Wisata Museum dan Kuliner di Solo

16 November 2012

“Run, sudah bangun belum? Ikut jalan pagi ke Stadion Manahan yuk?“, ajak kak Roos.

Jujur saja, gue mengiyakan dengan ogah-ogahan. Rasanya masih ingin bermalas-malasan di tempat tidur. Namun sepertinya ide mengunjungi Stadion Manahan cukup menarik juga. Mengenang kembali kunjungan gue ke stadion itu sekitar sepuluh tahun yang lalu. Kami pun berjalan mengikuti Ibunya Kak Roos yang memimpin di depan. Untuk menuju stadion, kami cukup berjalan kaki sekitar seratus meter saja dari rumah Kak Roos. Saat itu sebenarnya matahari sudah agak tinggi karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Sejenak kami mengambil gambar bunga di luar stadion. Namun setelahnya, kami tak lagi melihat Ibu Kak Roos dan temannya yang sudah jalan terlebih dahulu. Sepertinya kami sudah tertinggal jauh. Kami pun masuk ke stadion dan mencoba untuk menyusul mereka.

Gue melihat tidak terlalu banyak orang yang berolahraga. Mungkin karena tak semua kantor di Solo yang menerapkan cuti bersama pada hari tersebut. Namun, Kak Roos mengatakan biasanya di akhir pekan, stadion yang dibangun pada tahun 1998 ini ramai sekali. Bukan saja banyak orang yang berolahraga tetapi juga menikmati berbagai kuliner dan belanja di pasar kaget. Menurut gue, stadion ini dirawat dengan cukup baik. Sudah lebih dari sepuluh tahun sejak dibangun tetapi masih layak digunakan untuk pertandingan internasional. Semoga saja pemerintah daerah setempat bisa mempertahankan pemeliharaan yang baik ini. Masyarakat pun bisa memanfaatkan semaksimal mungkin semua fasilitas dan sarana yang ada di stadion.

Stadion Manahan Solo

Stadion Manahan Solo

Stadion Manahan Solo

Lama kami melangkah, menunggu dan melihat sekitar. Namun, kami tak juga menemukan Ibunya Kak Roos. Kami berpikir kalau beliau sudah pulang. Sehingga kami pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Kami menyusuri sisi luar stadion di mana terdapat beberapa kios dan warung yang menjajakan cemilan hingga makanan berat. Kami sendiri akhirnya membeli Srabi Notosuman yang terkenal di Kota Solo. Entah ini merupakan cabang dari yang ada di Jalan Notosuman. Atau memang Srabi Notosuman sudah menjadi nama umum panganan tersebut. Srabi di sini hanya polos tanpa ada tambahan apapun di atasnya. Beda dengan yang ada di Jalan Notosuman yang menyediakan cokelat di atasnya. Bahkan yang dijual di banyak tempat, sudah menyediakan berbagai macam tambahan seperti buah-buahan. Srabi paling enak dimakan ketika masih hangat. Bagian atasnya masih lembek dan lembut. Terasa manis dan lengket di lidah. Namun jika dijadikan oleh-oleh, lebih baik memilih srabi gulung yang lebih tahan lama.

Srabi Notosuman Manahan Solo

Sekitar pukul sembilan pagi, gue, Kak Roos beserta ibu dan budenya berangkat menuju Museum Batik Danarhadi. Menurut banyak situs, inilah salah satu museum terbaik yang ada di Indonesia. Terletak di Jalan Slamet Riyadi di dalam House of Danarhadi, sebuah bangunan berdinding putih dan beratap rumah joglo. Nama Danarhadi berasal dari campuran nama Danarsih dan Hadi. Danarsih adalah nama istri dari H. Santosa Doellah, pemilik Batik Danarhadi. Sedangkan Hadi adalah nama dari mertua beliau. Museum ini buka setiap hari dari jam sembilan pagi hingga pukul empat sore. Untuk masuk ke dalamnya, kami diharuskan mendaftar dan membayar sebesar dua puluh lima ribu rupiah. Kemudian kami berkeliling ditemani pemandu yang menceritakan segala sesuatu tentang koleksi kain batik yang dipamerkan di museum.

Koleksi kain batik yang ada di museum ini jumlahnya ratusan dari berbagai zaman. Mulai dari semasa penjajahan Belanda dan Jepang hingga saat ini. Namun suasananya tidak terasa sumpek karena penataannya yang begitu apik. Berkeliling  museum pun semakin nyaman karena ada tembang-tembang jawa yang diperdengarkan dari pengeras suara. Koleksi kain batik tidak hanya dari seluruh wilayah di Indonesia melainkan dari negeri Cina hingga Eropa. Namun menurut pemandu kami, batik dari berbagai sumber informasi mengatakan berasal dari keraton. Batik berasal dari kata ambatik yang berarti membuat rangkaian titik di sebuah pola. Pemandu kami juga menjelaskan tentang arti dari pola yang dipakai dari masing-masing kain batik. Pola tersebut memiliki arti filosofis tersendiri sehingga kain batik tidak sembarang digunakan di berbagai acara. Hal inilah yang kurang dipahami oleh banyak orang. Maka dari itu, pemandu kami mengimbau jika membuat kelas membatik. Agar tidak sekadar belajar tentang cara membuat pola melainkan diajarkan juga arti filosofisnya.

