadinya gue masih bisa melihat ujung belakang rombongan di depan. Namun, ketika kami terhenti karena Eka kelelahan. Kami benar-benar berpisah dan rombongan di depan sudah tidak terlihat lagi. Tersisalah kami berenam yang berusaha untuk terus berjalan dengan mengikuti jalur yang ada. Langit makin gelap, agak takut juga kalau kami salah memilih jalur. Kalau sampai akhirnya tersesat, mungkin inilah pertama kali gue mengalaminya dalam hidup. Untungnya semua itu tidak terjadi. Akhirnya kami berpapasan dengan orang yang sedang berjalan ke arah pantai tadi. Kami pun agak lega karena jalur yang kami jalani sudah benar. Setelah beberapa ratus meter kemudian, barulah kami menemukan pemandu yang menunggu di dekat pohon besar yang kami lewati saat berangkat. Kali ini benar-benar super lega.

Kami melanjutkan perjalanan dengan kapal. Karena kami tidak akan menginap di Pulau Peucang. Melainkan di Pulau Handeleum. Waktu menunjukkan lewat dari pukul lima sore. Langit semakin gelap dan ternyata ombak masih saja menggelegak cukup hebat. Gue yang duduk di geladak kapal sempat mendengar teman-teman di bagian depan dan belakang berteriak kencang sekali. Sepertinya kami baru saja melewati ombak yang tinggi. Karena mesin kapal sampai dimatikan beberapa kali. Setelah itu gue tidak lagi mengetahui apa yang terjadi karena sudah pulas tertidur. Sampai akhirnya gue terbangun dan mendapati ternyata malam telah datang. Gue keluar dari ruangan tengah dan menuju bagian depan kapal. Ternyata angin cukup kencang sehingga teman-teman gue merapatkan badan satu sama lain karena kedinginan. Sekitar lima belas menit kemudian sampailah kami di Pulau Handeleum. Di dermaga ini hanya ada dua lampu yang minim penerangan. Bahkan lepas dari dermaga, kami harus berjalan di dalam kegelapan. Entahlah apa yang ada di samping kanan dan kiri, gue berjalan sambil menatap lurus ke depan. Sesampainya di wisma sederhana, kami langsung menentukan kamar masing-masing. Gue cukup senang ketika mengetahui keberadaan air bersih di sini cukup tersedia. Ingin rasanya segera mengguyur badan yang sudah lengket karena air laut dan keringat. Setelah mandi, badan ini menjadi terasa segar dan siap menunggu makan malam. Beberapa teman masih bermain UNO hingga tengah malam, sedangkan gue memilih tidur setelah makan malam. Mengistirahatkan badan untuk petualangan esok hari.

Keesokan paginya gue bangun tidur ketika sinar matahari sudah masuk melalui jendela kamar. Setelah beribadah, gue dan beberapa teman bermain ke belakang wisma. Kami menikmati pemandangan pagi di pinggir pantai yang agak landai namun tak berpasir putih. Cahaya matahari merefleksikan bayangan pepohonan di atas air. Suasananya hening dan begitu damai. Kemudian kami menuju dermaga. Kak Mia sudah berada di sana mengejar sunrise sedari tadi. Namun ternyata dia pun tak menyaksikan sunrise karena mataharinya tertutup awan. Pemandangan di sini tidak kalah mendamaikannya dibandingkan dengan yang di belakang wisma. Tak ayal lagi kami memanfaatkannya untuk berfoto. Kami baru selesai ketika perut sudah lapar dan saatnya kembali ke wisma untuk sarapan.

*Sumber: Mia Fiona*

Sekitar pukul sembilan pagi, kami bersiap untuk mengarungi Sungai Cigenter dengan kapal kano. Sungai ini sebenarnya masih berada di sisi lain dari Pulau Handeleum. Untuk menuju ke muara sungai, kami menggunakan kapal besar terlebih dahulu. Baru berganti kano ketika telah dekat dengan muara. Dalam sebuah kano diisi paling banyak sekitar delapan orang termasuk seorang bapak pemandu. Pertama kali menaikinya agak mengerikan karena kano langsung bergoyang ketika kami bergerak. Kami harus menjaga keseimbangan agar kano tidak terbalik. Kami mendayung pelan dan memasuki mulut sungai yang kanan dan kirinya terdapat pohon nipah. Warna air sungai terlihat agak kehijauan. Berbeda dengan air di luar pulau Handeleum yang berwarna kebiruan. Mungkin di dalam Sungai Cigenter terdapat alga hijau yang menyebabkan airnya terlihat kehijauan.

