Semarang Bukan Kota “Numpang Lewat” (Hari Kedua)

18 Mei 2012

Alarm membangunkan gue pada pukul empat pagi. Rasanya belum lama mata ini terpejam. Namun gue harus bangun demi melihat sunrise di Rawa Pening. Letaknya yang berada di Ambarawa membuat kami harus berangkat lebih pagi untuk melihat fenomena matahari terbit tersebut. Ternyata ketika gue menyiapkan diri, ada kabar kalau perjalanan ke Rawa Pening dibatalkan. Karena supir yang rencananya menjemput kami tak kunjung datang. Akhirnya kami harus merelakan untuk tidak melihat sunrise di Rawa Pening. Kesal rasanya tetapi mau bagaimana lagi, semuanya harus diterima dengan sabar.

Gue baru dijemput di hotel sekitar pukul enam tiga puluh pagi. Kami langsung menuju tujuan pertama kami yaitu Vihara Buddhagaya Watugong. Lokasinya cukup jauh dari kota Semarang tepatnya di Jalan Raya Ungaran. Setibanya di sana, sudah menunggu teman kami dari Semarang, mas Pra. Karena masih pagi, vihara ini masih sepi pengunjung. Fokus kami langsung menuju Pagoda Avalokitesvara (Metta Karuna). Pagoda ini merupakan yang paling tinggi di Indonesia. Sebenarnya di bayangan gue pagodanya akan setinggi Monas di Jakarta. Namun ternyata tingginya hanya sekitar empat puluh lima meter. Di dalam Pagoda ini terdapat patung Buddha yang sangat besar. Sedangkan sekelilingnya terdapat patung Dewi Kwan Im. Di Depan Pagoda ini juga terdapat patung Dewi Welas Asih dan patung Buddha di bawah pohon Boddhi.

DSCN2929

DSCN2933

DSCN2936

DSCN2923

DSCN2924

Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju Candi Gedong Songo yang terletak di kabupaten Semarang. Dengan tiket seharga lima ribu rupiah, kami bisa memasuki kawasan candi ini. Tadinya gue ingin menunggang kuda untuk menjelajahi komplek-komplek di Candi Gedong Songo, tentunya dengan tambahan biaya. Namun akhirnya kami memilih untuk berjalan kaki. Di sini terbagi dari lima kompek candi dengan jumlah delapan candi. Namun, bukankah candi Gedong Songo itu artinya sembilan bangunan candi? Betul, yang satu lagi candinya tidak tampak dengan mata telanjang. Menurut penduduk sekitar, hanya mata-mata orang terpilih yang bisa melihatnya. Sayang sekali gue bukan salah satu orang yang terpilih untuk melihat candi kesembilan tersebut.

DSCN2949

DSCN2955

DSCN2962

DSCN2946

Ternyata kami sanggup menyambangi seluruh komplek di Candi Gedong Songo ini dengan berjalan kaki. Kami menjalaninya dengan santai dan menikmati tiap kompleknya selama beberapa menit. Angin yang sejuk meringankan langkah kaki kami. Walaupun hari masih pagi, sinar matahari sudah menyengat. Kulit leher gue yang luput dari olesan sunblock pun terbakar. Sehingga bagi siapapun yang mempunyai kulit sensitif, sebaiknya menggunakan sunblock ketika mengunjungi lokasi ini. Selain candi, kawasan ini juga menawarkan pemandian air hangat yang berasal dari mata air Gunung Ungaran. Ketika gue mengunjungi kawasan candi, pengelola sedang berbenah. Jalan setapak sedang dibuat dengan batu-batuan sehingga memudahkan pengunjung untuk berjalan. Semoga saja proses pembenahan ini cepat selesai hingga Candi Gedong Songo semakin nyaman untuk dikunjungi.

DSCN2969

DSCN2976

DSCN2968

DSCN2979

Selesai mengelilingi komplek Candi Gedong Songo, kami beristirahat di sebuah warung sambil makan pop mie. Gue sendiri tidak ikut makan karena perut gue masih kenyang karena sarapan tadi. Gue menunggu makan siang saja di kota Semarang. Kami memang setelah ini langsung menuju Restoran Koh Liem. Restoran ini cukup terkenal dengan asem-asemnya. Gue sendiri lebih memilih sarden bandeng untuk makanan utama ditambah dengan gorengan. Namun gue sempat merasakan kuah asem-asem itu. Rasanya kurang lebih seperti garang asem, tentu rasanya asam dan segar karena menggunakan belimbing wuluh.

