Jelajah Kota Toea – Pecinan – Glodok

22 Januari 2012

Sejak melihat foto teman-teman gue ketika ikut kegiatan Komunitas Jelajah Budaya dalam tema Imlek tahun lalu, gue meniatkan hati untuk ikut serta jika diselenggarakan lagi. Tahun ini Imlek pun datang kembali dan gue sudah merepotkan teman untuk mencari tahu apakah akan diselenggarakan kegiatan jelajah imlek lagi. Gue juga join di grup facebook Komunitas Jelajah Budaya untuk memantau kegiatan mereka. Akhirnya ada pengumuman di grup kalau akan diadakan Jelajah Kota Toea “Imlek di Pecinan-Glodok” pada tanggal 22 Januari 2012. Gue pun mengajak teman-teman gue via twiiter untuk ikut serta. Akhirnya terkumpul 8 orang termasuk gue yang akan ikut berjelajah.

Kami bersepakat untuk berkumpul di Museum Mandiri, Jalan Lapangan Stasiun No.1  Jakarta Barat pukul setengah tiga sore. Kami datang satu jam sebelum acara dimulai karena kita ingin menjadi anggota kelompok pertama yang berangkat. Kata teman gue, kelompok pertama punya waktu yang lebih lama untuk berjelajah. Dengan berkaus merah (dress code jelajah ini, merah merupakan salah satu warna khas imlek yang menyimbolkan keriangan), kami akhirnya berkumpul pada waktu yang telah disepakati. Ternyata pendaftaran ulangnya belum dibuka oleh panitia. Sambil menunggu dibuka kami ngobrol dan foto-foto terlebih dahulu.

DSCN0317

DSCN0320

Pukul setengah empat, kami mendaftar ulang ke panitia. Kami diberikan name tag, selebaran acara, satu botol air mineral dan roti buaya mini. Kami sendiri masuk dalam kelompok Cheng Ho.

Pukul empat kami sudah dikumpulkan dan kelompok Cheng Ho mendapat seorang guide bernama koko Jimmy.

DSCN0332

Di awal keberangkatan, sarjana ekonomi penyuka sejarah ini menjelaskan kalau imlek adalah sebuah perayaan menyambut musim semi di negeri Tiongkok. Budaya ini sampai di bumi Indonesia oleh penduduk Tiongkok yang berimigrasi ke sini ratusan tahun lalu. Setelah mendapat penjelasan singkat tentang Imlek,  kami dibawa untuk menuju taman Museum Mandiri untuk menyaksikan pertunjukan Barongsai.

Koko Jimmy, yang dulunya pemain barongsai juga mengatakan bahwa barongsai itu meniru gerak singa. Barongsai itu bermacam-macam jenisnya sesuai daerah dan suku. Untuk daerah Utara, ornament dan pakaiannya tertutup. Sebaliknya untuk daerah Selatan, seperti yang kami saksikan saat itu. Katanya ada mitos kalau mencabut janggut barongsai akan mendapatkan hoki. Tapi sekali lagi itu mitos, jadi jangan dicoba-coba deh ya. Diiringi musik tetabuhan, Barongsai tambah semangat beratraksi ketika ada penonton yang memberikan angpao.

DSCN0342

DSCN0344

Kami melanjutkan perjalanan kami untuk melihat arsitektur Cina yang masih ada di beberapa bangunan rumah. Kami melalui Pintu Kecil, yang merupakan pintu untuk bangsa melayu dan tionghoa ketika memasuki benteng Kota Batavia. Di bangunan tua yang dikunjungi, kami dapat melihat corak-corak khas Cina seperti gambar dewa-dewa. Juga hiasan bunga krisan jeruk sebagai lambing keberkahan. Bangunan-banguanan lama tersebut biasanya memiliki tiang penyangga dan menggunakan pasak penghubung bukannya paku. Kami pun sempat melihat ada guci di atap rumah. Katanya sih berkaitan dengan letak rumah tersebut yang berada di posisi tusuk sate. Koko Jimmy mengatakan bahwa fengshui dan hongshui sebenarnya logis dan bukan klenik. Tapi gue luput mendengarkan penjelasan logika menaruh guci di atap rumah tersebut.😀