Sungai Cigenter ini arus airnya tenang tetapi malah justru menakutkan. Karena biasanya jenis sungai seperti itu adalah habitat dari buaya. Dan memang di sini terdapat satwa buaya air asin. Wajar rasanya kami langsung cemas ketika kano oleng sedikit saja. Tidak lucu rasanya kalau sampai tubuh kami dicabik-cabik dengan gigi buaya yang banyak dan tajam itu. Belakangan gue tahu kalau ternyata banyak juga ditemukan ular python di sana. Gue bergidik ketika mengingat apa yang gue lakukan ketika di kano. Gue cukup sering bermain air dengan mencelupkan tangan ke dalam air. Mungkin karena airnya begitu dingin, gue jadi terlena bahkan sampai kulit tapak jari gue keriput. Untung saja jari-jari tangan gue masih lengkap saat ini.

Kami bergerak pelan semakin memasuki Sungai Cigenter. Selain nipah ada beberapa tumbuhan bakau lainnya. Batang-batangnya kadang membuat kami harus merundukkan kepala. Sinar matahari menorobos masuk melalui celah-celah pepohonan. Ternyata sungai ini tidak menembus ke sisi lain dari pulau ini. Sehingga kami harus berputar balik menuju muara yang sama. Kalau ketika berangkat, kano kami sering berada di belakang dua kano lainnya. Kali ini kano kami meluncur dengan cepat karena searah dengan arus sungai. Kami tidak bisa berama-lama di Sungai Cigenter. Karena ketika air sungai surut tinggal setinggi lutut maka kano akan kandas. Sesampainya di kapal, ternyata dua kano lainnya tidak kelihatan. Agak lama sampai akhirnya mereka muncul. Ternyata mereka sempat turun ke padang penggembalaan banteng. Namun sayang, mereka tidak melihat adanya banteng di sana. Beberapa teman juga diajak untuk melihat jejak kaki badak yang telah berusia satu bulan. Konon katanya badak ini bisa berenang dan menyeberang sungai. Badak akan mendekati sungai jika persediaan air di tengah hutan sudah menipis. Konon badak di pulau ini hanya tersisa kurang dari sepuluh saja. Betapa menyedihkan kalau sampai beberapa generasi mendatang hanya bisa melihat badak bercula satu dari gambarnya saja.

*Sumber: Sufi Hamdan*

Kembali ke wisma, kami bersiap untuk kenbali ke daratan Pulau Jawa. Tidak seperti kemarin, ombak hari ini tidak tinggi. Sehingga kapal bisa melaju dengan cukup lancar tanpa terombang ambing ke sana ke mari. Waktu tempuh juga lebih singkat menjadi dua jam saja. Seperti kemarin, kami harus berganti kapal kecil sebelum mendarat di pantai. Itupun kapal kecil tidak bisa sampai bibir pantai karena begitu dangkal. Akhirnya kami harus berjalan di air setinggi dengkul. Kami mampir dulu ke tempat pemilik kapal sebelum kembali ke Jakarta. Perjalanan kali ini membawa banyak pesan. Bagaimana membuat orang mau datang ke Pulau Peucang. Sehingga bisa meningkatkan tingkat ekonomi masyarakat sekitar. Juga belajar tentang pelestarian alam dan satwa langka Indonesia, badak bercula satu. Namun itu juga harus diimbangi dengan pengelolaan yang baik sehingga kedatangan orang tidak mengganggu atau merusak lingkungan Taman Nasional Ujung Kulon.

*Sumber: Sufi Hamdan*

Ternyata perjalanan ini masih menyisakan sebuah kejutan untuk kami. Di tengah perjalanan, kami mendapatkan suguhan sunset di sekitar Jalan Raya Labuan dekat dengan Tanjung Lesung. Langit jingga membuat sore kami begitu istimewa. Terima Kasih, Tuhan..

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

5 thoughts on “Eksis Bareng Di Ujung Kulon (Bag. II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s