DSCN2981

DSCN2982

Setelah kenyang, kami meneruskan perjalanan menuju Museum Jamu Nyonya Meneer. Museum yang didirikan pada tahun 1984 ini terletak di lingkungan pabrik jamu Nyonya Meneer. Tidak perlu membayar untuk masuk ke museum ini. namun harus diingat kalau museum ini hanya buka dari senin hingga jumat. Museum ini menempati lantai dua sebuah gedung. Di sana kami bisa melihat sejarah perkembangan jamu Nyona Meneer sejak dulu hingga sekarang. Kami juga melihat bagaimana proses pembuatan jamu dari bahan-bahan tradisional tanpa bahan kimia. Sebelum pulang kami diberikan air jahe dan juga beberapa sachet jamu untuk dibawa pulang.

DSCN2985

DSCN2999

DSCN3002

DSCN3005

Karena hari telah sore, kami ingin beribadah sekalian mengunjungi sebuah mesjid yang terbesar di Jawa Tengah yaitu Masjid Agung Jawa Tengah. Sebelum beribadah, kami naik ke Menara Asmaul Husna setinggi sembilan puluh sembilan meter yang ada di mesjid ini. Untuk naik ke atas, kami diharuskan membayar tiket seharga tiga ribu rupiah. Sesampainya di atas, kami bisa melihat sekitaran kota Semarang baik melalui mata telanjang ataupun teropong yang telah disediakan. Dari atas menara ini pun kita bisa melihat betapa luas dan megahnya masjid yang diresmikan pada tahun 2006 lalu. Setelah adzan berkumandang, kami pun turun dan melaksanakan ibadah.

DSCN3014

DSCN3026

Selesai melaksanakan ibadah, kami melanjutkan perjalanan menuju Klenteng Sam Po Kong. Kami memilih memasuki halaman Klenteng saja dengan biaya tiga rupiah. Sedangkan kalau ingin masuk ke dalam klenteng harus menambah uang masuk seharga dua puluh ribu rupiah. Klenteng ini terdiri dari beberapa bangunan yang sangat megah dengan arsitektur yang menawan. Jika diperhatikan detik-detilnya bisa membuat terkagum-kagum. Di halaman klenteng yang luas terdapat patung Cheng Ho yang besar dan tinggi dan beberapa patung prajurit.

DSCN3031

DSCN3035

DSCN3047

DSCN3049

Sepulangnya dari Klenteng Sam Po Kong, kami ingin makan yang segar-segar. Maka kami memutuskan untuk pergi makan es krim di Toko Oen. Di toko yang sudah didirikan sejak tahun 1936 ini, kami memesan berbagai jenis es krim. Selain itu kami juga memesan lumpia. Gue sendiri tidak terlalu suka dengan Lumpia karena baunya yang menurut gue tidak sedap.

*Sumber: Flickr Buzenk*

*Sumber: Flickr Buzenk*

*Sumber: FB Echa*

Badan sudah lengket karena peluh, rasanya ingin mandi untuk sekadar menyegarkan diri. Setelah segar, kami melanjutkan perjalanan menuju Simpang Lima untuk makan malam. Walau badan terasa letih tapi kami merasa kalau tidak sekarang lalu kapan lagi kita bisa ke Simpang Lima. Akhirnya kami berangkat sekitar pukul sembilan malam.  Dengan dukungan Pemda dan pihak swasta, kawasan Simpang Lima yang dulunya hanya berupa lesehan sekarang sudah difasilitasi dengan meja, kursi serta atap. Di sana, gue memilih untuk makan tahu gimbal.

 DSCN3061

Ingin hati tetap lanjut berkeliling Kota Semarang. Namun apa daya tubuh kami sudah lelah dan mengantuk. Masih ada besok, hari terakhir kami berwisata di Kota Semarang. Bahkan besok pagi kita berencana ke kota Kudus. Seperti apakah kota Kudus itu? Apakah rapih dan bersih? Kota Kudus, sambutlah kedatangan kami esok pagi….

One thought on “Semarang Bukan Kota “Numpang Lewat” (Hari Kedua)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s