Tamasya Museum di Taman Mini Indonesia Indah (Bag. III)

22 Desember 2012

Setengah tahun sudah, gue tidak bertamasya ke Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Maka gue mengajak Echa untuk berkunjung kembali ke sana. Jika sebelumnya, kami berempat dengan Mia dan Sekar. Sekarang hanya kami berdua yang bisa. Namun tidak menjadi masalah, rencana tamasya tetap dilakukan. Belajar dari pengalaman yang lalu bahwa semua museum rata-rata baru beroperasi pada pukul sembilan pagi. Kami bertemu di dalam TMII pada pukul sepuluh pagi. Tujuan pertama kami adalah Museum Indonesia, salah satu museum terbaik yang ada di Indonesia menurut beberapa situs. Setelah meminta peta TMII di bagian informasi, kami menuju ke Museum Indonesia yang berlokasi tidak jauh dari sana. Awalnya, kami mengira museum ini tutup dalam tahap renovasi. Namun, kami curiga bahwa pintu masuknya bukanlah yang kami lihat. Setelah berputar, barulah kami temukan pintu utamanya. Bentuk luar museum ini menarik sekali dengan asitektur tradisional Bali yang cukup megah.

DSCN6141

DSCN6143

Museum Indonesia sudah berdiri sejak tahun 1980. Sedangkan gue baru tahu keberadaaanya belakangan ini. Masuk ke dalam, kami langsung disambut ramah oleh petugas museum yang mempersilakan kami melihat-lihat. Lantai satu ini dinamakan Lantai Bhineka Tunggal Ika yang terbagi dari dua bagian. Di bagian barat kita bisa melihat puluhan manekin yang memakai pakaian adat pernikahan ataupun pakaian sehari-hari tiap propinsi yang ada di Indonesia. Kami menghabiskan waktu yang cukup lama di bagian ini demi mengagumi setiap detilnya. Betapa kaya dan indahnya busana adat di Indonesia. Keragamannya jangan ditanya, dari berbagai jenis kain yang digunakan hingga bermacam-macam aksesoris yang mempercantik busana. Sedangkan di bagian timur, terdapat beberapa instrumen musik yang ada di Indonesia. Seperti kulintang dari Sulawesi Utara, angklung dari Jawa Barat dan juga gondang sembilan dari tanah Batak. Yang paling megah adalah seperangkat gamelan lengkap dengan manekin-manekin yang memainkannya.

IMG_1267

IMG_1261

IMG_1263

IMG_1273
Kami pun menapaki tangga hingga lantai dua yang bertema Manusia dan Lingkungan. Di bagian timur lantai ini terdapat minuatur dari rumah tradisional yang ada di Indonesia. Secara keseluruhan, sebagian besar rumah tradisional terbuat dari kayu. Yang merupakan sumber daya alam yang mudah dijumpai hampir di seluruh Indonesia. Begitu juga model rumah panggung yang biasanya di bagian bawah digunakan untuk tempat ternak. Tak hanya bentuk luarnya saja yang dipamerkan, ada pula diorama bagian dalam rumah. Seperti bagian tengah rumah joglo adat Jawa dan dapur di rumah adat Batak. Selain itu ada koleksi perlengkapan melaut dan bertani. Nelayan dan Petani memang dua profesi kebanyakan manusia Indonesia untuk mencari penghidupan. Koleksi perlengkapan rumah tangga juga dipamerkan di sini. Kebanyakan berupa kayu atau rotan yang dianyam dan gerabah yang terbuat dari tanah liat. Sedangkan di bagian barat terdapat diorama upacara potong gigi, turun tanah dan tujuh bulanan.

