Waisak di Candi Borobudur

6 Mei 2012

Setelah menonton film “Arisan 2”, gue tertarik untuk menyaksikan sebuah peristiwa yang luar biasa indah yaitu pelepasan ratusan lampion ke angkasa. Acara pelepasan lampion itu adalah salah satu kegiatan dari rangkaian perayaan Tri Suci Waisak yang dilaksanakan di Candi Borobudur. Gue pun langsung merencanakan untuk pergi ke sana pada tahun ini. Ternyata tak hanya gue yang mempunyai keinginan tersebut tetapi juga Ulin. Berdua, kami memutuskan untuk menyesuaikan jadwal kepergian kami ke Yogyakarta pada saat perayaan Waisak akan berlangsung. Kehebohan sudah dimulai bahkan sebelum kami pergi ke Yogyakarta. Kami mencari semua informasi mengenai perayaan Waisak di Candi Borobudur melalui berbagai sumber. Kami membaca tulisan-tulisan dari blog yang menceritakan tentang perayaan tersebut. Takut tidak bisa masuk ke dalam area perayaan Waisak di Candi Borobudur, kami pun mencari informasi mengenai undangan perayaan.

Konon katanya dari masyarakat umum pun bisa mendapatkan undangan tersebut. Yang kami dapatkan dari tulisan sebuah blog ternyata undangan di Candi Borobudur bisa diambil pagi harinya di Candi Mendut. Kami pun merencanakan untuk pergi ke Candi Mendut pada hari H. Keinginan gue menyaksikan perayaan Waisak di Candi Borobudur mendapat dukungan yang baik dari berbagai pihak. Salah satunya dari mbak Wina dari oktomagazine.com yang memberikan gue kepercayaan untuk memiliki kartu pers atas nama mereka. Setelah mendapatkannya, seakan ada tambahan semangat untuk benear-benar mewujudkan keinginan gue. Seakan keberuntungan kerap menaungi kami, gue pun mendapatkan informasi bahwa undangan perayaan Waisak di Candi Borobudur bisa diambil di Jakarta tepatnya di sekretariat Walubi. Ulin mengambil satu undangan yang berlaku untuk dua orang. Kami merasa tenang karena mendapat kepastian ikut serta dalam perayaan Waisak sebelum berangkat ke Yogyakarta.

DSCN2597

Seperti yang sudah gue sebutkan di atas bahwa rencananya kami akan mengikuti prosesi perayaan Waisak dari pagi hari di Candi Mendut. Namun, sayang itu tidak bisa terealisasi pada hari H. Gue menderita diare sejak malam sebelumnya. Mungkin penyebabnya adalah masuk angin karena kurang tidur selama perjalanan ini. Ditambah lagi kami kehujanan ketika semalamnya menonton sendratari Ramayana di Candi Prambanan. Pagi hari, badan gue sudah lemas dan malas rasanya untuk bangkit dari tempat tidur. Ulin dengan baik hati membuatkan gue oralit sejak malam hari. Gue pun entah sudah menelan berapa butir pil penghenti diare.

Kami pun memutuskan untuk mengurungkan niat kami untuk pergi ke Candi Mendut. Kami menunggu tengah hari dan akan melihat kondisi tubuh gue. Kalau kondisinya membaik, maka kami akan langsung menuju Candi Borobudur. Menurut teman gue, cici Winda yang ikut di dalam perayaan Waisak di Candi Mendut. Di sana dilaksanakan detik-detik Waisak sekitar pukul sepuluh  lewat tiga puluh pagi. Sebelumnya umat Buddha melakukan puja bakti hingga detik-detik waisak selesai. Namun sayang, menurut cici Winda seharusnya di lokasi dipasang perangkat pengeras suara yang lebih banyak lagi. Karena banyak sekali umat yang berada di belakang tidak mendengar kebaktian yang disampaikan bhiksu di depan.

*Sumber: FB Winda Lee*

*Sumber: FB Winda Lee*

Siang hari, mempertimbangkan kondisi tubuh gue yang membaik. Akhirnya kami memutuskan untuk tetap berangkat ke Candi Borobudur. Kami berangkat sekitar pukul satu siang  dari Yogyakarta dengan menyewa taxi seharga dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk sehari penuh. Kami menyewa taxi karena acaranya akan berlangsung hingga larut malam dan takut tidak ada kendaraan umum nantinya. Di tengah perjalanan, rintik hujan mulai turun. Karena jalan yang melewati Candi Mendut sudah ditutup, kami memutar melewati jalan yang lebih jauh. Ternyata jalanan sudah macet parah, mobil kami hanya diam di deretan panjang mobil-mobil. Kami memutuskan untuk turun saja dan makan siang terlebih dahulu di restoran Nirwana Borobudur.

