Pulang Kampung ke Purba Sinomba

9-14 September 2012

Gue mendarat di Bandara Polonia pada pukul tujuh malam. Kemudian langsung menuju Hotel Inna Dharma Deli. Gue memilih hotel ini karena letaknya yang strategis tepat di depan Merdeka Walk. Namun, gue tidak tahu ternyata hotel ini sudah berdiri sejak puluhan tahun lalu. Memang ada bangunan baru tetapi gue ditempatkan di bagian yang lama dan tua. Melalui lorong yang kurang pencahayaan, gue diantarkan ke kamar yang modelnya pun sudah ketinggalan jaman. Jujur, gue agak takut terjadi hal-hal di luar akal logika. Makin horor ketika selama di sana gue tidak bisa mengambil foto tanpa hasil yang berbayang. Ah, tetapi mungkin itu hanya karena kamera gue saja yang jelek.

Malam itu gue janjian bertemu dengan teman dunia maya, Citra Rahman alias Maman di Merdeka Walk.  Tempat hits di mana anak muda Medan nongkrong di berbagai restoran, kafe ataupun kedai yang berjejer di sepanjang jalan. Setelah pertemuan dengan Maman, gue pun mengambil gambar di sekitar hotel. Ada sebuah taman penuh lampu dan juga kantor pos yang konon dibangun sejak tahun 1911. Setelah merasa capek, barulah gue kembali ke kamar dan tertidur pulas tanpa memikirkan rasa takut.

DSCN4749

DSCN4744

DSCN4745

Rencana awal gue ke kota Medan adalah berkunjung ke Brastagi dengan seorang teman. Sayangnya karena urusan pekerjaan, dia terpaksa membatalkan janji. Gue pun memilih untuk bersantai saja dan tidak terlalu memaksakan diri untuk pergi ke banyak tempat wisata. Pagi itu, gue baru keluar dari hotel pada pukul sembilan pagi. Dengan menumpang becak mesin (becak motor), gue berangkat menuju Istana Maimon. Bangunan yang sudah berdiri sejak tahun 1888 oleh Sultan Makmun Al Rasyid memang merupakan salah satu ikon kota Medan. Rasanya tak afdol kalau tidak ke istana Kesultanan Melayu Deli ini.

Dari depan, Istana Maimon tampak megah. Cahaya matahari yang menyinari bangunan berwarna hijau kuning itu menambah pesona istana. Gue masuk dengan ditemani seorang pemandu resmi dari pengelola istana yang masih termasuk keluarga Sultan yang memimpin saat ini. Singgasana sultan masih terlihat cantik tetapi beberapa furnitur sudah tampak usang dan rusak. Menurut pengakuan pemandu gue, Istana Maimon tidak mendapat dukungan dana dari pemerintah setempat. Entahlah, apakah itu benar atau tidak. Yang pasti sayang sekali kalau bangunan bersejarah ini tidak dirawat dengan baik. Seharusnya pemerintah memanfaatkan bangunan ini sebagai tempat wisata bangunan sejarah yang lebih memikat. Salah satunya dengan cara menampilkan program budaya adat Melayu Deli dengan jadwal yang teratur. Sehingga banyak orang yang akan datang berkunjung.

DSCN4754

IMG_0463

DSCN4769

DSCN4768

Masih dengan becak mesin, gue pun menuju tujuan berikutnya yaitu Tjong A Fie Mansion. Tempat ini merupakan rekomendasi sang supir. Tadinya gue ingin pergi ke museum. Namun karena hari senin, rata-rata museum di Indonesia tidak beroperasi. Tjong A Fie Mansion ini terletak di dekat pasar dengan jalan yang tak terlalu lebar. Setelah membayar tiga puluh ribu rupiah, gue ditemani seorang pemandu yang menjelaskan tentang sejarah Tjong A Fie. Beliau adalah seorang pengusaha perkebunan asal Tiongkok yang sukses di Medan. Bahkan ia pun merambah usaha lain seperti pertambangan dan transportasi kereta api. Tjong A Fie menjadi orang yang terpandang tidak hanya di Medan melainkan seluruh Hindia Belanda.

