Studi Tur Museum di Bandung

Penat dan stres. Begitulah keadaan gue setelah mengikuti pendidikan dan latihan selama dua minggu. Belajar modul-modul yang ketebalannya luar biasa hingga waktu tidur pun berkurang drastis. Agar lebih bersemangat, gue berniat menghadiahi diri sendiri sebuah perjalanan wisata. Namun selesai dari ujian, gue malah bingung mau ke mana. Setelah mengobrol sana sini bersama Ayu, kami memutuskan untuk tur museum di Bandung. Sayangnya karena alasan kesehatan, Ayu tidak jadi ikut. Tur museum di Bandung tetap dilaksanakan tetapi bareng sahabat gue, Farah, guru ilmu sosial di sebuah sekolah internasional.

Kami berangkat dari FX Sudirman menuju Bandung sekitar pukul tujuh pagi. Sementara Farah mengerjakan tugas sekolahnya, gue memilih untuk tidur. Sekitar pukul sepuluh, kami sampai di daerah Dipati Ukur. Tidak lama kemudian datanglah teman kami, Kang Erie yang akan memandu selama di Bandung. Dengan menumpang angkutan kota, kami menuju Museum Geologi yang letaknya tidak jauh dari posisi awal kami. Ketika sampai di museum, ada pasar kaget di depannya yang menurut gue mengurangi kenyamanan pandangan mata.

IMG_0766


Setelah membayar tiket seharga tiga ribu rupiah per orang, kami memasuki Museum Geologi. Museum yang terdiri dari dua lantai ini dibangun pada tahun 1928. Setelah mendapat bantuan dari Jepang, museum ini direnovasi dan diresmikan pada tahun 2000. Kami langsung mengarah ke ruangan di bagian kanan. Di sinilah kita bisa mendapatkan informasi tentang proses terbentuknya dan perkembangan dunia serta evolusi makhluk hidup. Yang menarik buat gue adalah replika tulang dinosaurus Tyrannosaurus Rex Osborn seperti ada di film Jurassic Park. Gue juga baru tahu kalau ternyata ada Kuda Nil di tanah Jawa.

IMG_0755

IMG_0756

IMG_0751

Sedangkan bagian kiri bangunan ini menyediakan informasi tentang berbagai jenis batuan dan sumber daya mineral. Kemudian ada maket gunung-gunung berapi Indonesia yang ada di ujung ruangan. Yang paling menarik buat gue adalah ada Kristal Kunzit yang berwarna ungu. Gue jadi penasaran apakah ini sama dengan batu kecubung. Sebenarnya batu ini adalah batu bagi orang yang lahir di bulan Februari. Meskipun lahir di bulan Juli, inilah batu kelahiran gue. Karena ungu merupakan warna favorit gue.

DSCN5012

DSCN5022

Sedangkan untuk sebagian ruangan di lantai dua sedang direnovasi. Sebagian lagi berisikan tentang informasi kegunaan mineral untuk kehidupan manusia. Menurut gue ini menjadi salah satu museum terbaik yang pernah gue kunjungi. Kebersihannya terjaga begitu juga dengan penataan museumnya yang begitu apik. Museum ini kepengelolaannya di bawah Kementerian ESDM. Gue jadi ingin mengunjungi museum lainnya yang berada di bawah kepengelolaan yang sama seperti Museum Karst, Museum Batur dan Museum Tsunami. Usul dari gue adalah mengambil alih kepengelolaan Museum Gunung Merapi dan Museum Gas Minyak Bumi. Karena kondisi keduanya yang begitu memprihatinkan baik dari segi fasilitas maupun koleksi museumnya.

Tujuan berikutnya adalah Museum Pos Indonesia. Kami berjalan kaki karena lokasinya yang berdekatan dengan Museum Geologi. Menyusuri jalanan yang sesak dengan pedagang pasar kaget, kami sampai di lokasi yang terletak di depan Taman Lansia. Namun ternyata museum tidak beroperasi pada hari libur dan hanya buka di hari kerja dan jam kerja. Kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Museum Sri Baduga. Sebelumnya kami makan siang terlebih dahulu di Kafe Halaman.

