Pameran Batik Indonesia “Warisan yang Hidup”

5 Februari 2012

Rasa bosan menghinggapi gue di hari minggu lalu. Ingin pergi ke suatu tempat yang bisa jadi bahan tulisan blog gue. Tidak ada ide mau pergi kemana sampai akhirnya gue lihat twit teman. Dia twitpic kain batik yang sedang dipamerkan di Galeri Nasional, Jalan Medan Merdeka Barat Jakarta Pusat. Gue pun memutuskan untuk datang pergi ke Pameran Batik Indonesia “Warisan yang Hidup”pada hari itu juga. Berangkat tanpa berekspektasi terlalu tinggi, gue sampai di Galeri Nasional pada pukul dua siang. Pameran ini terletak di Gedung A. Dari depan terlihat sepi, ketika masuk gue disambut dengan ruang “Batik Wood Instalation”.

DSCN0675

Rasa ketertarikan gue mulai tumbuh ketika melihat kain batik panjang yang ditempelkan ke dinding atau tiang-tiang buatan. Disamping batik tersebut ada keterangan berupa deskripsi motif, jenis, ukuran dan tahun pembuatannya. Yang paling menarik buat gue adalah hiasan dinding “Dewi Sri” yang didesain oleh Sigit Sukasman pada tahun 1980 di Yogyakarta.

DSCN0653

Kemudian masuk ke ruangan yang lebih dalam, gue main terkesima dan tertarik dengan pameran batik ini. Di sebalah kiri pintu masuk kita dapat melihat “Batik Through The Ages”. Papan informasi yang panjang ini memberikan informasi perjalanan dan perkembangan batik dari masa ke masa. Batik adalah kain yang awalnya dibuat dengan teknik celup tradisional dalam pewarnaan. Corak batik dihasilkan dari lilin cair  yang ditorehkan melalui canting. Kemudian seiring dengan kemajuan zaman, batik tak lagi hanya ditulis melainkan dengan teknik cap dan teknik cetak. Batik merupakan warisan budaya Indonesia yang secara resmi pada tahun 2009, UNESCO telah mengukuhkan batik Indonesia sebagai “Warisan Budaya Tak Benda Bagi Umat Manusia”.

DSCN0676

Di tengah ruangan terdapat bagian “Batik Nusantara”. Di sana dipamerkan Selendang Gendongan Ikan Mas,  Sarung Kembang Peksi Delimo dari lasem dan Alas-alasan Buron Wono dari Yogyakarta. Ada juga batik cina peranakan dengan coraknya yang khas negeri cina dan warna merah sebagai warna utama.Serta batik pesisir yang kebanyakan lebih berwarna-warni.

DSCN0683

DSCN0732

DSCN0689

Sedangkan di belakang terdapat bagian Indonesian Batik “Living Heritage”.  Batik merupakah bagian dari lingkar kehidupan masyarakat khususnya di Jawa Tengah. Dari kelahiran seorang manusia di dunia hingga kematian menjemputnya tak lepas dari batik dalam upacara adat yang mereka laksanakan. Tak sembarang batik bisa dipakai oleh tiap orang. Misalnya saja motif Parang yang hanya bisa dipakai oleh keluarga keraton.

DSCN0691

DSCN0701

DSCN0734

Kemudian memasuki ruangan di sebelah kanan, gue melihat tiga bagian pameran batik. Bagian pertama adalah Iwan Tirta “Pioneer of Modern Batik”. Ini merupakan bagaian favorit gue karena terlihat paling etnik dan mewah. Iwan Tirta merupakan pahlawan batik. Karena atas jasanya juga, batik Indonesia semakin dikenal luas di dunia internasional. Batik tak hanya digunakan sebagai pakaian tapi bisa digunakan sebagai bahan dasar tas. Bahkan coraknya bisa diaplikasikan juga pada keramik atau barang gerabah.

DSCN0712

DSCN0726

DSCN0716

Di bagian belakang ruangan ini terdapat bagian “Clean Batik Initiative”. Industri batik kini memang merupakan salah satu industri penghasil emisi CO2, penggunaan listrik yang berlebihan dan penggunaan bahan-bahan kimia yang berbahaya bagi makhluk hidup. Dengan adanya inisiatif ini, diharapkan proses pembuatan batik lebih ramah lingkungan.

