Kabur ke Bromo… (Bag.1)

“Berwisata itu mengakibatkan ketagihan”.

Gue yakin dengan kalimat tersebut dilihat dari pengalaman sendiri. Setelah berwisata ke beberapa tempat, bukannya rasa puas yang gue dapatkan. Melainkan rasa haus untuk berwisata kembali ke tempat-tempat menarik lainnya. Gejala ketagihan diketahui dengan jelas ketika dalam satu waktu gue ikut dalam berbagai grup komunitas perjalanan di facebook.  Gue juga follow akun-akun twitter yang menyelenggarakan perjalanan. Salah satunya adalah @Escape_ID atau Escape Indonesia. Salah satu perjalanan yang mereka tawarkan sangat menarik hati gue, Escape to Bromo. Dua hal yang membuat gue tertarik untuk turut serta. Pertama karena Gunung Bromo adalah salah satu destinasi wisata yang ingin gue kunjungi. Kedua, karena perjalanan ini hanya memakan waktu 2 hari satu malam pada akhir pekan. Sehingga gue tidak memerlukan izin ataupun cuti dari kantor.

DSCN1162

Sebagai seseorang yang bersifat impulsif, gue langsung mencari tiket pesawat pulang pergi Jakarta-Surabaya. Akhirnya gue memilih menggunakan jasa penerbangan Batavia Airlines karena saat itu lebih murah daripada yang lain. Setelah dapat tiketnya, barulah gue mendaftarkan diri ke Escape Indonesia. Kemudian gue berkenalan dengan mbak Olpie, sosok dibalik akun twitter Escape_ID.  Keramahannya ketika berinteraksi di blackberry messenger membuat gue makin yakin kalau keputusan  ikut perjalanan ini sudahlah benar. Teman-teman pun mendukung gue untuk ikut perjalanan ini. Bahkan sahabat gue, Farah berbaik hati membuatkan gue syal. Walaupun belum kelar juga ketika hari keberangkatan gue sudah tiba. Tidak apa-apa, syalnya bisa dipakai untuk tujuan perjalanan gue berikutnya. Niat baiknya akan gue ingat selalu.

25 Februari 20

Hari keberangkatan telah tiba dan semua kebutuhan telah dikemas di dalam tas punggung. Pesawat yang akan gue tumpangi akan terbang ke Surabaya pada pukul sembilan tiga puluh. Sembari menunggu datangnya pesawat yang akhirnya terlambat tiga puluh menit, gue membaca novel fantasi The Gate karya John Connoly. Cerita yang lucu mengalahkan rasa bosan ketika menunggu pesawat dan selama berada di pesawat. Pukul sebelas, gue pun sampai di bandara Juanda Surabaya. Sesuai dengan instruksi dari mbak olpie, gue langsung menuju tempat berkumpul di mesjid bandara juanda tak terlalu jauh dari terminal kedatangan. Tak berapa lama, datanglah mbak olpie bersama Mas Hardi yang nantinya akan menjadi pemandu selama perjalanan ini. Kemudian berdatanganlah peserta yang lain, Choky dan Dion, duo penyiar radio di Surabaya. Disusul mbak Tina dan ibundanya yang gue panggil tante. Semua telah berkumpul, maka kami pun berangkat menuju bromo.

*Sumber: FB Quintessential Escape *

Sepanjang perjalanan kami berbincang untuk mengenal satu sama lain. Bertanya kesibukan sehari-hari dan pengalaman perjalanan yang telah kami lakukan sebelumnya. Membincangkan lumpur lapindo ketika kami melewati porong. Kami semua mengamini bahwa pihak yang bertanggung jawab atas musibah ini tidak melakukan penanganan dengan baik. Lumpur lapindo ini telah menyurutkan perekonomian warga sekitar. Musibah ini sudah berlangsung sekitar enam tahun dan warga sekitar masih tertatih-tatih untuk bangkit. Semoga saja dia yang tertuduh mendapatkan hidayahnya untuk segera bertanggung jawab.

Di probolinggo kami berbelok menuju kawasan bromo. Jalanan mulai menanjak dan berkelok pertanda kami sudah memasuki kawasan pegunungan. Dingginya AC digantikan dengan angin alam yang berhembus pelan. Sejuk rasanya udara yang kami hirup. Di samping jalan, kami melihat perkebunan warga. Ada berbagai jenis tanaman yang kami lihat seperti kol, daun seledri dan juga kentang. Pemandangan ini juga yang nantinya kami lihat dari atap rumah penginapan kami.

 DSCN0982

Setelah menempuh perjalanan hampir empat jam, kami sampai di penginapan di Desa Ngadisari, Cemoro Lawang. Dari luar tampak seperti rumah berukuran kecil. Namun ketika dimasuki, ternyata rumah ini terdiri dari dua lantai. Lantai bawah digunakan untuk ruang pribadi pemilik rumah. Sedangkan lantai dua untuk disewakan kepada para pelancong. Setelah menaruh barang bawaan  di dalam kamar. Kami diajak yang empunya rumah untuk menaiki atap dari rumah ini yang dibuat seperti pelataran luas. Dari sini kita bisa melihat pemandangan hijau sekitar Desa Cemoro Lawang.

