Obrolan Buku di Solo

“Mau ikut ke Solo, Run?”, ajak Kak Roos.
“Mau, kak!”, jawab gue dengan cepat.

Begitulah sifat impulsif yang membawa gue ke kota Solo. Memang benar sudah lama gue bilang ke Kak Roos kalau ingin ikut pulang kampung ke Solo. Namun sebenarnya gue tidak dalam keadaan siap ketika diajaknya pergi. Gue tidak punya anggaran untuk bepergian ke sana. Apalagi tiket pesawat sudah mahal karena waktu yang mepet. Tiket kereta pun habis pada tanggal yang kami inginkan. Walaupun begitu gue tetap berangkat karena keputusan sudah dibuat.

14 November 2012

Kami berangkat ke Solo dengan menggunakan pesawat Lion Air yang terbang pada pukul 11.50 WIB. Hanya membutuhkan waktu kurang dari sejam untuk sampai di Bandara Adi Sumarmo, Boyolali. Banyak orang yang bilang bahwa ini merupakan salah satu bandara terbaik di indonesia. Bandaranya memang cukup kecil dengan hanya memiliki satu terminal. Menurut gue, yang menjadikannya terbaik adalah kerapihan dan tata ruangnya. Ditambah lagi dengan sentuhan budaya Jawa yang dipadupadankan dengan kemajuan teknologi saat ini. Dari bandara kami langsung menuju rumah Kak Roos yang berada di dekat Stadion Manahan. Di sanalah gue akan tinggal selama lima hari ke depan. Sesampainya di sana, kami langsung disuguhi Gado-Gado Solo buatan Ibunya Kak Roos. Agak berbeda dengan gado-gado yang ada di Jakarta. Gado-gado Solo lebih berwarna-warni karena menggunakan mie kuning, wortel dan buncis. Rasanya sama-sama nikmat apalagi untuk para pecinta sayuran.

IMG_0973

Setelah makan, Kak Roos menyuruh gue utuk beristirahat. Karena malam nanti kami akan bergadang mengikuti acara Malam Satu Suro di Keraton Kasunanan Solo. Kami sudah mendapatkan samir (pita kuning) dan kartu identitas dari Keraton untuk acara tersebut. Peraturan bagi peserta dan pengunjung lumayan merepotkan. Tidak boleh memakai sandal dan membawa tas ransel. Harus menggunakan batik. Lelaki memakai bangklon. Perempuan diharuskan menggunakan kain atau rok panjang. Peraturan ini sempat membuat kita menjadi ogah-ogahan untuk ikut. Apalagi kami tidak mempersiapkan pakaian khusus acara tersebut dari Jakarta.

Kak Roos semakin malas untuk ikut karena ternyata dia dilarang masuk ke keraton karena sedang menstruasi. Cuaca pun sepertinya tidak mendukung. Sedari sore, hujan turun menderas dengan sesekali terdengar suara petir yang menggelegar. Sampai malam hari, hujan belum berhenti juga. Akhirnya di bawah rintik hujan sekitar pukul delapan malam, kami berangkat untuk menjemput Mbak Sanie B. Kuncoro (penulis novel dan kumcer) di rumahnya. Namun, di sana kami bukannya bersiap-siap malah mengobrol ngalor-ngidul tentang dunia buku dan literasi Indonesia.

Sekitar pukul sepuluh malam, kami baru berangkat dari rumah Mbak Sanie menuju Jalan Slamet Riyadi yang berdekatan dengan keraton. Ternyata sudah banyak orang yang berkumpul di tepian jalan. Motor dan mobil yang terparkir membuat jalanan menjadi sempit karena mengambil satu jalur. Belum lagi para pedagang yang menjajakan dagangannya. Sehingga situasi jalan menjadi macet dan berdesakan. Bedanya dengan Jakarta, tidak terdengar suara klakson yang berisik di situasi seperti ini. Kepadatan ini dikarenakan warga dari kota Solo dan sekitarnya ingin melihat kirab dan “Kebo Bule” yang keramat. Kebo Bule sekarang adalah anak dari Kyai Slamet yang tersohor itu. Karena sudah kelelahan, kami memilih wedangan di warung dekat sana. Kami memesan wedang dongo dan wedang kacang putih untuk menghangatkan badan. Karena kantuk yang tak tertahankan, kami memutuskan untuk pulang saja. Besoknya pun kami mengetahui kalau “Kebo Bule” baru keluar dari keraton pada pukul tiga pagi. Untung saja kami tidak menunggu karena pastinya akan menguras tenaga dan pikiran.