Selain itu, di museum ini kami juga diperlihatkan bahan malam/lilin yang digunakan dalam membuat sebuah batik. Juga melihat secara langsung proses membatik di area workshop yang berada di bagian belakang. Jika sebelumnya di ruang pameran kami dilarang mengambil gambar karena takut cahaya kamera merusak kain batik. Di sinilah kami baru diperbolehkan untuk mengambil gambar. Di ruangan yang hangat karena panas malam ini, pertama kali yang kami lihat adalah pegawai yang sedang mencatat dan mengemas kain batik yang sudah jadi. Kemudian ada pekerja yang membuat pola. Setelah itu ada dua bagian yang terpisahkan oleh jenis kelamin. Perempuan di sisi kanan membatik dengan teknik tulis. Sedangkan di sisi lainnya, para pria membatik dengan teknik cap. Suasana siang itu agak terburu-buru karena memang hari itu hari Jumat. Sehingga banyak pegawai lelaki muslim yang bersiap untuk melakukan ibadah shalat jumat. Setelah melihat area workshop, kami pun memasuki toko yang menjual Batik Danarhadi. Sangat menyenangkan membeli batik di sini karena harganya lebih murah sekitar  tiga puluh persen dibandingkan harga jual di toko Batik Danarhadi cabang Jakarta.

DSCN5615

IMG_0985

DSCN5622

DSCN5627

Puas berbelanja di Batik Danarhadi, kemudian kami makan siang di Restoran Kusuma Sari. Di sana juga kami bertemu dengan Mbak Sanie. Kami memesan selat solo dan sup galantin. Juga makanan kecil seperti risol dan kroket. Tidak lupa hidangan penutup kesukaan gue yaitu es krim. Kali ini yang spesial dari restoran ini adalah es krim kopyor. Rasa kelapanya terasa nikmat walau porsinya terlalu sedikit buat gue. Memang kalau dilihat, porsi makanan di sini tidaklah besar. Bahkan tak seberapa lama setelah gue menghabiskan selat solo, rasa lapar kembali mendera. Setelah itu gue pergi ke Batik Keris yang hanya berjarak beberapa meter saja dari situ. Kalau Batik Danarhadi  di solo berbeda harga sampai tiga puluh persen jika dibandingkan dengan yang di Jakarta. Perbedaan harga di Batik Keris hanya mencapai sekitar sepuluh persen saja.

IMG_0989

IMG_0990
IMG_0992

Pulang dari makan siang, hujan turun menderas membasahi Kota Solo. Lagi-lagi hujan tidak juga berhenti meski malam sudah menyapa. Namun, gue dan Kak Roos tetap pergi untuk makan malam. Karena kelaparan, naik motor di bawah hujan pun kami lakukan. Makan malam ini adalah Tahu Kupat Masjid Solihin. Mujurnya kami, karena menjadi pelanggan terakhir yang kebagian tahu kupat. Sepertinya warung ini laku sekali karena makanannya sudah habis padahal waktu belum menunjukkan pukul tujuh malam. Tahu kupat ini berisi lontong, mie, tahu goreng, bakwan goreng dan juga telur dadar. Dasarnya, makanan ini manis tetapi bisa ditambah sambal hingga terasa pedas. Makan malam selesai, kami kembali ke rumah Kak Roos dan menghangatkan malam yang dingin itu dengan mengobrol bersama Kak Roos dan Mbak Sanie..

IMG_0994

18 November 2012

Hari terakhir, gue ditemani Mbak Sanie berkeliling Kota Solo. Pagi hari, Mbak Sanie menjemput gue untuk sarapan di Bale Padi. Lokasinya agak jauh ke bagian selatan Kota Solo. Bale padi adalah rumah makan dengan bangunan khas suku Jawa yaitu Rumah Joglo. Letaknya berada di tengah persawahan. Sayang sawahnya waktu itu sedang tidak bagus pemandangannya. Rumah makan ini menawarkan menu makanan khas tradisional Jawa. Mbak Sanie berkata bahwa kalau malam hari restoran ini juga menyediakan berbagai menu makanan laut. Yang membuat nikmat makan di rumah makan ini memang suasana yang begitu nyaman di sekitarnya. Kita bisa memilih untuk duduk di kursi atau lesehan. Uniknya di lesehan pun disediakan kursi tanpa kaki. Sehingga bisa menyandarkan punggung dan lebih rileks.

