Semarang Bukan Kota “Numpang Lewat” (Hari Ketiga)

19 Mei 2012

Hari ketiga di Semarang tidak gue awali dengan cukup baik. Kepala gue dengan sukses menyundul dinding kolam renang yang terbuat dari batu. Alhasil ada memar di kening gue yang buktinya akan ada di foto sepanjang hari ini. Salah gue juga karena berenang di hari yang masih gelap dan tidak memakai kacamata renang. Semoga saja tidak ada kejadian yang tidak mengenakkan lagi buat gue sepanjang hari ini. Pukul enam tiga puluh pagi kami berangkat menuju Kota Kudus ditemani oleh mas Pra.

Tujuan pertama kami di kota Kudus adalah Museum Kretek. Kudus memang terkenal sebagai kota kretek. Di sinilah kampung halaman dari salah satu perusahaan rokok kretek terbesar di Indonesia. Untuk masuk ke museum ini kita diharuskan membayar tiket masuk seharga seribu lima ratus rupiah. Kami dipandu oleh Mbak Nawang Sari yang menjelaskan tentang sejarah kretek di Indonesia khususnya kota Kudus. Kretek pertama kali ditemukan oleh Haji Jamhuri. Beliau mencampurkan cengkeh dengan tembakau untuk pelega tenggorokan. Ketika rokok campuran tembakau dan cengkeh itu dibakar maka akan berbunyi “kretek..kretek..”. Sehingga dinamakanlah rokok itu sebagai rokok kretek.

DSCN3067

DSCN3094

Industri rokok ternyata memang sudah besar sejak awal tahun 1900an di Kudus. Mas Nitisemito adalah salah satu pengusaha rokok asal Kudus yang sangat sukses. Beliau memiliki beberapa pabrik dan karyawan hingga mencapai sepuluh ribu orang. Yang gue kagumi adalah, promosi rokok ini sudah sangat variatif dan mewah di tahun 1920an. Bayangkan saja pada tahun tersebut, undian berhadiah rokok sudah berupa mobil.

DSCN3072

DSCN3091

Museum ini awalnya memang dikelola oleh persatuan industri rokok di Kudus. Namun sejak Desember 2007, pengelolaannya diserahkan kepada pemerintah daerah setempat. Di dalam museum, kami melihat diorama pembuatan rokok serta perkembangannya. Dalam museum ini juga terdapat peralatan membuat  rokok kretek. Mulai dari alat sederhana untuk membuat rokok klobot (rokok yang dibungkus daun jagung yang dikeringkan) hingga peralatan yang sudah menggunakan teknologi.

DSCN3085

DSCN3087

Setelah itu kami menonton film pendek dokumenter tentang sejarah kretek di kota Kudus. Film pendek ini hanya diputar di pabrik Djarum dan juga museum ini. Untuk menontonnya, kami membayar dua puluh ribu untuk satu rombongan. Selain ruangan teater, museum ini dilengkapi dengan taman bermain dan kolam renang. Bahkan di museum ini  juga terdapat sebuah rumah adat kota Kudus yaitu Joglo Pencu. Dinamakan Joglo Pencu karena atapnya yang tinggi. Arsitekturnya adalah campuran dari budaya China Islam, Hindu dan Eropa. Rumah yang terbuat dari kayu jati ini penuh dengan detil-detil ukiran yang mengagumkan. Menurut mbak Nawang, ukiran-ukiran tersebut dapat dilihat secara empat dimensi.

DSCN3109

DSCN3097

DSCN3100

Selesai dari Museum Kretek, kami menuju Menara Kudus. Salah satu ikon kota ini yang sangat terkenal di seluruh Indonesia. Kami agak kesulitan mencapai menara ini dikarenakan lokasinya yang tidak terletak di jalan utama. Sebenarnya gue agak canggung ke sini karena gue memakai celana pendek. Sedangkan menara kudus ini adalah bagian dari masjid. Kami akhirnya hanya berfoto di depannya saja dan tidak masuk ke dalam. Karena pada saat itu, sedang banyak sekali peziarah yang mengunjungi makam Sunan Kudus yang juga terdapat di kawasan Menara Kudus. Di sekitaran kawasan ini, banyak sekali terdapat toko yang menjual peralatan shalat hingga kurma dari timur tengah.

DSCN3116

DSCN3126

Kalau ke kota Kudus rasanya belum pas kalau belum makan soto Kudus. Gue dan mas Pra mengusulkan nama yang sama setelah bertanya pada teman-teman kami, Soto Kudus Bu Jatmi. Kami pun memburu tempat itu dan setelah berputa-putar kembali, kami pun akhirnya menemukan warung soto tersebut yang terletak di Jalan Wahid Hasyim nomor empat puluh tiga. Ada dua jenis pilihan dari soto kudus ini, ada yang dari daging kerbau dan daging ayam. Buat kami yang berperut karet, satu mangkuk soto kudus memang terasa kurang. Mangkuk sekecil itu masih ditambahkan dengan nasi ke dalamnya. Namun, kami cukupkan satu mangkuk saja. Karena kami akan segera kembali ke kota Semarang dan melanjutkan wisata kuliner.