IMG_1162

15 November 2012

Gue bangun pagi dengan badan yang tidak begitu fit. Mandi tengah malam membuat gue masuk angin. Akhirnya kami hanya bermalas-malasan sampai pukul sebelas siang. Kami berangkat ke kediaman Mbak Sanie lagi untuk bertemu teman-teman dari Goodreads Indonesia yang berdomisili di kota Solo dan sekitarnya. Rumah mbak Sanie memang sangat nyaman dijadikan tempat berkumpul. Begitu asri dengan tanaman hijaunya. Kontras dengan dinding, lantai dan perabotan yang kebanyakan berwarna cokelat. Sambil mengudap makanan ringan, kami berbincang mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan dunia buku.

DSCN5514

DSCN5519

Memang kalau sudah berkumpul dengan penggila buku, obrolan menjadi tak kenal waktu. Sampai tak terasa waktu sudah menunjukkan lewat dari pukul dua siang. Sudah saatnya untuk bersantap siang kemudian berangkat menuju pangkalan Bus Tingkat Wisata Werkudara. Sebelum ke rumah Mbak Sanie, kami sudah menyempatkan waktu untuk membeli tiketnya. Kami mendapatkan tiket dengan jadwal operasi pada pukul tiga sore. Selain itu, ada juga yang berangkat pada pukul dua belas siang. Werkudara hanya beroperasi pada akhir pekan, hari libur nasional dan liburan sekolah saja. Harganya dua puluh ribu rupiah per orang. Sedangkan carter satu mobil seharga delapan ratus ribu rupiah. Diusahakan untuk membeli tiketnya sehari sebelumnya. Karena peminatnya cukup banyak sedangkan hanya tersedia satu bus Werkudara. Mempertimbangkan hal tersebut, menurut gue sudah sepatutnya Pemerintah Daerah Surakarta menambah jumlah bus tingkat wisata Werkudara.

DSCN5522

Courtesy: Roos Wijayanti Ken Petung

Courtesy: Roos Wijayanti Ken Petung

Courtesy: Roos Wijayanti Ken Petung

Werkudara adalah nama lain dari Bima, salah satu anggota dari Pandawa Lima. Kita bisa melihat gambar wayangnya di bagian sisi samping bus. Gue sudah ingin naik bus tingkat berwarna merah ini sejak beritanya ditayangkan di televisi. Sudah lama rasanya tidak naik bus tingkat apalagi yang dikhususkan untuk wisata. Bagian atas bus ini terbuka tetapi hanya sampingnya saja, setinggi dada orang dewasa ketika duduk. Jika berwisata pada siang hari yang panas, bisa dipastikan akan berkeringat. Jika tidak mau, bisa ke bagian bawah yang berpendingin udara. Namun, biasanya penumpang diharuskan untuk berganti tempat ketika mencapai ujung jalan kota Solo sebelum berputar balik. Sebenarnya kami hanya dapat tiket duduk lesehan. Namun karena ada beberapa orang yang membatalkan keikutertaannya sehingga kami mendapatkan tempat duduk. Walaupun begitu kami tetap duduk lesehan di depan bagian atas bus ini. Karena dari sinilah pemandangan terbaik didapat ketika bus mengelilingi kota Solo. Di perjalanan, pemandu akan menjelaskan tentang nama jalan dan gedung yang dilewati. Sayang sekali tidak melewati keraton karena jalannya begitu sempit untuk dilalui.

Bus Tingkat Wisata Werkudara akan berhenti di dua tempat yaitu Gladak dan Jurug. Gladak merupakan ikon dan pusat kota Solo seperti kawasan bundaran HI di Jakarta. Di Gladak terdapat patung pahlawan asal kota Solo, Slamet Riyadi. Yang juga dijadikan nama jalan tempat patung itu tegak berdiri. Selain itu, di sana juga terdapat sepasang Reco Gladak yang menjaga pintu gerbang menuju Keraton Kasunanan Surakarta. Di pintu gerbang ini juga terdapat pohon-pohon beringin yang berusia puluhan bahkan ratusan tahun. Kami memanfaatkan waktu sekitar sepuluh menit untuk berfoto di sekitar Gladak. Sedangkan tempat pemberhentian kedua adalah Jurug. Tempat ini merupakan perbatasan dengan Kabupaten Karang Anyar yang dipisahkan oleh sungai Bengawan Solo. Di Jurug juga terdapat kebun binatang dengan banyak pohon rindang yang menaungi. Kami tidak masuk ke dalamnya dan hanya duduk di pinggir jalan sambil memesan es kelapa muda.

