Reruntuhan Sejarah di Kepulauan Seribu

28 April 2012

Teman-teman gue di Goodreads Indonesia senang sekali bercerita mengenai Pulau Onrust. Dahulu, mereka pernah menyelengarakan acara jelajah ke pulau tersebut. Pulau Onrust adalah salah satu pulau bersejarah dari banyak pulau di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Setelah sekian lama memendam keinginan untuk berkunjung ke sana, akhirnya kesempatan itu datang juga. Bersama dengan komunitas Nol Derajat Indonesia, gue akan menjelajah seharian ke Pulau Onrust, Pulau Kelor dan Pulau Cipir.

Dari kawasan Kota Tua, kami bertolak menuju Muara Kamal. Dari sanalah kami akan menaiki perahu menuju pulau-pulau tujuan. Pengalaman pertama gue ke Muara Kamal ini rasanya sama ketika gue ke Muara Angke. Keduanya membuat gue sedih karena melihat adanya kerusakan lingkungan yang nyata. Bau busuk, sampah yang berserakan serta air laut berwarna hitam pekat mnandakan bagaimana parahnya kondisi lingkungan sekitar Muara Kamal. Semoga saja kerusakan lingkungan ini masih bisa diperbaiki. Sehingga kawasan ini bisa menjadi pelabuhan, dermaga atau tempat tinggal yang sehat dan nyaman.

Dengan menaiki kapal kecil berpenumpang sekitar dua puluh orang, kami menuju ke pulau tujuan. Dalam perjalanan, kami melihat ada semacam tambak kerang hijau di tengah lautan yang kondisi airnya tidak bersih. Entahlah bagaimana pengaruh kerang hijau ini bagi kesehatan jika dikonsumsi. Sehingga pihak yang terkait dengan pengawasan makanan harus bertindak dengan tegas akan penjualan kerang hijau.

Pulau tujuan pertama kami adalah Pulau Kelor, pulau yang tidak begitu luas. Dari jauh kita bisa melihat  Benteng Martello yang tidak utuh lagi. Benteng ini dibangun VOC untuk menghadapi serangan Portugis di abad 17. Pulau Kelor ini tidaklah begitu dirawat. Terlihat dari banyak sampah yang berserakan di sekitar pulau, bahkan  di dalam benteng. Menurut pemandu kami, biasanya terdapat banyak kucing berkeliaran di pulau ini. Namun, ketika kami di sana tidak ada kucing yang terlihat. Konon keberadaan kucing-kucing tersebut dikaitkan dengan hal-hal mistis.

Kemudian dari Pulau Kelor , kami menuju pulau berikutnya yaitu Pulau Cipir. Untuk berkeliling di pulau ini, kami dikenakan retribusi sebesar dua ribu rupiah per orang. Di pulau ini terdapat reruntuhan bangunan bekas dari barak haji, rumah sakit dan tempat penampungan jemaah haji yang terkena penyakit menular. Kita juga bisa melihat meriam kuno berusia sekitar 3 abad  buatan belgia yang terbuat dari tembaga.

Di ujung pulau ini juga terdapat  pondasi jembatan  yang sekiranya akan menghubungi Pulau Cipir dengan Pulau Onrust. Akan lebih baik lagi jika jembatan ini diteruskan pembangunannya oleh pemerintah. Setidaknya para pengunjung bisa pergi kedua tempat ini melalui jalur darat. Juga akan mempermudah perawatan  dan pengembangan kedua pulau tersebut. Karena yang terlihat kini di Pulau Cipir hampir tidak terdapat fasilitas penunjang pariwisata yang memadai. Bahkan ada beberapa bangunan yang nampaknya  tidak selesai dibangunan dan dibiarkan terbengkalai.

