Bukit Tinggi Selalu di Hati

Perjalanan gue kali ini dalam rangka pulang kampung. Bukan, kampung gue bukan di Bukit Tinggi. Melainkan di Purba Sinomba, sebuah daerah di Sumatera Utara. Gue akan cerita lebih banyak tentang kampung gue di tulisan berikutnya. Gue memang memanfaatkan perjalanan ke Pulau Sumatera, tidak hanya untuk pulang kampung. Namun, mengunjungi beberapa daerah wisata di Pulau Sumatera. Rencana awal, gue dan keluarga akan menyusuri daratan Sumatera menuju kampung. Sayangnya itu mesti dibatalkan karena ada beberapa hal yang mengganjal. Akhirnya gue naik pesawat sedangkan keluarga gue tetap lewat jalur darat.

Cuti satu minggu sudah diambil, rasanya sayang sekali kalau dihabiskan semuanya di kampung. Gue pun memutuskan untuk memilih satu tempat untuk dikunjungi selain Medan dan kampung gue. Begitu banyak tempat yang bisa dipilih dan yang pertama kali hadir di otak gue adalah Bukit Tinggi. Kota ini sudah pernah gue kunjungi ketika gue masih SD. Pemandangan Ngarai Sianok yang indah dengan udara sejuk khas pegunungan masih melekat di ingatan gue hingga sekarang. Namun ternyata susah sekali mencari kamar hotel yang kosong kalau waktunya mepet. Akhirnya gue memutuskan untuk tetap ke sana tetapi menginap di Padang.

7-8 September 2012

Sekitar pukul empat sore, gue tiba di Bandara Internasional Minangkabau yang terletak di Padang Pariaman. Bandara ini pindah dari tempat sebelumnya di Tabing yang terletak di Padang. Butuh waktu sekitar empat puluh menit menuju hotel gue di Hotel Rocky Plaza Padang. Rencananya, setiba di Padang, gue akan langsung jalan-jalan sendiri. Namun ternyata keluarga gue membatalkan rencana menginap di Jambi dan menyusul ke kota Padang. Alhasil gue harus mencarikan kamar menginap dan menunggu mereka datang. Hari itu, gue hanya keluar makan malam bersama keluarga di Restoran Lamun Ombak. Selebihnya hanya di hotel dan beristirahat.

Keesokan hari, kami berangkat menuju Bukit Tinggi sekitar jam tujuh pagi. Kami harus berangkat pagi untuk menghindari kemacetan. Karena banyak penduduk  kota Padang akan berlibur ke kota Bukit Tinggi dan begitupun sebaliknya. Di tengah perjalanan kami berhenti di Air terjun Lembah Anai. Lokasinya persis di pinggir jalan utama Padang-Bukit Tinggi. Air terjun ini tingginya sekitar 30 meter. Kalau musim penghujan, cipratan airnya bisa mencapai jalan raya. Ketika gue di sana, tidak ada pengunjung yang berendam di telaga. Mereka kebanyakan hanya duduk di pinggirnya dan mencelupkan kaki ke dalam air yang lumayan dingin. Sebenarnya di atasnya masih ada lagi air terjun lainnya tetapi tidak terlihat dari jalan raya. Di dekat air terjun ini kita juga bisa melihat rel kereta tua peninggalan Belanda yang sudah tidak dipakai lagi.

