Eksis Bareng Di Ujung Kulon (Bag. I)

Masih menjadi pertanyaan di benak gue, mengapa Echa begitu terobsesi untuk melihat Badak bercula satu langsung di habitatnya, Ujung Kulon. Sempat beberapa kali, kami mencari agen perjalanan ke sana. Bahkan, Echa pun sempat menghubungi peneliti dari Taman Nasional Ujung Kulon. Dia ingin bergabung ke dalam perjalanan mencari keberadaan badak dengan mengikuti jejaknya. Yang biasanya dilakukan di pertengahan tahun ketika musim kawin badak. Waktu yang dibutuhkan untuk perjalanan itu tidaklah sebentar, harus berminggu-minggu. Kemudian seperti beberapa rencana lainnya, seiring berjalan waktu keinginan tersebut surut dan terpendam. Sampai akhirnya rencana ini timbul kembali ke permukaan dan ditawarkan kepada teman-teman The Exist. Mereka ternyata juga menyetujuinya, perjalanan ini pun direncanakan dengan matang. Walaupun perjalanan kali ini bukan dengan tujuan memburu keberadaan badak. Melainkan hanya perjalanan tiga hari dua malam untuk mengenal lebih dekat Taman Nasional Ujung Kulon.

12-13 April 2013

Jumat malam, sehabis Klub Buku Goodreads Indonesia di Plaza Senayan kami berangkat menuju Sumur, Pandeglang. Dari sanalah kami akan menyeberang ke Pulau Peucang. Malam itu kami ditemani hujan mulai dari intensitas gerimis hingga deras. Gabungan antara malam dan lelah menghasilkan rasa kantuk menggelayut di pelapuk mata. Namun, gue sempat terbangun karena merasa bahwa ada air menetes ke paha gue. Ternyata benar, sepertinya karet pintu mobil gue tidak terlalu lekat. Sehingga air hujan yang deras itu masuk ke dalam melalui sela-sela pintu. Tadinya agak mengesalkan tetapi lama-lama akhirnya pasrah saja. Gue hanya melapisi kaki dengan sarung dan melanjutkan tidur. Gue agak kurang mengerti dengan baik kondisi jalanan sepanjang malam itu. Yang gue ingat hanya jalanan yang sempat naik turun dengan beberapa ruasnya berlubang. Kanan dan kiri jalan dipenuhi pepohonan yang berbaris dengan lampu penerangan yang minim. Setelah kurang lebih tujuh jam, shubuh hari kami sampai juga di Sumur. Air hujan pun masih tercurah dari langit. Karena masih gelap, kami mampir dulu ke rumah bapak pemilik kapal untuk beristirahat sejenak.

Keinginan untuk melihat sunrise pupus sudah. Hujan masih betah menemani kami yang ingin segera bergegas pergi. Setelah ditunggu-tunggu akhirnya hujan berhenti, matahari pun menyapa bumi. Kami bersiap dan berangkat menuju tempat kapal kami berada. Kami berjalan ke arah pantai, di mana gue melihat sekumpulan orang sedang melakukan pelelangan ikan yang baru saja dibawa nelayan dari laut. Sembari menunggu kapal, kami menyempatkan foto di sekitaran pantai. Terlihat memang kurang bersih, beberapa tumpukan sampah merusak pemandangan. Di pantai ini juga tidak tersedia dermaga untuk merapatnya kapal. Sehingga kami harus naik kapal kayu kecil dari tepian pantai. Kemudian naik ke kapal kayu yang lebih besar yang berdiam di sekitar dua ratus meter dari bibir pantai.

