Enam Jam di Cirebon

2 Juni 2012

Siapa yang menyangka bahwa gue kembali menjejakkan kaki di kota udang, Cirebon. Sepertinya sudah lama sekali gue tidak menyambangi kota ini. Ide untuk berwisata di kota ini muncul dari Nina ketika kami menjelajahi Gunung Padang Cianjur. Tadinya kami merencanakan pergi berdua saja. Kami ingin mengunjungi empat keraton yang ada di Cirebon dan juga Desa Trusmi yang terkenal sebagai desa penghasil batik megamendung atau batik Cirebon. Namun, kami akhirnya mengajak teman-teman kami dari UG Team. Ternyata banyak yang mau turut serta yaitu Lidya, Dino, Winda, Irfan, Dion dan Rilla.

Kami berangkat pukul sembilan dari Stasiun Gambir dengan menggunakan kereta eksekutif Argo Jati. Sebenarnya masih ada pilihan kereta yang lebih pagi tetapi gue baru selesai siaran di radio pukul delapan pagi. Kereta Argo Jati adalah kereta paling bagus yang pernah gue naiki. Kereta ini menggunakan toilet duduk dan kompartemennya tertutup seperti di pesawat. Selama di kereta kami mengobrol, bercanda dan berfoto. Bahkan ada seorang nenek yang merasa terganggu dengan suara tawa kami yang menggelegar. Setibanya di Cirebon pada pukul dua belas kurang, kami pun dengan sigap berfoto di stasiun yang terbilang sepi ini.

DSCN3322

*Sumber: FB Adhalina Maria*

Kami pun beranjak dari stasiun mengendarai mobil sewaan kami yang telah menunggu di luar stasiun. Karena kami sangat lapar, kami minta diantarkan ke sebuah warung makan yang menyediakan makanan khas Cirebon. Pak supir akhirnya mengajak kami ke Rumah Makan H. Apud yang menyediakan Empal Gentong dan juga Empal Asem. Karena gue dan Nina tidak makan daging, pertamanya kami agak kebingungan mencari makanan lain. Mungkin karena kasihan melihat kami, pemilik warung makan menawarkan kami Nasi Lengko. Tentu saja kami langsung mengamininya. Nasi Lengko ini adalah nasi dengan bumbu kecap dan bumbu kacang dengan tambahan lauk berupa tahu dan tempe.
DSCN3338

*Sumber: FB Lidya Ramadhania*

DSCN3344

Setelah kenyang, kami langsung diantarkan ke sebuah toko Batik Mahkota di Desa Trusmi. Pertamanya agak kecewa karena tempat yang gue harapkan sebelumnya adalah sebuah rumah warga yang di dalamnya terdapat industri batik rumahan. Namun, pegawai toko di situ mengatakan bahwa di situ juga terdapat bengkel batik di lantai tiga. Akhirnya kami memutuskan untk tetap masuk ke dalam toko. Begitu memasuki toko, rasanya tempat ini seperti surga batik buat gue. Saat teman yang lain mencari kain di lantai pertama, gue sendiri langsung naik ke lantai dua toko ini. Di bagian ini terdapat pakaian jadi. Kami pun langsung menyebar dan mencoba batik yang menurut kami bagus.

*Sumber: FB Adhalina Maria*

DSCN3345

DSCN3347

Setelah itu kami naik ke lantai tiga, di sinilah terdapat bengkel batik. Ada beberapa murid smp yang sedang membatik tulis dengan menggunakan canting dan malam. Mereka sedang melakukan tugas dari sekolah. Juga ada seorang pegawai pria yang sedang membatik dengan teknik cap. Beberapa dari kami pun sempat mencobanya. Ternyata teknik batik cap juga tidak mudah. Harus dipastikan semua sisi sejajar agar pola batiknya tidak berantakan. Setelah itu, kami pun turun kembali ke lantai bawah untuk melanjutkan perburuan batik kami.

DSCN3352

DSCN3358

Gue yang dititipi teman untuk mencari kain batik pun akhirnya pergi ke lantai satu. Pertamanya gue agak kebingungan, sampai akhirnya gue berhasil menemukan tiga batik yang warnanya cerah. Batik Cirebon ini memang lebih cerah jika dibandingkan dengan batik Solo dan Yogyakarta. Batik di sini lebih berani menggunakan dan memadumadankan warna. Harga kain batik yang ditawarkan di sini juga relatif beragam dari mulai puluhan ribu hingga ratusan ribu rupiah. Tak disangka, sebenarnya sesuai rencana kami hanya akan berada di sini sekitar satu jam. Namun ternyata kami menghabiskan waktu lebih dari dua jam. Karena waktu kami tak banyak, akhirnya kami menyudahi belanja dan menuju keraton.

