Jelajah Cina Benteng (Bag.1)

12 Februari 2012

Ketika mengikuti Jelajah Kota Toea-Pecinan-Glodok, gue sudah mengetahui kalau Komunitas Jelajah Budaya akan mengadakan Jelajah Cina Benteng.  Setelah pengumumaman jelajah ini diunggah di grup facebook KJB, gue menawarkan ke beberapa teman untuk ikut. Akhirnya yang mau dan bisa ikut hanya gue dan dua teman, Echa dan Mia. Keikutsertaan gue dijelajah ini karena tertarik dengan kebudayaan cina peranakan di Indonesia. Apalagi daerah Benteng, Tangerang merupakan salah satu pusat cina peranakan yang kebudayaannya masih dijaga sampai sekarang.

 DSCN0742

Pada hari H, gue bangun pukul setengah enam pagi dengan rasa kantuk yang masih menggelayut. Salah gue juga karena semalam begadang sampai pukul satu malam lebih. Pukul enam pagi, gue baru ada di halte Transjakarta Pinang Ranti. Hitungannya bisa dibilang telat karena seharusnya pukul tujuh lewat lima belas, rombongan jelajah akan berangkat dari stasiun kereta Kota menuju Tangerang. Echa dan Mia walau datang lebih dahulu dari gue tetap saja dikatakan terlambat karena sesampainya mereka di Museum Mandiri, rombongan jelajah sudah berangkat.

Kami pun mendaftar ulang ke panitia dan mendapatkan name tag, air mineral, roti dan kaus. Ketika panitia bilang kalau masih ada yang menunggu di stasiun Kota, kami pun bergegas menuju ke sana. Sayangnya tak ada siapapun yang kami temukan sesampainya di sana. Kami pun memutuskan untuk berangkat menyusul rombongan jelajah ke Tangerang. Untung saja ada Echa yang sudah hafal jalan menuju Tangerang. Setelah menimbang-menimbang jalur transportasi yang cepat sampai tujuan, kami memilih untuk menggunakan Transjakarta hingga Kalideres. Disambung naik angkot menuju pasar baru tempat Klenteng Boen San Bio berada.

 DSCN0741

Dengan sinar matahari yang menyengat kulit, pukul setengah sepuluh pagi akhirnya kami sampai di Klenteng Boen San Bio. Ternyata klenteng masih sepi yang menandakan rombongan jelajah dari Jakarta belum sampai. Gue melihat umat sedang membersihkan altar dan patung dewa-dewa yang sepertinya sudah agak kotor setelah perayaan imlek kemarin. Kami pun mengeluarkan kamera masing-masing dan mengambil gambar pelataran klenteng.

 DSCN0745

DSCN0748

Karena kami sungkan untuk masuk ke dalam, Echa mengajak kami untuk menyeberang jalan ke pinggiran Sungai Cisadane. Menurut perkiraan gue dilihat dari lebarnya, sungai ini bisa dilewati kapal besar. Tapi entalahlah dengan kedalamannya. Hujan yang turun di hulu sungai membuat airnya berwarna coklat keruh dengan beberapa sampah terlihat melintas. Kata Echa sih itu merupakan sampah kiriman dari hulu, bukan sampah dari masyarakat sekitar. Bantaran sungai dibuat jalan yang rapih dengan lapisan cone block. Tempatnya bersih karena Pemda melarang orang berjualan di jalan teersebut. Dengan pohon rindang serta tempat duduk yang disediakan, ini merupakan tempat yang sangat asyik untuk menghabiskan waktu melepas penat. Namun, akan lebih baik lagi ketika sungai yang kita pandang bersih dari sampah. Semoga kita semua peduli dengan lingkungan hingga kondisi ideal bisa tercapai.

 DSCN0756

Pukul sepuluh pagi, rombongan dari Jakarta akhirnya sampai juga. Kami pun bergabung dengan mereka untuk mendengarkan sedikit penjelasan dari guide jelajah. Setelah itu, kami memasuki bagian dalam klenteng. Luas klenteng ini cukup besar dibandingkan dengan klenteng  yang gue lihat di Kota. Arsitektur bangunannya cukup kompleks dan bertingkat. Serta warna-warna cerah yang beragam menyemarakkan klenteng. Klenteng pun dilengkapi dengan patu Dewi Kwan Im dalam ukuran besar.

 DSCN0776

Klenteng Boen San Bio dibangun pada tahun 1689oleh Oey Giok Koen. Yang menarik perhatian guem di dalam klenteng ini terdapat makam keramat Embah Raden Surya Kentjana. Gue baru lihat ada makam di dalam klenteng. Sayangnya gue lupa mencari tahu siapakah sosok tersebut hingga bisa dimakamkan dalam klenteng ini. Di dalam klenteng ini terdapat bagian kepala dan ekor berwarna biru dan kuning dari perahu Peh Cun yang berbentuk naga dari tahun 1940. Kemudian tepat di belakang klenteng ini terdapat pura. Ini menandakan bahwa keharmonisan antar umat beragama sudah terjalin cukup baik di kawasan ini. Semoga sampai kapanpun keharmonisan itu tetap terjaga.

 DSCN0766

DSCN0767

DSCN0779

Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas siang, umat semakin berdatangan untuk berdoa kepada Tuhan dan menghormati leluhur. Saatnya pula untuk rombongan kami melanjutkan jelajah ke tempat berikutnya. Dengan menggunakan angkutan umum yang telah disewa, kami menuju Bendungan Pintu Sepuluh.

(bersambung)

*NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

3 thoughts on “Jelajah Cina Benteng (Bag.1)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s