Kabur Ke Belitong (Bag.II)

1 Desember 2012

Pukul delapan pagi, kami sudah dijemput Pak Saiful untuk menuju ke Tanjung Kelayang. Dari sana, menggunakan perahu bermesin, kami akan ‘island hoping’. Pulau pertama yang akan kami hampiri adalah Pulau Lengkuas. Pulau bermercusuar yang kemarin dari kejauhan sudah kami lihat. Namun sebelum merapat, kami mencari tempat yang bagus untuk snorkeling. Memang kami mengubah jadwal dengan snorkeling terlebih dahulu. Mengantisipasi jika nantinya hujan akan turun dan membuat snorkeling jadi sulit dilakukan. Setelah memakai ‘life vest’, perahu kami pun melaju di laut yang cukup tenang. Siang itu langit begitu cerah, penuh dengan awan yang berarak. Selama menuju ke lokasi snorkeling, gue menyadari bahwa ternyata memang Pulau Belitong tercipta begitu indah. Hampir sepanjang pantai, kami bisa melihat begitu banyak bebatuan besar yang berderet artistik. Entah darimana bebatuan tersebut berasal. Yang pasti karenanya, gue hanya bisa takjub dan bersyukur punya kesempatan melihat surga dunia ini.

*Sumber: Leonardus Putranto*

DSCN6043

DSCN6038

20121201_092124

20121201_092416

Tak hanya bebatuan yang ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan pantai lainnya di Indonesia. Bintang laut di sekitar Pulau Belitong juga berukuran besar. Gue memang tidak tahu ukuran normal bintang laut pada umumnya. Namun, inilah bintang laut terbesar yang pernah gue lihat selama berjalan-jalan. Warnanya merah pucat dengan tonjolan-tonjolan hitam dan keras jika disentuh. Pengendara perahu sempat memperlihatkan bintang laut tersebut pada kami. Kemudian setelah difoto, bintang laut itu dikembalikan ke dasar laut. Tak lama setelah itu, kami pun tiba di lokasi snorkeling. Koral dan ikan yang kami lihat sebenarnya cantik. Namun tidak secantik yang pernah gue lihat di Pulau Sangalaki, Kaltim ataupun di Kepulauan Gili di Lombok. Namun, apa yang kami lihat sudah termasuk cantik.

20121201_093149

*Sumber: Kadek Devi*

*Sumber: Kadek Devi*

Setelah puas snorkeling, perahu kami pun merapat di Pulau Lengkuas. Sesampainya di sana, kami langsung menuju deretan bebatuan raksasa yang seperti kami lihat di Tanjung Tinggi. Lewat celah kecil, kami menemukan surga dunia lainnya. Air laut yang terjebak oleh bebatuan di sekitarnya sehingga terbentuk seperti kolam. Kami tidak menaiki batu-batuan paling tinggi karena salah satu teman kami sudah terluka karena jatuh. Setelah makan siang, kami meninggalkan Pulau Lengkuas dan menuju Pulau Burung. Mungkin banyak yang menanyakan, bagaimana dengan mercusuarnya? Tidakkah gue menaikinya?” Ya gue memang tidak menaikinya. Entah mengapa saat itu gue kurang bersemangat untuk menaiki ratusan anak tangga di mercusuar tersebut. Rasa lelah karena dehidrasi kemarin sore belum hilang. Sudah begitu, teman-teman gue pun tidak ada yang begitu minat untuk naik ke mercusuar. Pasti banyak yang bilang dari atas gue bisa mendapatkan pemandangan yang lebih bagus. Apakah gue menyesal? Sekilas, gue menyesal mengapa tidak memaksakan diri untuk tetap naik ke atas. Namun, kalau dipikir kembali ternyata gue tidak menyesal.

*Sumber: Leonardus Putranto*

*Sumber: Leonardus Putranto*

*Sumber: *Leonardus Putranto*

20121201_094418

Gue tidak menyesal karena kalau saja gue tidak langsung ke Pulau Burung, dipastikan gue akan kehujanan nantinya. Karena tak lebih dari satu jam, di sekitar pulau-pulau tersebut turun hujan yang begitu deras. Bayangkan betapa lama waktu yang dihabiskan untuk naik turun mercusuar. Sedangkan waktu itu bisa kami habiskan di pantai tersembunyi di Pulau Burung dengan cuaca yang cerah. Inilah lokasi favorit gue selama di Belitong. Begitu sepi dari manusia sehingga seperti merasa sisi pantai yang indah itu hanya milik kami sendiri. Untuk menuju tempat ini, setelah perahu merapat lalu kami melangkah ke jalan setapak. Di samping kanan dan kiri terdapat ilalang dengan pohon kelapa yang berbaris. Di ujung jalan setapak itu terdapat balkon kayu dengan tempat duduk. Dari sini kita bisa mendapatkan pemandangan yang sangat indah. Kemungkinan juga banyak orang cukup puas berhenti di sini lalu kembali lagi.