IMG_1286

IMG_1297

IMG_1295

IMG_1300

Lanjut ke lantai tiga yang bertemakan Seni dan Kriya, kami disambut ukiran kayu dari batangan pohon asli. Begitu tinggi dan megah. Terbayang ini terbentuk dari pohon yang berusia sudah ratusan tahun. Kain-kain yang tadi kami lihat dipakaikan ke manekin dipajang di sini. Ada songket dan batik serta diorama proses pembuatannya. Kain-kain indah buatan tangan tersebut memang merupakan mahakarya. Selain itu juga ada koleksi perhiasan dan mata uang dari zaman kerajaan dulu. Perhiasannya terbuat dari emas, perak, tembaga dan logam lainnya. Dari anting sederhana hingga hiasan rambut yang begitu rumit desainnya. Ternyata tak hanya wanita yang memakai perhiasan tetapi juga pria. Koleksi mata uangnya lumayan lengkap walau tak selengkap yang ada di Museum BI. Ada pula kerajinan dengan bahan baku kayu, tanah liat, kain dan lainnya.

IMG_1304

IMG_1306

IMG_1307

IMG_1317

Tak terasa dua jam sudah kami mengelilingi bagian dalam Museum Indonesia. Menurut gue, inilah museum terbaik yang berada di dalam kawasan TMII. Dari segi bangunan yang masih terawat, kebersihan dan kerapihan dalam tata letak koleksi. Juga kesigapan pemandu dalam menerangkan berbagai koleksi yang ada. Saran gue cukup sederhana, adakanlah kegiatan yang melibatkan banyak orang. Kemudian memindahkan pintu masuk sehingga mudah untuk dicari dan tidak membuat pengunjung kebingungan. Sebelum melanjutkan tamasya ke museum lainnya, kami menyempatkan diri untuk berfoto di bagian luar Museum Indonesia yang juga menarik. Ada beberapa “Bale” untuk beristirahat dan berkumpul, kolam dan juga menara air.

DSCN6156

DSCN6161

Menurut rencana perjalanan kami, tujuan selanjutnya adalah Museum Asmat. Selesai dari makan siang, ternyata hujan turun rintik-rintik. Namun, kami tetap semangat melangkahkan kaki ke sana. Kebetulan lokasinya pun tidak terlalu jauh. Namun kami kecewa karena sesampainya di sana ternyata museum sedang dalam proses renovasi. Gue tambah kecewa ketika penjaga loket menjawab kalau proses renovasi entah sampai kapan selesainya. Namun, gue cuma bisa berharap dan berdoa semoga Museum Asmat lekas selesai direnovasi sehingga nyaman untuk dikunjungi. Hujan menderas dan kami kebingungan mau kemana lagi. Setelah berpikir dan mempertimbangkan segala hal, kami pun memilih Museum Perangko. Dengan bermodalkan payung, kami melangkah menembus rinai hujan. Setibanya di sana, seperti kebanyakan museum lainnya di TMII, suasana begitu sepi tanpa ada pengunjung. Hanya ada beberapa pengurus museum yang sedang bermain catur.

DSCN6170

Museum Perangko berdiri sejak tahun 1983 dengan bentuk bangunan depan dibuat seperti pendopo. Sayang sekali ruangan dalam museum ini begitu minim penerangan. Penyejuk udara pun tidak ada sehingga udara menjadi pengap dan membuat tidak nyaman. Padahal koleksi perangkonya cukup banyak dan menarik. Sehingga seharusnya membutuhkan waktu yang agak lama untuk mencermatinya. Semoga saja PT. Pos Indonesia lebih memerhatikan museum ini sehingga bisa lebih berkembang dan tidak stagnan kondisinya. Waktu sudah semakin sore, kami pun ada janji dengan teman yang lain. Kami pun akhirnya menyelesaikan tamasya di TMII kali ini. Masih banyak museum lainnya yang harus dikunjungi. Ya, suatu hari nanti…

IMG_1344

IMG_1326

IMG_1343

NB: Selengkapnya bisa dilihat di sini.

One thought on “Tamasya Museum di Taman Mini Indonesia Indah (Bag. III)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s