Kabur ke Derawan! (Bag. II)

7 Juli 2012

Alarm membangunkan gue dari tidur yang lumayan nyenyak. Suasana begitu hening dan tidak terdengar suara ombak. Gue melihat keluar jendela dan langit pun masih gelap. Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi waktu setempat. Setelah beribadah dan membangunkan teman yang lain, sekitar pukul setengah enam pagi kami berangkat ke dekat tempat kami melihat sunset kemarin sore. Namun tujuan kami kali ini tentunya untuk melihat matahari terbit atau sunrise. Perkampungan masih sepi sekali ketika kami melintasinya. Hanya ada beberapa orang tua yang baru saja memulai aktivitas mereka. Sepi juga terasa ketika memasuki Dive Resort. Hanya ada satu keluarga yang sedang bermain di tepi pantai.

Dari sana, kami bergerak ke arah kanan menuju penginapan lainnya. Di sini gue melihat ada lapangan voli pantai dengan kursi penonton yang sudah miring. Dulunya ini adalah lapangan voli pantai berstandar internasional yang digunakan untuk PON Kaltim. Di Derawanlah, para atlit voli pantai dari seluruh Indonesia berkompetisi. Agak mengejutkan juga buat gue mengetahui lokasinya  terletak begitu jauh dari kota Samarinda, pusat kegiatan PON berlangsung. Walaupun jauh tetapi gue yakin setelah para atlit sampai, mereka tentunya akan mengalami pengalaman yang menyenangkan di pulau ini. Sayangnya lapangan ini tidak terurus. Sepertinya penduduk setempat tidak memanfaatkannya untuk berolahraga voli pantai.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Kami mengambil beberapa tempat berbeda untuk melihat sunrise. Ada yang memilih di ujung pantai,ujung dermaga atau gue yang berada di tengah dermaga. Suasana fajar di Derawan tidak kalah menakjubkan dengan suasana senjanya. Semburat jingga hadir dari balik awan yang terlihat gelap. Kemudian langit menjadi lebih jingga dan terbitlah Sang Matahari. Memang Tuhan begitu kuasa membuat lukisan alam yang memukau hambanya. Membuat kita bersyukur atas segala berkat yang telah dia berikan pada kita selama ini.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Kembali dari melihat sunrise, kami sarapan terlebih dahulu sebelum akhirnya berangkat menjelajah pulau-pulau sekitar Derawan. Tujuan pertama kami adalah Pulau Maratua. Di pulau ini kami dibawa menuju sebuah penginapan di atas air yang lebih mewah daripada di Derawan. Kemewahan itu ditambah lagi dengan air laut yang terlihat biru jernih di bawah bangunannya. Airnya sangat bening  persis seperti air kolam renang yang baru saja diganti airnya. Kita bahkan bisa melihat dengan jelas  ikan-ikan yang berenang di dalamnya. Kami tak lama berada di sini karena ini merupakan penginapan yang disewakan. Sepertinya akan menguras tabungan jika mau menginap di sini karena tarifnya cukup mahal.

*Sumber: Christina Eka*

*Sumber: Christina Eka*

Pulau Maratua ini sebenarnya jauh lebih luas dari apa yang sudah kita lihat. Bahkan di sini terdapat sebuah pangkalan udara milik angkatan udara. Yang kedepannya akan dikembangkan menjadi bandar udara komersial. Hal ini segera diwujudkan untuk menyambut Sail Derawan tahun depan. Pulau Maratua ini termasuk pulau terluar di antara pulau sekitarnya. Sehingga katanya kalau ada yang terhantam badai, kapalnya akan terhanyut hingga Filipina. Berbeda dengan beberapa pulau lainnya yang akan terhanyut ke Pulau Sulawesi. Dari Pulau Maratua menuju Pulau Kakaban, kami diterpa hujan. Sepertinya hujan tidak turun terlalu deras. Namun karena kita berada di atas kapal cepat, hujan itu terasa seperti badai buat kami. Untungnya itu berlangsung tidak terlalu lama tapi sudah cukup membuat sekujur tubuh kami basah kuyup bahkan sebelum kami berenang.