Museum Sri Baduga yang dibangun pada tahun 1974 berlokasi di selatan kota Bandung. Sri Baduga sendiri adalah gelar dari seorang Raja Pajajaran. Hampir seluruh koleksi dan informasi yang diberikan adalah yang berkaitan dengan Jawa Barat. Karena luasnya wilayah propinsi ini sehingga budaya satu daerah bisa berbeda dengan lainnya, misal saja baju pernikahan. Kita juga bisa melihat alat musik, kerajinan tangan, permainan tradisional anak-anak sekarang jarang sekali dimainkan. Kami tak bisa lama-lama melihat karena museum ini hanya buka sampai pukul dua siang.Namun karena hujan, kami masih harus menunggu di halaman museum.

IMG_0773

IMG_0775

DSCN5060

Karena hujan tidak terlihat seperti akan berhenti. Maka ketika agak mereda kami dengan modal satu payung menyeberang jalan dan menuju tujuan berikutnya, Museum Konferensi Asia Afrika. Turun dari angkot kami melanjutkan perjalanan dengan ditemani hujan. Tadinya gue sangsi kalau museum masih dibuka. Namun ternyata memang masih beroperasi hingga pukul empat sore. Di dalamnya kita bisa melihat jalannya sebuah konferensi negara-negara  dari benua asia dan afrika yang digelar di Bandung pada tahun 1955. Sebuah konferensi yang memperlihatkan bagaimana solidnya persatuan negara-negara tersebut kala itu. Bertepatan dengan kunjungan kami juga terdapat pameran tentang KAA. Gue juga melihat aula konferensi asia afrika yang meskipun bergaya lama tapi terlihat megah. Bisa dibayangkan bagaimana pada saat penyelenggaraan KAA, aula ini mempesona para pejabat dari negara-negara peserta.

IMG_0782

IMG_0783

IMG_0785

IMG_0797

IMG_0788

Keluar dari museum, hujan belum juga reda. Namun tak membuat langkah kami berhenti. Dengan berjalan kaki, kami menuju Rasa Bakery & Cafe. Sebuah restoran yang sudah berdiri sejak puluhan tahun yang lalu. Banyak sekali warga negara asing yang dahulu pernah tinggal di bandung datang ke restoran ini untuk bernostalgia. Menu yang paling gue suka di restoran ini tentu saja es krim. Yang gue pesan adalah Coconut Royal Ice Cream. Terdiri dari tiga scoope es krim aneka rasa ditambah potongan buah dan wafer coklat. Disajikan di atas batok kelapa yang terbelah. Rasanya? Nikmat dan segar menjadikan es krim ini istimewa.

IMG_0800

DSCN5089

Waktu sudah semakin sore, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini hujan telah berhenti dan menyisakan jalanan yang basah. Kami menyusuri Jalan Braga yang sangat eksis di tahun 1920-1940an. Sayang sekarang banyak bangunannya yang tidak terawat. Sedangkan sebagian lagi sudah dirubah menjadi bangunan modern. Setelah itu kami sempat mampir juga di sebuah pameran buku, baru kemudian menuju tempat mobil yang akan mengantarkan kita pulang. Perjalanan ke Bandung kali ini sangat menyenangkan dan informatif, berbeda dengan kunjungan gue sebelumnya. Farah pun sepertinya sangat bersemangat dari satu museum ke museum yang lain. Dengan cermat, dia menuliskan berbagai informasi ke buku catatannya. Semoga saja bisa bermanfaat sebagai tambahan bahan ajar di sekolahnya. Terima kasih buat Kang Erie yang bersedia menemani kami yang ceriwis dan banyak maunya. Jangan kapok dan sampai bertemu lagi!

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

13 thoughts on “Studi Tur Museum di Bandung

  1. @Erie sf: Blur kang yang lagi nyembah leluhur.. Ada yang keren yang lagi tilpunan sama obama. nanti aku tambahin deh. Oh, berarti yang di flickr punya farah ya, baiklah nanti aku tambahin juga ke dalam tulisan.

  2. @dhee: Wah, sebenernya masih banyak poto aki yang sepa’ tapi sayang blur-vlur aja gitu. Kamera gue tau kapan mesti blur kapan mesti nggak. Tergantung objek fotonya, hehehe..

    @Citra Rahman:Iyah, farah sekarang udah jadi muslimah yang shalehah..ehehehe..

    @Dince: Haeeee, sobat UNGU…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s