Melancong ke Ujung Genteng (Bag. II)

6 – 8 April 2012

Sebelum akhirnya matahari terbenam, kami beranjak ke Pantai Pangumbahan. Di sini terdapat penangkaran penyu hijau (Chelonia mydas). Kami akan ikut dalam pelepasan tukik (anak penyu yang masih kecil) ke laut. Tak berapa lama sampai di sana, bersama puluhan orang lainnya kami melepas tukik-tukik ke laut. Siapa yang tidak jatuh hati melihat binatang imut ini. Perasaan tak tega muncul ketika melihat penyu-penyu kecil yang begitu rapuh dengan susah payah menggerakkan tubuhnya menuju laut bebas.

Menurut mas Ardy (pemandu), dulunya tukik  dipelihara hingga cukup besar untuk dilepas. Namun itu mengakibatkan tukik jadi terbiasa untuk diberi makan. Sehingga sulit bagi mereka bertahan di laut bebas karena tak biasa mencari makanannya sendiri. Maka sekarang sedari kecil mereka sudah dilepas ke laut. Tidak ada yang bisa menjamin apakah semua tukik yang dilepas akan bertahan di alam bebas. Namun, begitulah hukum alam berjalan. Siapa yang bisa beradaptasi dengan lingkungannya akan berumur panjang dan begitu sebaliknya.

DSCN1898

DSCN1904

Setelah semua tukik terbawa ombak menuju laut lepas, kami masih beratahan di pantai. Sebentar lagi matahari akan terbenam. Momen sunset adalah momen surgawi yang selalu mengundang decak kagum. Dimana kita bisa berkontemplasi akan hidup dan bersyukur atasnya. Kami akan kembali ke Pantai Pangumbahan ini nanti malam untuk melihat penyu yang bertelur. Sembari menunggu, kami kembali menuju penginapan untuk makan malam.

DSCN1920

Menurut tukang ojek yang mengantarkan gue, semalam penyu datang ke pantai untuk bertelur pada pukul satu malam. Membayangkan harus menunggu selama itu saja gue sudah malas rasanya. Karena rasa lelah dan kantuk yang menerpa diri gue. Namun ternyata hari ini penyu datang lebih cepat, pukul delapan lebih sudah ada penyu yang menepi ke darat untuk bertelur. Kami pun langsung diantar ojek menuju Pantai Pangumbahan. Menurut mas Ardy, penyu mempunyai kebiasaaan bertelur di tempat di mana dia pertama kali dilepaskan.

Ketika gue tiba di sana, sudah ada banyak orang yang hadir. Ternyata kami belum boleh melihat penyu tersebut. Dikarenakan penyu tersebut masih menggali lubang dan bertelur. Cukup lama juga kami menunggu sampai diberitahukan oleh pegawai penangkaran penyu tersebut bahwa penyu telah selesai bertelur. Kami pun diajak untuk melihat lebih dekat. Kami dilarang menyalakan lampu atau berisik yang  akan mengganggu penyu.

*Sumber: FB Rillany Nadya*

Gue merenung saat menuju keberadaan si penyu di pantai. Rasanya jahat dan tega sekali, puluhan orang merubungi seekor penyu yang baru saja bertelur. Gue semakin tidak tega ketika banyak orang memotret penyu dengan menggunakan lampu kilat. Manusia saja ketika difoto menggunakan blitz pada malam hari akan merasa silau. Gue yakin penyu ini juga merasakan hal yang sama. Menurut gue seharusnya pemerintah setempat ataupun pengelola penangkaran penyu melarang kegiatan ini. Karena akan membuat penyu ini menjadi stres.

Jangankan mengambil gambar, bahkan gue tidak melihat si penyu. Gue berdiri agak jauh dari kerumunan orang tersebut. Tak tahan rasanya gue ingin kembali ke penginapan. Setelah semuanya terpuaskan melihat induk penyu, kami kembali ke penginapan. Teman-teman gue memilih untuk makan mie. Namun, gue sudah terlampau lelah. Setelah mandi gue langsung tidur. Keesokan harinya gue terbangun ketika waktu menunjukkan lewat dari pukul enam pagi. Gue keluar dari kamar dan tak ada seorangpun yang sudah bangun. Keletihan yang dirasakan mengakibatkan kami melewati sunrise. Padahal tak seperti kemarin, pagi ini cuaca cukup cerah.

