Bersantai di Garut

Dulu sekali gue pernah merencanakan pergi ke Belitung bersama kak Didit. Walaupun sayangnya batal dilaksanakan. Begitu berulang kali hingga dia memutuskan untuk bekerja di tengah hutan Kalimantan. Tentu semakin sulit untuk melakukan perjalanan bersama jika dia hanya memiliki waktu libur yang tidak panjang. Kemarin hari, gue mengajaknya lagi untuk berlibur dan dia pun setuju. Kota yang kita pilih pada akhirnya adalah kota Garut. Tadinya kami akan menginap di hotel yang berdiri di sebuah situ seperti Sampireun, Sumber Alam, Danau Dariza dan sejenisnya. Namun karena memang waktu yang sudah mepet, semua jenis kamar telah dipesan. Sampai akhirnya kami menemukan sebuah hotel yang tampak menarik, Hotel Kebun Mawar Situhapa.

20 Oktober 2012

Sekitar pukul tujuh pagi kami (Gue, Kak Didit, Ayu dan Mas Ijul) berangkat dari terminal bayangan Pasar Rebo menuju Garut. Kami naik bus Primajasa yang berangkat dari Terminal Lebak Bulus dengan ongkos sebesar tiga puluh lima ribu rupiah. Busnya cukup nyaman dibandingkan dengan bus menuju Garut yang berangkat dari Terminal Kampung Rambutan. Setelah berbincang, bercanda, tidur dan tidak lupa mengudap cemilan, kurang lebih empat jam kemudian kami sampai di alun-alun Leles. Dari sini, kami naik andong menuju Situ Cangkuang. Untuk satu andong, harga sewanya  dua puluh ribu rupiah dengan jumlah penumpang maksimal empat orang. Itupun kami yang badannya tidak besar-besar harus duduk berhimpitan.

IMG_0825

DSCN5091

Kali ini adalah kunjungan kedua gue ke Situ Cangkuang. Sebelumnya gue datang ke sini bersama Sahabat Budaya. Karena pengalaman gue yang menyenangkan dan berkesan kala itu. Gue pun mengajak mereka ke sini untuk merasakan hal yang sama. Sesampainya di Situ Cangkuang kami membayar tiga ribu rupiah untuk tiket masuk. Tidak terlalu banyak pengunjung yang kami lihat di sana. Alhasil kami harus menunggu untuk naik rakit yang berkapasitas dua puluh orang itu penuh. Namun karena pengunjung lain tidak ada yang datang, kami ditawarkan untuk membayar sepuluh ribu per orang yang seharusnya hanya empat ribu rupiah saja.

DSCN5105

DSCN5109

DSCN5122

Langit yang agak mendung tidak bisa menghilangkan pesona keindahan Situ Cangkuang dengan latar belakang gunung-gunung di sekitarnya. Airnya yang berwarna kehijauan ditimpa sinar matahari yang mengintip lewat balik awan yang mulai menghitam. Setelah meyeberang dengan rakit, gue hanya duduk-duduk saja di sekitaran Candi Cangkuang. Sedangkan yang lain berkeliling candi, makam hingga ke museum kecil situs candi cangkuang. Suasana di tempat ini memang seperti apa yang dibilang Mas Ijul, “enaknya untuk tidur-tiduran”. Bagaimana tidak, udara yang teduh di bawah pepohonan dengan angin semilir membuat mata terasa berat.

DSCN5115

IMG_0827

DSCN5119

Tepat adzan dzuhur berkumandang, kami pun kembali ke seberang. Dengan menggunakan andong, kami diantarkan menuju sebuah restoran di jalan raya dekat alun-alun Leles. Sebelumnya kami mampir terlebih dahulu di warung chocodot. Bagi para penggemar cokelat, wajib hukumnya untuk mencoba cokelat merk ini. Bagi yang tidak suka dodol, juga tersedia cokelat tanpa dodol di dalamnya. Sedangkan untuk restorannya, kami memilih yang memiliki pemandangan ke arah sawah yang padi-padinya menguning. Kami agak lama di sini karena menunggu pelayananan yang lambat,  juga hujan yang turun menderas.

