Pesona Alam Karanganyar

17 November 2012

Hari ini kami siap untuk berpetualang ke Kabupaten Karanganyar yang berada di timur Kota Surakarta. Kami akan menyambangi Candi Cetho, Candi Sukuh dan Grojogan Sewu. Sebenarnya dari Jakarta, kami tidak berencana pergi ke sana. Namun ketika gue di Solo, beberapa teman menyarankan untuk mengunjunginya. Gue jadi tertarik untuk pergi dan mengajak teman yang lain untuk ikut. Mobil pun disewa dan yang berminat ikut selain gue dan Roos adalah Tiwik dan sepupu kak Roos. Pada awalnya kami melalui jalan perkotaan yang lebar hingga jalanan makin menyempit dan menanjak. Untung saja jalanan relatif bagus dan mulus sehingga curamnya jalan tidak terlalu membuat ngeri. Karena kita berangkat cukup pagi, kabut pun masih membatasi jarak pandang. Gue merasakan kalau suasana perjalanan ini seperti halnya kalau pergi ke Puncak, Jawa Barat. Selain struktur jalan dan iklim, adanya kebun teh dan sayur-sayuran di pinggir jalan membuat keduanya begitu mirip. Yang membedakannya di sini belum ada deretan villa-villa yang merusak pemandangan.

Sesampainya di Candi Cetho ternyata kami bukanlah pengunjung pertama. Sudah ada beberapa wisatawan yang lokal yang datang. Langit Desa Ceto pagi itu agak kelabu dan berkabut. Setelah membayar tiket masuk, kami pun mendaki tangga menuju candi peninggalan Kerajaan Majapahit tersebut. Strukut Candi Cetho ini adalah punden berundak berjumlah tiga belas teras. Sebelum memasuki teras pertama kami melewati gapura batu yang biasa kita lihat di pura-pura. Ini menandakan bahwa Candi Cetho merupakan candi hindu. Di teras pertama ini kita bisa melihat dua patung. Sebuah patung juga ditemukan di teras berikutnya. Di sebelah kanan ada papan informasi mengenai sejarah Candi Cetho.

Candi Cheto Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Memasuki teras berikutnya, kami disambut hamparan rumput hijau dengan beberapa tanaman berukuran kecil. Di sebelah kiri terdapat petilasan Ki Ageng Krincingwesi, leluhur masyarakat Dusun Ceto. Di teras selanjutnya gue menemukan susunan batu secara mendatar di permukaan tanah yang membentuk simbol-simbol. Antara lain kura-kura raksasa, Surya Majapahit (lambang Kerajaan Majapahit), dan phallus (alat kelamin laki-laki) sepanjang 2 meter dilengkapi dengan hiasan tindik. Kura-kura adalah lambang penciptaan alam semesta sedangkan penis merupakan simbol penciptaan manusia. Di dekatnya terdapat dua jajaran batu berbentuk persegi yang sepertinya bekas sebuah pondasi bangunan. Di pinggirnya terdapat relief cuplikan kisah Sudhamala yang juga bisa dijumpai di Candi Sukuh.

Candi Cheto Karang Anyar

Candi Cheto Karang Anyar

Teras berikutnya, tanah yang kami pijak sudah dilapisi bebatuan. Saat memasuki dan mendaki ke teras berikutnya, gue merasa ini seperti Pura Besakih tetapi dengan ukuran yang lebih kecil. Di teras-teras tersebut terdapat pendopo dan juga ada dua arca yaitu arca Sabdapalon dan arca Nayagenggong. Di sini tiba-tiba kami diselimuti kabut hingga jarak pandang yang begitu dekat. Tadinya gue berpikir akan terjebak cukup lama di dalam kabut tetapi ternyata itu berlangsung sebentar saja. Sedangkan di teras berikutnya terdapat arca phallus (kuntobimo) dan arca Sang Prabu Brawijaya V dalam wujud mahadewa . Sedangkan di teras paling atas, terdapat sebuah bangunan dengan bentuk pondasi persegi. Di sini juga terdapat gapura tetapi terkunci yang sepertinya untuk menjaga kesucian tempat tersebut. Candi ini memang masih digunakan oleh umat Hindu untuk berdoa dan juga umat Kejawen yang melakukan ritual ruwatan.

Candi Cheto Karang Anyar

Candi Cheto Karang Anyar

Candi Cheto Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Menurut beberapa sumber, Candi Cetho ini sudah mengalami berbagai pembaharuan. Sehingga bangunan ini sudah tidak asli seratus persen lagi.Memang sayang sekali tetapi itu semua sudah terjadi. Selanjutnya adalah memelihara bangunan ini agar tetap terawat. Tak lama di atas, kami pun turun kembali. Kami melihat ada sekumpulan pemuda-pemudi yang memakai pakaian adat Jawa. Setelah ditanya, ternyata mereka adalah para mahasiswa dari salah satu universitas di Malang. Mereka sedang mengerjakan tugas membuat film. Kami pun meminta untuk berfoto bersama mereka. Senangnya, mereka sangat ramah dan senang hati untuk berfoto.

