Jelajah Pesona Buitenzorg Tempo Doeloe

4 Maret 2012

Belakangan ini gue memang sedang gemar bergabung dengan komunitas sejarah dan budaya. Dari beberapa jelajah yang sudah diikuti, gue berteman dengan seorang ibu guru bernama Etty Dhamayanthi. Beliaulah yang memasukkan gue ke dalam grup Sahabat Budaya di facebook. Sahabat Budaya adalah sebuah komunitas sejarah dan budaya yang diasuh oleh Abang Ahmad. Ketika gue bergabung, sahabat budaya akan segera menggelar Jelajah Pesona Buitenzorg Tempo Doeloe. Sayangnya pendaftaran sudah tutup. Namun ketika gue menghubungi Abang Ahmad, ternyata nama gue masih bisa ditambahkan ke dalam daftar peserta. Senang tentunya bisa ikut jelajah ini karena salah satu lokasi jelajah, Istana Presiden di Bogor belum pernah gue kunjungi.

DSCN1318

Jelajah kali ini gue ditemani oleh Echa. Kami sampai di Stasiun Pasar Minggu pukul setengah delapan. Awalnya kami agak bingung karena pintu loket di Stasiun Pasar Minggu ada dua. Namun akhirnya, kami bertemu dengan Abang Ahmad dan bergabung dengan peserta yang telah datang duluan. Yang gue takjub dengan peserta kali ini banyak yang sudah opa-oma. Peserta paling ‘dewasa’ berumur 78 tahun. Wah kalau seusia itu saja masih semangat mengenal sejarah dan budaya Indonesia. Mengapa kita yang masih berusia muda dan berfisik lebih bugar tak bisa? Setelah menunggu kedatangan peserta lainnya, kami pun berangkat menuju Stasiun Bogor pada pukul sembilan pagi.

DSCN1324

Kami sampai di Stasiun Bogor pada pukul sepuluh pagi dan langsung berjalan kaki menuju Istana Bogor. Untuk mengunjungi Istana Bogor diharuskan membuat permohonan terlebih dahulu. Ada beberapa persyaratan yang harus ditaati ketika berkunjung, diantaranya dilarang memakai sandal dan kaus oblong. Kami disambut oleh Bapak Cecep Koswara, pemandu kami berkeliling Istana Bogor. Bangunan yang termasuk cagar budaya ini didirikan pada tahun 1745 oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda, Gustaaf Willem Baron Van Imhoff. Luas istana sekitar 28.8 hektar dan jika digabung dengan Kebun Raya Bogor menjadi seluas 113 hektar. Kawasan Istana Bogor ini sangat hijau karena ditumbuhi banyak peohonan misalnya pohon beringin, pohon kepel, pohon lobi-lobi dan pohon jamblang.

DSCN1325

DSCN1340

DSCN1330

Pada tahun 1808-1811, Daendels menambahkan bagian kiri dan kanan istana. Juga mendatangkan rusa perbatasan India-Nepal sebanyak 12 ekor. Lalu pada 10 Oktober 1834, Jawa Barat dilanda musibah gempa bumi sehingga Istana Bogor pun hancur. Kemudian dibangun istana kedua yang dibangun pada tahun 1950-1956 dibangun oleh Albertus Jacob Duijmayer van Twist dengan mengambil gaya arsitektur eropa.  Istana ini pada tahun 1870 dijadikan kediaman Gubernur Jenderal karena Batavia sudah tidak sejuk lagi. Pada tahun  1942, istana dikuasai Jepang yang merampok dan menjarah koleksi pusaka yang kebanyakan terbuat dari emas dan batu permata. Akhirnya istana ini diambil alih oleh pemerintah RI pada tahun 1950.

Informasi di atas gue dapatkan dari penjelasan Pak Cecep sembari mengelilingi Istana Bogor. Pak Cecep menjelaskan juga mengenai fungsi ruangan serta koleksi benda seni dan furnitur yang kebanyakan merupakan peninggalan Bung Karno.  Koleksi seni yang memukau adalah lukisan dan patung. Banyak sekali lukisan di dalam istana dan mayoritas adalah karya dari Basuki Abdullah. Namun, yang paling gue kagumi adalah lukisan tahun 1881 dari pelukis Rusia. Lukisan besar yang menutupi dinding dan seakan hidup layaknya lukisan tiga dimensi. Juga banyak patung baik di dalam ataupun diluar istana. Bedanya yang berada dalam bangunan, patungnya ditutup dengan kain sedangkan yang di luar dibiarkan telanjang. Patung di dalam istana ditutupi kain karena aturan kesopanan. Tetapi menurut kami sahabat budaya, patung tersebut adalah karya seni dan jangan dilihat dari sudut pornografi.