Setelah makan, hujan tak juga berhenti dan jalanan pun masih tersendat. Kami pun memutuskan untuk berjalan kaki karena mobil sudah diparkir. Jalannya tidak terlalu jauh hanya sekitar lima ratus meter. Ternyata kemacetan itu disebabkan oleh para Bhiksu yang sedang berjalan dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur. Kami masuk ke kawasan Candi Borobudur melalui pintu masuk Hotel Manohara. Sudah banyak tenda dari tiap aliran umat Buddha yang  sedang melaksanakan kebaktian dipimpin para Bhiksu. Selain Umat Buddha, juga terdapat banyak umat lain yang datang ke perayaan Waisak ini. Mereka terlihat antusias melihat dan memotret walau hujan tak kunjung berhenti.

DSCN2558

DSCN2549

DSCN2576

DSCN2567

Hari semakin sore dan hujan pun masih saja membahasi kawasan Candi Borobudur. Pukul lima sore kami naik ke pelataran Candi Borobudur. Keadaannya masih sepi  dan di salah satu sisi terdapat panggung kosong dengan patung Buddha yang cukup besar. Kami pun mendaftarkan diri untuk memesan lampion yang akan dilepaskan nanti malam. Satu lampion dihargai sumbangan sebesar seratus ribu rupiah. Kami sendiri mendaftarkan satu lampion untuk dua nama. Mumpung masih sepi, kami menyempatkan diri untuk berfoto di depan panggung dengan latar belakang patung Buddha dan persembahan-persembahannya.

DSCN2598

DSCN2601

Kami menunggu dimulainya prosesi Waisak di pelataran Candi Borobudur sambil kehujanan. Kami duduk di bangku yang disediakan di sisi kanan dan kiri lapangan. Ketika malam datang, semakin banyak orang yang memadati di depan panggung. Tak terhitung banyak orang yang membawa kamera mulai dari kamera saku hingga kamera dengan lensa tele.  Sekitar pukul tujuh malam, hujan akhirnya berhenti dan langitnya pun mulai cerah kembali. Satu persatu bhiksu-bhiksu dari berbagai aliran naik ke panggung. Tidak lama setelah itu, acara pun dimulai dengan puja bhakti dari tiap aliran. Sedangkan umat yang lain menghormatinya dengan menjaga suara agar tidak berbicara terlalu keras.

DSCN2609

DSCN2632

DSCN2642

Setelah semuanya selesai melakukan puja bhakti, acara dilanjutkan dengan sambutan dari berbagai pihak. Kemudian menyanyikan beberapa lagu tentang Walubi dan perayaan Waisak. Acara di panggung pun selesai dan dilanjutkan dengan pradaksina yang dilakukan oleh para bhiksu dan umat-umat yang membawa lilin. Pradaksina dilakukan dengan cara mengitari Candi Borobudur sebanyak tiga kali dimulai dari sisi timur dan  bergerak searah jarum jam. Setelah pradaksina selesai, acara pelepasan lampion pun dimulai. Sebelum melepaskan lampion ke angkasa, kami diminta untuk berdoa mengucapkan harapan kepada Tuhan. Karena pelepasan lampion ini diibaratkan mengantarkan doa harapan ke Tuhan. Dipimpin oleh para bhiksu, satu persatu tiap kelompok mulai menyalakan sumbu di dalam lampion. Ketika udara telah memenuhi lampion, maka ia pun terbang menuju angkasa membawa doa harapan kami semua.

DSCN2679

DSCN2735

DSCN2719

DSCN2721

DSCN2722

Pemandangan saat lampion-lampion ini memenuhi angkasa sangatlah luar biasa indah. Jauh lebih indah dari apa yang bisa ditangkap oleh kamera apapun. Ditambah adanya suasana yang cukup sakral memenuhi udara di sekeliling kami. Perjuangan kami kehujanan dan menahan rasa lapar berjam-jam dibayar dengan harga yang cukup tinggi dengan pemandangan pelepasan lampion tersebut. Siapapun harus merasakannya sendiri. Gue pun dengan pasti akan menunggu perayaan Waisak di Candi Borobudur tahun depan. Semoga masih ada kesempatan untuk menyaksikannya kembali. Amin!

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

2 thoughts on “Waisak di Candi Borobudur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s