Keraton yang kami kunjungi adalah Keraton Kasepuhan. Keraton terbesar dari empat keraton yang ada di kota Cirebon. Sebelum masuk kami membayar tiket masuk sebesar lima rupiah per orang. Sepertinya keraton ini memang tidak dibiayai dari sumber dana pemerintah daerah melainkan secara swadaya. Menurut gue kondisinya akan lebih bagus lagi kalau ada dukungan dana dari pemerintah setempat. Sehingga tidak ada lagi iuran kebersihan di setiap ruangan yang kami kunjungi. Sepertinya warga sekitar memanfaatkan pengunjung dengan meminta sumbangan. Menurut gue ini membuat para pengunjung tidak nyaman. Sebaiknya tidak ada lagi pungutan bayaran ketika kami telah membayar uang masuk dan hanya memberikan tips kepada pemandu yang mengajak kami berkeliling.

DSCN3385

Pemandu kami mengajak kami berkeliling keraton ini sambil menceritakan sejarahnya. Keraton ini adalah peninggalan dari Sunan Gunung Jati yang dibangun pada tahun 1529. Hingga sekarang pun masih digunakan sebagai rumah tinggal keturunannya. Banyak sekali ruangan yang menarik dengan arsitektur campuran antara Cirebon, Cina dan Eropa. Serta peninggalan dari zaman pendudukan Belanda di Indonesia. Di keraton ini juga terdapat museum yang menyimpan barang-barang antik seperti senjata pusaka dan gamelan. Serta kereta Singa Barong yang dikeramatkan oleh warga kota Cirebon.

DSCN3377

DSCN3392

DSCN3414

Waktu sudah semakin sore dan sepertinya kami tidak sempat untuk pergi keraton lainnya yang ada di Cirebon. Sebenarnya selain Kasepuhan, di Cirebon juga ada Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan dan Keraton Keprabon. Akhirnya kami lebih memilih untuk memanfaatkan waktu dengan berfoto ria. Kami dengan sengaja mengenakan pakaian dengan warna yang cerah. Masing-masing dari kami harus memakai warna yang berbeda supaya terlihat bagus di foto. Terlalu senang berfoto sehingga tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul lima sore. Kami pun bergegas untuk kembali menuju stasiun kereta api.

*Sumber: FB Adhalina Maria*

DSCN3410

*Sumber: FB Adhalina Maria*

*Sumber: FB Adhalina Maria*

Menuju stasiun, kami mampir berbelanja oleh-oleh terlebih dahulu. Kami membeli sirup yang terkenal dari Cirebon yaitu sirup tjampolay dan juga beberapa makanan ringan. Tadinya kami berpikir tidak akan sempat makan terlebih dahulu. Namun pak supir meyakinkan kami kalau masih sempat makan. Akhirnya kami dibawa makan di warung nasi jamblang pinggir jalan dekat staisun. Makanan ini adalah khas Cirebon dengan nasi yang dibungkus dengan daun jati. Pilihan lauk yang beragam dengan harga yang cukup murah. Memang tidak perlu mahal untuk merasakan makanan yang nikmat.

DSCN3438

Kami akhirnya tiba di stasiun pukul enam sore. Lima belas menit sebelum kereta berangkat. Memang kami hanya menghabiskan waktu enam jam di kota Cirebon. Namun banyak sekali yang kami dapatkan dari kota ini. Keceriaan bersama teman-teman dengan penuh canda tawa. Enam jam yang berkualitas untuk pertemanan kami. Terima kasih Cirebon telah memperkuat tali persaudaraan kami. Lain kali, kami akan menyediakan waktu yang lebih untuk menjelajahi seluruh kota Cirebon. Karena kami yakin Cirebon masih memiliki banyak pesona wisata lainnya. Sampai jumpa lagi, Kota Cirebon..

*Sumber: FB Adhalina Maria*

 

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

 

4 thoughts on “Enam Jam di Cirebon

  1. Ah senangnya baca tulisan ini. Kembali mengingatkan pada keriaan tiada tara di hari itu. Witty friends and nice trips are amazing gift. Hahahaha.

  2. Assalamualaikum ..
    Nama saya ROSNI BIN AHMAD atau lebih mesra di panggil PAK NGAH
    usia saya 52..Dari Kuala Lumpur

    Terima Kasih kerana sudi berkongsi..terasa spt keceriangan sdr dan teman2 sewaktu berwisata di Ceribon sangat enjoy & happy walau hanya punya 6 jam di Ceribon..

    Sebetulnya saya juga pingin untuk 1 day tour dari JKT – CRB bersama isteri pada awal Nov nnti Insyaallah ..

    apakah sdr bisa kongsikan info mengenai 1 day tour ke ceribon dengan saya..?

    email saya : pakngah.makngah@yahoo.com

  3. Pingback: Tim UG Memutih Asyik! (@ Ancol) « Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s