DSCN0718

Terakhir ada bagian “European Batik Artist”. Batik ini merupakan karya dari desainer eropa. Yang gue lihat, coraknya begitu berbeda dengan apa yang kita punya. Corak batik mereka terlihat lebih ‘bebas aturan’, tentunya dengan teknik pengerjaan yang berbeda.

DSCN0723

Acara pameran batik ini didukung oleh JERIN (atau Jerman Indonesia). Sebegitu pedulinya bangsa luar dengan kebudayaan Indonesia. Bagaimana dengan kita sebagai rakyat yang mengaku sebagai bagian dari bangsa  Indonesia. Jangan sampai warisan budaya ini menghilang, mari tunjukkan kalau kita peduli. Cara yang mudah dilakukan adalah mengunjungi  pameran ini untuk mengenal lebih baik batik Indonesia. Masih ada waktu untuk yang di Jakarta karena pameran ini diperpanjang hingga 14 Februari 2012. Untuk yang di Solo akan diselenggarakan 13-19 Februari 2012.

Yuk, tunjukkan kalau kita peduli..

*NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini. *

*NB 2: Tambahan tulisan ini untuk menanggapi komentar Farah yang pertama di postingan ini. Jujur, saat gue mampir ke pameran ini, pengunjungnya cukup ramai. Bahkan lebih ramai bila dibandingkan dengan dua pameran sebelumnya yang gue kunjungi (Pameran Sand Sculpture dan Pameran Ilustrasi Buku Anak). Pengunjungnya mulai dari anak-anak hingga opa oma yang kesemuanya terlihat menikmati. Bahkan ada yang memanfaatkannya untuk foto ‘pre-wedding”. Warga Negara Asing juga terlihat beberapa yang datang. Sayang gue tidak bisa menunjukkan kepada kalian buktinya. Foto pengunjung yang gue ambil hampir semuanya blur. Belum bisa menyatu nih antara gue dan kamera baru. Tapi ada satu yang gambarnya lumayan, dua gadis remaja yang berfoto ria di bagian “Iwan Tirta” collection:

DSCN0709

7 thoughts on “Pameran Batik Indonesia “Warisan yang Hidup”

  1. Sumpah, pengunjungnya rame. Gue fotoin mereka juga, tapi fotonya kebanyakan blur yang ada menungso-nya..

    Eh, ada satu kayaknya yang bagus.. gue tambahin deh tulisannya..

  2. Gile, kalo cuma karena komentar gue aja si empunya blog jadi ngupdate tulisan, pastilah gue memiliki pesona sedemikian rupa untuk memengaruhi seseorang. *siap-siap tebar pesona*

  3. *ngakak baca komen di atas*

    Eh tapi menurut gue, menikmati pameran batik itu lebih enak kalau nggak pakai ramai lho…biar bisa puas mandangin motif batik yang beraneka ragam, plus memahami makna dari setiap coraknya. Serasa dibawa ke mana……🙂

  4. gak ada foto narsisnya ya Run? hehe kudunya kayak Echa, manfaatin fasilitas timer kamera😀 Btw, fotonya bagus2.. Btw lagi, penasaran ni, kenapa ganti kamera? bukannya yang lama juga masih terhitung baru yah😀

  5. @Farah: *terpesona*

    @Echa: Ya nggak serame pasar inpres sih, cha.. Ya tapi cukup ramelah sampai kalau mau foto tanpa ada orangnya di sekitar kita tuh butuh waktu yang lama. Tapi ya kalau sepi kan sedih juga, cha. Kesannya nggak ada yang peduli.. Eh, gue disana sejam lebih lho.. padahal ruangannya nggak gede-gede amat..

    @Iyut: Udah nggak gitu narsis, mbak. Jadi jarang juga di kameraku ada fotoku. Kamera Sony ku ilaaaaaaaannnggggg….huhuhuhuhuhu…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s