DSCN6088

DSCN6090

*Sumber: Maddy Kusuma*

Namun, kami tidak berhenti di situ. Kami turun ke bawah dan menyusuri pantai ke arah kanan. Dan di sisi lain pulau inilah terdapat surga tersembunyi. Saat itu hanya kami yang berada di situ. Di sini semua terasa begitu damai dan indah. Pepohonan di pinggir pantai yang berpasir putih. Bebatuan yang tidak begitu besar tapi seakan pas komposisinya dengan pantai. Belum lagi seperti biasa, langit biru dan gugusan awan putih meanambah kecantikan tempat ini. Beberapa diantara kami memilih untuk berenang kembali. Sedangkan sebagian hanya duduk di pinggir dan menikmati pemandangan sambil bermandikan sinar matahari. Kami benar-benar memanfaatkan waktu hingg langit gelap pun menghampiri. Pertanda kami harus beranjak dari pantai indah ini ke tujuan berikutnya.

20121201_125250

20121201_125500

20121201_130348

20121201_131601

20121201_130854

20121201_133919

Ternyata di tengah perjalanan kami menuju Pulau Babi, hujan turun dengan derasnya. Mengakibatkan air laut bergelombang cukup besar yang membuat perahu kami berguncang-guncang. Beberapa di antara kami memutuskan untuk kembali saja ke daratan. Karena takut dengan kondisi cuaca yang sepertinya akan berbahaya. Sebenarnya untuk hujan di tengah laut, gue pernah mengalami yang lebih berbahaya di Pulau Kakaban (Kalimantan Timur) ataupun ketika gue mau berkemah di Pulau Harapan (Kepulauan Seribu). Namun, memang ada baiknya kami tidak terlalu menantang bahaya kali ini. Sampai di Tanjung Kelayang, kami beristirahat sejenak lalu menuju Tanjung Pendam. Lokasinya seperti Pantai Marina di Ancol tapi dalam versi sederhana. Di sini merupakan tempat berkumpul, bersantai dan bersantap di beberapa restoran yang tersedia.

Rencananya kami akan melihat sunset di tepi Pantai Tanjung Pendam. Namun setelah ditunggu cukup lama, tampaknya langit tak kunjung cerah. Seperti kemarin, rasanya hari ini pun kami tidak bisa melihat matahari tenggelam. Akhirnya kami memutuskan untuk membeli oleh-oleh saja. Untuk makanan, yang paling khas dari Belitong adalah kerupuk dari ikan tenggiri. Selain itu ada makanan kering berupa abon ikan/kepiting, ikan teri goreng tepung dan lainnya. Ada juga souvenir berupa pakaian dan aksesoris yang kebanyakan bertema Laskar Pelangi. Yang spesial adalah batu meteorit bernama batu satam. Batu hitam berukuran kecil ini cukup istimewa. Konon dipercaya mempunyai kekuatan gaib di dalamnya. Bahkan kalau batu itu disentuh oleh kuku jari di atas kaca, batu itu akan berputar dengan sendirinya. Menarik! Akhirnya kami sudahi perjalanan kami hari itu dan beristirahat untuk kembali ke Jakarta esok hari.

2 Desember 2012

Menuju bandara, kami menyempatkan diri untuk mampir ke Danau Kaolin. Danau ini merupakan lubang-lubang galian tambang kaolin. Lubang ayng tertinggalkan ini dipenuhi air yang kini berwarna biru kehijauan (toska) . Hujan tak lelah menyertai perjalanan kami. Sesampainya di lokasi, kami pun menunggu beberapa saat sampai hujan reda. Langit pun cerah kembali berwarna biru dengan gugusan awan putih yang berarak indah. Walaupun masih terlihat beberapa awan hitam namun sinar matahari sangat terik sekali. Bahkan rasanya cukup menyakitkan dibandingkan dengan tempat lainnya kemarin. Mungkin karena sedikit sekali pohon besar yang ada di sini. Karena tidak begitu kuat dan tahan dengan teriknya matahri, kami tidak bisa berlama-lama di sini.

20121202_094501

20121202_094312

20121202_093250

20121202_092754

20121202_093010

Menyenangkan sekali bisa berkunjung ke salah satu pulau eksotis yang dimiliki Indonesia, Belitong. Tak cukup rasanya tiga hari menjelajahi Belitong. Gue sendiri punya banyak alasan untuk kembali lagi. Gue mau naik ke mercusuar di Pulau Lengkuas. Melihat bagaimana indahnya Pulau Babi dan Pulau Batu Berlayar. Terpana dengan peristiwa matahari tenggelam di Pantai Belitong. Lalu berkunjung ke Vihara Dewi Kwan Im yang memang letaknya cukup jauh di Belitong Timur. Alasan terakhir, tentunya gue ingin menikmati lagi indahnya surga yang telah gue lihat. Gue yakin tidak akan pernah bosan melihat karya cipta Tuhan tersebut. Semoga saja semua keinginan gue terkabul. Amin.

Dan sekali lagi berkat Escape Indonesia, gue punya keluarga baru. Semoga kita terus berteman hingga berjumpa kembali di petualangan kita berikutnya!

*Sumber: Leonardus Putranto*

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

2 thoughts on “Kabur Ke Belitong (Bag.II)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s