DSCN1326

DSCN1354

DSCN1344

Waktu telah menunjukkan pukul dua belas siang tapi matahari masih tersembunyi. Hujan yang merupakan ciri khas kota Bogor pun turun ke bumi. Masih banyak ruangan yang belum kami kunjungi tapi waktu telah mendesak kami untuk beranjak ke tempat lain. Pesan Pak Cecep adalah mari kita mengenal sejarah Indonesia. Salah satunya mengenal Istana Bogor. Istana ini terbuka untuk umum  tapi tentunya dengan permohonan izin tertulis terlebih dahulu. Mungkin banyak orang yang merasa malas dan gentar terlebih dulu  sebelum mengajukan permohonan tersebut. Namun Pak Cecep menjamin bahwa tidak akan ada birokrasi yang menyulitkan siapapun untuk berkunjung ke Istana Bogor.

DSCN1357

Dari Istana bogor kami naik angkot menuju Vihara Dhanagun. Dulunya bangunan ini bernama Klenteng Hok Tek Bio yang berarti Rumah Ibadah Rejeki dan Kebajikan. Sampai saat ini, belum diketahui kapan bangunan ini didirikan. Namun pada tahun 1860, orang perancis pernah mengambil gambar bangunan ini. Diperkirakan bangunan ini didirikan oleh pedagang-pedagang Hokkian. Di sini, kami dijamu makan siang dengan menu vegetarian. Kami juga bertemu dan berbincang dengan komunitas Sahabat Bogor dan Masyarakat Cinta Bogor. Di tiap kota memang seharusnya ada komunitas seperti ini untuk bersama-sama mencintai kotanya sendiri. Kalau bukan penduduk aslinya lalu bagaimana mau mengharapkan penduduk kota lain untuk mencintai kota mereka. Tentunya mencintai bisa diaplikasikan dengan cara mengenal sejarah dan menjaga kelestarian budaya kota kita sendiri.

DSCN1382

DSCN1384

DSCN1386

Setelah berbincang-bincang, kami meneruskan jelajah ini ke Kebun Raya Bogor  dengan masih ditemani rintik hujan. Ini sudah kesekian kali gue ke kebun raya bogor. Kami diajak Abang Ahmad untuk mengelilingi kebun raya. Melihat prasasti, jembatan gantung dan pohon jodoh. Yang gue baru tahu adalah jalan ujian. Dianamakan begini karena jalurnya yang menanjak.  Tapi karena jalannya sudah bagus, tidak ada masalah untuk melalui jalur ini. Semakin dekat dengan titik akhir perjalanan kami, hujan pun semakin deras. Akhirnya kami berteduh di pendodopo loket. Setelah hujan berhenti barulah kami memutuskan pulang.

 DSCN1399

DSCN1413

DSCN1423

DSCN1424

Di perjalanan pulang, gue mengetahui bahwa ada dari salah satu peserta jelajah yang sudah lama tinggal di Bogor. Namun tak pernah sekalipun dia masuk ke dalam Istana Bogor ataupun Kebun Raya Bogor. Sedih dan miris mendengarnya. Namun itu seperti halnya gue yang merupakan penduduk Jakarta sejak lahir tapi baru akhir tahun kemarin menginjakkan ke pelataran puncak Monas. Gue mengambil kesimpulan bahwa banyak dari kita yang tidak begitu peduli dengan peninggalan sejarah dan budaya kota kita sendiri. Marilah teman kita kenali kota kita. Tak usah jauh-jauh pergi ke negara lain. Cukup menjelajahi kota dimana kita tinggal. Kelak kita akan makin mencintai kota kita sendiri.

DSCN1431

NB: Foto Selengkapnya bisa dilihat di sini

7 thoughts on “Jelajah Pesona Buitenzorg Tempo Doeloe

  1. Gue mau kalau harus ke Istana Bogor lagi, kalau perlu seharian penuh! Mau menikmati keindahan setiap patung yang ada di sana. Nggak puaaassss….

    Anyway…thanks ya Run, sudah ngajak gue kemarin. Kalau nggak diajak, mungkin sampai hari ini belum injak tuh Istana hehehehe

  2. Pura Parahyangan: Swargaloka di Kaki Gunung Salah Sabtu 14 April 2012
    dgn Bus AC kita ke sana……hub 087889980922

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s