Menguak Misteri Gunung Padang

27 Mei 2012

Ketika mengetahui Sahabat Budaya akan melakukan tetirah ke Gunung Padang, gue langsung tertarik untuk turut serta. Belakangan ini memang Gunung Padang yang berlokasi di Kabupaten Cianjur banyak dibicarakan orang baik dari dalam dan luar negeri. Karena di lokasi ini terdapat situs megalitikum terbesar di Asia Tenggara yang diduga sebagai lokasi piramid di benua asia. Dalam perjalanan ini, gue ditemani dengan beberapa teman dari UG Team yaitu Nina, Lidya dan Dino. Kami berkumpul di Citos pukul tujuh pagi dan baru berangkat sejam kemudian karena harus menunggu beberapa peserta yang datang terlambat.

Karena berangkat terlalu siang, kami sudah terjebak macet selepas dari pintu tol jagorawi. Padatnya jalan akan mobil yang naik ke Puncak memakan waktu lebih dari dua jam untuk lepas dari kemacetan. Dari pinggir jalan raya di kabupaten Cianjur, kami masih harus memasuki jalan kecil sepanjang dua puluh kilometer lagi. Beberapa ruas jalan yang berlubang dan rusak memperlambat laju kendaraan. Total waktu yang dibutuhkan untuk mencapai lokasi ini dari Jakarta adalah lima jam lebih. Jadi bagi siapapun yang ingin pergi ke lokasi ini pada akhir pekan agar berangkat  lebih pagi dari pukul delapan. Karena kalau tidak, lebih baik menyiapkan mental anda menghadapi macet.

DSCN3298

*Sumber: FB Lidya Ramadhania*

Sesampainya di lokasi, kami beribadah dan makan terlebih dahulu. Setelah itu kami bersiap untuk naik ke atas. Sebelumnya kami dipercikkan air  dari mata air yang ada di kaki Gunung Padang.  Menurut kuncen Gunung Padang, sambil dipercikkan air tersebut disyaratkan untuk  sambil memanjatkan doa kepada Tuhan. Istilahnya ini seperti mensucikan diri anda sebelum naik ke atas. Perjuangan untuk sampai ke puncak Gunung Padang ini lumayan berat. Ada dua jalur pilihan yang bisa dilalui. Jalur pertama adalah jalur yang asli dengan kecuraman yang cukup tajam sepanjang seratus delapan puluh lima meter dengan tiga ratus tujuh puluh delapan anak tangga. Sedangkan  yang satunya lagi adalah buatan pemerintah daerah setempat. Kecuraman jalur ini tidak terlalu tajam dan dibuat berputar. Sehingga panjang jalurnya lebih jauh yaitu dua ratus lima puluh meter dengan tujuh ratus sembilan anak tangga.

DSCN3244

DSCN3245

DSCN3248

Kami memilih jalur yang memutar karena tidak terlalu curam. Walaupun jalurnya lebih mudah didaki tetapi tetap saja membuat kami kepayahan. Beberapa kali kami berhenti untuk menarik napas sembari melihat pemandangan daerah sekitar Gunung Padang yang dikelilingi oleh lima bukit. Sebenarnya penemuan situs ini sudah terjadi sejak tahun 1914. Namun, seiring berjalannya waktu, tempat ini pun dilupakan. Situs Gunung Padang ini diperkirakan digunakan untuk tempat pemujaan masyarakat pada tahun dua ribu sebelum masehi.

