Eksis Bareng Di Sawarna (Bag.I)

Angka sepuluh dan sebelas di bulan november memang tidaklah terlalu istimewa. Hanya akhir pekan biasa tetapi entah mengapa tanggal tersebut menarik sekali untuk gue melakukan sebuah perjalanan. Gue pun mengajak Echa yang kala itu juga sedang suntuk berat untuk mencari alternatif liburan. Kebetulan untuk tanggal tersebut, ada beberapa komunitas yang mengagendakan sebuah perjalanan. Tadinya gue dan Echa bingung memilih mau ke Cilacap (Nusakambangan), Pantai Kiluan atau tempat lainnya. Sampai pada akhirnya Echa memberitahukan bahwa dirinya dan teman-teman dari grup The Exist akan berangkat ke Sawarna. Gue sendiri malas untuk turut serta mengingat pengalaman teman-teman Tim UG. Mereka mengatakan bahwa jalanan yang ditempuh menuju Sawarna rusak parah. Rasanya gue sedang tidak berminat untuk melakukan perjalanan darat yang memakan waktu apalagi dalam kondisi jalanan yang tidak bagus. Namun, lama-lama gue juga bingung mau ke mana sedangkan liburan sangat gue butuhkan saat itu. Pada akhirnya gue terbujuk juga oleh Echa dan Mia untuk ikut. Jadi, Sawarna sambutlah kehadiran gue!

9-11 November 2012

Sekitar jam sepuluh malam, kami berangkat menuju Sawarna dari Plaza Semanggi Jakarta. Sebelumnya gue berkenalan terlebih dahulu dengan para anggota The Exist. Mereka merupakan sebuah grup di Gabung Mulung Tidung 3 yang digelar beberapa waktu lalu. Di tengah perjalanan entah di mana, kami berhenti di sebuah pom bensin. Waktu menunjukkan hampir pukul 12 malam. Pergantian hari tersebut akan menjadi sesuatu yang istimewa untuk Tiwi yang berulang tahun. Memang pom bensin bukan merupakan tempat yang romantis ataupun mewah untuk merayakan pergantian usia. Namun apalah arti tempat jika ada teman-teman baik di sekelilingmu. Dengan tulus memanjatkan puja-puji kepada Tuhan, mendoakan semua yang terbaik untukmu. Selamat ulang tahun, Tiwi. Semoga sehat, sukses dan bijak dalam menjalani hidup. Semoga pintamu akan sampai pada-Nya bersamaan dengan asap yang berhembus setelah lilin-lilin kecil itu kau tiup.

IMG_0960

Perjalanan ke Sawarna ini ternyata tidak seperti yang gue bayangkan. Sebagian besar jalanan yang kami lalui cukup mulus. Hanya sedikit yang rusak, khususnya di daerah kawasan industri yang sering dilewati oleh kendaraan berat. Dalam kegelapan malam, kami melewati perkampungan warga, hutan dan kebun sawit di kedua sisi jalan. Gue baru tahu kalau ternyata kebun kelapa sawit tidak hanya ada di pulau Sumatera dan Kalimantan. Kontur jalanan yang naik turun dengan kemiringan yang cukup ekstrim. Mobil yang dilaju dengan cepat membuat gue yang duduk paling depan menjadi ngeri. Yang gue bisa lakukan hanyalah memejamkan mata dan mencoba untuk tidur. Beberapa kali gue terbangun karena barang-barang di dasbor berjatuhan. Sekitar pukul empat pagi, kami sudah sampai di parkiran tempat yang kami tuju. Lebih cepat dari perkiraan pemandu kami, Yudi. Padahal tadi kami sempat berhenti cukup lama di pom bensin. Mungkin karena kehebatan supir kami dalam berkendara atau entah apa. Yang penting kami sampai dengan selamat di Sawarna.

Desa Sawarna terletak di Kecamatan Bayah, Kabupaten Lebak, Banten. Untuk menuju ke penginapan, kami harus menyeberangi jembatan gantung yang hanya bisa dilewati dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua. Suasana kampung saat itu masih sepi, pintu rumah-rumah masih tertutup rapat. Sekitar sepuluh menit berjalan kaki ditemani lampu penerangan seadanya, kami pun sampai di penginapan. Kami langsung membagi kamar, satu kamar diisi rata-rata untuk enam orang. Kamarnya cukup nyaman dengan kasur pegas dan kamar mandi di dalam. Sambil menunggu datangnya pagi, kami merebahkan badan sebentar dan berkenalan lebih jauh antar peserta perjalanan ini. Ketika waktu sarapan datang, barulah gue mengetahui bahwa penginapan ini menyediakan sambal yang super nikmat. Sepertinya urusan perut tidak akan menjadi masalah selama menginap di sini.

Sekitar pukul delapan pagi, petualangan kami pun dimulai. Selain Yudi, kami juga didampingi oleh pemandu lokal. Perjalanan dimulai dari samping penginapan dengan meniti pematang sawah yang hanya selebar dua kaki berhimpitan. Sehingga kami harus berhati-hati dalam melangkah atau akan terperosok ke dalam sawah. Yang pertama kami lewati adalah sawah yang sudah kering berwarna cokelat muda. Kemudian di sebelahnya terdapat sawah yang sepertinya baru ditanami padi dengan warnanya yang hijau menyala. Jalan setapak mulai melebar ketika kami berpindah ke sawah yang sudah ditanami tumbuhan merambat. Fungsinya berubah menjadi kebun dengan deretan pohon pisang yang membatasi satu sawah dengan sebelahnya.

