Malas-malasan di Pulau Macan

Setahun silam, seorang teman, Lia mengajak gue liburan ke Pulau Macan di Kepulauan Seribu. Proses pemesanan via surel yang tidak terespon serta kesibukan kami membuat rencana itu terlupakan. Hingga akhirnya, kemarin gue mendapatkan teman-teman yang mau liburan bersama ke sana. Memang agak sulit mencari teman yang mau membayar biaya yang cukup mahal untuk liburan dua hari satu malam di Kepulauan Seribu. Mereka meragukan kepantasan harga dengan pengalaman yang akan didapat. Sedangkan gue sendiri justru penasaran mengapa pengelola pulau mematok harga yang cukup tinggi untuk menginap di sana.

Pulau Macan adalah sebuah resor yang terdiri dari dua buah pulau. Di Pulau Macan Besar terdapat penginapan, sedangkan Pulau Macan Kecil dibiarkan alami tanpa penghuni. Kemungkinan yang membuat resor ini mahal karena tamunya yang dibatasi dan dijalankan berbasis eco. Sebagian besar penginapan dibangun dari material alami, begitu juga dengan furniturnya yang dibuat dari limbah kayu. Listriknya sebagian besar berasal dari solar panel sehingga menghemat penggunaan solar untuk genset. Mereka juga menampung air hujan yang akan disaring, lalu digunakan untuk berbagai kebutuhan. Bahan makanan yang digunakan juga organik dan bebas dari racun hama.

9 -10 Maret 2013

Sabtu pagi, kami menyeberang ke Pulau Macan dari Dermaga 6 Marina dengan kapal cepat. Ketika kapal mulai terguncang-guncang, gue langsung teringat pengalaman ke Pulau Derawan. Bedanya, kapal cepat yang sekarang kami naiki tertutup rapat sehingga ruangan terasa pengap. Untung saja waktu tempuh perjalanannya hanya satu setengah jam. Ternyata lokasi Pulau Macan berdekatan dengan Melinjo, tempat dulu gue pernah berkemah. Sesampainya di sana, kami disambut dengan suguhan sandwich isi jamur. Gue tidak memakannya karena merasa kenyang. Namun, Nina yang juga vegetarian mengatakan bahwa makanannya enak. Ini juga salah satu alasan gue pengin ke sini karena resor ini menyajikan makanan untuk vegetarian. Salahnya,  gue tidak bilang ketika memesan kamar kalau beberapa di antara kami adalah vegetarian. Karena kalau saja kami bilang, panganan yang disajikan akan lebih variatif untuk para vegetarian. Namun, tanpa diberitahukan pun sepertinya makanannya banyak yang hanya berbahan sayur-sayuran. Betapa menyenangkan!

IMG_0303

Sembari bersantai di club house, kami mendengarkan penjelasan dari Ricky, host Pulau Macan. Dia menjelaskan tentang fasilitas dan kegiatan yang bisa dilakukan di pulau ini. Kami juga diingatkan untuk menghemat energi listrik dan air. Setelahnya, gue memang menemukan tulisan himbauan tersebut di berbagai tempat. Kami pun mengelilingi pulau dan akhirnya menemukan pondokan yang kami sewa, Sunset Hut.  Pondokan besar ini paling banyak diincar pengunjung sehingga menjadi yang paling mahal pula. Karena dari sini, kita bisa melihat sunset tanpa sesuatu yang menghalangi. Juga mempunyai dek pribadi langsung menuju lautan. Saat bersantai di dek tersebut, kami terkaget dengan teman kami lainnya yang sedang mendayung kayak. Kami pun tertarik untuk mencobanya meski matahari bersinar terik di atas kepala. Pertamanya gue agak limbung tetapi setelah beberapa kayuhan barulah gue menguasainya. Walaupun tak sehebat Nina yang dengan santainya meninggalkan kami di belakang yang bersusah payah mengejarnya.

IMG_0324

IMG_0327

IMG_0352

Setelah berhasil mengelilingi pulau dengan kayak, kami langsung menuju club house untuk makan siang. Waktu makan adalah waktu favorit kami selama di sini. Bagaimana tidak, masakan head chef  Pulau Macan sungguh lezat terasa. Masakannya boleh sederhana seperti nasi goreng atau tahu semur tetapi kaya cita rasa dan membuat kami ingin menambah berkali-kali. Karena begitu nikmatnya, sampai gue pun terlupakan untuk mengambil gambar makanan tiap waktu makan. Gue sempat melontarkan ide untuk menculik sang head chef. Ricky yang mendengarnya langsung berkata bahwa gue bukanlah orang pertama yang menginginkannya. Banyak pengunjung sebelumnya yang juga berencana  untuk menculiknya, seorang ibu yang sudah berusia lanjut. Penampilannya begitu sederhana dan selalu menyapa ramah kami semua. Menurut Ricky, beliau adalah pengasuh pemilik resor sejak kecil di dalam dan luar negeri. Tak heran masakannya merupakan perpaduan antara citarasa nusantara dengan internasional.

