Jelajah Pesona Swargaloka di Gunung salak

15 April 2012

Selalu senang rasanya berjelajah bareng komunitas Sahabat Budaya. Dipandu Abang Ahmad yang selalu saja mempunyai cerita menarik tentang tempat yang akan kami kunjungi. Kali ini Sahabat Budaya mengadakan Jelajah Pesona Swargaloka di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Dinamakan swargaloka karena Abang Ahmad yakin bahwa tempat-tempat yang akan kami kunjungi bak di surga atau kahyangan. Teman perjalanan gue kali ini adalah Echa. Kami datang lebih cepat dari waktu yang telah dijanjikan sebelumnya. Kami pun sempat menikmati sarapan terlebih dahulu sembari menunggu datangnya bus.

Setelah bus datang, ternyata kami tak langsung menuju Bogor. Kami mampir ke Citos untuk menjemput peserta lain. Seperti jelajah sebelumnya bersama sahabat budaya, peserta kali ini juga banyak yang sudah berusia lanjut tapi mempunyai semangat muda. Setelah semua bekumpul, iringan bus pun menuju Bogor. Sebelum mencapai tujuan pertama, kami diberikan kejutan. Bus kami berhenti di daerah Bondongan untuk mengunjungi Makam Raden Saleh, seorang maestro pelukis kebanggaan Indonesia.

Makam Raden Saleh

Untuk menuju makam, kami melalui jalan kecil yang hanya bisa dilewati motor.  Makam ini dibangun oleh Galeri Nasional dan diresmikan pada tanggal 30 April 2008. Makam Raden Saleh sendiri berdampingan dengan istrinya. Di sini terdapat ruangan tentang perjalanan dan hasil karya Raden Saleh. Pahlawan yang bernama lengkap Raden Saleh Syarif Bustaman ini sangat dibanggakan di dataran Eropa. Bahkan di Dreissen, terdapat Hari Raden Saleh dimana hari untuk merayakan dan mengenang hasil karya Raden Saleh. Di Indonesia, jangankan ada hari perayaan untuk mengenang Raden Saleh. Coba tanyakan pada siswa-siswa sekolah kita saat ini apakah mereka mengenal Raden Saleh. Gue sendiri ragu apakah mereka mengetahui sosok beliau.

Makam Raden Saleh

Makam Raden Saleh

Tak lama kami berada di Makam Raden Saleh. Kami pun beranjak menuju Pura Parahyangan Agung Jagatkarta. Sebelum kami masuk ke kawasan Pura, kami bersiap diri dulu. Kami memakai sarung atau kain dan juga selendang. Sebelumnya Abang Ahmad juga meminta kami untuk mengenakan baju berwarna putih.  Kami menggunakan busana seperti itu untuk menghargai dan menghormati kesucian pura.

Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa

Kami disambut oleh pemangku dan pendiri Pura ini, Ibu Made. Beliau menjelaskan tentang perjuangannya dalam membangun pura ini. Uang hasil penjualan tanahnya di Jakartalah yang menjadi modal untuk membeli tanah di Gunung Salak. Beliau membeli tanah ini pada tahun 1981 ketika tempat ini masih berupa hutan-hutan dan hanya ada jalan setapak untuk menuju ke atas. Hingga akhirnya dibuat jalan berbatu untuk bisa dilewti mobil hingga kini sudah beraspal. Dulu juga belum ada listrik, bersama warga sekitar mereka membeli tiang listrik dan kabel sendiri untuk mendapatkan aliran listrik. Hubungan keluarga Ibu Made dan warga sekitar memang terjalin harmonis. Beliau pun mengajarkan warga sekitar bagaimana cara bertani dengan baik dengan cara terasiring.

Izin membangun pura baru didapatkan pada tahun 1995. Kawasan pura ini seperti halnya di Bali terdiri dari beberapa pura dan bagian lainnya. Sebelum kami menuju pura utama, kami meminta izin untuk membawa persembahan ke atas di Pura Melanting dan Pura Pasar Agung.

 Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa

Kami harus melepaskan alas kaki terlebih dahulu sebelum memasuki pelataran Pura Parahyangan Agung Jagatkartta. Memang benar apa yang dikata orang kalau anda akan merasa seperti berada di Bali. Suasana pegunungan yang nyata dan udara sejuk seketika dapat melepaskan penat. Di sini terdapat patung Ganesha yang cukup besar. Di pelataran pura ini dipandu oleh pemangku, beberapa dari  kami melakukan Puja Bakti Pertiwi.

Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa

Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa

Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa

Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa
Kami mendapatkan kesempatan langka, kami diperbolehkan masuk ke dalam. Kami disambut oleh pemangku dengan senyumnya yang menyejukkan. Kemudian bersama pemangku kami pun melakukan doa bersama dengan keyakinan masing-masing. Pemangku menyatakan senang sekali sampai merinding ketika menerima kami. Karena menurut beliau, didatangi umat dari lintas agama adalah wujud keharmonisan antar umat beragama. Tak terlalu banyak yang bisa gue ceritakan di sini. Karena gue takut salah menerangkan berkaitan istilah-istilah dan nama-nama dalam agama Hindu ataupun adat setempat. Gue sendiri rasanya masih kurang puas berbincang dengan pemangku  yang ada di bawah ataupun di atas. Gue ingin menanyakan mulai dari hal-hal sederhana mengenai kehidupan sehari-hari hingga urusan ketuhanan.

Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa

Pura Parahyangan Agung Jagatkarsa

Setelah makan siang dan beribadah, kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Nangka. Sesampainya di sana , ternyata parkiran sudah sangat penuh yang menandakan banyak sekali pengunjung di sini. Tanpa mengulur waktu, gue dan beberapa orang lainnya mulai menapaki jalan menuju curug nangka. Jalurnya berupa tangga batu dan beberapa kali kami harus melewati aliran air paling tinggi sebatas betis. Cukup melelahkan juga menuju ke atas apalagi suara air curug yang belum terdengar membuat kita bertanya-tanya apakah letak curugnya masih jauh atau tidak.

Sesampainya di sana, ternyata curug nangka ini tak sebesar dan setinggi curug yang pernah gue lihat sebelumnya. Pantas saja suaranya tak terdengar jauh. Gue pun membayar kelelahan menuju tempat ini dengan menceburkan diri ke dalam telaga. Rasanya tubuh yang lelah ini menjadi segar kembali. Telaga yang tidak terlalu besar membuat gue tak bisa berlama-lama di sana. Setelah itu gue pun langsung mengganti baju menuju bus lagi.

Curug Nangka

Curug Nangka

Curug Nangka

Curug Nangka

Abang Ahmad mengenalkan kami curug nangka ini sebagai tempat mandinya para bidadari. Airnya pun dikabarkan berkhasiat untuk awet muda. Menurut beliau, cerita dibalik suatu tempat bisa menjadi nilai tambah agar menarik pengunjung lebih banyak lagi. Gue setuju dengan pendapatnya, tentu harus diimbangi dengan pengembangan fasilitas yang ada. Yang gue cukup kagumi dengan tempat ini adalah dengan begitu banyak pengunjungnya di sini. Gue jarang melihat sampah berserakan. Ini menandakan bahwa kesadaran pengunjung sangatlah tinggi untuk menjaga kebersihan.  Sebuah hal yang patut diacungi jempol. Di Curug Nangka ini, anda juga bisa bertemu monyet-monyet liar yang terlihat di pinggir hutan. Anda tidak perlu takut, karena monyet ini tidak menggangu dan merampas barang bawaan anda.

Menurut gue, Bogor memiliki banyak tempat menarik yang bisa dikunjungi. Gue pun belum menjelajahi semuanya. Bogor, kota hujan yang selalu memesona..

 

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

6 thoughts on “Jelajah Pesona Swargaloka di Gunung salak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s