Merapat di dermaga Pulau Kakaban, kami berhadapkan deretan pepohonan yang rapat. Di balik hutan ini terdapat sebuah danau, tempat kami akan berenang bersama ubur-ubur.  Untuk menuju danau, kami melewati jembatan kayu yang beberapa bilahnya telah rusak. Hal ini perlu diperhatikan pemerintah setempat karena sepertinya tempat ini tidak memilik fasilitas pendukung yang berarti selain jembatan. Itupun kalau tidak diperbaiki, gue yakin beberapa tahun ke depan akan tidak bisa dipakai lagi. Setelah berjalan masuk ke dalam hutan, barulah terlihat danau berwarna kehijauan yang cukup luas. Setelah siap kami akhirnya menceburkan diri ke dalamnya. Pertamanya air agak keruh karena memang sudah banyak orang yang sepertinya berenang di dalamnya. Gue pun tidak menemukan begitu banyak ubur-ubur. Semakin ke tengah barulah air semakin jernih dan ubur-uburnya cukup banyak. Bahkan gue tidak bisa berenang tanpa menyentuh ubur-ubur. Namun tidak perlu takut karena ubur-uburnya tidak bersengat.

Ubur-ubur ini begitu lucu dengan warna oranye atau coklat. Ukurannya ada yang sebesar jempol tangan hingga lebih dari dua kepal tangan orang dewasa. Lucunya gue baru tahu ada tanda berupa huruf X di bagian atasnya. Kami pun tidak lupa untuk foto bersama ubur-ubur yang sangat menggemaskan itu. Ketika dipegang atau disentuh rasanya seperti memegang agar-agar. Karena begitu semangatnya, sampai-sampai kami berfoto sambil mengangkat ubur-ubur tersebut keluar dari dalam air. Tindakan yang gue sesali sekarang karena tentunya menyakitkan buat mereka diperlakukan seperti itu.

*Sumber: Christina Eka*

*Sumber: Raissa Almanda*

Konon katanya, hanya ada dua tempat yang memiliki ubur-ubur tidak bersengat ini yaitu Pulau Kakaban dan Republik Palau. Jadi kalau penasaran ingin menyentuh atau berenang bersama ubur-ubur tidak perlu jauh-jauh ke Republik Palau. Karena kita memilikinya di negeri yang indah ini. Gue yakin ini merupakan salah satu pengalaman yang tidak akan pernah gue lupakan seumur hidup.

Tadinya kami ditawarkan untuk berenang di sekitar Pantai Kakaban. Namun setelah makan siang, kami memilih untuk langsung menuju Pulau Sangalaki. Cuaca begitu drastis berubah ketika sampai di sana. Sinar matahari begitu menyengat sehingga gue takut lagi-lagi kulit gue akan terbakar. Menurut penduduk Derawan, cuaca di sana dan pulau-pulau sekitarnya memang tidak bisa ditebak. Kadang hujan dan kadang cerah. Mereka juga tidak mengenal bulan-bulan khusus diamana seharusnya musim hujan dan kemarau. Mereka hanya berpatokan pada angin muson yang berlangsung pada bulan-bulan berbeda tiap tahunnya.

Sampai di Pulau Sangalaki kami melihat ada pantai yang menjorok ke lautan. Kami pun langsung menghampirinya karena begitu terpukau. Alur-alur air begitu indah menggores pantai. Gue yakin pulau ini menyimpan kejutan-kejutan menyenangkan lainnya. Tak sabar rasanya untuk menjelajahi pulau ini lebih jauh..

Pulau Sangalaki, Kalimantan Timur

(bersambung)

4 thoughts on “Kabur ke Derawan! (Bag. II)

  1. Prinsip pencinta alam itu: take nothing but picture, kill nothing but time, and leave nothing but footstep.
    Ditunggu Derawan Part 3-nya yaa… Seruuuu…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s