Semarang Bukan Kota “Numpang Lewat” (Hari Pertama)

Libur selama empat hari dan tidak memiliki rencana perjalanan kemanapun bisa membuat gue frustasi. Untuk mengatasinya, gue dan Echa pun merencanakan untuk berlibur bersama. Tujuan pertama kami adalah kota Padang. Namun, rencana kami harus dibatalkan karena tiket pesawat Padang-Jakarta yang cukup mahal. Kami lantas berpikir untuk mencari kota tujuan lainnya. Setelah menimbang segala hal, kami akhirnya memilih kota Semarang. Sebuah kota besar di Pulau Jawa yang biasanya hanya ‘numpang lewat’ untuk menuju kota lainnya. Perjalanan kali ini adalah pertama kalinya gue menetap selama beberapa hari di kota Semarang. Kami pun mengajak teman kami lainnya dan yang akhirnya ikut adalah Ayu, Buzenk dan Adit.

17 Mei 2012

Pukul tujuh pagi kami berkumpul di Stasiun Pasar Senen untuk menuju Semarang tepatnya Stasiun Tawang. Kami berangkat dengan menggunakan kereta Fajar Semarang kelas bisnis seharga seratus enam puluh ribu rupiah per orang. Sesuai dengan jadwal, keretapun berangkat  sekitar pukul tujuh tiga puluh. Gue menghabiskan sebagian besar waktu perjalanan untuk tidur. Gue memperbanyak istirahat guna menyimpan tenaga karena kondisi badan gue yang tidak dalam kondisi fit seratus persen. Rasanya ingin merebahkan badan saja di kasur tanpa pergi kemanapun. Namun sayang sekali rasanya membatalkan liburan yang sudah direncanakan sejak jauh hari. Apalagi transportasi dan akomodasi sudah dipesan semua dan tidak didapat dengan harga murah.

DSCN2816

DSCN2817

Sekitar pukul empat sore, kami sudah sampai di Stasiun Tawang Semarang. Stasiun ini dibangun pada bulan Mei 1914. Stasiun yang terletak di kawasan Kota Lama ini adalah salah satu stasiun yang tertua di Indonesia. Setelah beribadah di stasiun, kami berkeliling di kawasan Kota Lama, tempat di mana banyak terdapat gedung-gedung tua dan bersejarah. Jalan-jalan di kota lama menggunakan paving block karena di wilayah ini sering sekali tergenang banjir ataupun rob. Sehingga akan cepat rusak jika jalanannya menggunakan aspal. Untung saja saat kami berada di sana, cuaca cerah sedang bersahabat dengan kami.

DSCN2827

DSCN2830

Kota Lama ini seperti Kota Tua di Jakarta dengan banyak gedung-gedung tua peninggalan pendudukan Belanda. Namun bedanya adalah di sini lebih sepi dari Jakarta. Tidak begitu banyak masyarakat yang melakukan aktivitas di sini. Bahkan kawasan ini menurut gue kurang dimaksimalkan untuk dijadikan tempat pariwisata. Walaupun harus tetap diperhatikan kebersihan dan keteraturannya jika kawasan ini dikembamgkan jadi daerah wisata. Gedung-gedung  tua yang cukup terkenal di Kota Lama yang kami lihat di antaranya adalah Gereja GPIB Immanuel yang lebih dikenal dengan nama Gereja Blenduk, Gedung Marba dan Kantor Pos. Selain itu, masih banyak gedung-gedung yang sangat menarik untuk difoto ataupun foto di depannya.

DSCN2832

DSCN2854

DSCN2843

DSCN2865

DSCN2847

DSCN2857

Saat waktu menunjukkan pukul lima sore, kami memutuskan untuk menyudahi petualangan di Kota Lama. Kami melanjutkan perjalanan menuju ke Lawang Sewu.  Sesampainya di sana sudah banyak sekali orang yang berkunjung. Dengan membayar uang masuk sebesar sepuluh ribu rupiah per orang ditambah tiga puluh ribu untuk jasa pemandu. Ditemani seorang pemandu, kami diajak mengelilingi ruangan-ruangan yang ada di Lawang Sewu.  Pertama-tama kami dijelaskan tentang sejarah pembangunan Lawang Sewu serta proses renovasinya.