*Sumber: FB Adhalina Maria*

Setelah berkemas dan sarapan, kami siap untuk meninggalkan penginapan. Sebelum melanjutkan perjalanan, tak lupa kami foto bersama di pantai dekat kami menginap. Setelah itu kami menuju Amanda Ratu Resort  yang dikenal sebagai “Tanah Lot” nya Ujung Genteng. Ketika sampai di sana, penginapan ini terlihat sepi dan tidak begitu terawat. Entahlah apakah penginapan ini masih beroperasi atau tidak. Mungkin dulu karena harganya yang cukup mahal tapi lokasinya yang berjauhan dari pantai yang landai membuat resort ini kalah bersaing dari penginapan pinggir pantai landai yang sudah banyak terdapat di Ujung Genteng. Padahal menurut gue di sinilah pemandangan terindah selama gue di Ujung Genteng.

DSCN1946

*Sumber: FB Adhalina Maria*

DSCN1958

Di dekat penginapan ini juga terdapat pengolahan gula kelapa. Kita bisa membedakan gula kelapa ini dengan gula aren dari warnanya yang lebih coklat muda. Gula kelapa ini bisa dijadikan oleh-oleh dari Ujung Genteng. Karena sangat sulit sekali menemukan buah tangan dari Ujung Genteng. Bahkan kaus-kaus bertuliskan tempat wisata seperti di daerah-daerah wisata lainnya pun sulit ditemukan di sini.

*Sumber: FB Adhalina Maria*

Masih banyak sekali pekerjaan rumah yang mesti dilakukan pemerintah setempat. Penyediaan sarana dan prasarana untuk menunjang pengembangan pariwisata. Yang harus diusahakan untuk diperbaiki secepatnya adalah jalan raya sehingga mempermudah dan mempercepat akes ke dalam dan ke luar Ujung Genteng. Pemerintah juga harus menggandeng masyarakat setempat untuk tetap menjaga kelestarian alam Ujung Genteng.

Gue akan berupaya untuk kembali lagi ke sini. Menjelajahi pantai-pantai terjauh di Ujung Genteng. Semoga saat itu, sarana dan prasarana penunjang pariwisatanya sudah terbangun dengan baik. Sampai bertemu kembali, Ujung Genteng..

NB: Foto selengkapnya di sini.

10 thoughts on “Melancong ke Ujung Genteng (Bag. II)

  1. @ayutuuh: Makasih, darling..🙂

    @Rini Nurul Badariah: Terima kasih, teh Rini, sudah dikoreksi. Jadi kampung teh Rini di sini? Jauh bener ya teh..hehehe…

  2. Wah seru ya…
    Temanku juga baru dari Ujung Genteng melihat pelepasan tukik. Sayangnya, yang membuat kesal, turis-turis malah memegangi tukik-tukik dan mengangkat mereka buat difoto-foto… Itu kan bisa membuat tukiknya malah sakit, lemah, buntutnya peluangnya bertahan hidup tambah kecil. Ada yang hampir keinjak pula. Sayang sekali… Justru para turis malah mengacaukan program pelepasliaran itu😦

  3. Menurut gue bukan salah pengunjungnya juga. Namanya juga orang awam, melihat yang unyu terus bawaannya pengen foto bareng sambil monyongin bibir trus dicubit pipinya. Nah, seharusnya para pegawai penangkaran penyu ini memberikan penyuluhan kepada para pengunjung bagaimana memperlakukan tukik-tukik tersebut. Lha ini malah, si pegawai membiarkan orang-orang mengambil si tukik dari dalam ember terus baru dilepasin ke pinggir pantai.😦

  4. sempat kasih masukan ke para pegawai penangkaran penyunya gak Run? kirain kalo mau liat pelepasan tukik or penyu yang br bertelur sebelumnya ada semacam briefing dulu, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan..

  5. Enggak sempet ngomong ke pegawainya. Tapi gue udah ngomong sama pemandu gue. Dia bilang sih udah banyak banget masukan dari pengunjung atau warga yang inginnya menghapuskan kegiatan melihat penyu bertelur ini.

    Mungkin ya ini juga berkaitan dengan pemasukan mereka juga. Karena untuk masuk ke area pantai dan penangkaran penyu ini dipungut biaya(Gue nggak tau berapa sih tiketnya). Nah, yang perlu dicari jalan keluarnya adalah bagaimana mendapatkan dana pemasukan yang tidak mengorbankan nasib si penyu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s