DSCN5829

DSCN5823

DSCN5816

DSCN5825

Energi sudah terisi penuh, kami pun kembali ke pusat Kota Solo. Tepatnya Museum Radya Pustaka yang terletak di Jalan Slamet Riyadi. Gue memang sangat tertarik ke museum ini karena Radya Pustaka merupakan museum yang tertua di Indonesia. Dibangun pada tanggal 28 Oktober 1890 oleh KRA Sosrodiningrat IV yang patungnya terdapat di bagian depan museum. Setelah membayar dua ribu lima ratus rupiah, kami masuk ke dalam museum. Memang agak mengecewakan buat gue melihat kondisi dari museum tertua di Indonesia ini. Museum dengan lahan yang tak seberapa ini kurang dirawat. Lantainya kotor seperti tidak pernah dipoles. Debu menebal dan menempel dimana-mana. Pengaturan koleksinya pun tidak begitu apik.

Koleksi yang ada di museum ini adalah arca, senjata seperti tombak dan keris, gerabah, porselin, alat musik dan benda-benda bersejarah lainnya. Gue pun mendengar cerita dari Mbak Sanie jika beberapa tahun yang lalu, museum ini sempat dicuri koleksinya dan ditukar dengan barang palsu. Yang melakukannnya adalah penjaga museum yang sebenarnya merupakan salah satu tokoh masyarakat Solo. Menururt gue, memang sudah seharusnya pemerintah memerhatikan museum tertua di Indonesia ini. Museum ini perlu perombakan ulang dari segi penataan. Koleksinya juga perlu dibersihkan sehingga lebih enak dilihat dan terjaga keawetannya.

IMG_1074

DSCN5831

DSCN5835

IMG_1066

IMG_1064

Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mengeksplorasi seluruh koleksi Museum Radya Pustaka. Setelah itu kami bingung ingin pergi ke mana. Setelah dipikir-pikir, akhirnya kami setuju untuk pergi ke Keraton Kasunanan Surakarta. Kebetulan di dalamnya juga terdapat sebuah museum. Di siang hari yang terik itu, kami pun pergi ke keraton dengan menggunakan becak. Sebelum masuk kami membeli tiket dulu seharga sepuluh ribu rupiah. Sementara gue berkeliling museum, Mbak Sanie membaca cerpennya yang hari itu dimuat di surat kabar harian Jawa Pos. Koleksi museum ini tak jauh berbeda dengan Museum Radya Pustaka. Kita bisa melihat berbagai senjata, gerabah, kereta kuda dan lainnya.

Sayangnya, kondisi museum ini juga tidak kalah memprihatinkan dengan Museum Radya Pustaka. Debu tebal juga menempel di mana-mana dan lampu penerangan yang minim menambah kusam museum ini. Dinding dan atap museum  di beberapa bagian sudah terlihat rusak dan mengenaskan. Gue sempat bertanya kenapa keraton di Solo begitu jauh berbeda dengan yang ada di Yogyakarta. Mbak Sanie mengatakan kemungkinan karena Keraton Yogya diakui daerah keistimewaannya, sedangkan tidak dengan Solo. Sultan dari keraton otomatis menjadi gubernur yang masih berkuasa atas rakyatnya. Tentu ini juga tidak terjadi dengan Keraton Solo. Bagaimanapun, pemerintah dan juga keturunan Keraton Surakarta harus menjaga warisan budaya bangsa ini.

DSCN5865

DSCN5874

IMG_1077

IMG_1080

Setelah berkeliling di museum, kami memasuki area keraton yang lebih dalam lagi. Untuk memasukinya, ada beberapa peraturan yang harus diperhatikan. Seperti tidak boleh memakai sandal ataupun memakai celana pendek. Ini semua diatur dalam rangka menjaga kehormatan dan kesopanan di dalam keraton. Suasananya begitu sejuk karena banyak pohon dengan pasir hitam di bawahnya. Konon pasir ini dibawa Ratu Pantai Selatan ketika menemui Sultan. Di sana kita juga bisa melihat sebuah menara yang bernama Panggung Songgobuwono yang bisa dilihat dari Pasar Klewer. Sepenglihatan gue, keraton ini cukup terpengaruh oleh budaya eropa. Bisa dilihat dari beberapa patung dewi yang ada di sekitar bangunan keraton. Juga lampu-lampu kristal dengan ukuran besar. Tidak semua kawasan di keraton ini bisa kita masuki. Karena keraton ini masih dipergunakan untuk tempat tinggal bagi keturunan sultan.

DSCN5891

IMG_1083

DSCN5895

IMG_1085

Kunjungan ke museum-museum yang ada di Solo memperkuat pemikiran gue. Bahwa museum yang berada di bawah kepengelolaan swasta atau pribadi keadaannya jauh lebih baik daripada yang dikelola oleh pemerintah. Gue semakin bertanya-tanya apakah memang begitu sedikit dana yang disediakan untuk memelihara dan mengembangkan museum. Sungguh memprihatinkan!

NB: Foto Selengkapnya bisa dilihat di sini.

5 thoughts on “Wisata Museum dan Kuliner di Solo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s