Jelajah “Spiritual Places” Passer Baroe

31 Maret 2012

Pasar Baru

Saat mendengar Pasar Baru, kita biasanya langsung memikirkan deretan toko-toko. Tempat kita mencari berbagai jenis kain atau sepatu yang harganya cukup ‘miring’. Namun ternyata, di kawasan Pasar Baru juga terdapat beberapa tempat ibadah dari berbagai agama. Kali ini gue dan Ayu mengikuti “Jelajah Passer Baroe: The Spritual Places 2012” yang diselenggarakan oleh komunitas Love Our Heritage (LOH). Setelah siaran di RPK FM, kami menuju tempat berkumpul di Gedung Kantor Filateli. Letaknya bersebelahan dengan Gedung Kesenian Jakarta. Tadinya kami mengira akan terlambat tapi ternyata mereka masih menunggu peserta lain yang belum datang.

Kantor Filateli Jakarta

Sekitar pukul sembilan pagi, kami memulai penjelajahan. Tujuan pertama kami adalah Sai Baba Study Group (SSG). Terletak di ujung jalan Pasar Baru Selatan, bangunan ini terlihat sepi dan tidak aktivitas yang terlihat. SSG ini dikelola oleh Yayasan Sri Sathya Sai Baba Indonesia. Sadguru Bhagawan Sri Sathya Sai Baba lahir pada tanggal 23 November 1926 di Puttaparti, India. Konon beliau lahir tanpa ayah. Pada suatau malam, ada cahaya biru yang yang masuk kedalam tubuh ibunya dan seketika itu beliau hamil. Sai Baba telah wafat di usianya ke 96 tahun pada tanggal 24 April 2011. Namun walaupun telah tiada, ajaran-ajaranya yang bersifat universal tetap dilaksanakan pengikutnya yang berasal dari berbagai agama di banyak negara. Ajaran Sai Baba adalah tentang menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air, menjaga keharmonisan antar sesama dan menjadi warga negara yang baik. Di tempat ini dilakukan meditasi sebagai saran berkontemplasi dan juga sedikit ceramah setelahnya yang dipimpin oleh seorang ‘Brother’. Waktu meditasi yang diselenggarakan tiap selasa dan kamis ini boleh diikuti oleh siapapun dari berbagai agama.

Sai Baba Study Group

Sai Baba Study Group

Sai Baba Study Group

Masih di Pasar Baru Selatan, kami mengunjungi bangunan kuil yang begitu sederhana bernama Hare Krishna. Kuil ini berada di bawah naungan Masyarakat Kesadaran Krishna Internasional yang didirikan pada tahun 1966 oleh Srila AC Bhaktivendata Swami Prabhupada di Amerika Serikat. Di Indonesia sendiri telah berkembang sejak tahun 1980an dan pada tahun 2002 telah terbentuk organisasi dengan nama Sampradya Kesadaran Krishna Indonesia (SAKKHI) di bawah naungan Parisada Hindu Dhrama Indonesia. Di kuil ini, pendeta menjelaskan pada kami tentang Sri Krishna sebagai personalitas tertinggi Tuhan di dunia. Juga menjelaskan bahwa kitab Veda adalah merupakan pengetahuan atau pelengkap alam semesta untuk seluruh manusia.  Terakhir, kami disuguhkan meditasi berupa pengucapan nama-nama suci Tuhan (Maha Mantra Hare Krishna). Meditasi ini dilakukan dengan cara menyanyi bersama-sama (kirtana) dengan iringan alat musik.

Hare Krishna Temple

Hare Krishna Temple

Hare Krishna Temple

Setelah dari kuil Hare Krishna, kami memasuki kawasan dalam Pasar Baru. Di dalam lorong-lorong sempit terdapat dua vihara yang akan kami kunjungi. Yang pertama adalah Vihara Sin Tek Bio yang juga dikenal dengan nama Vihara Dharma Jaya yang dibangun sejak akhir tahun 1600-an. Di bangunan berlantai dua ini terdapat beberapa altar untuk menghormati dewa serta leluhur. Kemudian Vihara kedua yang kami kunjungi adalah Vihara Kuan Im Bio. Sesuai dengan namanya Vihara ini menjadikan Dewi Kuan Im sebagai Dewa utama. Di dalam Vihara ini terdapat patung Dewi Kuan Im yang berusia ratusan tahun dari tiongkok.

Vihara Sin Tek Bio

Vihara Sin Tek Bio

Vihara Kuan Im Bio

Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Gereja Ayam (GPIB Pniel). Disebut begini karena di atas menaranya dipasang penunjuk arah angin yang berbentuk ayam jago. Ketika mendengar Gereja Ayam, pertamanya gue berpikir bahwa kita akan mengunjungi GPIB Paulus di Menteng karena di sana juga ada penunjuk arah angin berbentuk ayam jago. Ini menandakan bahwa tak hanya satu gereja yang di atapnya ada simbol ayam.  Pada tahun 1914, bangunan gereja lama dibongkar karena sudah rusak dan baru diselesaikan pada tahun 1915. Bangunan baru ini dirancang oleh NA Hulswit dari biro arsitek Cuyoers en Hulswit yang dapat menampung sekitar 2000 jemaat.  Di dalam Gereja ini juga terdapat alkitab tua dari Belanda yang berusia lebih dari seratus tahun. Kini, kondisi gereja ini sangat tua dan butuh perawatan. Gereja mengeluarkan biaya perawatan secara swadaya. Pihak gereja dan yang peduli terhadapnya, sekarang sedang mengajukan diri untuk menjadikan bangunan gereja ini sebagai Cagar Budaya. Semoga saja proses pengajuan ini berjalan lancar.

