Arung Jeram di Sungai Cimandiri

“Kalau musim hujan, waktunya untuk rafting

Kalimat itu gue baca beberapa bulan lalu di sebuah akun twitter entah milik siapa. Namun, gue selalu mengingatnya sampai suatu hari The Exist di Whatsapp Group sedang berbincang mengenai tujuan perjalanan kami berikutnya. Setelah kami seru-seruan di Sawarna, gue mengusulkan untuk berarung jeram. Ternyata sebagian besar orang menyutujuinya. Sama seperti gue, mereka juga tertarik karena belum pernah berarung jeram sebelumnya. Kami pun meminta bantuan Yudi untuk mengatur perjalanan kami. Akhirnya dipilihlah Sungai Cicatih, Sukabumi sebagai tempat kami berarung jeram. Tak sabar rasanya berolahraga yang tergolong cukup ekstrim ini. Apalagi ada teman-teman gue selain dari The Exist yang ikut. Ada Lidya, Rilla, Dino dan Dido dari Tim UG. Juga Kak Naga, Kak Roos, Kak Windy dan lainnya yang gue kenal dari komunitas baca gue tercinta, Goodreads Indonesia.

12 Januari 2013

Sesuai dengan perjanjian, kami akan berangkat pada pukul satu malam dari Semanggi. Karena dipastikan akan bergadang, gue sempatkan diri untuk tidur siang. Lumayanlah dua sampai tiga jam terlebih dahulu. Bodohnya sebelum berangkat, gue dan Kak Naga menonton film The Impossible di bioskop. Film yang berkisah tentang tsunami di Thailand beberapa tahun lalu ini sungguh membuat gue cemas. Bagaimana tidak, banyak sekali gambar tentang orang yang tergulung dan tenggelam di derasnya arus air laut yang mengalir ke ke jalanan yang sudah tampak seperti sungai. Gue hanya bisa berdoa supaya tidak ada masalah ketika kami berarung jeram. Setelah semua berkumpul dan jadwal agak molor, kami akhirnya berangkat sekitar pukul dua malam. Semua tampak letih dan mengantuk yang sepertinya akan jatuh tertidur dengan mudahnya ketika sudah duduk nyaman di dalam bus.

*Sumber: Caroline*

*Sumber: Caroline*

Kami berangkat tengah malam karena ingin menghindari macet. Betul saja, jalanan begitu lancar dan ternyata hanya membutuhkan tidak lebih dari tiga jam perjalanan umtuk sampai di lokasi. Karena sudah pukul lima pagi, gue pun memilih untuk beribadah sedangkan yang lain juga melakukan aktivitasnya masing-masing. Sejam kemudian, matahari mulai menampakkan diri. Langit gelap berubah menjadi terang, udara pagi yang terhirup terasa menyegarkan. Sambil menunggu waktu pukul delapan lagi untuk berangkat ke sungai, kami sarapan terlebih dahulu dan tak lupa berfoto ria. Namun sampai pukul delapan terlewati, tidak tampak kami akan segera diberangkatkan. Agak mengesalkan karena tidak adanya kejelasan. Riam Jeram sebagai penyedia jasa arung jeram seharusnya memberikan penjelasan kepada kami tentang alasan keterlambatan. Juga tidak memberikan janji-janji palsu untuk jam keberangkatan kami. Sehingga kami jadi tenang dan  tidak gelisah selama menunggu.

*Sumber: Caroline*

*Sumber: FB Lidya Ramadhania*

*Sumber: FB Lidya Ramadhania*

Akhirnya sekitar pukul sembilan, kami berangkat juga ke lokasi keberangkatan. Karena debit air yang cukup tinggi di Sungai Cicatih, kami dipindahkan ke Sungai Cimandiri. Untuk sampai ke lokasi, ternyata perjalanan yang ditempuh cukup jauh. Bahkan membutuhkan waktu yang tidak sebentar meskipun sudah naik angkutan kota yang mengebut. Sesampainya di titik awal, kami dipersilakan untuk memakai perlengkapan berarung jeram. Yaitu life vest, helm dan mengambil sebuah dayung. Setelah semuanya siap, kami pun dijelaskan bagaimana cara aman untuk berarung jeram. Dengan seksama gue mencoba untuk memahami apa yang dijelaskan dan mencoba untuk mengingatnya. Untuk seorang pelupa seperti gue, perlu usaha keras untuk menghafalkan instruksi-instruksi tersebut. Untung saja ketika pembagian perahu karet, kami mendapatkan guard yang barusan saja menjelaskan, Bang Eli. Gue sepenuhnya menyerahkan keselamatan padanya selain Tuhan tentunya.

