Jelajah Taman Kota Pertama

19 Februari 2012

Rasa kantuk masih menggelayut di pelupuk mata ketika gue bangun tidur. Tiga jam yang lalu gue baru saja memejamkan mata. Inginnya terus melanjutkan tidur sampai siang menjelang. Apalagi ditemani rintik hujan yang entah sudah mulai turun sejak pukul berapa. Namun, gue menyemangati diri untuk segera bersiap dan memulai hari. Pagi ini gue akan mengikuti “Jelajah Taman Kota Pertama” bersama dua sohib gue, Diah dan Farah. Acara yang diselenggarakan Komunitas Historia Indonesia ini terbuka untuk umum tanpa dipungut bayaran. Pukul setengah delapan kami diharuskan berkumpul di Museum Joang 45, Menteng untuk proses registrasi ulang.

Gedung Joang '45

Semangat gue sempat turun ketika tahu dua sohib gue  yang juga akan ikut jelajah pagi ini baru bangun ketika gue menghubungi mereka. Untungnya saja mereka mengerti gue *(suka ngomel)* dan tetap mau ikut berjelajah. Gue yang sudah rapi jali pun menunggu mereka bersiap diri dan akhirnya bertemu di tempat yang telah ditentukan. Akhirnya pukul setengah delapan kami baru berangkat dari Taman Mini. Hujanpun bukannya berhenti malah semakin deras menghujam bumi.

Sesampainya di Museum Joang 45, sudah terlihat sekumpulan orang di pelataran gedung. Kami segera mendaftar ulang ke panitia dan bersiap untuk mulai berjelajah. Ternyata, jelajahnya belum dimulai dan kami diajak untuk masuk ke sebuah ruangan untuk menyaksikan film mengenai sejarah Museum Joang 45. Asep Kambali sebagai penggiat komunitas KHI menjelaskan mengenai komunitas ini dan pentingnya sejarah buat kami. Sebelum memulai jelajah, kami diajak untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya. Yah, cukup lama gue tak menyanyikan lagu ini. Gue pun cukup senang karena masih hapal liriknya.

Setelah semangat terbakar dengan lagu Indonesia Raya, kami pun memulai jelalah ini dengan berkeliling Museum Joang 45.  Ini bukanlah kunjungan pertama gue ke museum ini. Kunjungan terakhir gue dua bulan lalu bersama Farah sudah pernah gue tulis di blog ini. Kala itu, museum sedang dalam tahap renovasi. Sekarang, museum Joang 45 sudah selesai direnovasi dan siap untuk menerima kunjungan. Bedanya lagi dengan kunjungan terakhir gue, kali ini kami ditemani seorang guide yang siap menceritakan sejarah perjuangan Indonesia. Guide kami bernama Aryo, mahasiswa penyuka sejarah.

DSCN0872

DSCN0874

Selesai berkeliling Museum Joang 45, kami bergerak menuju Mesjid Cut Meutia. Letaknya berada di Jalan Cut, kurang lebih hanya 100 meter dari Gedung joang 45. Ini juga bukan kunjungan pertama kali gue ke mesjid ini. Gue sudah beberapa kali melaksanakan ibadah di sini. Gue pun tahu kalau saf shalatnya miring *( sekitar 15 derajat)*. Dulunya gue mengira kalau memang ada kesalahan saat membangun mesjid ini dalam menentukan arah kiblat. Ternyata kemiringan itu dikarenakan bahwa bangunan ini semula memang tidak ditujukan untuk menjadi mesjid.

DSCN0877

Pada zaman pendudukan jepang, bangunan ini digunakan oleh barisan propaganda dan markas besar angkatan laut Jepang. Kemudian juga pernah digunakan sebagai kantor arsitek pengembangn menteng , kantor walikota Jakarta pusat, gedung PDAM. Pada tahun 1987, tanah ini diwakafkan oleh yonif yos sudarso dan diubah peruntukannya menjadi mesjid. Konon di sini juga  pernah dijadikan tempat penandatanganan petisi 50 yang berisikan tentang melawan kebijakan *(mantan)* Presiden Soeharto menjadikan pancasila sebagai asas tunggal partai-partai yang ada di Indonesia.

