Kabur ke Derawan! (Bag. I)

Kalimantan adalah salah satu pulau besar yang belum pernah gue kunjungi. Di bayangan gue, pulau tersebut hanyalah berisi hutan, hutan dan hutan. Tahun kemarin, gue tahu ada tempat eksotis yang berdekatan dengan Pulau Kalimantan yang bernama Pulau Derawan. Untuk mencapainya, paling mudah dan cepat dengan speed boat menyeberang dari Tarakan, Kalimantan Timur. Belakangan ini, Derawan sering sekali ditayangkan di program jalan-jalan televisi. Sejak melihat betapa indahnya pemandangan Pulau Derawan, maka Kalimantan telah menjadi salah satu tujuan wisata gue. Maka tak perlu berpikir ulang untuk ikut ketika Escape Indonesia mengadakan program perjalanan ke sana. Semakin menarik ketika mengetahui bahwa nantinya gue akan mengunjungi beberapa pulau di sekitar Derawan yang tentunya tak kalah indah dan menarik.

6 Juli 2012
Ketika kebanyakan orang lain masih terlelap, pukul setengah tiga pagi gue sudah bersiap diri menuju Bandara Soekarno Hatta. Kali ini gue memilih naik Damri yang berangkat pukul setengah empat pagi. Jalanan yang lengang membuat perjalanan dari Terminal Kampung Rambutan menuju terminal 1b dapat ditempuh dalam waktu sejam. Di bandara gue bertemu dengan beberapa teman perjalanan ke Derawan. Pukul enam pagi, dengan pesawat Sriwijaya kami pun meninggalkan Jakarta menuju Tarakan dengan transit di Balikpapan terlebih dahulu.

Sekitar pukul sebelas siang, kami mendarat di Bandara Internasional Juwata. Bandara yang cukup kecil untuk ukuran internasional dengan hanya mempunyai satu landasan. Mungkin disebut internasional karena ada pesawat kecil yang membawa penumpang dari dan ke Malaysia. Kami disambut hujan yang menderas di kota Tarakan. Perasaan waswas perjalanan ini akan terganggu muncul begitu saja. Yang bisa dilakukan hanya berdoa dan berharap bahwa ini merupakan pertanda baik untuk perjalanan kami.

Bandara Juwata Tarakan

Sembari menunggu teman yang lain, kami pun diajak makan terlebih dahulu. Bukan makanan khas Tarakan, melainkan ayam dan ikan penyet. Alasannya memilih makanan tersebut karena mengira makanan tersebut cukup cepat saji. Yang pada akhirnya dugaan kami salah karena begitu lama makanan tersebut disajikan. Itulah pertama kali gue merasakan bahwa rasa sambal cabai di Tarakan ataupun selama di Derawan nantinya tidak begitu pedas. Tentu bukan karena ukuran tingkat kepedasan gue yang ekstrim, karena teman gue yang lain pun mengamininya.

Setelah perut kami terisi, sekitar pukul satu siang kami berangkat menuju Derawan. Kami menggunakan speed boat atau kapal cepat dari Pelabuhan Tarakan. Saat itu keadaan pelabuhan begitu penuh sesak sehingga menyulitkan untuk naik ke kapal. Begitu kami semua berada di atas kapal, nahkoda pun langsung tancap gas dengan kecepatan tinggi. Tak ayal kami pun beberapa kali terlompat dari bangku karena perahu menghantam riak ombak. Untung saja di antara kami tidak ada yang mabuk laut. Karena meskipun minum obat anti mabuk, gue yakin akan sulit untuk tidur dalam keadaan badan terguncang-guncang.

Speedboat menuju Derawan

Di atas kapal, kami berkenalan satu dengan yang lain. Berbincang seadanya kemudian terdiam. Memang perjalanan laut ini agak membosankan. Yang gue bayangkan betapa nikmat rasanya menghabiskan waktu ini dengan makan cemilan. Sambil memandangi lautan yang berwarna keperakan memantulkan sinar matahari. Setelah tiga jam terguncang-guncang di dalam kapal, kami akhirnya mendekat dengan Pulau Derawan. Perasaan bosan yang tadinya hinggap, hilang begitu saja ketika melihat beningnya air laut. Kami bisa melihat hingga ke dasar laut yang membuat tak sabar untuk menceburkan diri ke dalamnya. Kami pun melihat penginapan kami yang berwarna coklat kayu yang berdiri kokoh di atas air. Ketika kami naik ke dermaga kecilnya, kami pun diberi kejutan istimewa yang lain. Seekor penyu sedang bersantai dekat dengan penginapan. Sayangnya dia begitu cepat kabur karena mungkin tahu dengan kehebohan kami, orang kota yang jarang melihat penyu secara langsung.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Kami menaruh barang bawaan lalu dibawa menuju tempat untuk melihat sunset. Sebuah penginapan yang mewah untuk ukuran Derawan yaitu Dive Resort. Konon katanya di sini biaya menginapnya lebih dari satu juta per malam. Memang cukup pantas karena hotel ini berbatasan dengan pantai yang landai dan juga dermaga menjorok dua ratus meter ke tengah laut. Selain lokasinya, bangunan yang etnik dan lengkapnya fasilitas juga menambah nilai penginapan ini. Sambil menunggu matahari tenggelam, kami menikmati senja di langit Derawan. Ternyata matahari tenggelam di sisi lain dari pulau ini. Namun tak mengurangi indahnya langit Derawan dengan semburat keemasan. Pemandangan yang sangat memukau, Maha Besar Tuhan untuk karyanya yang menakjubkan ini.

*Sumber: Christina Eka*

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Setelah sinar matahari sirna, akhirnya kami kembali ke penginapan untuk membersihkan diri. Malam ini kami tidak diberi kegiatan, hanya ada waktu bebas. Namun, kami ingin berkeliling kampung untuk melihat lebih jauh aktivitas warga di malam hari. Sebelum kami berkeliling, kami makan malam dengan menu ikan bakar. Rasanya lebih manis karena ikan yang dibakar adalah ikan segar, lain yang biasa kita makan di kota. Tidak lama berkeliling, kami akhirnya memutuskan untuk kembali ke penginapan untuk beristirahat. Ketika itulah gue bertemu dengan seorang ibu yang membawa seekor penyu yang sudah diawetkan dengan air keras. Rumornya, isi  tubuh penyu diambil untuk disantap. Sedangkan tubuh luarnya dijadikan hiasan dengan kelereng sebagai pengganti matanya. Semoga saja rumor yang mengatakan bahwa penyu itu dibunuh secara sengaja itu tidak benar. Karena kalau benar, tentu tak lama lagi penyu akan masuk di dalam daftar hewan langka.

Pulau Derawan, Kalimantan Timur

Masih ada esok hari yang pastinya akan lebih jauh memukau. Menjelajahi pulau-pulau di sekitar Derawan yang menawarkan keindahan dan keunikan. Sekali lagi Maha Besar Tuhan dan karenanya gue pun bisa tertidur dengan bahagia..

(bersambung)

7 thoughts on “Kabur ke Derawan! (Bag. I)

  1. Pingback: Malas-malasan di Pulau Macan | Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s