Gereja Ayam (GPIB Pniel)

Gereja Ayam (GPIB Pniel)

Gereja Ayam (GPIB Pniel)

Lalu kami mengunjungi gereja lainnya yaitu Gereja Katedral. Gereja Katedral ini diberi nama Gereja Santa Maria Diangkat ke Surga dan diresmikan serta diberkati oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen SJ, Vikaris Apostolik Jakarta pada saat itu. Peletakan batu pertama Gereja Katedral dilakukan pada tanggal 16 Januari 1899 dengan MJ Hulswit sebagai insinyur pembangunannnya yang selesai pada tanggal 21 April 1901. Meneruskan gambar dari A Dijkmans, gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur neo gotik. Bangunan gereja ini memiliki panjang 60 m dan lebar 20 meter dan sayap 5 meter. Kapasitas jemaatnya adalah 800 orang, sedangkan di hari raya sekitar 4000-4500 orang.

Gereja Katedral

Gereja Katedral

Gereja Katedral

Di dalam gereja ini juga terdapat Museum Katedral. Museum ini diprakarsai oleh Pater Rudolf Kurris dan diresmikan pada tanggal 28 April 1991 oleh Mgr Julius Darmaatmadja. Di museum ini menyimpan beberapa koleksi. Diantaranya ada lukisan dari gedebong pisang oleh Kusni Kasdut yang dibuatnya semasa di penjara. Ada monstrans yang dibuat di tahun 1700an di Limburg, Jerman. Monstrans ini digunakan untuk menghormati tubuh dan darah Kristus di perayaan ekaristi. Kemudian ada juga kenang-kenangan berupa tongkat Paus Paulus II ketika beliau mengunjungi Yogyakarta pada tahun 1989. Dan juga benda-benda koleksi lainnya seperti foto, kasula, lukisan dan patung-patung.

Gereja Katedral

DSCN1802

DSCN1803

Tempat terakhir yang kami kunjungi adalah Masjid Istiqlal. Mssjid ini didirikan pada tahun 1950an oleh ide dari  Soekarno dan Hatta. Istiqlal dalam bahasa arab berarti merdeka. Ini dikarenakan untuk melambangkan kemerdekaan dan kejayaan bangsa Indonesia setelah  berhasil membebabaskan diri dari belenggu penjajahan. Masjid seluas empat hektar ini dapat menampung jamaah hingga empat ratus ribu orang. Masjid terbesar di Asia Tenggara karya Frederik Silaban ini direncanakan akan dipugar pada bulan mei karena beberapa bagian sudah mulai rusak dimakan cuaca dan usia.

Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal

Masjid Istiqlal
Melihat Masjid Istiqlal dan Gereja Katedral berdiri berdampingan sungguh menyejukkan mata. Seperti inilah yang diharapkan bahwa berbagai umat agama di Indonesia ataupun dunia, bisa hidup berdampingan dengan damai. Tidak ada prasangka yang bisa memicu kekerasan dan pertikaian antar umat beragama. Seperti apa yang dikatakan pendeta di Hare Krishna bahwa semua agama pada dasarnya diajarkan untuk mencintai Tuhan dan juga sesama ciptaan Tuhan, menjalani kebaikan dan menjauhi kejahatan. Semoga Bangsa Indonesia dapat menjadikan perbedaan bukan sebagai penghalang tapi modal besar untuk pembangunan.

Beda itu Indah! Peace and Love!

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

11 thoughts on “Jelajah “Spiritual Places” Passer Baroe

  1. Menarik Run… dulu waktu lewat Passer Baroe memang sempat melihat bangunan Sai Baba itu dan bertanya-tanya… Jadi pengen datang, nih! Boleh nggak sih kita datang begitu aja tanpa berombongan?

  2. Sepertinya tidak bisa deh Mbak kucluk-kucluk datang pada waktu kapanpun. Bisanya itu tiap selasa dan kamis. Kalau selasa itu biasanya yang hadir warga-warga India. Kalau Kamis, yang hadir lebih beragam agama dan etnisnya. Tapi aku lupa itu meditasinya jam berapa.😦

  3. OK! nice… sekarang pertanyaanya adalah, agama apa yg bisa meresmikan hubungan ku sama dia?
    -___-

  4. @siapapun kamu: Waduh, agama apa ya yang bisa meresmikan hubungan kalian? Agama cinta dan kemanusiaan kali ya.. *wink*

    @Citra Rahman: Nanti kalau ke Jakarta lagi, kakak Maman aku bawa ke pasar baru deh.. buat jualan es teh tarik tapinya..hehehehe..

  5. disini ga ada liputan kuil hindu sikh temple ?? kalo dr gambir atau monas naik angkot apa yah menuju ke pasar baru selain jalan kaki

  6. Sebenarnya waktu itu kita mau ke sikh temple tapi waktunya enggak pas. harus pagi-pagi banget ke sananya. Mungkin lain waktu bisa diliput.

    Ketika dulu gue bekerja di seputaran Monas/Gambir sih seringnya bepergian menggunakan bajaj. Karena memang lebih mudah(nggak turun naik angkot) dan murah, bayar aja lima ribu rupiah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s