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: FB Dido Indra Segara*

Gue satu perahu dengan Tim UG yang semuanya bersemangat untuk mengarungi Sungai Cimandiri. Sungai ini sepanjang sembilan belas kilometer. Lebih jauh tujuh kilometer dibandingkan dengan Sungai Cicatih. Namun jeramnya tidak sebanyak dan seseru yang ada di Sungai Cicatih. Bahkan menurut Bang Eli, semua jeram yang ada di sana sudah diberi nama. Sedangkan yang di Sungai Cimandiri belum semuanya. Yang gue ingat waktu itu hanyalah Jeram Kerinduan dan Jeram Harga Diri. Dua jeram yang namanya cukup lucu dan mudah untuk diingat. Di awal pengarungan, arus sungai yang berwarna coklat tidak begitu deras. Bang Eli pun menginstruksikan kita untuk mendayung dengan hitungan “satu dua, satu dua” yang kami patuhi dan teriakkan dengan semangat. Baru ketika memasuki jeram, kami berhenti mendayung dan segera menggenggam tali supaya tidak jatuh karena terjangan air. Setelah lepas dari jeram, barulah kami tertawa sembari takjub dengan rintangan yang telah kami lewati.

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

Di satu titik, ada fotografer dari Riam Jeram yang mengabadikan momen ketika kami mengarungi jeram yang kami hadapi. Ketika melihat hasil foto-foto tersebut, terlihatlah tampang kami yang beragam. Tampak ketakutan tetapi tetap bahagia dan bersemangat karena keseruan yang kami alami. Perahu karet kami memang diajak untuk bermain dengan arus liar. Sering kali air sungai itu menerjang dengan kencang sampai badan pun terhempas. Kalau saja tak memegang tali dengan kuat. Dipastikan kami akan tercebur ke dalam sungai seperti yang terjadi pada beberapa teman kami di perahu lain. Tim UG memang harus berterima kasih dengan Bang Eli. Karena dari foto tersebut terlihat Bang Eli mendayung sendirian mengarahkan perahu dengan benar. Sehingga perahu kami tidak terbalik karena jeram-jeram tersebut.

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

*Sumber: Riam Jeram*

Setelah sejam berlalu dari jalur kami yang cukup panjang, kami beristirahat sebentar terlebih dahulu. Kami memanfaatkannya untuk makan cemilan. Dari mulai gorengan yang disediakan Riam Jeram hingga makanan ringan yang kami bawa sendiri. Sebenarnya beberapa kali juga kami berhenti untuk menjaga urutan berarung jeram. Juga agar perahu-perahu kami tidak bertubrukan satu dengan lainnya. Dikarenakan kami adalah grup terakhir. Sehingga kami punya banyak waktu untuk berfoto. Sayang kami hanya punya kamera yang tidak tahan air. Sehingga kami hanya bisa berfoto pada saat berhenti saja. Padahal seru juga foto saat-saat sedang mengarungi sungai. Bahkan di beberapa tempat, kami mendapatkan pemandangan yang cukup indah. Yang paling mengagumkan adalah sebuah curug yang cukup tinggi di tebing pinggir sungai. Begitu indahnya tetapi kami tidak bisa memotretnyanya karena kami tak sempat mengeluarkan kamera yang disimpan didalam tas Bang Eli.

*Sumber: Putri*

*Sumber: FB Dido Indra Segara*

*Sumber: FB Dido Indra Segara*

*Sumber: FB Dido Indra Segara*

Setelah dua jam, akhirnya selesai juga kami berarung jeram. Rasanya masih ingin melanjutkan petualangan kami menyusuri sungai tersebut. Sebelum menuju tempat peristirahatan, kami berfoto dulu dengan Bang Eli yang kami kagumi. Beliau sangat baik bahkan rela turun ke pematang sawah. Demi memenuhi hasrat berfoto kami dengan hamparan sawah yang hijau. Ditemani oleh rintik gerimis, kami berjalan ke tempat peristirahatan. Di sana kami mandi, ibadah dan makan siang. Setelahnya, gue dan Tim UG sempat bermain di jembatan gantung di dekat sana. Sebenarnya jika ingin menginap sehabis berarung jeram, di sini juga disediakan penginapan. Namun, kami memilih untuk kembali ke Jakarta. Pengalaman ini tidak akan mudah terlupakan. Bahkan gue ketagihan dibuatnya. Tak sabar rasanya untuk berarung jeram di tempat lain. Memacu adrenalin dalam versi yang menyenangkan. Semoga ada kesempatan berikutnya!

*Sumber: FB Dido Indra Segara*

*Sumber: FB Dido Indra Segara*

*Sumber: FB Lidya Ramadhania*

NB: Sebaiknya sebelum berarung jeram, pakailah sumblock/sunscreen terlebih dahulu. Karena tidak terasa ternyata sengatan matahari telah membakar kulit kita selama beberapa jam. Seperti yang terjadi pada gue dan sebagian besar teman gue yang lain. Atau kalau tidak mau repot mengolesi krim tersebut, pakailah baju berlengan panjang dan celana panjang sehingga tidak ada kulit yang terpapar langsung oleh sinar matahari.

3 thoughts on “Arung Jeram di Sungai Cimandiri

  1. bagus banget..gw bacanya sampe sipit matanya abis tulisan kecil-kecil .he he tapi top markotop deh fotonya jg bagus2 ..soalnya ada lekong gw mamo hi hi;).

  2. itu mah kmpung hlaman rercinta gw, tempat lahir gw kn di daerah situ, tpi dri gw kecil pindah k tangerang,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s