Museum Ullen Sentalu versus Museum Gunung Api Merapi

5 Mei 2012

Salah satu alasan gue mencintai Yogyakarta karena banyak sekali museum di kota ini. Hal tersebut menandakan kota Yogyakarta sangat menghargai seni, budaya dan sejarah. Salah satu museumnya yang sudah direncanakan akan gue kunjungi kali ini adalah Museum Ullen Sentalu. Gue dan Ulin diantarkan ke sana oleh temen kantor gue dengan mobil pribadi. Ternyata lokasinya cukup jauh dari tempat kami menginap. Jalanan yang menanjak mengantarkan kami ke daerah wisata Kaliurang. Lokasi tepatnya berada di Jalan Boyong Kaliurang, Sleman. Sesampainya di sana, kami membeli tiket seharga dua puluh lima ribu rupiah. Cukup mahal memang untuk ukuran museum. Kami menunggu terlebih dahulu karena museum baru buka pada pukul delapan tiga puluh pagi (dan akan tutup pada pukul empat sore). Sekadar informasi, tiap hari senin museum ini ditutup untuk kunjungan.

DSCN2276

DSCN2281

Untuk masuk ke dalam museum, kami harus didampingi seorang pemandu. Beliau akan menjelaskan mengenai segala hal yang akan kita lihat di dalam museum. Jumlah peserta yang dipandu maksimal delapan orang. Pemandu yang menemani kami bernama Wiwit, seorang perempuan yang ceria dan humoris. Dibangun pada tahun 1994, museum ini diresmikan pada tanggal 1 Maret 1997 oleh KGPAA Paku Alam VIII, Gubernur DIY pada waktu itu. Pemilik museum adalah Keluarga Haryono dari Yogyakarta dan berada di bawah payung Yayasan Ulating Blencong. Nama itu berasal dari bahasa jawa tetapi gue lupa apa makna dibaliknya.

DSCN2297

DSCN2299

Museum Ullen Sentalu memiliki koleksi benda-benda seni budaya asli dari empat keraton yaitu, Yogyakarta, Solo, Paku Alaman dan Mangkunegaraan. Semua keraton tersebut percaya bahwa museum ini akan merawat benda-benda koleksi keraton dan diceritakan kepada masyarakat. Kemudian lokasinya pun mudah dicapai dari empat keraton jika ada suatu kepentingan yang mendadak. Pengunjung dilarang mendokumentasikan apapun di dalam museum kecuali di beberapa lokasi.  Museum ini terletak di dalam Taman Kaswargan yang hijau dengan luas tanah 11.990 m2. Arsitektur bangunan taman dan museum secara keseluruhan adalah gaya tradisional/etnik Jawa dan Kolonial. Karena dilarang menebang pepohonan, maka museum ini dibangun di bawah tanah sedangkan yang di atas dibangun sesuai dengan kontur tanah.

DSCN2300
DSCN2307

Terdapat beberapa ruangan di museum ini. Ruangan pertama yang kami masuki adalah ruangan Seni Tari dan Gamelan. Di sini kami melihat seperangkat gamelan yang merupakan hibah salah seorang pangeran dari keraton Yogyakarta. Di ruangan ini juga terdapat beberapa lukisan putri-putri yang sedang menari. Kemudian kami memasuki lorong bawah tanah yang merupakan ruangan Guwa Sela Giri. Pemandu dengan cukup baik menjelaskan profil tokoh-tokoh keraton dari foto dan lukisan yang dipajang. Keluar dari lorong bawah tanah, kami memasuki area Kampung Kambang yang didirikan di atas kolam air.

DSCN2292

DSCN2305

Kampung Kambang terdiri dari lima ruangan yaitu: Ruang Syair untuk Tineke, Royal Room Ratoe Mas, Ruang Batik Vorstendlanden, Ruang Batik Pesisiran, dan Ruang Putri Dambaan. Di Ruang Syair untuk Tineke, kami melihat kumpulan surat-surat dari kerabat dan teman Tineke. Dulu Tineke pernah galau karena kasih tak sampai hingga tak bersemangat hidup. Sehingga teman-temannya melalui surat, berusaha untuk menyemangati Tineke. Sedangkan di ruangan Royal Room Ratu Mas yang khusus dibuat untuk mengenang Ratu Mas, permaisuri Sultan Pakubuwono X. Di ruang ini dipamerkan lukisan, foto serta pakaian beliau.

