Kabur ke Derawan! (Bag. III)

7 Juli 2012

Melihat goresan air yang membuat alur-alur cantik di Pantai Sangalaki, kami tidak tinggal diam. Kami langsung berfoto dengan berbagai ekspresi. Meskipun langit mendung tetapi pemandangannya tetap menawan hati. Selesai berfoto, alurnya sudah tidak cantik lagi karena sudah banyak tapak-tapak kami. Beruntunglah kami yang menemukannya terlebih dahulu dari pengunjung yang lain.

Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur

Setelah dibuat kagum, kami diajak untuk mengelilingi Pulau Sangalaki. Sebelumnya, kami melihat penangkaran penyu yang terletak di dalam pulau ini. Kami melihat banyak anak penyu atau biasa disebut tukik yang ditaruh di ember. Dulu, tiap malamnya di Pulau Sangalaki ada puluhan penyu yang bertelur. Namun semakin hari, jumlahnya semakin menurun. Kondisi ini diduga karena faktor lingkungan yang sudah tidak sebagus dahulu. Ditambah lagi dengan keusilan manusia yang menangkap penyu untuk dikonsumsi dagingnya atau dijual rangka luarnya sebagai hiasan.

Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur

Kemudian kami melanjutkan perjalanan kami dengan berjalan kaki memutari pulau ini. Ternyata pulau ini bisa dikelilingi kurang dari sejam. Ketika sudah hampir di dermaga, ternyata kami harus berjalan agak ke tengah laut. Karena air laut sudah surut begitu jauh dari bibir pantai. Agak sedih ketika jalan ke tengah, karena banyak sekali karang yang diinjak. Walaupun kata teman gue, semua karang tersebut telah mati. Tetap saja rasanya agak kecewa menginjak karang tersebut. Namun, tidak ada cara lain untuk kembali ke kapal selain melintasi jalan tersebut.

Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur

Ketika sampai di kapal, kami langsung memasang alat snorkeling. Ternyata dari kapal yang terletak di ujung dermaga yang surut, setelahnya terdapat tebing yang cukup dalam. Di situlah terdapat berbagai keindahan yang bisa dilihat. Berbagai macam karang yang berwarna-warni. Juga berbagai jenis ikan dengan warna dan ukuran yang beragam. Sayangnya gue tidak membawa kamera underwater dan masih menyesalinya sampai sekarang. Padahal banyak sekali objek yang bisa difoto. Akhirnya yang bisa gue lakukan hanyalah merekamnya di memori kepala gue. Sebenarnya makin ke tengah, karang semakin rapat dan jenis ikannya lebih beragam. Namun ketika gue ke sana, suhu air berubah drastis jauh lebih dingin. Belum lagi arus dalamnya lebih kencang sehingga agak susah berenang apalagi menggunakan pelampung. Jadi gue tidak berlama-lama di sana, lalu kembali ke daerah dekat kapal.

*Sumber: Christina Eka*

*Sumber: Christina Eka*

Entahlah berapa lama kami ber-snorkel-ria di sana. Ketika semua merasa sudah letih, akhirnya kami  naik ke kapal dan memutuskan untuk kembali ke Pulau Derawan. Ternyata tak hanya Pulau Sangalaki yang mengalami air surut. Di Pulau Derawan, air juga surut sehingga menyulitkan kapal kami untuk mendekati dermaga penginapan kami. Kapal kami yang kira-kira berjarak tiga ratus meter, tinggi airnya hanya sebatas dengkul orang dewasa. Kurang dari sejam akhirnya air mulai berangsur naik sehingga kami bisa mendarat di dermaga penginapan kami.

Tiba di dermaga, kemudian kami mandi dan berniat pergi melihat sunset di sisi lain pulau ini. Namun karena tak terburu waktu, akhirnya kami memutuskan untuk melihatnya dari ujung dermaga penginapan. Sayang sekali mendung membuat langit menjadi kelabu. Akhirnya karena kami lapar, kami memilih untuk pergi ke kedai makanan sekadar ingin menyantap mie rebus. Sesampainya di warung gue menemukan fakta menarik. Ternyata penduduk Derawan makan pisang goreng dengan sambal kacang. Sama halnya dengan yang dilakukan di kampung gue di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Malamnya kami memutuskan untuk melihat oleh-oleh yang ditawarkan oleh Pulau Derawan. Selain penyu yang diawetkan, kami juga melihat kepiting kenari yang diawetkan. Kepiting kenari ini sebenarnya keberadaannya sudah  jarang. Padahal beberapa tahun yang lalu masih banyak ditemukan dan dijadikan santapan khas Kalimantan Timur. Yang banyak dijual sekarang di restoran biasanya bukan kepiting kenari biasa walau ukurannya besar. Selain itu ada juga berbagai kerajinan yang dibuat dari kerang berupa gantungan kunci, asbak, jam meja hingga perhiasan. Tidak lupa kaus dan pakaian yang bertuliskan Pulau Derawan.  Teman gue juga membeli ikan pari yang sudah diasap. Namun anda harus berhati-hati dalam mengemasnya karena baunya yang cukup menyengat.