Air Terjun Lembah Anai

Sebelum melanjutkan perjalanan, gue membeli makanan kecil di toko yang banyak berjejer di samping air terjun. Kemudian kami diantarkan Pak Ihsan (supir sekaligus guide yang kami sewa di Padang) menuju Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau yang terletak di Padang Panjang. Bangunannya berupa Rumah Gadang Koto Piliang, rumah khas Sumatera Barat. Halamannya cukup luas tetapi menurut gue agak kurang pepohonannya. Di dalamnya terdapat banyak buku, naskah dan foto tentang sejarah dan budaya Minangkabau. Ketika di sana, gue melihat beberapa mahasiswa sedang mencari bahan referensi tugas kuliah. Di bagian bawah Rumah Gadang ini terdapat sebuah pelaminan adat Minangkabau. Pengelola menawarkan para pengunjung untuk berfoto di sana dengan menggunakan pakaian daerah Minangkabau. Selain itu juga bisa foto di bagian atas ataupun luar Rumah Gadang. Harga sewa pakaian cukup murah yaitu dua puluh lima ribu rupiah. Kakak ipar dan keponakan gue pun tak menyia-nyiakan kesempatan itu untuk bergaya.

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau @ Padang Panjang

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau @ Padang Panjang

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau @ Padang Panjang

Pusat Dokumentasi dan Informasi Kebudayaan Minangkabau @ Padang Panjang

Pak Ihsan juga mengantarkan kami ke pusat Tenun Songket Pandai Sikek di daerah Tanah datar. Tenun songket ini bisa dilihat di lembaran uang lima ribu rupiah. Gue tertarik dengan pembuatan songket tersebut tetapi sedikit khawatir perjalanan akan tak sesuai rencana. Mama dan kakak ipar gue adalah penggila belanja, takutnya mereka akan menghabiskan banyak waktu di sana. Benar saja sesampainya di sana kami malah ke toko, bukannya ke bengkel pembuatan songket. Songketnya memang bagus sekali warnanya. Namun harganya juga lumayan menguras kantong. Paling murah harganya di atas satu juta rupiah. Harga songket ini cukup mahal salah satunya dikarenakan teknik pembuatannya yang cukup rumit dan memerlukan waktu yang tak sebentar. Kalau mau yang lebih murah, ada juga Tenun Songket Silungkang. Tentu saja kualitasnya tidak seistimewa tenun songket Pandai Sikek.

Tenun Songket Pandai Sikek

Langit mendung dan perasaan gue jadi gelisah karena takut hujan akan turun. Setelah membujuk mama untuk segera mengakhiri kegiatan tawar-menawarnya, kami pun beranjak. Tak lama roda mobil kami bergulir, hujan pun turun dengan derasnya. Untuk sampai ke pusat kota Bukit Tinggi, kami harus melewati pasar yang jalanannya macet. Supir kami pun membelokkan mobilnya ke jalanan kecil yang ternyata menyusuri Ngarai Sianok. Suasana hati gue ketika melihatnya cukup campur aduk. Kagum akan keindahan alam yang diciptakan Tuhan. Sekaligus sedih karena hujan agak mengaburkan pemandangannya. Semangat gue memang sempat turun kala itu sehingga mengambil gambar pun rasanya malas.

Ketika yang lain tahu semangat gue menurun, mereka langsung mengajak gue makan siang. Tempat makannya persis di parkiran dekat pintu masuk Benteng Fort De Kock di Bukit Jirek. Sembari makan, gue terus berharap agar hujan berhenti. Namun sepertinya harapan gue tinggallah harapan kosong belaka. Hujan masih saja terus berderai. Selesai makan dan beribadah, gue berpikir “Masa’ cuma gara-gara hujan, perjalanan gue jadi nggak maksimal”. Akhirnya dengan bermodalkan jaket, gue pun masuk ke dalam kawasan benteng. Ternyata dari belakang, papa menyusul gue dengan membawa payung yang entah didapatnya dari mana. Alhasil kami berdua bertualang masuk ke dalam.

Pertama masuk kami melihat ada beberapa kandang unggas dari berbagai belahan nusantara. Setelah itu kami mencari di mana letak benteng peninggalan Belanda tersebut. Yang gue bayangkan sebelumnya akan berupa seperti Benteng Martello di Pulau Kelor. Setelah mencapai puncak, yang gue temukan malah sebuah bangunan seperti pendopo. Setelah memandang sekitar, gue akhirnya tersadar bahwa gue sedang berdiri di benteng yang dulu bernama Sterrenschans. Tidak ada bangunan utuh berupa benteng seperti Martello. Yang tersisa dari benteng itu hanyalah cukup banyak meriam yang tersebar di sekitar benteng. Namun sayang, meriamnya tidak terawat bahkan lokasinya kadang di dekat tempat sampah.