DSCN2315

DSCN2311

Di Ruang Batik Vorstendlanden menyimpan koleksi batik dari era Sultan HB VII – Sultan HB VIII dari Kraton Yogyakarta serta Sunan PB X hingga Sunan PB XII dari Surakarta. Pemandu kami menerangkan filosofi dari tiap corak motif batik. Beliau berharap dengan penjelasan ini, tidak ada lagi kesalahan dalam memakai batik. Misalnya, memakai batik yang dikhususkan untuk pemakaman di hari pernikahan. Sedangkan di Ruang Batik Pesisiran memiliki koleksi pakaian para tokoh di Keraton yang merupakan perpaduan antara budaya Jawa dan Eropa. Contohnya adalah para lelaki sudah memakai dasi dan perempuannya memakai sepatu berhak tinggi di awal abad 19. Ruang Putri Dambaan dibuat khusus untuk GRAy Siti Nurul Kusumawardhani, putri tunggal Mangkunegara VII dengan permaisuri GKR Timur. Di sini, anda bisa melihat foto-foto serta pakaian Putri Nurul yang merupakan putri keraton pertama yang menolak dijodohkan.

DSCN2317

DSCN2302

Kemudian kami disuguhkan segelas minuman spesial berupa wedang. Ini merupakan resep warisan Gusti Kanjeng Ratoe Mas. Konon katanya, minuman ini dapat membuat badan menjadi sehat dan awet muda. Kemudian kami melewati Koridor Retja Landa yang terbuka. Sehingga disarankan untuk membawa payung jika saja terjadi hujan. Kawasan di sekitar lokasi museum ini memang terkenal sering hujan walau di daerah sekitarnya tidak. Setelah melihat arca-arca, kami memasuki Sasana Sekar Bawana yang merupakan ruangan koleksi lukisan raja Mataram dan patung dengan tata rias pengantin gaya Surakarta serta Yogyakarta.

Pemanduan berakhir, kami pun dipersilakan untuk mengambil gambar di luar area museum. Gue dan Ulin membeli beberapa souvenir untuk orang-orang terkasih. Souvenir yang dijual di sini cukup beragam dari jenis, model dan harga. Satu hal yang sama di antara semua souvenir tersebut adalah sentuhan etnik berupa corak batik. Puas berbelanja, kami pun melanjutkan perjalanan kembali ke pusat kota Yogyakarta. Di tengah perjalanan kami melihat adanya penunjuk jalan yang mengarahkan ke Museum Gunung Api Merapi.

DSCN2318

Penasaran dengan museum tersebut, akhirnya kami memutuskan untuk singgah. Untuk menuju ke museum ini, kita harus melewati jalan tersendiri yang dikhususkan ke museum. Kalau tidak benar-benar niat untuk pergi ke museum ini, takkan mungkin museum ini terlihat dari jalan raya utama. Sesampainya di sana, kami melihat sebuah gedung yang cukup besar. Harga tiket masuk museum ini cukup murah yaitu tiga ribu rupiah saja. Jika ingin menyaksikan film tentang Gunung Merapi akan dikenakan biaya tambahan sebesar lima ribu rupiah.

DSCN2321

DSCN2323

Masuk ke dalam gedung ini, gue langsung merasa sedih dan kecewa. Karena terlihat di beberapa sudut gedung dan juga atap bangunan sudah rusak. Bahkan Ulin sempat berkelakar kalau gedung ini dibangun mirip seperti gedung yang terkena erupsi gunung merapi. Tentu saja tidak benar, itu semua dikarenakan pemeliharaan museum yang sangat kurang. Entah karena biayanya yang tidak ada atau memang tidak adanya keinginan untuk menjaga dan memelihara bangunan ini. Padahal museum ini bisa dijadikan sumber informasi yang baik untuk masyarakat tentang gunung-gunung api khususnya Gunung Merapi.

DSCN2325

DSCN2329

Kondisi museum yang dikelola pemerintah ini sangatlah berbeda jauh dengan Museum Ullen Sentalu yang dikelola oleh pihak swasta. Mungkin sebaiknya pemerintah setempat bisa belajar kepada Museum Ullen Sentalu bagaimana cara mengoperasikan museum ini agar tetap hidup dan menarik untuk dikunjungi. Sayang rasanya jika museum yang diresmikan pada tahun 2009 ini dibiarkan dalam kondisi memprihantikan begitu saja. Karena kalau tidak, mungkin beberapa tahun lagi museum ini hanya akan menjadi sejarah berupa puing-puing reruntuhan. Perlu kerjasama antara pemerintah, swasta dan masyarakat pada umumnya agar museum ini ataupun museum yang lain bisa berjalan dengan baik. Sehingga informasi pengetahuan alam, sejarah, budaya dan lainnya bisa disebarluaskan kepada masyarakat umum.

DSCN2326

Mari kita cintai museum, salah satunya dengan cara mengunjungi museum. Yuk, ke museum!

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

2 thoughts on “Museum Ullen Sentalu versus Museum Gunung Api Merapi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s