Bangunan yang berdiri sejak tahun 1900 ini masih terlihat kokoh dan megah. Gue jadi membayangkan bagaimana jika ini dilihat seratus lima puluh tahun lalu. Pastinya terlihat jauh lebih megah di antara bangunan yang lain. Bangunan ini berasitektur campuran tiongkok, melayu dan juga eropa. Di dalamnya, kita masih bisa  melihat berbagai macam peninggalan keluarga Tjong A Fie. Mulai dari pakaian, furnitur, buku, foto dan lainnya. Mengunjungi tempat ini, gue jadi mengingat pengalaman berkunjung ke Museum Benteng Heritage di Tangerang. Bedanya di sini kita dengan leluasa dibolehkan untuk berfoto dan berkeliling sendiri setelah selesai dipandu. Walau ada beberapa bagian yang ditutup karena memang masih digunakan untuk tempat tinggal keluarga keturunan Tjong A Fie.

DSCN4842

IMG_0471

DSCN4839

IMG_0475

IMG_0467

IMG_0469

Berbeda dengan Istana Maimon, Tjong A Fie begitu terawat. Tidak hanya karena didukung oleh pemerintah, pengelola juga cakap dalam mengelola bangunan bersejarah ini. Setelah dibuat kagum oleh Tjong A Fie, gue melanjutkan perjalanan menuju Sun Plaza. Gue yang basah kuyup karena keringat yang menderas ingin sekali berganti baju. Memang sinar matahari siang itu sangat menyengat kulit. Di Sun Plaza, gue menikmati pancake durian rekomendasi teman di Restoran Nelayan. Setelah gue mencobanya ternyata tak senikmat buatan teman gue di Jakarta. Selesai dari Sun Plaza, gue membeli oleh-oleh Bolu Gulung Meranti untuk dibawa ke kampung. Kemudian kembali ke hotel untuk tidur siang.

Sekitar pukul empat sore, gue melangkahkan kaki menuju Tip Top. Tempat ini bukanlah swalayan  seperti di beberapa kota melainkan restoran tua yang sudah ada sejak tahun 1934. Gue mengincar es krim yang resepnya sudah ada sejak dahulu. Di jakarta, kita bisa menemukan es krim seperti ini di Ragusa yang terletak di daerah Djuanda. Selain es krim, gue juga memesan pancake coklat dan juga es leci yang ternyata berporsi besar. Rasanya? Lezaaaatttt… Menjelang maghrib, gue kembali menuju hotel karena sepertinya langit tak menggelap hanya karena sudah menjelang malam. Namun karena mendung yang berpotensi menjadi hujan. Tak berapa lama sampai di hotel, hujan pun turun dengan derasnya. Hingga gue terlelap, hujan pun belum berhenti.

DSCN4850

IMG_0490

DSCN4856

Pagi hari, gue pun berangkat menuju ke Bandara Polonia untuk terbang ke Bandara Aek Godang di Padang Sidimpuan. Gue terbang dengan menggunakan pesawat Susi Air. Tadinya gue agak takut naik pesawat kecil. Namun, gue harus efisien dalam hal waktu sehingga gue memberanikan diri untuk terbang. Memang terbangnya rendah dan agak goyang. Untungnya saja, karena cuaca saat gue terbang sangat cerah. Tidak ada gangguan atau goncangan yang membuat jantung deg-degan. Pesawat yang diawaki warga negara asing ini mendarat dengan mulus di Bandara Aek Godang yang ukurannya kecil sekali. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan ke kampung halaman gue, Purba Sinomba.