IMG_0394

Sebagian besar pengunjung melanjutkan aktivitas mereka dengan snorkeling.  Sedangkan sebagian lagi termasuk gue lebih memilih untuk tetap tinggal dan bermalas-malas di pondokan kami. Gue sedang malas snorkeling dan tidak begitu yakin alam bawah laut Kepulauan Seribu begitu menakjubkan seperti beberapa tempat yang pernah gue kunjungi sebelumnya. Sekembalinya kami ke pondokan, ternyata air laut sedang surut hingga ratusan meter ke depan. Iseng, kami turun dan berjalan cukup jauh ke tengah laut. Kami menghabiskan waktu sampai tiba pukul empat sore dan kembali ke dermaga untuk menyeberang ke Pulau Macan Kecil.

IMG_0403

IMG_0416

*Sumber: Adhalina Maria*

Di Pulau Macan Kecil kami mengeksplorasi sebagian pulau berpasir putih tersebut. Untuk menuju ke pulau ini, kami menyeberang dari Pulau Macan Besar dengan berjalan kaki. Ini dimungkinkan karena ketika sore hari, ada sebuah jalur yang tinggi airnya tidaklah sampai satu meter. Keesokan harinya pun kami kembali ke sini, guna mengeksplorasi lebih jauh. Tetapi tidak dengan jalan kaki, melainkan dengan perahu bermesin. Di pulau ini, kita bisa snorkeling atau sekadar tidur-tiduran di pantai. Sedangkan gue dan Nina lebih memilih untuk masuk ke dalam pulau. Lalu keluar menyusuri tepi pantai hingga kembali ke titik awal.

IMG_0376

IMG_0581

*Sumber: Adhalina Maria*

IMG_0587

IMG_0453

Matahari semakin turun ke arah barat, langit mulai menguning. Kami pun kembali ke Pulau Macan Besar dan langsung menuju pondokan gue. Kami juga mengundang yang lain untuk datang menyaksikan sunset di dek Sunset Hut. Kami memandang matahari bulat sempurna di kejauhan yang perlahan-lahan seperti masuk ke dalam lautan. Ternyata tak perlu jauh-jauh ke luar Jakarta untuk melihat sunset yang menakjubkan. Kami enggan beranjak dari dek walau matahari sudah tidak terlihat dan meninggalkan langit senja yang kemerahan. Hingga akhirnya kami harus menyudahi perbincangan karena langit sudah gelap dan waktu makan malam telah tiba. Setelah menyantap makanan yang lagi-lagi super nikmat, kami menghabiskan malam di dek dengan menatap bintang. Tertawa bersama-sama karena diajari bahasa slang Australia oleh Stuart. Angin malam yang berembus kencang akhirnya memaksa kami kembali ke peraduan.

IMG_0479

IMG_0492

IMG_0494

*Sumber: Adhalina Maria*

IMG_0537

Keesokan shubuh, kami terbangun oleh angin yang bertiup kencang disusul oleh hujan yang menderas. Maka hilanglah kesempatan untuk melihat sunrise. Namun, timbul kesempatan lainnya yaitu tidur lagi sampai akhirnya langit di luar sudah terang kembali. Sehabis sarapan pagi, rintik hujan tidak juga berhenti. Kami pun nekat berenang di depan pondokan. Setelah bebersih dan makan siang, kembalilah kami ke daratan Jakarta. Pengalaman selama di sana meyakinkan gue bahwa apa yang saya bayarkan sangatlah pantas. Gue pun mengamini jika banyak orang berkata bahwa inilah the best getaway in Jakarta. Mudah-mudahan suatu saat, gue bisa kembali lagi ke Pulau Macan. Sama seperti kali ini, hanya sekadar untuk malas-malasan!

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

12 thoughts on “Malas-malasan di Pulau Macan

  1. Boleh minta no telp travelnya, karena saya berencana membawa anak – anak saya yang masih usia sekolah dasar. terima kasih

  2. Pingback: Pulau Macan Indonesia |

  3. Dear Mr. Harun Harahap,

    Greetings! First let us introduce our self, we are final year student in Prasetiya Mulya School of Business and Economics major in Marketing named Irina and Ivah.

    Currently we are conducting a study entitled “Factors of Destination Brand Experience and Visitor Satisfaction Factor Associated with Visitor Loyalty Pulau Macan (Tiger Island) Travel Destination” as one of the requirements for getting our bachelor degree. To complete this study we need respondents to fill in our questionnaire regarding Pulau Macan (Tiger Island).

    We have seen your post about your experience in Pulau Macan on your blog, and we hope that you can help us to fill in our questionnaire. Hope you do not mind to help us.

    All data collected from the research will be used for academic research purpose and useful for Pulau Macan management. Below is the link of questionnaire that concerned with our study. It will take around 5 minutes to complete this questionnaire. Thank you very much for your time and cooperation. We really appreciate your help.

    Link : https://docs.google.com/forms/d/1iPVsn6Q6As68K6Jyy_s3jt-AZjgG-_wnUyEtn6MWXsw/viewform?usp=send_form

    Thanks!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s