Setelah itu kami memenuhi undangan dari seorang ibu yang merupakan tokoh masyarakat setempat untuk menghadiri resepsi pernikahan. Kami diundang kemarin malam ketika mengelilingi kampung. Sebenarnya kami sudah menolak karena kami tidak membawa pakaian yang cukup pantas untuk datang ke sebuah resepsi pernikahan. Namun, beliau menyatakan tidak apa dan menjanjikan kami sebuah pertunjukan tarian adat Pulau Derawan. Beberapa temen gue langsung menuju tempat resepsi, sedangkan gue dan Christin memilih untuk berbincang-bincang sebentar dengan seorang bapak pemilik warung. Dari beliaulah, gue mendapatkan banyak cerita seputar Derawan. Namun, lagi-lagi gue melakukan kesalahan besar yaitu lupa mencatat nama beliau.

Resepsi pernikahan di Pulau Derawan agak berbeda dengan kebanyakan daerah lain. Di sini acara belum akan dimulai sebelum sebagian besar warga telah berkumpul. Sembari menunggu, mereka akan diberikan nasi kotak dan dihibur oleh organ tunggal (dangdut). Setelah semuanya berkumpul, barulah acara dimulai dengan sambutan-sambutan. Kemudian ditampilkanlah tarian khas Pulau Derawan. Dulunya tarian ini ditarikan oleh orang dewasa tetapi sekarang ditarikan oleh anak-anak smp. Setelah itu baru ada pemotongan kue dan ditutup dengan pemberian ucapan selamat dan hiburan pun dilanjutkan. Namun kami memilih kembali ke penginapan untuk beristirahat.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Bangun tidur, kami tidak sempat lagi melihat sunrise. Kami sibuk berkemas karena harus kembali ke Jakarta pada siang hari. Sebelum kami pulang, kami didikunjungi lagi oleh si penyu. Ternyata dekat penginapan kami ditaruh daun pisang di dalam air. Fakta unik yang baru gue ketahui bahwa ternyata penyu gemar makan daun pisang. Setelah berpisah dengan berat hati dengan Pulau Derawan, kami pun kembali mengarungi laut menuju pelabuhan tarakan.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Sampai di tarakan kami tak langsung menuju bandara. Pertama kami menuju pasar dekat dengan pelabuhan. Di sini kami mencari minyak pahlawan yang konon katanya manjur untuk segala penyakit. Selain itu kami juga membeli ikan asin yang dikeringkan. Setelah itu kami mampir ke hutan mangrove yang terletak di tengah kota Tarakan. Bahkan lokasinya persis di sebelah sebuah pusat perbelanjaan. Di dalam hutan mangrove ini terdapat berbagai jenis monyet. Yang paling unik tentunya bekantan, hewan maskot dunia fantasi. Ternyata bekantan adalah hewan yang cukup pemalu dan lebih memilih untuk hidup di atas pohon dan jarang sekali turun ke daratan.

Hutan Mangrove Tarakan

Hutan Mangrove Tarakan

Hutan Mangrove Tarakan

Hutan Mangrove Tarakan

Kami tak bisa lama berada di hutan kota, karena kami harus segera menuju bandara. Rasanya kurang sekali waktu selama tiga hari dua malam untuk menjelajahi Pulau Derawan dan sekitarnya. Gue juga yakin masih banyak pesona yang tersimpan di sana. Mudah-mudahan ada kesempatan lagi untuk kembali berwisata ke Pulau Derawan dan sekitarnya. Amin..

NB: foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

5 thoughts on “Kabur ke Derawan! (Bag. III)

  1. Foto underwaternya kurang banyak, Run.
    Trus-trus itu ekspresi pengantinnya kayak ga ikhlas gitu berfoto dengan kalian. Hahahahaha…
    Hidung bekantannya ga keliatan.😐

  2. coba kamu deketin idungmu ke screen, Man, siapa tau idung bekantannya jadi keliatan..
    Ini bagian 2nya mana tau2 udah bagian 3? -_____-“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s