Jelajah Cina Benteng (Bag.2)

12 Februari 2012

“Deket pintu air sepuluh itu ada Laksa, asinan sayur juga ada. Enak banget, Jalan sutra kalau ke Tangerang pasti mampir ke situ”

Begitu kata Echa, ketua klub pengunyah, ketika angkot yang kami tumpangi menuju Bendungan “Pintu Air Sepuluh”. Wajah echa sontak sumringah ketika melihat bahwa pedagang laksa dan asinan ternyata berjualan. Kami pun berniat setelah mendengarkan dan melihat bendungan akan mampir ke tempat jajanan itu. Bendungan ini namakan pintu air sepuluh karena pintu airnya berjumlah sepuluh dengan lebar masing-masing 10 meter. Bangunan yang membendung sungai Cisadane ini didirikan pada tahun 1925-1931 untuk digunakan bagi keperluan masyarakat daerah sekitar Tangerang.

 DSCN0796

Setelah mengambil gambar, kami pun bersegera menuju tempat jajanan yang letaknya di seberang pintu masuk bendungan. Di bawah pohon yang rindang, tempat ini hanya menyediakan beberapa buah meja dan kayu dalam jumlah dan kualitas seadanya. Karena waktu mepet, kami hanya memesan satu piring laksa dan satu piring asinan sayur untuk kita bertiga. Karena gue tidak makan ayam dan telur, akhirnya Echa memesan laksa dengan lauk hanya tahu tempe. Rasanya enak maknyus bin ajib deh apalagi kuah kuningnya itu. Asinan sayurnya juga enak, sayurnya segar dengan bumbu kacang melimpah. Gue kurang bisa mendeskripsikan enaknya dua makanan ini tapi gue rekomendasikan bagi kalian yang mampir ke Tangerang.

 DSCN0800

Setelah selesai menghabiskan dua panganan itu, kami pun naik ke angkot yang sudah menunggu untuk berangkat ke tujuan berikutnya, Museum Benteng Heritage. Museum yang baru dibuka pada tanggal 11 November 2011 ini merupakan hasil restorasi bangunan tradisioal tionghoa pernakan yang terletak di dalam kawasan Pasar Lama, Tangerang. Sesampainya di sana, kami langsung disambut dengan makanan khas Benteng. Berhubung masih kenyang, kami langsung masuk ke dalam setelah berbincang-bincang dengan salah satu guide museum.

DSCN0802

DSCN0805

Setelah semuanya berkumpul di ruangan tengah lantai satu museum ini, kami dijelaskan sejarah museum ini oleh founder museum ini, Bapak Udaya Halim. Lalu kami diajak berkeliling lantai dua museum ini. Sayangnya kami tidak diperbolehkan untuk memotret di lantai dua. Selama 45 menit , kami dijelaskan tentang berbagai koleksi benda bersejarah yang ada di museum ini. kami dapat melihat barang-barang kuno seperti mesin hitung, sempoa, timbangan, telepon dan kompas. Lalu ada juga keramik dan batik-batik yang bermotif burung hong dari yunan. yang menarik perhatian gue, di sini  juga ada kursi lipat kaisar yang berbahan sutra dan dijahit dengan benang emas (benangnya benar-benar dicelup dalam emas dua puluh empat karat). Di lantai dua museum ini pun ada koleksi alat musik berupa kolintang yang sudah berusia 400 tahun yang terbuat dari batu dan juga tehyan alat musik perpaduan budaya betawi dan tionghoa yang biasa dimainkan di orkes yankin.

 DSCN0811

DSCN0812

Museum ini dibuka setiap hari kecuali senin. Untuk mahasiswa dan pelajar dikenakan biaya sepuluh ribu rupiah sedangkan umum dua  puluh ribu rupiah. Disediakan juga tur dengan menggunakan bahasa inggris dengan biaya lima puluh ribu rupiah. Untuk info lebih lengkap bisa dilihat di http://www.bentengheritage.com

Tak jauh dari Museum benteng heritage , sekitar seratus meter kita bisa menemukan Klenteng Boen Tek Bio. Klenteng ini merupakan klenteng tertua yang dibangun pada tahun 1684. Klenteng ini tidaklah terlalu luas dengan meja altar yang tak terlalu banyak. Humas klenteng ini menceritakan kalau klenteng ini dikenal sebagai klenteng kebajikan setinggi gunung dan seluas lautan. Ketika kami di sana, ada pengantin baru yang sedang berdoa. Humas menjelaskan bahwa tak perlu ada perjanjian terlebih dahulu dengan klenteng bagi pengantinbaru yang ingin datang bersembahyang dan menghormati leluhur di klenteng.

 DSCN0823

DSCN0829

Biasanya pada tahun naga , klenteng Boen Tek Bio dengan pihak lain akan mengadakan festival cisadane. Tahun 2012 adalah tahun naga dan festival rencananya akan digelar pada bulan oktober. Jadi mari datang kembali ke Benteng, Tangerang pada bulan oktober nanti.

Sampai Jumpa, Zai Jian..

*NB: Foto Selengkapnya bisa dilihat di sini. *

7 thoughts on “Jelajah Cina Benteng (Bag.2)

  1. Mau nambahin dikit ya Run..baru keingat hehehe Kata nyokap gue ternyata Laksa di Tangerang itu ada 2 macam, Laksa Nyai dan Laksa Nyonya.

    Laksa Nyai itu Laksa yang dibuat oleh kaum pribumi Tangerang sedangkan untuk Laksa Nyonya itu Laksa yang dibuat olek kaum peranakan Tiong Hoa di Tangerang. Bedanya apa? Gue juga belum tahu Hahahaha

  2. Kalau yang kemarin sepertinya Laksa Nyai…yang jualan Laksa asli pribumi khan? Apa perlu tanya langsung ke penjual Laksanya😀

  3. Pingback: Pulang Kampung ke Purba Sinomba « Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s