DSCN0886

Kami melanjutkan penjelajahan ini sambil ngemil gorengan dan roti Tan Ek Tjoan. Maklum, kami belum sarapan pagi sedangkan jam sudah menunjukkan hampir pukul sepuluh.  Tujuan selanjutnya adalah Gedung Eks Imigrasi. Bangunan ini didirikan pada tahun 1913. Dulu gedung ini merupakan galeri seni yang pernah memamerkan karya pelukis dunia terkenal seperti Picasso dan Van Gogh. Gedung ini dulunya adalah penanda pintu masuk dari pusat kota (Monas) menuju menteng.  Sejak merdeka hingga tahun 1998, gedung ini digunakan untuk gedung Imigrasi. Pada tahun 1998, gedung ini tak luput dari penjarahan massa. Maka sejak itu sampai tahun 2008, gedung ini kosong sampai akhirnya  dibeli hak penggunaannya oleh Buddha Bar. Namun, setelah mendapat kecaman dari berbagai pihak terkait tuduhan penistaan agama. Bar ini akhirnya tutup dan sekarang berganti menjadi Restoran Boulevard Bistro.

 DSCN0892

Kemudian kami bergerak lagi menuju Museum Jenderal Besar A.H. Nasution. Museum ini dulunya adalah tempat tinggal dari beliau sejak tahun 1949. Ketika itu beliau barulah berpangkat kolonel dan menjabat posisi Menko Hankam Kasad (atau sekarang disebut sebagai Panglima TNI). Barang-barang furniture di rumah ini masihlah seperti dahulu. Ada meja kantor di mana beliau menuliskan sekitar 70 buku karyanya sendiri. Sambil mengelilingi museum, guide kami, Pak Royen  menjelaskan kejadian penyergapan pasukan Cakra Birawa di rumah Jenderal Besar A.H. Nasution. Gue langsung terbayang dengan film yang dulu selalu ditayangkan di tanggal 30 september malam.  Disamping bangunan utama juga terdapat paviliun tempat Jenderal Pierre Tendean akhirnya ditangkap dan dibawa ke lubang buaya. Pierre Tendean disangka Jenderal AH Nasution karena kemiripan wajahnya.

 DSCN0904

DSCN0917

DSCN0920

DSCN0907

Lalu kami pun menyambangi kediaman Bapak Adolf Heuken, penulis dari buku Historical Sites of Jakarta dan lainnya. Bapak Adolf menceritakan bagaimana asrinya Jakarta tempoe doeloe seperti hal rumahnya yang asri dengan banyak pepohonan di halaman rumahnya. Setelah mendengarkan cerita beliau, kamu berjalan menyusuri Taman Suropati. Sebuah taman di kawasan Jakarta Pusat yang sangat nyaman digunakan oleh banyak masyarakat. Mereka melakukan berbagai aktivitas, mulai dari sekadar bercengkerama satu dengan lain sampai ada yang berlatih biola. Seandainya taman-taman ini banyak terdapat di Jakarta. Tentunya Jakarta akan lebih hijau, sejuk dan lebih nyaman untuk dijadikan kawasan huni.

 DSCN0928

DSCN0939

DSCN0945

DSCN0947

Kami pun akhirnya mencapai tujuan akhir yaitu Museum Perumusan Naskah Proklamasi. Museum yang didirikan sekitar tahun 1920 ini dulu terletak di Nassau Boulevard dan sekarang dikenal dengan Jalan Imam Bonjol. Di sinilah tempat Soekarno, Hatta, Achmad Soebarjo dan pemuda Indonesila lainnya merumuskan naskah proklamasi. Pada masa pendudukan Jepang, gedung ini menjadi tempat kediaman Laksamana Tadashi Maeda. Setelah merdeka, gedung ini dijadikan kantor Ausransi Jiwasraya sebelum dialihkan menjadi museum.

 DSCN0962

DSCN0961

Jam sudah menunjukkan pukul satu dan jelajah pun selesai. Semoga jelajah ini bisa menambah rasa nasionalisme gue. Juga menambah pengetahuan dan wawasan sejarah gue dan kalian yang membaca tulisan ini. Tak kenal maka tak sayang. Maka kenali dulu sejarah bangsamu ini, kelak akan kau lebih sayang pada negerimu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s