Courtesy: Roos Wijayanti Ken Petung

Courtesy: Roos Wijayanti Ken Petung

Courtesy: Roos Wijayanti Ken Petung

Courtesy: Roos Wijayanti Ken Petung

DSCN5547

Dari Jurug, Werkudara berputar kembali menuju titik awal di Manahan. Untuk keseluruhan perjalanan menghabiskan waktu sekitar dua setengah jam. Gue dan Mbak Sanie tidak ikut sampai akhir tetapi minta diturunkan di Laweyan. Kawasan ini merupakan salah satu kampung batik yang ada di Solo. Laweyan memiliki sejarah yang panjang. Dari Kerajaan Mataram Islam hingga berdirinya organisasi Serikat Dagang Islam. Kami berjalan kaki menelusuri jalan-jalan kecil di sore hari yang tak lagi terik. Kami melihat banyak sekali rumah-rumah berdinding tinggi yang selain menjadi rumah tinggal juga digunakan sebagai toko batik. Mungkin karena kami sudah kesorean, banyak toko yang sudah tutup. Yang menarik dari kampung batik ini adalah beberapa toko masih menggunakan bangunan lama. Sentuhan khas budaya Jawa dapat dilihat dari detil-detil ukiran di pintu rumah yang terbuat dari kayu. Namun sayang, ada beberapa rumah yang dibiarkan rusak termakan cuaca dan usia. Kami memilih salah satu toko batik besar di kampung tersebut yaitu Putra Laweyan. Harganya bervariasi tergantung dari bahan dan cara pembuatannya yang dicetak, dicap atau ditulis.

DSCN5556

DSCN5552

DSCN5554

IMG_1184

Selesai melihat batik di Putra Laweyan, kami lanjut berjalan kaki. Sembari mengagumi bangunan-bangunan kuno, Mbak Sanie bercerita tentang perjuangannya menghadapi penyakit kanker yang sempat dideritanya. Seperti kodrat manusia pada umumnya, Mbak Sanie pun sempat merasa lelah dan putus asa. Namun sikap tidak mau mengalah terhadap penyakitnya yang patut diacungi jempol. Yang bisa  gue jadikan pelajaran untuk tidak mudah menyerah. Lama kami berbincang hingga tak terasa cahaya matahari sudah digantikan cahaya lampu-lampu. Kami pun memutuskan untuk mengakhiri perjalanan kami di Kampung Batik Laweyan.

Kami melanjutkan perbincangan di atas becak menuju Wedangan Pendhopo. Di sana kami janji akan bertemu kembali dengan Kak Roos. Tempat ini menarik sekali dan sangat kental budaya Jawa-nya. Bangunannya berdinding putih dengan sentukan ukiran berwarna hijau toska. Di bagian depan terdapat bangku dan meja kayu yang dilengkapi dengan satu set permainan congklak. Furnitur di bagian dalam juga terbuat dari kayu dan ada beberapa patung manusia dan pajangan dari kayu. Belum lagi beberapa wayang kulit yang dipajang di dinding menambah kesan etnik tempat wedangan ini. Kami di sini hanya memesan wedang serai yang rasanya khas. Juga mengudap makanan ringan seperti risol, martabak telor, lumpia dan sejenisnya.

DSCN5574

DSCN5565

Lagi-lagi kami bicara tentang dunia buku sampai datanglah Kak Roos. Setelah dia menghabiskan wedang serainya, kami pun berpindah tempat untuk makan malam. Kali ini kami memilih kuliner khas Solo yaitu Timlo Kwali Jempol. Warung lesehan ini terletak di belakang Keraton Mangkunegaran. Timlo ini seperti soto yang di dalam kuah kaldu terdapat suwiran daging ayam, mie soun, keripik kentang dan juga telur. Bedanya, timlo ini bisa juga ditambahkan irisan sosis dan hati ampela. Sungguh nikmat dan murah meriah. Inilah yang gue suka dari kota Solo. Kulinernya luar biasa beragam dan kita bisa menikmatinya tanpa takut harus menghabiskan banyak uang. Tidak sabar rasanya memulai lagi perjalanan gue besok hari. Mencicipi kuliner khas Solo lainnya sambil mengobrol seputar dunia buku yang tidak ada habisnya dengan Kak Roos dan Mbak Sanie.

IMG_1170

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

4 thoughts on “Obrolan Buku di Solo

  1. I miss Solo very much, selalu inget waktu kecil gw di rumah mbah suka takut dikejar kalkun, rumah mbah gw di Jetis, deket Nusukan. Nah di Nusukan itu ada namanya Simpang Tujuh, beneran ada 7 gitu, gw itungin hehehe. Gw terakhir kesana 2 taun lalu, time flies so fast.

  2. Pingback: Ironi Pabrik Rokok (House of Sampoerna) | Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s