Candi Cheto Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Selesai dari Candi Cetho, kami langsung meluncur ke tujuan berikutnya yaitu Candi Sukuh. Di tengah perjalanan, kak Roos sempat minta berhenti. Dia ingin mengambil gambar pemandangan hamparan tanaman teh yang hijau menguning. Pemandangannya memang sungguh memukau tetapi sayang langit begitu gelap. Benar saja, tidak berapa lama tetesan air hujan pun turun dari langit. Untung saja sesampainya di Candi Sukuh, hanya gerimis yang tersisa. Malahan tak berapa lama kami di sana, hujan pun berhenti walaupun langit tidak kunjung cerah.

*Sumber: Ken Petung*

Candi Sukuh Karang Anyar

Candi Sukuh sama seperti Candi Cetho merupakan candi Hindu peninggalan Kerajaan Majapahit. Namun, ukurannya tidak seluas Candi Cetho dengan jumlah teras yang lebih sedikit. Yang pertama kali lihat adalah gapura berbentuk trapesium. Kami tidak bisa lagi melewati celahnya karena sudah ditutup. Kami melewati jalan setapak yang sudah dibuat pengelola. Di teras pertama dan kedua tidak banyak patung ataupun arca. Hanya ada tiga di bagian kiri dan dua arca penjaga di tangga menuju teras berikutnya. Kemudian ada gerbang batu yang sepertinya dahulu merupakan bagian dari gapura yang sekarang sudah tidak utuh lagi.

Candi Sukuh Karang Anyar

Candi Sukuh Karang Anyar

Candi Sukuh Karang Anyar

Di teras berikutnya pada bagian kiri gue melihat ada deretan arca dan batu berelief yang berkisah tentang Pandawa Lima. Sedangkan di bagian kanannya terdapat tiga patung tanpa kepala. Gue tidak mengerti apakah dengan sengaja patung itu dibuat tanpa kepala. Atau memang kepalanya sudah putus dimakan zaman. Kalau dilihat-lihat, memang bentuk dan susunan candi ataupun patung di dekat candi utama tidak umum seperti candi lainnya di Indonesia. Malahan lebih mirip dengan candi dan patung peninggalan Suku Maya ataupun Suku Inca di Amerika Latin. Candi Sukuh sangat terkenal karena banyak sekali arca atau patung dan relief berupa lingga dan yoni (alat kelamin). Yang paling jelas terlihat adalah sebuah patung lelaki telanjang tanpa kepala yang sedang memegang alat kelaminnya.

Candi Sukuh Karang Anyar

Candi Sukuh Karang Anyar

Candi Sukuh Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Saat kami di sana, candi ini sedang ramai dikunjungi oleh anak-anak pramuka dari sebuah sekolah menengah pertama. Ketika mengagumi obyek candi, hujan pun kembali turun menderas. Kami pun berteduh ke pos satpam sedangkan anak-anak SMP itu dengan cueknya berada di bawah siraman hujan. Kami kembali mengambil gambar saat hujan hanya berupa rintik gerimis. Langsung saja kami ke candi utama dan naik ke puncaknya. Candi utama ini berbentuk seperti piramida tetapi puncaknya tidak lancip melainkan datar. Di depannya terdapat dua batu berbentuk kura-kura seperti yang terlihat di Candi Cetho. Untuk naik ke atas, kami harus menaiki tangga yang cukup terjal dan sempit. Tiap anak tangganya juga berjarak cukup jauh. Walaupun terlihat kokoh tetapi gue berpikir mungkin lama-kelamaan bebatuan ini akan terkikis ataupun rusak jika terus dipijak. Menurut gue, sudah saatnya pihak pengelola merencanakan untuk melarang pengunjung naik ke bagian atas bangunan Candi Sukuh.

Candi Sukuh Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Dari Desa Sukuh, kami menuju tujuan selanjutnya di daerah Tawangmangu. Cuaca pun kembali berubah menjadi panas terik. Di tengah perjalanan, lagi-lagi kak Roos minta berhenti. Kali ini bukan karena kebun teh melainkan sebuah Patung Semar berukuran raksasa. Kami tidak tahu apakah tempat tersebut ditujukan untuk wisata atau tidak. Bahkan kami masuk ke dalam melalui jalan setapak tanpa gerbang. Sepertinya memang ada pintu gerbang di sisi lain. Entahlah apakah masuk ke sini diharuskan membayar tiket masuk atau tidak. Namun, kami cuek saja berfoto karena ternyata ada juga pengunjung lain melakukan hal yang sama. Ternyata ini bukan patung tapi sebuah bangunan yang berbentuk Semar. Sayang sekali bangunan ini tidak terawat. Terlihat dari sebuah kaca jendela yang dibiarkan bolong. Kalau dilihat bangunan sekitarnya, tampak memang ini bekas taman wisata. Namun sekarang sudah tidak terurus lagi. Sayang sekali, padahal dengan pemeliharaan dan pengembangan lebih lanjut bangunan ini akan sangat menarik untuk dijadikan tempat wisata.