DSCN5132

DSCN5137

Sepertinya hujan tidak akan berhenti dalam waktu dekat. Karena itu, kami pun melanjutka perjalanan menuju tujuan berikutnya, Situ Bagendit. Pertama kami menggunakan angkutan umum menuju Terminal Guntur. Kemudian berpindah ke angkutan kota lainnya. Sekitar sejam berikutnya, kami sampai di Situ Bagendit. Masih ditemani gerimis, kami melangkah masuk setelah membayar tiga ribu rupiah. Gue agak tercengang ketika melihat kondisi sekitar situ. Banyak warung yang tak berpenghuni dan permainan kereta anak yang teronggok tak terawat. Ternyata Situ Bagendit sudaha lama kering karena hujan yang tidak kunjung datang. Sehingga jarang sekali pengunjung yang datang.

Situ Bagendit tak ubahnya kolam lumpur yang sebagian sudah mengering. Bahkan di pinggir sudah ditanami rerumputan.  Sudah begitu, banyak sampah yang berserakan semakin menambah parah kondisi situ. Perahu bebek warna-warni sudah tidak lagi berputar di area situ. Namun, kami tetap naik ke rakit untuk berputar di daerah yang masih tergenang air. Kami harus berjalan dahulu ke tengah situ sebelum sampai di atas rakit. Setiap kayuhan, gue bisa merasakan betapa pedihnya perasaan orang-orang yang tak bisa lagi bergantung dengan situ ini. Padahal pemandangan gunung yang berlapis sangat indah seperti gunung yang mempunyai banyak bayangan. Hari itu adalah hari pertama hujan di Situ Bagendit. Semoga saja hujan terus turun dan mengisi air di situ. Tentunya warga harus segera membersihkan sampah yang berserakan. Sehingga Situ Bagendit kembali cantik dan banyak pengunjung yang datang. Pada akhirnya kehidupan ekonomi masyarakat sekitar meningkat lagi.

DSCN5140

DSCN5144

IMG_0838

Hari semakin sore, kami pun kembali menuju Terminal Guntur lewat jalur yang sama. Dari terminal guntur ternyata tidak ada angkutan kota yang langsung ke hotel kami di Jalan Raya Kamojang. Kami mesti turun di pertigaan Kamojang, kemudian naik mobil angkutan yang masuknya dari belakang. Karena semua tertutup dan tidak bisa melihat jalan yang ada di depan. Kami hanya bermodalkan kepercayaan pada Pak Supir untuk mengantarkan sampai di depan Hotel Kebun Mawar Situhapa. Sekitar pukul lima sore, kami pun sampai dengan selamat. Kami menyewa sebuah rumah bertipe Magnolia dan begitu melihatnya sontak kegirangan dan terpesona. Rumah kayu dua lantai yang berdiri kokoh dengan pemandangan balkon langsung ke taman bunga. Begitu kami masuk ke dalam rumah juga luar biasa. Ruangan-ruangannya cukup luas untuk empat orang yang dihiasi dengan furnitur dan dekorasi yang cantik. Antusias, kami pun foto-foto sambil mengagumi tiap detil yang ada di dalam rumah itu.

IMG_0847

IMG_0851

IMG_0862

IMG_0856

Setelah puas berfoto ria, kami melakukan aktivitas masing-masing. Hingga langit benar-benar menghitam dan saatnya bersantap malam. Kami makan di restoran yang terletak di belakang rumah yang kami sewa. Saat itu hanya kami berempat. Sempat terpikir bahwa memang hanya kami yang menginap di hotel ini. Restorannya bisa dibilang menyajikan santapan internasional. Begitu juga dengan minumannya. Setelah makan barulah kami kembali ke rumah, Mas Ijul memilih tidur sedangkan kami berkaraoke di lantai bawah. Namun, karena CD yang tersedia adalah lagu-lagu “Evergreen”, tak lama kami bosan dan mengantuk. Gue menemani Ayu nonton televisi sampai akhirnya terlelap sambil ditemani suara jangkrik dari kejauhan.

Ketika fajar datang, kami sudah tak sabar untuk menjelajah seluruh area hotel. Di sini terdapat beberapa jenis rumah/kamar. Selain Magnolia yang kami tempati, juga ada Damasena dan Geranium yang terdiri dari satu kamar. Di depan rumah-rumah tersebut juga terdapat taman bunga. Meskipun begitu, memang Magnolialah yang mempunyai pemandangan paling cantik. Bagian lain yang menarik juga adalah kolam teratai putih dan merah jambu yang terletak di belakang Magnolia, dekat dengan restoran. Bagian yang paling menarik tentunya adalah taman bunga yang tersebar di berbagai area hotel. Memang ada beberapa bagian yang masih kosong dan sepertinya baru mulai ditanam. Hotel ini memang baru beroperasi beberapa bulan belakangan. Masih banyak pengembangan yang dilakukan sehingga hotel ini bisa lebih cantik lagi. Gue sendiri menyarankan pihak pengelola hotel untuk membuat kolam renang dan taman bermain anak-anak. Sehingga keluarga yang memiliki anak kecil makin senang menginap di Hotel Kebun Mawar Situhapa.