DSCN3128

DSCN3134

Dari kota Kudus, kami kembali menuju kota Semarang. Tujuan kami adalah Klenteng Tay Kak Sie yang terletak di Gang Lombok. Klenteng ini dibangun pada tahun 1746. Suasana klenteng ini sepi ketika masuk ke dalamnya. Di dalamnya terdapat berbagai dewa yang disembah. Di sini juga terdapat sebuah replika kapal besar yang biasanya digunakan sebagai panggung hiburan bagi masyarakat semarang. Saat kami berada di klenteng ini, sinar matahari sangatlah menyengat kulit. Sehingga kami tak bisa berlama-lama di sini dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan.

DSCN3152

DSCN3143

DSCN3148

Kemudian kami berkuliner di Tahu Pong Semarang Gajah Mada. Restoran ini sangat terkenal di kota ini. Kami memesan tahu pong, gimbal dan telur. Makannya dengan cara dicelupkan terlebih dahulu ke dalam kuah cuka. Namun rasanya tak seasam dan sepedas kuah cuka pempek Palembang. Laris sekali memang toko ini, selesai  kami makan restoran ini sudah menutup dagangannya karena sudah habis. Lalu kami membeli oleh-oleh di Jalan Pandanaran. Deretan toko penjual oleh-oleh ada di sepanjang jalan ini, mulai dari kios kecil hingga toko besar bertingkat. Saat itu banyak sekali pengunjung yang membeli oleh-oleh. Sehingga gue kehabisan wingko merek kereta api ataupun dyriana yang konon katanya rasanya sangat enak. Setelah cukup mendapatkan oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta seperti bandeng pesto, wingko dan jenang, kami pun kembali ke hostel tempat echa menginap. Kami mandi dan berkemas untuk pulang ke Jakarta.

DSCN3162

Setelah ibadah, sesuai petunjuk pemilik hostel kami mencari makan malam berupa nasi ayam di kawasan pecinan. Namun, sayang ternyata tokonya sudah tutup. Akhirnya kami memilih warung nasi ayam lainnya rekomendasi mas Pra, Nasi Ayam Bu Wido. Nasi ayam adalah nasi berkuah yang dibumbui santan dengan suwiran ayam dan potongan telur. Karena waktu masih agak lama kami berburu kuliner berikutnya. Pilihannya adalah Es Puter Conglik. Kami semua memesan es puter durian. Dengan daging durian di dalam es putar ini, rasanya gue bisa saja menghabiskan lima mangkuk kalau tidak mengingat kondisi kesehatan gue yang sedang menurun.

DSCN3171

DSCN3174

Sebenarnya kami masih ingin mencari kulineran yang lain. Namun, kami tidak menemukan ide makanan apa lagi yang diburu. Akhirnya kami bergerak menuju stasiun tawang. Kami duduk-duduk di pinggir danau buatan depan stasiun tawang. Sayang sekali di sini tidak ada pedagang penjual makanan. Karena tak tahan dengan gigitan nyamuk yang semakin lama semakin ganas. Akhirnya kami masuk ke dalam stasiun tawang. Sambil menunggu kereta datang, gue dan Echa foto-foto di dalam stasiun. Akhirnya kereta pun datang telat sepuluh menit dari yang dijadwalkan. Tiga hari sudah kami melewatkan hari-hari yang menyenangkan di kota ini. Jelas sekali, kota Semarang bukanlah kota sekadar numpang lewat menuju kota lain. Kota ini menawarkan begitu banyak pilihan wisata yang bisa dikunjungi. Selamat tinggal Semarang, daku akan kembali suatu saat nanti…

DSCN3196

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

8 thoughts on “Semarang Bukan Kota “Numpang Lewat” (Hari Ketiga)

  1. Next klo ke Semarang, mesti datang ke Pabrik Wingko cap Kereta Api. Gue nggak pernah bosan makan tahu gimbal Gajah Mada😀

  2. @Bruziati: Harus nyah kwaci Mickey Mouse ada di jual di Hero…
    Abang Harun……. I luv your story tentang Kudus; a place where I spent half of my childhood.
    Cici masi inget, bersepeda subuh unk menghirup segarnyah udara pagi yang bercampur harumnyah kretek di sekitar jejeran pabrik rokok. As I cycled through the street, nggkong-emak lagi nyapunyapu halaman, ngasih senyum ke cici. Sapaan ramah tulus yang always leave me a fond memory of how “kampung halaman” supposed to be. Then a l’il bit later, suara bel sepeda ramai terdengar, jejeran sepeda jengki mulai memenuhi jalanan dan parkiran pabrik rokok. Here, I could hear gelak tawa Masmas sama mbakmbak yang pada kerja di pabrik dengan logat khas Kudus yang cici kenal banget….
    I never forget Nasi opor, Lentog, Soto Kudus, Es Petruk, Sate Kebo, Es Pleret, Jenang Kudus, Nasi Tahu, Jajanan Pasar khas Kudus ditambah sapaan hangat bersahabat dengan logat Jawa Tengah sepanjang hari. And I remember closely, berjalan kaki sama anakanak tetangga dari gang ke gang melewati kampung dan kali……nimba air sumur…. ngejarngejar ayam…. Kenangan manis yang tak ternilai harganyah. Thank you so much Abang, for the article.

  3. Pingback: Ironi Pabrik Rokok (House of Sampoerna) | Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s