902085_10151378775665732_749572625_o

*Sumber: Mia Fiona*

Perjalanan ke Pulau Peucang pun dimulai. Langit sudah membiru, walau gumpalan-gumpalan awan abu-abu masih terlihat. Namun, sinar matahari cukup menyengat kami yang duduk di bagian belakang kapal. Kegiatan pertama yang dilakukan di atas kapal tentu saja berfoto diselingi senda gurau. Sampai kami kaget dengan olengnya kapal yang kami naiki. Semakin menjauh dari daratan, ombak mulai besar dan mengombang-ambingkan kapal. Teman-teman yang duduk di bagian depan kapal, hampir semuanya sukses basah kuyup karena air pecahan ombak yang masuk ke bagian kapal. Namun sepertinya teriakan mereka lebih terdengar senang karena diakhiri dengan suara tawa. Walaupun begitu gue tahu pasti ada rasa takut yang terselip di hati. Ternyata perjalanannya cukup lama, angin yang berhembus membuat kami mengantuk. Kami yang duduk di bagian belakang kapal pun langsung mencari posisi tidur masing-masing. Ini juga berguna untuk menghindari mual dikarenakan kapal yang bergoyang kanan dan kiri.

906956_10151378776830732_1900550979_o

*Sumber: Mia Fiona*

Tiga jam berlalu, akhirnya kami sampai juga di dermaga Pulau Peucang. Kami disambut dengan pasir putih dan air jernih yang dari jauh terlihat berwarna biru kehijauan. Seakan gerah dan penat akan perjalanan barusan, beberapa dari kami tak bisa lagi menahan diri untuk bermain air di pantai. Langit kelabu ternyata tak terlalu berpengaruh terhadap suhu udara di pantai. Maka tentu saja, paling nikmat menceburkan diri ke air yang terasa menyegarkan badan. Kami berpencar dan melakukan aktivitas masing-masing. Ada yang berenang, menguburkan diri di bawah tumpukan pasir putih, berteduh di bawah pohon-pohon rindang dan tentu saja berpose di depan lensa kamera. Gue akui, di pantai ini cukup bersih dan tidak terlihat sampah sisa makanan atau minuman. Sehingga sedap sekali untuk memandang ke manapun. Tambah menyenangkan lagi, pantainya sepi sehingga seperti milik pribadi.

Tepat pukul dua belas siang, kami kembali naik kapal untuk menuju ke Padang Penggembalaan Cidaon di pulau seberang. Perjalanannya hanya sekitar lima belas menit saja. Dari dermaga, kami berjalan menyusuri jalan setapak sederhana. Di dekat pantai terdapat pohon-pohon nipah, sedangkan masuk ke dalam terdapat berbagai macam pohon lainnya. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki kemudian sampailah kami di padang rumput yang cukup luas. Mata kami langsung mencari banteng yang dimaksud. Awalnya gue hanya melihat sekumpulan monyet yang berlarian. Namun, pengawas hutan menunjukkan kami sekawanan banteng yang terlihat di kejauhan. Dari jauh, banteng tersebut terlihat seperti sapi yang berkulit cokelat. Sayangnya kami tidak membawa teropong sehingga bisa melihatnya lebih jelas. Apalagi di sini disediakan menara pandang dengan tinggi kurang lebih sekitar dua puluh meter. Selain banteng dan monyet, juga terdapat rusa, biawak, owa jawa, merak, babi hutan dan lainnya. Mereka biasanya terlihat berkumpul di padang penggembalaan pada pagi dan sore hari ketika ada pemberian makan.

*Sumber: Mia Fiona*

528275_4688307813711_1534641422_n

*Sumber: Lian*

Setelah puas berfoto, kami pun kembali ke Pulau Peucang. Pulau ini dinamakan peucang karena di sini banyak ditemukan hewan peucang (rusa). Kami memang melihat beberapa rusa berkeliaran dekat penginapan yang ada di pulau peucang. Di sini memang terdapat sebuah resor dengan pilihan rumah atau kamar yang bisa disewa. Harga sewanya bisa dilihat di id.peucangisland.com. Selain rusa yang bebas berkeliaran, ada juga monyet dan babi hutan. Ketika makan siang, kedua hewan itu mendekat ke kami karena tertarik dengan makanan yang kami miliki. Sontak beberapa teman gue berteriak ketakutan ketika bagi mengendus dan monyet mencoba merampas. Walaupun liar, sepertinya mereka tidak terlalu berbahaya. Namun tidak ada salahnya untuk selalu waspada.