DSCN5360

Setelah kebun warga, lagi-lagi kami harus melalui pematang sawah. Kali ini sawahnya belum ditanami padi. Kita bisa melihat pantulan pohon-pohon kelapa pada genangan air di sawah tersebut. Memang cuaca cukup cerah kala itu walaupun langit tampak kelabu. Hampir tidak bisa ditemukan gumpalan awan-awan putih bersih di langit pagi itu. Selain menapaki pematang sawah, kami pun berjalan di sisi sebuah sungai kecil yang sepertinya buatan warga. Air dari sungai kecil tersebutlah  yang nantinya akan mengairi sawah-sawah di sekitarnya. Beberapa kali kami juga harus meniti jembatan kayu kecil. Butuh keseimbangan dan kepercayaan diri untuk menyeberanginya.

DSCN5365

DSCN5370

Sesaat sebelum sampai di Goa Lalay, kami sempat melewati sebuah aliran sungai kecil lainnya. Tidak ada jembatan sehingga kami harus berjalan menyeberangi air setinggi mata kaki tersebut. Di udara yang menggerahkan badan, cukup menyenangkan memasukkan kaki ke dalam air yang cukup jernih tersebut. Rasanya segar dan terasa hingga ke kepala. Letaknya yang berada di bawah pepohonan rindang membuat rasanya ingin berlama-lama. Suasananya begitu sejuk dan nyaman. Jauh berbeda dengan kondisi yang kami temukan setelahnya. Hamparan sawah yang sudah kering. Tanahnya retak-retak dan di beberapa bagian sudah ditumbuhi ilalang.

DSCN5380

Sampailah kami di sebuah gubuk kecil tempat menitipkan tas dan sandal. Untuk masuk ke dalamnya memang diharuskan tanpa alas kaki. Karena tanah berlumpur di dalam goa sangatlah licin. Sedangkan di beberapa bagian terdapat batu yang cukup tajam. Sehingga cukup berbahaya jika terpeleset.  Untuk masuk ke dalam, kami berjalan menuruni mulut goa. Air setinggi betis dewasa sudah menunggu siapa saja yang masuk. Dengan senter atau lampu penerangan kami berjalan di dalam goa yang gelap. Tadinya gue berpikir akan menyusuri goa tanpa susah payah. Namun ternyata dugaan gue salah. Saat goa terlihat buntu, kami diharuskan melalui celah kecil untuk memasuki ruangan gua lainnya. Untuk mencapainya kami harus naik ke atas tanah yang berlumpur. Kemudian merayap sambil berpegangan di dinding goa. Di sini setiap langkah harus diperhatikan baik-baik kalau tidak ingin terpeleset ataupun kram kaki. Lebih mudah jika kita mejejak di lubang-lubang kaki yang sudah terbentuk.

DSCN5383

Semakin masuk, ketinggian air bervariasi dari sebetis hingga sedengkul orang dewasa. Di atap goa terdapat banyak sekali kelelawar yang menggantung dengan ukuran yang tidak terlalu besar. Tentu saja bau kotoran kelelawar begitu menyengat hidung. Namun tidak perlu takut dan jijik akan kondisi tersebut. Gue mencoba mengalihkan perhatian  dengan mengagumi bentuk batu stalaktit dan stalakmit yang tercipta ribuan tahun oleh tetesan-tetesan air.  Tadinya kami ingin melihat batu yang menyerupai patung manusia. Namun ternyata lokasinya cukup jauh ke dalam. Bahkan untuk menelusuri hingga ujung goa dibutuhkan waktu tiga hari. Kami pun akhirnya memutuskan kembali ke luar melalui jalur yang sama. Seperti ketika masuk, keluar pun membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Tidak seperti gadis-gadis kecil penduduk setempat yang dengan santainya berjalan dan melompat di lumpur yang licin. Ketika sampai di luar, ada rasa bangga dan lega yang tersisipkan di hati. Senyumpun mengembang seolah telah memenangi sebuah peperangan.

Setelah menyelesaikan petualangan di dalam Goa Lalay, saatnya menuju Pantai Sawarna. Kami melalui jalur yang sama hingga sungai kecil yang kami lewati tadi. Kemudian mengambil jalur berbeda ke arah kanan. Jalannya mendaki dan cukup muat untuk tiga orang berdiri bersisian. Karena banyak pepohonan di sisi kanan dan kiri, udara pun terasa sejuk. Namun ketika sampai di ujung jalan, kami menemukan dataran gersang. Ada satu pohon tegak menjulang sendiri yang dengan baik dimanfaatkan untuk berfoto ria oleh teman-teman. Setelah itu kami melewati pohon-pohon kelapa yang berbaris sejauh mata memandang. Sepertinya pantai memang berada di balik bukit yang kami jejaki. Semakin mendekat, sayup-sayup terdengar suara ombak yang berdebur. Tak sabar rasanya menghidu aroma laut dan memandang jauh ke samudera hindia.

DSCN5409

DSCN5410

DSCN5413

<bersambung>

9 thoughts on “Eksis Bareng Di Sawarna (Bag.I)

  1. Pingback: Arung Jeram di Sungai Cimandiri | Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s