Patung Semar

*Sumber: Ken Petung*

Karena matahari sudah di atas kepala, kami berhenti dulu untuk beristirahat. Di sebuah restoran menuju Tawangmangu, kami makan dan beribadah. Di sana kami sempat bertemu dengan Ibu Bupati Karanganyar. Sepertinya beliau baru saja mengadakan pertemuan dengan warga di dekat restoran tersebut. Setelah energi kembali terisi, kami pun melanjutkan perjalanan. Jalanan makin menanjak dan tiba-tiba hujan pun turun kembali. Kali ini lebih deras dari sebelumnya. Bahkan sampai kami tiba di tujuan, hujan belum juga berhenti. Kami berniat menunggunya hingga reda. Namun, setelah sejam kami menunggu, hujan masih saja membasahi Tawangmangu.

Akhirnya gue dan Kak Roos bersepakat untuk menyewa payung dan masuk ke tujuan kami, Grojogan Sewu. Yang lain karena sudah pernah ke sini, lebih memilih untuk beristirahat di mobil. Setelah membayar tiket masuk, kami menuruni tangga yang sudah dibuat rapi oleh pengelola. Kami berhati-hati melangkah karena jalanannya agak licin. Namun jika gamang tidak usah khawatir karena ada besi pegangan di samping kiri. Grojogan Sewu merupakan air terjun yang terletak di lereng Gunung Lawu. Sehingga kondisi di sekitarnya masih hijau dengan pohon-pohon yang sangat tinggi. Pemandangannya begitu asri dan menyejukkan mata. Sesekali kami berhenti dan mengambil gambar tanpa terburu-buru waktu.

Grojogan Sewu Karang Anyar

Grojogan Sewu Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Tidak butuh waktu lama menuruni tangga untuk melihat Grojogan Sewu. Apalagi kalau dijalaninya sambil semangat dan ceria hati. Grojogan Sewu dalam bahasa Indonesia mempunya arti air terjun seribu. Namun sepertinya memang tak sejumlah itu. Penamaannya begitu karena air terjun yang bertumpuk-tumpuk sehingga terlihat banyak. Airnya mengalir melewati celah-celah bebatuan hingga menuju sungai. Air terjun utamanya mempunyai ketinggian sekitar 80 meter.  Kami tidak mendekat ke air terjun karena memang sudah ramai dengan pengunjung lain. Sudah begitu saat musim hujan seperti saat ini, debit air jadi melimpah. Cukup berbahaya jika mendekat. Percikan air terjun bahkan kami rasakan yang berdiri agak jauh. Kami hanya berfoto dari jembatan yang menghubungkan dua daratan yang dibelah sungai.

Grojogan Sewu Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Di dekat air terjun, pengelola juga menyediakan kolam renang. Di samping bagian kanannya terdapat deretan warung yang menjual panganan. Kita juga bisa melihat monyet-monyet liar yang bermain dan melompat dari satu dahan ke dahan lainnya. Kalau menuruni tangga agak tidak begitu terasa capeknya. Lain halnya dengan menaiki tangga untuk menuju pintu keluar. Beberapa kali kami harus berhenti untuk mengatur napas. Gue sendiri cukup iri dengan anak-anak sekolah yang dengan entengnya berlarian menaiki anak tangga. Sesampainya di pintu keluar kami baru tahu kalau kami baru saja menuruni dan menaiki 1.250 anak tangga. Ucapan semoga tambah sehat dan sukses pun kami amini.

Grojogan Sewu Karang Anyar

*Sumber: Ken Petung*

Di luar gerbang, terdapat ibu-ibu yang menjual rangkaian bunga. Juga oleh-oleh makanan khas Jawa tengah. Jika ingin menikmati kawasan wisata tanpa lelah bisa menyewa kuda. Kak Roos dan lainnya sempat menikmati sate landak. Jangan tanya gue bagaimana rasanya. Melihat mereka makan saja rasanya sudah mual. Gue lebih baik melihat titik-titik hujan di luar warung. Karena waktu yang sudah sore, kami pun kembali ke kota Solo. Namun seperti biasa, Kak Roos sekali lagi meminta untuk berhenti. Tepatnya dekat restoran tempat kami makan siang tadi. Di sana Kak Roos ingin mengambil gambar sawah yang terususun rapi dengan sistem terasering. Tadinya gue tidak mau ikut tetapi tawaran difoto di tengah sawah sepertinya sangat menarik. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan, berbecek-becek ria pun dilakukan.

*Sumber: Ken Petung*

*Sumber: Ken Petung*

*Sumber: Ken Petung*

Menyengangkan sekali bisa menikmati pesona Kabupaten Karanganyar. Semoga saja pemerintah daerah dan masyarakat setempat bisa menjaga warisan budaya dan sejarah yang mereka miliki. Juga keindahan alamnya yang luar biasa. Semoga suatu hari bisa kembali ke sini. Amin!

*NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.*

4 thoughts on “Pesona Alam Karanganyar

  1. salam kenal harun harahap!!
    kamu batak yah dari marganya hehee,,, aku siregar coy🙂 ehhee
    salam kenal,, keren bgt tentang candi, jd ngiler soalnya candi belum ada di blog ane,, oh yah follow back yah,,,
    salam kenal

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s