DSCN0350

DSCN0352

DSCN0349

Kami pun sempat melihat rumah Keluarga Souw yang dulunya adalah konglomerat Batavia. Rumahnya cukup megah jika dibandingkan rumah-rumah yang kami lihat sebelumnya. Sayang kami tak bisa melihat ke dalamnya. Tapi koko Jimmy punya buku yang ada gambar isi rumah ini, beberapa peninggalan keluarga yang masih terjaga. Katanya kalau mau lihat isinya bisa jadi pasien dokter gigi yang sekarang buka praktek di rumah tersebut. *langsung daftar*

DSCN0355

DSCN0354

Kemudian kami menuju Kelenteng Toa Sai Bio. Dinamakan begitu karena dewa yang dipuja adalah Toa Sai kong atau Paduka Duta Besar dan belakangan berubah menjadi Toa Sai Bio. Menurut koko Jimmy, kelenteng merupakan tempat pemujaan leluhur orang cina dan dewa-dewa. Di dalamnya tidak bisa diasosiasikan dengan agama tertentu seperti  Konghucu, Tao ataupun  Buddha. Ada banyak umat yang sedang berdoa dalam kelenteng ini sehingga asap dupa terasa menyengat.

DSCN0356

DSCN0363

Setelah puas berkeliling, kami melanjutkan perjalanan menuju Gereja Maria de Fatima. Gereja dengan arsitektur cina yang kental ini dulunya merupakan tempat tinggal kapiten cina di Batavia. Saat kami di sana, kebetulan sedang ada misa. Misa dilakukan dalam bahasa Indonesia dan Mandarin.

DSCN0377

DSCN0376

Tujuan terakhir kami adalah Kelenteng Jin de Yuan. Kelenteng ini merupakan kelenteng tertua di Jakarta yang dibangun pada tahun 1650. Tahun 1740, kelenteng ini terbakar. Baru pada tahun 1755 membangun kembali Jin De Yuan atau Kim Tek Le yang berarti Kelenteng Kebajikan Emas. Sama seperti di Toa Sai Bio, banyak juga umat yang sedang berdoa. Namun di sini jumlahnya lebih banyak. Dikarenakan juga altar yang sangat banyak, sebagian besar hasil dari sumbangan umat. Tak lupa lilin-lilin besar yang biasa disebut lilin panjang umur yang bisa bertahan menyala selama berbulan-bulan. Di sini asap dupanya sangat pekat sehingga membuat mata menjadi perih. Sehingga pengurus kelenteng biasanya menggunakan kacamata renang untuk mengatasinya.

DSCN0379

DSCN0381

Keluar kelenteng kebajikan emas, langit sudah menguning  tanda senja telah tiba. Kami bergerak menuju titik awal, Museum Bank Mandiri. Diiringi suara adzan maghrib yang mengalun di kota pecinan kami melangkah. Semoga keragaman budaya ini menjadi pupuk-pupuk kedamaian bangsa kita. Dan tahun Naga Air ini menjadi tahun penuh keberkahan untuk kita semua.

Xin Nian Kuai Le, Gong Xi Fa Cai.

NB: Foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

8 thoughts on “Jelajah Kota Toea – Pecinan – Glodok

  1. Rutenya hampir sama dengan Cap Go Meh 2010, sepertinya ada satu klenteng yang gak dikunjungi di jelajah ini. Bagaimana pun juga tetap seru karena jalan bareng kalian semuaaa *grouphugs*

  2. iya bener, tentang guci memang dijadikan untuk penyeimbang elemen antara bumi, air, angin. sama seperti kegunaan cermin cembung di depan rumah. Itu untuk sirkulasi cahaya matahari.😀

    kita jelajah lagi yuks😀

  3. Pingback: Jelajah Cina Benteng (Bag.1) « Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s