Benteng Fort De Kock

Benteng Fort De Kock

Setelah memutari jalan setapak di sekitar benteng, gue mengajak papa untuk melihat Jembatan Limapapeh yang menghubungkan benteng dengan Taman Margasatwa Kinantan. Dari jembatan tua ini kita bisa melihat jalan kota Bukit Tinggi dari atas. Papa malah mengajak gue untuk menyeberang dan masuk kebun binatang. Gue sebenarnya agak malas karena tak yakin dengan kondisi kebun binatangnya. Benar saja, sepanjang waktu melihat hewan-hewan yang ada di dalamnya, kami terus beristighfar. Kasihan sekali hewan tersebut mendapatkan kandang yang tidak layak dengan ukuran yang sempit dan banyak sampah. Sudah saatnya baik pengelola dan pengunjung peduli akan kebersihan dan kenyamanan benteng dan kebun binatang.

Kebun Binatang Fort De Kock

Kebun Binatang Fort De Kock

Kebun Binatang Fort De Kock

Sekembalinya gue ke parkiran, hujan pun mereda. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke ikon Kota Bukit Tinggi yaitu Jam Gadang. Walaupun baru saja diguyur hujan, di sekitar jam gadang sudah ramai sekali dikunjungi orang. Selain itu juga ada beberapa pedagang asongan dan mainan yang berkeliaran. Karena sulit mencari parkir, maka gue dan keluarga hanya turun sebentar untuk berfoto. Sedangkan Pak Ihsan hanya mengitari jalanan sekitar tanpa parkir. Sejujurnya yang ada di ingatan gue adalah betapa cantiknya Jam Gadang di malam hari. Lampu-lampu di sekitarnya membuat bangunan hadiah Ratu Belanda ini begitu cantik dan megah. Kali ini gue memang harus puas melihatnya di sore hari yang mendung. Di dekat Taman Jam Gadang, kita juga bisa melihat Istana Bung Hatta dan berkunjung ke Pasar Atas.

Jam Gadang

Karena waktu sudah sangat sore, sehingga sepertinya tidak mungkin untuk mampir ke Istana Paguruyung di Batu Sangkar. Sehingga untuk menggantinya, kami pun kembali menuju Ngarai Sianok untuk melihat pemandangannya sekali lagi dari Taman Panorama. Tentunya kali ini tanpa ada hujan yang menyertai. Di Ngarai Sianok ini terdapat gua jepang. Sekali lagi karena alasan waktu, gue pun tak sempat menyusurinya. Kami pun menutuskan untuk kembali ke Padang sebelum gelap menghampiri dan hujan turun lagi.

Ngarai Sianok

Ngarai Sianok

Rasanya belum puas berkeliling di kota Bukit Tinggi. Jika ada kesempatan lagi, gue harus bermalam di kota Bukit Tinggi. Menyempatkan lebih banyak waktu untuk menjelajah hingga ke pelosok kota. Bukit Tinggi tetap menjadi salah satu kota favorit gue dan selalu mempunyai tempat istimewa di hati…

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

8 thoughts on “Bukit Tinggi Selalu di Hati

  1. Alamak, Bukit Tinggi!
    Baca tulisan ini, makin tinggi aja keinginan untuk ke sana lagi.

    Pasti kita punya keinginan yang sama..🙂

  2. @Alid Abdul dan Oddie : Hayuk, yuk, mari kita ke Padang..

    @Gwerilla: Gue sudah memutuskan enggak mau lagi masuk kebun binatang manapun di Indonesia yang standarnya di bawah Ragunan. Enggak kuat gue ngeliat kondisi yang mengenaskan..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s