Kabur ke Bromo… (Bag.2)

26 Februari 2012

Dering alarm membangunkan gue di shubuh yang dingin. Posisi gue ketika membuka mata seperti janin dalam kandungan, meringkuk. Memang, suhu udara di Cemoro Lawang semakin dingin seiring bertambahnya jam. Walau sudah memakai pakaian berlapis dan kaus kaki, rasanya dingin masih mengggigit. Pukul setengah lima kami naik ke Metigen menggunakan jeep untuk melihat sunrise. Mungkin banyak orang yang lebih kenal dengan Penanjakan. Tapi sayang, jalur penanjakan ini terputus di tengah karena longsor. Sehingga kami memilih melihat sunrise di Metigen. Menurut Mas Hardi (guide), lebih menarik untuk melihat dari Metigen karena sunrise terlihat lebih cantik. Metigen ini berbentuk seperti lereng pegunungan. Setelah menemukan lokasi yang ciamik, kami menunggu detik-detik matahari muncul di balik pegunungan. Ketika akhirnya matahari muncul, kami lagi-lagi dibuat terpesona dengan kebesaran Tuhan.  Seperti ketika kami melihat sunset kemarin sore, kami pun berucap syukur pada Tuhan atas pemandangan yang menakjubkan.

DSCN1127

DSCN1129

DSCN1134

Dari Metigen, kami beranjak menuju kaki Gunung Bromo. Di tengah perjalanan, kami menukar kendaraan bermesin menjadi kendaraan bertenaga kuda dalam artian sesungguhnya. Ini bukan pertama kali gue naik kuda. Tapi rasanya masih saja-deg-degan karena gue agak kurang ahli dalam menjaga keseimbangan. Dengan modal percaya diri, kami menuju dekat tangga untuk naik ke puncak Gunung Bromo dengan gagah berani. Sesampainya di sana, kami pun menapaki anak tangga demi anak tangga. Konon katanya anda tak akan mendapatkan jumlah anak tangga yang sama ketika naik dan turun. Menurut gue, siapa juga yang bisa berkonsentrasi menghitung ketika kita sibuk berkonsentrasi mengatur napas. Tangga ini semakin sulit ditapaki karena setelah adanya erupsi kawah bromo, beberapa anak tangga ada yang rusak. Bekas hujan pun membuat anak tangga menjadi agak licin sehingga kita harus berhati-hati.

DSCN1232

DSCN1199

Perjuangan menapaki anak tangga ternyata membuahkan hasil yang setimpal. Dari puncak Gunung Bromo kita bisa melihat kawah dan pemandangan sekitar. Saat itu ada genangan air di kawah Gunung Bromo. Menurut penduduk setempat ini terjadi ketika setelah luapan kawah merapi dan seringnya hujan di kawasan Gunung Bromo. Di atas ini juga kita harus berhati-hati karena tanah yang licin dan tempat berpijak yang tak terlalu luas. Gue dan tante memutuskan untuk turun duluan sedangkan teman yang lain masih memanjakan mata mereka di atas sana. Sampai di bawah gue dan tante memutuskan untuk beristirahat sejenak. Dengan cueknya gue duduk aja di atas pasir dan kami pun dihampiri penjual rangkaian bunga. Gue kurang tahu itu rangkaian bunga apa. Bunganya berwarna-warni entah warna asli atau telah dicat dengan senagaja. Karena menurut gue warnanya tidak begitu alami.

DSCN1189

DSCN1191

Setelah itu kami menuju kawasan savana yang dikenal dengan nama Bukit Teletubbies. Menurut Mas Hardi dinamakan begitu karena bentuk bukitnya mirip dengan bukit yanga da di serial teletubbies. Gue sendiri lupa dengan bentuk bukit di serial teletubbies itu seperti apa. Tapi yang pasti ketika gue sampai, pemandangan bukit ini sungguh luar biasa cantik dan fotogenik. Tak seperti dengan bromo yang kering, di sini semak dan bunga ada dimana-mana. Warna hijau dan kuning menjadi warna utama dan berpadu indah dengan langit biru yang cerah.

DSCN1244

DSCN1242

DSCN1247

Pemandangan alam yang warna-warni ini begitu kontras ketika kami menyambangi Pasir Berbisik. Di sinilah lokasi pengambilan gambar untuk film Pasir Berbisik yang dibintangi Dian Sastro. Pasirnya seperti berasap tapi ketika dipegang tidaklah bersuhu panas atau mungkin karena waktu itu masih pagi. Alur-alur yang ada di pasir menambah eksotisme pasir berbisik. Jika musim kemarau, di sini biasanya sangat berdebu karena itu diperlukan masker untuk menutup mulut dan hidung.

 DSCN1265

DSCN1261

*Sumber: FB Quintessential Escape *

Menjelang siang, kami kembali ke Cemoro Lawang, Desa Ngadisari untuk makan pagi yang tertunda. Makanannya tak istimewa, hanya makanan rumahan seperti nasi rames. Minumnya pun hanya teh manis. Tapi teh manis ini khas karena wangi pandan. Teh Candi Wayang ini merupakan produk lokal Desa Lawang. Harganya sangat murah sekitar 100 rupiah per bungkus kecil. Kami pun membeli dalam jumlah banyak untuk dinikmati di rumah.

Setelah berkemas, kami pulang kembali ke kota asal ditemani rintik hujan. Rasanya belum puas menikmati keindahan kawasan Gunung Bromo. Gue belum sempat berbincang banyak dengan penduduk lokal. Ataupun sekedar melihat mereka menjalani kehidupan sehari-hari. Namun kami berjanji, kelak akan datang lagi ke sini. Sembari menyesap teh candi wayang, keseruan perjalanan ini akan terbayang selalu di pikiran kami.

*NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini dan di sini

13 thoughts on “Kabur ke Bromo… (Bag.2)

  1. Udah perutnya buncit, diperparah dengan tangannya dimasukin ke kantung depan jaket. Makin aja deh gede keliatannya.. *sigh* tapi tak mengapalah.. buncit is new sexy kan ya? *maksa* :))))

  2. “Gue kurang tahu itu rangkaian bunga apa. Bunganya berwarna-warni entah warna asli atau telah dicat dengan senagaja. Karena menurut gue warnanya tidak begitu alami.” >>> Edelweis itu namanya Kaka….warnanya yang aseli sih putih. Pernah lihat yang merah juga sih. Bunga abadi biasa disebutnya🙂

  3. Bunga warna-warni itu diambil dari perdu2 yg tumbuh di spanjang jalan di kawasan bromo. Di cat warna-warni agar menarik pembeli :)) ada edelwyss yg warnanya agak beige. Fotonya keren! You’re talented

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s