Setelah itu kami menuju Pulau Onrust yang telah terlihat cukup jelas dari Pulau Cipir. Gue melihat ada perbedaan yang mencolok dengan dua pulau yang telah gue kunjungi. Pulau Onrust dengan cukup apik dikembangkan sebagai tujuan wisata sejarah. Onrust sendiri  berasal dari bahasa Belanda yang berarti “Tidak Pernah Beristirahat”. Pulau ini pernah dipakai sebagai pelabuhan VOC untuk kapal-kapal yang akan masuk ke Batavia, markas tentara Belanda dalam melakukan bongkar muat logistik perang hingga dijadikan karantina haji pada tahun 1911. Setelah Indonesia merdeka,Pulau Onrust dijadikan rumah sakit karantina bagi penderita penyakit menular, penampungan gelandangan dan pengemis juga latihan militer.

Tahun 1968, Pulau Onrust dijarah habis-habisan sehingga bangunan-bangunan bersejarah lenyap menyisakan puing-puing bangunan.Di sudut pulau ini terdapat pekuburan Belanda yang terdiri dari sekitar 40 makam. Kebanyakan yang dimakamkan adalah pemuda-pemudi Belanda yang mengidap penyakit tropis. Satu makam bisa diidentifikasikan dari prasasti pada nisannya, yaitu makam gadis Belanda bernama Maria. Konon, gadis yang meninggal muda di Hindia Belanda masih sering menampakkan sosoknya di malam hari.Di Pulau Onrust ini juga terdapat museum yang berisikan tentang sejarah Pulau Onrust. Museum ini berisikan artefak, pecahan keramik, peralatan bangunan, peralatan tukang dari logam, meriam dan mata uang yang didapat dari proses ekskavasi.

Sekitar pukul tiga sore, kami pun kembali ke Jakarta daratan dan tiba di kawasan Kota Tua sekitar pukul lima sore. Echa mengajak gue untuk melihat gedung ex-Chartered yang terletak di Jalan Kali Besar Barat. Kemudian kami meneruskan perjalanan sepanjang jalan tersebut dan menemukan beberapa bangunan yang menarik. Di antaranya adalah Toko Merah, Gedung Samudera Indonesia hingga Jembatan Kota Intan. Akhirnya langit pun menggelap, pertanda kami harus mengakhiri penjelajahan hari ini. Senang sekali rasanya bisa memuaskan keinginan menjelajahi Pulau Onrust, Pulau Cipir dan Pulau Kelor. Masih banyak pulau lainnya di Kepulauan Seribu yang bisa dijelajahi. Hingga pada saatnya nanti, gue akan mengunjungi pulau-pulau tersebut.

NB: Selengkapnya foto-foto bisa dilihat di sini.

12 thoughts on “Reruntuhan Sejarah di Kepulauan Seribu

  1. Senangnyaaaa…bisa lihat Toko Merah setelah berabad-abad. Nunggu Toko Merah dibuka untuk umum dan diizinkan masuk. Entah kapan hehehe?

    Seru juga ya jalan bareng anak Arkeologi UI, dapat banyak penyegaran *padahal ngiri karena nggak diterima di jurusan Arkeologi*

  2. pertama kali ke pulau Onrust wkt msh SMA th 1982, kondisinya jauh berbeda……………

  3. btw itu ada saya lagi nyanyi dielakang kaka kaka lagi pada liat gambaran pulau onrust pada masa dulu .. hha yg djket soundsytem

  4. Salam kenal,
    mohon share pengalaman untuk transportasi ke Pulau Onrust kontak personnya adakah? dan biaya sewa kapalnya dll nya juga boleh hehe..
    pengen banget ke sana.. terima kasih
    salam

  5. Hai Dieta, salam kenal..

    Karena gue berangkat bareng sebuah komunitas. Jadi gue enggak tau persoalan sewa dan biaya transportasi.

    Gue berangkat bareng komunitas Nol Derajat Indonesia. Mungkin kamu bisa kontak mereka yang ada di Facebook group dengan nama yang sama..

    Maaf, nggak bisa bantu banyak..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s