DSCN2870

DSCN2872

Lawang Sewu dibangun pada tahun 1904 dan diperuntukkan untuk kantor perkeretaapian. Sampai sekarang pengoperasiannya pun masih di bawah PT KAI. Lawang Sewu yang artinya seribu pintu sebenarnya tidak berjumlah seribu pintu melainkan tujuh ratus delapan puluh tujuh pintu. Namun, karena  terlalu banyak maka dinamakanlah Lawang Sewu. Dibangun dengan banyak pintu agar angin bersirkulasi dengan baik di dalam gedung yang terletak di daerah yang panas.

DSCN2885

DSCN2880

Banyak sekali yang mengenal Lawang Sewu ini adalah bangunan berhantu yang sering sekali dipakai untuk program reality show uji nyali menghadapi hantu-hantu. Menurut pemandu, hal ini wajar saja terjadi. Karena dulunya di gedung ini banyak sekali warga Semarang yang mati karena peperangan melawan Belanda ataupun Jepang. Bahkan terdapat penjara jongkok ataupun penjara berdiri yang dulunya tempat wafatnya banyak tawanan perang. Memang ketika di situ gue begitu merasakan keangkerannya. Gedung tua dengan banyak ruangan yang kosong serta udara yang lembab membuat gue bergidik.

DSCN2886

DSCN2887

Tawaran untuk memasuki penjara jongkok atau saluran air pun gue tampik. Menurut gue waktu menjelang maghrib bukanlah waktu yang tepat untuk masuk ke dalam sana. Mungkin di lain kesempatan gue akan melihatnya tetapi tidak untuk kali ini. Akhirnya pemanduanpun selesai dan kami di antarkan ke satu gedung lainnya yaitu museum tentang Sejarah Lawang Sewu dan perkembangan pembangunannya hingga kini. Sebenanrnya masih ada satu bangunan lagi yang terdapat kaca-kaca patri di dindingnya. Namuan karena masih dalam tahap renovasi, gedung itu masih ditutup untuk umum.

DSCN2879

DSCN2877

DSCN2895

Senja telah tiba, langit mulai kemerahan dan segera menggelap. Selain rasa lelah yang mendera, kami juga merasa lapar dan haus. Kami pun memilih untuk kulineran di Istana Wedang, rekomendasi dari Echa. Lokasinya persis di sebelah Hotel Novotel yang terletak di Jalan Pemuda. Sesuai dengan namanya, sebenarnya yang paling direkomendasikan dari rumah makan ini adalah wedangnya. Namun karena kami sudah kegerahan, rasanya paling pas kalau minum yang dingin-dingin. Gue sendiri memesan Es Istana yaitu rasanya seperti es cendol yang ditambahkan dengan buah leci. Sedangkan untuk makanan, gue memesan Lontong Cap Gomeh dan yang lain memesan Gelatin. Rasa lapar yang sudah tertahan sejak siang menambah nikmatnya menyantap makanan tersebut.

DSCN2908

DSCN2915

DSCN2917

DSCN2920

Setelah kenyang, kami pulang ke hotel masing-masing. Gue menginap di Hotel Pandanaran sedangkan yang lain menginap di hostel dekat Hotel Dafam. Rencananya kami akan jalan-jalan ke Simpang Lima. Namun, badan gue sudah tidak bisa berkompromi lagi. Gue lebih memilih istirahat untuk menyimpan tenaga. Karena esok pagi kami harus berangkat pukul empat pagi untuk melihat sunrise di Rawa Pening. Ditemani hujan yang turun, guepun tertidur dengan nyenyaknya.

8 thoughts on “Semarang Bukan Kota “Numpang Lewat” (Hari Pertama)

  1. Keren Run… dari dulu gue pengen ke Semarang tapi belum kesampaian. Padahal AirAsia juga udah ada yang ke sana ya… Semoga dalam waktu dekat bisa sih…

  2. @lompatlompat: Semoga cepat terealisir ya mbak..ehehe.. Jangan lupa lihat sunrise di Rawapening yang katanya keren bangetttt… *colek Echa *

    @ijul: loh sekarang kan jamannya nunduk, mas jul..hihihi..

  3. Kok hotelnya misah sendiri Run?
    Iya nih selama ini aku ke Semarang cuma numpang lewat doang. Kapan2 mesti keliling2 kayak gini ah…

  4. @bruziati: Jadi sebelumnya aku satu hotel sama sahabatku, Diah. Sayangnya beberapa hari menjelang keberangkatan dia batal pergi karena nggak dapet izin sama bosnya. Apa daya hotel udah dibayar, jadi aku sendirian deh di hotel..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s