IMG_0705

IMG_0709

Mungkin jarang orang yang tahu di mana letak dari Purba Sinomba. Di sanalah tempat kelahiran dari kedua orang tua gue. Kampung Purba Sinomba menjadi bagian dari sebuah kabupaten baru di Sumatera Utara, Padang Lawas Utara. Sudah lima belas tahun lamanya gue tidak pulang kampung. Entah mengapa gue agak enggan pergi sedangkan orang tua selalu mendorong gue untuk pulang kampung. Kali ini ada sepupu kandung yang menikah di sana. Gue pun diajak untuk menghadirinya sekaligus gue juga ingin berziarah kemakam kakek nenek gue.

Tadinya gue ingin bercerita banyak tentang adat pernikahan batak mandailing. Namun karena begitu banyaknya acara dan detil-detil yang harus dituliskan. Baru saja beberapa acara, gue sudah mengurungkan niat tersebut karena gue malah pusing sendiri harus mengingat atau menghapal jalannya acara tersebut. Mungkin lain kesempatan akan gue ceritakan. Tak banyak yang dilakukan di kampung gue, selain mengikuti acara adat tersebut. Gue sempat sekali mandi di sungai Aek Siala. Sungai yang sekarang sudah tidak begitu dalam tapi masih berarus cukup kencang. Di salah satu lokasi, orang menyebutnya pantai. Karena ada pasir pantai di pinggir sungainya. Entah siapa yang membawanya ke sini dari pantai atau memang begitulah struktur tanahnya.

DSCN4862

DSCN4865

DSCN4882

Gue pun sempat kabur di tengah resepsi pernikahan sepupu. Abang gue mengajak ke Candi Bahal yang memang dekat dengan lokasi resepsi. Candi Bahal ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Sriwijaya. Terbuat dari batu bata yang mencirikan candi tersebut berlokasi dekat dengan sungai. Candi Bahal pertama yang gue kunjungi cukup megah dan tinggi. Tidak kecil seperti yang gue kira selama ini ketika melihat fotonya saja. Candi ini tidak ada yang menjaga, sehingga kami bisa masuk tanpa membayar uang masuk. Ketika gue mendekat, ternyata candi ini detilnya cukup mengesankan. Walau termakan usia, beberapa ukirannya masih bisa terlihat seperti wajah dan untaian bunga.

DSCN4951

Berbeda dengan Candi Bahal pertama, yang kedua lingkungannya nampak menyedihkan. Dari gerbang depan yang dipakai untuk menjemur kasur dan pakaian. Hingga sampah yang tersebar di rerumputan yang sudah tumbuh tinggi. Sayang sekali Candi Bahal ini tidak terurus dengan baik. Entahlah bagaimana keadaan Candi Bahal ketiga yang letaknya makin menjauh dari lokasi pertama. Gue tidak sempat melihatnya karena sudah dihubungi orang tua untuk segera kembali ke tempat resepsi pernikahan.

IMG_0660

Seharusnya Candi Bahal ini bisa menjadi daya tarik pariwisata Padang Lawas Utara. Semoga saja pemerintah setempat segera memperbaiki fasilitas dan infrastruktur pariwisata. Dengan begitu diharapkan pendapatan masyarakat setempat bisa meningkat. Jujur, tidak ada begitu banyak perubahan dari segi perekenomian sejak terakhir gue pulang kampung. Lima belas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Yang seharusnya sudah banyak terjadi perubahan yang positif. Semoga dengan dibentuknya kabupaten baru ini, mereka bisa memanfaatkan otonomi daerah yang sudah dipercayakan. Semoga dan Amin!

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

9 thoughts on “Pulang Kampung ke Purba Sinomba

  1. hooh run, hape gw ilang, bukan dicopet orang, tapi jatoh karena kebodohan gw, hahahah semuaaaa no kontak hp ilang😦

  2. Wah enak juga pulang kampungnya ya bang, aku juga ortu asal desa purbasinomba. Ttg sungai tempat mandi di pantai koreksi dikit namanya bukan aek siala tapi aek batangpane kl aek siala itu sungai kecil menjelang kampung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s