Tujuan kami berikutnya adalah Karang Copong yang terletak di utara Pulau Peucang. Rencananya, kami ke sana dengan menggunakan perahu. Namun, dengan ombak besar rasanya akan sulit untuk mencapainya. Akhirnya kami memilih untuk trekking masuk ke dalam hutan Pulau Peucang. Karena sehabis hujan, tanah yang kita pijak begitu basah dan terkadang licin. Berbagai macam pohon besar berusia ratusan tahun bisa kita temukan di sini. Beberapanya tumbang dan dibiarkan begitu saja menghalangi jalan. Namun, pengelola sudah membuat tangga sederhana sehingga kita bisa melaluinya. Rasanya sudah lama sekali tidak berada di sebuah lokasi yang pepohonannya cukup rapat. Sebagai penduduk kota Jakarta yang lebih sering menhirup asap polusi, kesempatan menghirup udara bersih tidak boleh dilewatkan begitu saja. Suasananya begitu damai dengan suara kumbang pengerek yang terdengar nyaring dan bersahut-sahutan satu sama lain. Kami juga sempat kali melihat rusa yang sedang asyik makan dedaunan dan terlihat waspada terhadap kehadiran kita. Terlihat dari telinganya yang tegak mencuat. Dengan sedikit gerakan yang mengganggu saja bisa membuat mereka berlari menjauh.

Terkadang kami mendengar suara ombak dan mengira tujuan kami sudah dekat. Namun, ternyata kami masih saja terus berjalan yang sepertinya tak berujung. Setelah empat puluh lima menit, barulah kami benar-benar sampai ke pantai yang dituju. Hamparan batu karang terbentang luas dengan ombak yang terhempas di pinggirannya. Dari jauh juga kami melihat Karang Copong. Sepertinya karang ini terpisah dari daratan di dekatnya beratus tahun yang lalu. Hanya ada empat orang dari kita yang mendekati dan mendaki bukit dekat sana. Mungkin karena kelelahan, kebanyakan memilih untuk berteduh di bawah pohon. Sedangkan sebagian berfoto di pinggiran karang dekat laut. Gue dan Echa mencoba mendekat ke Karang Copong tetapi akhirnya berhenti di tengah jalan. Ketika gue menyusuri pinggiran pantai, gue terkejut ketika melihat beberapa botol bekas minuman. Gue pikir seperti sisi Pulau Peucang lain, pantainya akan bersih. Menurut pemandu kami, sampah tersebut berasal dari pulau lain kemudian terseret arus dan terdampar di pulau ini. Walaupun begitu, sampah-sampah tersebut harus dijadikan perhatian bagi pengelola resor Pulau Peucang dan pengawas Taman Nasional Ujung Kulon. Tentunya para pengunjung yang mendatangi tempat ini. Jangan sampai mengurangi keindahan Pulau Peucang.

Hari semakin sore dan kami memilih duduk menikmati pemandangan ombak yang berkejaran. Sebentar lagi memang matahari akan terbenam. Namun, sepertinya kami tidak akan melihat sunset. Langit dipenuhi dengan awan kelabu. Namun apa yang kita pandang saja sudah begitu memukau. Satu lagi, karya indah Tuhan yang patut disyukuri.

IMG_1215
IMG_1232

(bersambung)

5 thoughts on “Eksis Bareng Di Ujung Kulon (Bag. I)

  1. Harun! Kalian beruntung sekali bisa melihat binatang liar langsung seperti itu! Sumpah bikin iri bisa melihat rusa secara langsung! Kalau babi hutan sih udah sering.Perjalanan kalian seruuuu….😀

  2. ceritanya bagus. detil. saya sangat suka cerita2 tentang perjalanan seperti yg mas tulis ini. foto-fotonya juga indah. btw, saya sudah follow blog ini agar tulisannya bisa sy update terus. follow balik dong blog saya hehe echotingginehe.blogspot.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s