 DSCN0995

Langit mulai berwarna jingga kemerahan tanda senja telah datang. Kami pun bersegera menuju Cemoro  Indah, sekitar 200 meter ke arah barat dari penginapan kami. Di sana kami berbaur dengan penduduk lokal yang menawarkan barang dagangan, wisatawan lokal dan juga wisatawan asing. Dari Cemoro Indah, kami bisa melihat pemandangan senja yang cantik di Bromo. Perpaduan antara langit, awan, gunung menghasilkan pemandangan alam yang sungguh luar biasa menakjubkan. Tak henti-hentinya kami mengucap syukur akan kebesaran Tuhan.

DSCN1019

*Sumber : FB Quintessential Escape *

Kami pun beranjak pulang ketika langit sudah menggelap. Sebelum ke penginapan, kami makan terlebih dahulu. Kami memesan panganan sederhana, mie instan dengan telur. Sambil menikmati hangatnya mie, kami berbincang-bincang kembali. Tak tanggung-tanggung persoalan KPK dan operasi jantung jadi bahan perbincangan. Kami terkekeh ketika menyadari bahwa obrolan itu terlalu berat untuk malam yang santai. Suhu udara yang bertambah dingin memaksa kami untuk kembali ke penginapan. Tujuannya adalah mencari tempat yang lebih hangat.Tapi tidak dengan mbak Senja yang pulang untuk mandi.

Gue kaget ketika tahu mbak Senja memutuskan untuk mandi dengan air yang sedingin es. Bujukan kami untuk mengurungkan niatnya tak mampu membendung keinginannya untuk mandi. Guyuran air yang terdengar dari luar kamar mandi membuat gue agak gemetar. Tapi rasa penasaran untuk mandi muncul ketika melihat mbak Senja keluar kamar mandi dengan tampang biasa-biasa saja. Gue pun akhirnya memutuskan untuk mandi. Rasanya? tubuh ini seketika mati rasa ketika air menyentuh kulit gue. Ajaibnya setelah mandi, badan ini terasa lebih hangat. Lebih tepatnya suhu tubuh sudah menyesuaikan dengan suhu udara sekitar sehingga terasa lebih hangat.

Malam semakin tinggi, kantukpun mulai menghampiri. Satu persatu, teman-teman memasuki memasuki kamar untuk berisitrahat. Tinggal gue dan Mas Hardi yang betah berdiskusi. Nikmat sekali berbincang dengan sosok yang inspiratif ini. Kata-kata yang keluar dari mulutnya begitu menghipnotis sampai tak terasa sudah pukul 12 malam. Akhirnya kami memutuskan untuk beristirahat karena ada peristiwa penting yang akan disaksikan esok pagi. Melihat mentari menampakkan diri dari balik Gunung Bromo.

(bersambung)

13 thoughts on “Kabur ke Bromo… (Bag.1)

  1. Hahaha hebat mandi air dingin…….tantangan terberat saat kemarin ke Dieng aja bersentuhan dengan air tanahnya, ambil wudhu aja mesti jingkrak jingkrak nggak kuat nahan dingin air yang nyentuh kulit. *keplok keplok ke Harun*

  2. hua senjanya bagus…
    btw itu Lapindo masih belum berubah ya? Aku 4 tahun lalu ke sana, hiks miris….😥

    eh iya itu kakak tanggal 25 februarinya tahunnya kurang😛

  3. @Echa: kalau lo ke daerah pegunungan lagi, cobain deh mandi. seru tauk…hehehehe

    @Farce: *hugs*

    @Momo: sekarang tanggulnya makin tinggi, dek. Bahkan katanya udah ada kedai-kedai di tas tanggul. Sepertinya bakal ‘resmi’ jadi objek wisata deh. tsk..

    @Echy: Pulanglah, nak..😀

  4. Bromo memang luar biasa, jadi pengen ke sana lagi >.<
    Saya follow Escapeid juga Harun dan tertarik untuk ke Derawan tapi masih mikir-mikir sih🙂

    Oia, ijin follow blognya yak..

  5. Whatta wonderful stories! Memperkenalkan Bromo dengan pilihan kata-kata yg akrab. Thank you Harun, menjadi bagian manusia Indonesia yang bangga akan banyak keindahannya

  6. Bromo Tanjung Pondok Tani
    Dalam rangka Memperkenalkan ” Kawasan Tengger-Bromo” dari segala aspek, menginap di pondok tani tanjung-tosari, cukup membayar dng sukarela “tanpa tarif” (khusus untuk rombongan)
    @.kamar los + 2 km mandi luar, dapur, teras serba guna, kapst: 8 s/d 16 orang, cukup memasukkan dana “sukarela” ke kotak dana perawatan pondok pertanian.
    # untuk informasi hub per sms/tlp: 081249244733 – 085608326673 ( Elie – Sulis ) 081553258296 (Dudick). 0343-571144 (pondok pertanian).
    # Informasi di Facebook dengan nama : Bromo Tanjung Pondok Pertanian

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s