DSCN5214

DSCN5242

DSCN5272

DSCN5267

DSCN5279

IMG_0874

Berat rasanya meninggalkan hotel yang sangat nyaman untuk bersantai ini. Namun, kami masih memiliki satu tujuan lagi yang akan dikunjungi. Sekitar pukul sepuluh pagi, akhirnya kami keluar dari hotel menuju Kawah Kamojang. Lokasinya sudah tidak begitu jauh dari lokasi hotel dan hanya meneruskan perjalanan ke arah atas. Sebenarnya lokasi kawah ini sudah tidak lagi masuk dalam Kabupaten Garut, melainkan Kabupaten Bandung. Untuk menuju ke sana kami menyewa angkutan umum yang belakangnya terbuka. Jalanan menuju kawah cukup bagus  dan mulus karena dibantu oleh PLN. Memang di Kamojang terdapat PLTPB (Pembangkit Tenaga Listrik Panas Bumi). Walaupun begitu masih ada beberapa lajur jalan yang masih rusak. Kemungkinan besar karena begitu banyak kendaraan berat yang lalu lalang. Selama perjalanan ke sana kita bisa melihat kebun milik warga dan juga hutan di bawah kepengelolaan Perhutani.

Sesampainya di Kawah Kamojang, banyak mobil terparkir tanda ramai pengunjung. Kami masuk dengan membayar tiket seharga lima ribu rupiah per orang. Sebelum memasuki gerbang tersebut, kami menemukan kawah pertama yang tak bernama. Bentuknya seperti lumpur Lapindo dengan garis kuning yang membatasi di sekitarnya. Setelah itu ada Kawah Berecek yang sepertinya sudah tidak begitu aktif. Sedangkan untuk lokasi kawah-kawah berikutnya cukup berdekatan. Dari parkiran, ada arah petunjuk untuk naik ke atas bukit. Yang pertama kami temui adalah Kawah Kereta Api. Dinamakan begitu karena suara yang dikeluarkan mirip dengan bunyi kereta api dengan asap putih yang mengepul. Sayang sekali banyak orang yang jahil melempar sampah ke arah kawah. Setelah itu melewati jembatan kecil yang dari arah bawahnya juga keluar asap putih. Bedanya di sini jauh lebih mengepul daripada Kawah Kereta Api. Yang gue sadari adalah, asap tersebut tidak berbau dan tidak panas. Sedangkan kawah terakhir yang kami lihat adalah Kawah Hujan atau Kawah Mandi. Di sini banyak sekali pengunjung yang mandi uap layaknya sauna. Dipercayai bahwa uap tersebut bisa menyembuhkan berbagai penyakit khususnya penyakit kulit.

DSCN5317

DSCN5322

DSCN5332

DSCN5353

DSCN5340
DSCN5346

Matahri sudah berada di atas kepala, kami memutuskan untuk kembali ke Kota Garut. Sebelum pulang kami makan dan  beribadah terlebih dahulu. Pilihan kami adalah Mal Garut. Sebuah pusat perbelanjaan yang lumayan megah untuk ukuran kota Garut. Rasanya kurang memang menghabiskan waktu bersantai di Garut hanya dua hari semalam. Kami berencana kembali ke kota Garut suatu hari nanti. Kali depan, tujuannya adalah mendaki gunung papandayan. “Mumpung masih muda, masih sehat…”, tukas seorang ibu di penginapan. Semoga saja bu, semoga saja terlaksana..amin..

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

4 thoughts on “Bersantai di Garut

  1. Reblogged this on ..Life Scratches.. and commented:
    jalan-jalan yang santai bersama si pacar, kak didit, dan mamas ijul. karena santai, jadi gak ngerasa dikejar target waktu, terus gak merasakan capek dan pegal-pegal juga. enak deh jalan-jalan model begini. lain kali lagi yaaa…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s