DSCN3278

Situs Gunung Padang memiliki banyak sekali menhir dan dakon dari batu andesit yang mengandung kadar besi tinggi. Di situs yang dipercayai sebagai petilasan prabu siliwangi ini memiliki lima teras. Di teras pertama dipercayai dulunya digunakan sebagai tempat pentas seni dengan tarian serimpi. Di teras ini juga ditemukan batu gong dan batu gamelan yang bernada ketika dipukul. Sedangkan di teras kedua terdapat batu lumbung, batu duduk dan batu pandang ke gunung Gede-Pangrango. Teras ketiga, bisa ditemukan sebuah batu yang terdapat goresan cakar maung. Di teras ke empat ada batu gendong. Namun, batu gendong ini tidak memiliki sifat mistis jika ada seseorang yang bisa menggendongnya. Sedangkan di teras kelima atau yang paling tinggi terdapat batu pendaringan. Di sini juga ada menara pandang untuk melihat pemandangan kawasan Situs Gunung Padang hingga memandang jauh ke Gunung Gede-Pangrango.

DSCN3274

DSCN3287

DSCN3290

*Sumber: FB Lidya Ramadhania*

DSCN3292

Kami turun dari atas menuju pelataran bawah dengan jalur asli yang lebih curam. Ketika sampai di bawah, kaki gue bergemetar dan ternyata itu terjadi pada semua teman gue. Itulah rasanya menuruni tangga yang curam tersebut. Tidak terbayangkan bagaimana rasanya jika menaiki tangga tersebut. Karena matahari tak akan lama lagi tenggelam, kami pun bergegas menuju tempat berikutnya yaitu Stasiun Kereta Api Lampegan. Stasiun kereta api ini dibangun sejak tahun 1879 dan mulai digunakan pada tahun 1882. Sekarang stasiun kereta api Lampegan sudah tidak digunakan lagi sejak tahun 2001 karena longsor. Walaupun begitu, kini kondisi stasiun dan rel kereta api terlihat bersih dan terawat. Dekat dengan stasiun kereta api Lampegan juga terdapat terowongan kereta api. Kami tak berlama-lama di sini. Kami hanya berfoto-foto saja dikarenakan langit sudah mulai menggelap dan suasananya sudah agak menyeramkan buat gue.

DSCN3308

DSCN3318

Kemudian kami beribadah di rumah pemandu kami yang memang orang cianjur. Setelah itu barulah kembali menghadapi macet menuju Jakarta. Sungguh perjalanan yang sangat panjang dan cukup melelahkan. Kami lebih banyak menghabiskan waktu di jalan daripada di lokasi. Mungkin banyak orang yang akan malas ketika memepertimbangkan untuk pergi ke Gunung Padang. Apalagi ketika mengetahui yang akan dilihat hanyalah sebuah bukit dengan hamparan batu. Namun menurut gue, sangatlah pantas kita meluangkan waktu untuk mengunjungi situs ini. Jangan sampai situs ini kembali terbengkalai dan hanya orang dari luar ngeri yang memedulikannya. Situs Megalith Gunung Padang masih menyimpan banyak misteri dan semoga yang menguaknya adalah anak bangsa kita sediri, bangsa Indonesia..

NB: Foto Selengkapnya bisa dilihat di sini.

4 thoughts on “Menguak Misteri Gunung Padang

  1. waaah keren….padahal gw & istri pengin banget kesana …eh ternyata udah lo duluan….berarti naik kereta kesana sudah nggak bisa ya run ? kabarnya ada jalur kereta kesana..turun dimana gitu…atau mungkin stasiun yg lo kunjungi itu kali ya ? – Chrizz 96.30 fm

  2. Chrizz: Hai mas chrizz. Stasiun Lampegan yang aku kunjungi itu sudah enggak dipakai lagi. Kalau mau ke Gunung Padang lewat jalur kereta aku kurang tahu deh, mas. Mungkin naik yang lewat stasiun di Cianjur kali yah. Trus naek angkot sampai pinggir jalan masuk Gunung Padang trus naek ojek.

  3. Harun dkk,
    Memang betul jgn hanya garae kemacetan yg panjang orang malas datang ke sana,
    untuk masih ada Harun dkk yg tetap peduli, bhw macet bukan jadi alasan.
    Yang berminat ke Situs Piramida Megalitik Gunung Padang bisa menghubungi Abang Ahmad Sahabat Budaya 087889980922. terima kasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s