Perkemahan Malam Tahun Baru ‘”Pulau Malinjo” (bag. 2)

31 Desember 2011 – 1 Januari 2012

baru merapat*sumber: http://www.flickr.com/photos/49202608@N07/ (Ijul)*

Setelah empat jam perjalanan yang ‘memabukkan’ dari pelabuhan Muara Angke, akhirnya sampai juga kami ke Pulau Harapan. Pulau ini merupakan tempat singgah sebelum kami melanjutkan perjalanan kami menuju Pulau Malinjo. Ketika perahu mulai merapat di dermaga, gue melihat deretan rumah sederhana di pinggir pantai dan  pantulan sinar matahari di air pinggir pantai yang bersih dan bening.

gerbang pulo harapan*sumber: http://www.flickr.com/photos/49202608@N07/ (Ijul)*

Pulau Harapan merupakan sebuah kelurahan di Kecamatan Kepulauan Seribu Utara bersama dengan Pulau Panggang dan Pulau Kelapa. Penduduknya mencari nafkah dari mencari ikan, menjual anyaman bambu penangkap ikan, berdagang di toko kelontong dan tentu saja menjual jasa pariwisata. Jika ingin menginap, di pulau ini terdapat beberapa rumah yang digunakan sebagai penginapan umum.

Gue berkesempatan untuk berkeliling ke dalam lingkungan Pulau Harapan. Ternyata, lingkungan di sini bersih sekali. Ini menandakan bahwa penduduknya sangat peduli dan menjaga kebersihan lingkungan mereka. Mereka sangat ramah menanggapi pertanyaan gue ketika di warung dan menyapa ketika bersisian jalan. Ada semacam dialek yang gue dengar ketika berbincang dengan mereka. Setelah gue tanya Githa*pendamping perjalanan kami*, ternyata penduduk di sini memang mayoritas Suku Bugis. Wah, kalau dipikir-pikir jauh sekali ya mereka berlayar dari selatan Sulawesi sampai ke utara Jakarta sini. Memang, nenek moyang kita seorang pelaut. Bukan sembarang pelaut, tapi pelaut yang tangguh. * ngasih dua jempol sambil nyanyi lagu nenek moyangku seorang pelaut*

Githa mengatakan bahwa listrik di pulau ini hanya mengalir dari jam 5 sore sampai jam 7 pagi. Hal ini mungkin untuk menghemat energi listrik. Menurut gue ini akan berdampak positif pada penduduk pulau ini. Karena tiadanya listrik, mereka bisa menggunakan waktunya lebih produktif. Juga mempunyai waktu yang lebih banyak untuk berinteraksi antara satu dengan lain.

Githa yang sudah beberapa kali menginap di sini mengatakan bahwa Pulau Harapan memang tempat yang cocok untuk melepaskan penat. Sepertinya kehidupan berjalan lebih santai di sini. Bahkan kata ijul, kalau saja di sini ada Mal, dia akan betah tinggal di sini. Hehe, mudah-mudahan sih jangan sampai ada. Karena menurut gue akan berdampak negatif pada penduduk pulau. Mereka akan mempunyai sikap konsumtif dan individualis yang membuat mereka tak akan bersahaja seperti sekarang.

DSC02611

Untuk melanjutkan ke Pulau Malinjo, kami akan meneruskan dengan perahu kecil. Karena jumlah anggota rombongan kami cukup banyak maka diperlukan dua kali antar. Seharusnya sih gue masuk kloter pertama bersama anggota rombongan laki-laki lainnya. Kita akan mendirikan tenda terlebih dahulu sesampainya di Pulau Malinjo. Tapi karena gue agak lama ke toiletnya, alhasil gue ditinggal oleh mereka. Ya tidak apa-apa juga sih, gue jadi punya waktu untuk berkeliling dan mengambil beberapa gambar *diah sih yang gue suruh moto*. Berikut beberapa gambar yang berhasil diabadikan:

DSC02619

DSC02616

Setelah membeli barang kebutuhan untuk berkemah dan berganti baju untuk berenang, kami menunggu datangnya perahu yang kembali dari Pulau Malinjo. Ternyata agak lama juga datangnya sampai kami tidur-tiduran dulu di dermaga. Sempet iri juga ketika tahu mereka yang telah sampai duluan snorkeling duluan. Akhirnya perahu kecil itu datang juga dan berangkatlah kami. Hembusan angin saat itu sangatlah kencang. Ombaknya pun cukup tinggi. Perahu kami dibuat terombang-ambing seperti yang kami rasakan ketika menaiki perahu dari Muara Angke ke Pulau Pramuka. Tapi ini jauh lebih mengerikan karena air laut dekat sekali jangkauannya. Ketika ombak menabrak perahu kami *atau sebaliknya perahu kami yang menabrak pulau* cipratannya sampai ke tubuh kami. Ya sebenarnya enggak bisa dibilang cipratan juga sih karena badan kami kuyup dibuatnya.

go to malinjo *sumber: http://www.flickr.com/photos/49202608@N07/ (Ijul)*

Selain menyeramkan karena ombak tinggi, sebenarnya perjalanan dari Pulau Harapan ke Pulau Malinjo menyuguhkan pemandangan yang indah. Kami melewati beberapa pulau yang dikenalkan namanya satu-satu oleh Githa ke gue *tapi sekarang  sih gue udah lupa semua namanya*.  Kita juga sempat melihat pulau kecil yang hanya berisi pasir putih. Lucunya ada burung camar laut yang berdiri tegak tak bergerak persis seperti patung. Gue pun melihat ada ikan terbang. Sayang itu semua tidak bisa diabadikan oleh kamera karena puny ague tidak tahan air. Kurang dari sejam, akhirnya kami sampai ke Pulau Malinjo. Ya, kalau gue lihat-lihat memang sepertinya pulau ini tak berpenghuni.

DSC02710

Tenda sudah selesai berdiri dan tumpukan kayu untuk api unggun telah selesai dibuat ketika kami sampai. Nantinya satu tenda akan diisi oleh lima orang. Kebetulan anggota Geng Rempong ada lima orang, akhirnya kami memilih untuk satu tenda bareng. Kelihatannya sih tendanya kecil tapi ternyata muat juga untuk lima orang. Selesai memebereskan barang di dalam tenda, kami dikumpulkan untuk di-brief terlebih dahulu tentang kondisi pulau Malinjo. Oya, ternyata di sini ada satu rumah dan penghuninya seorang bapak. Sayangnya gue belum sempat berkenalan sampai akhir gue meninggalkan pulau itu *sampai sekarang gue menyesal banget kalau ingat nggak sempet ngobrol*. Padahal gue ingin menanyakan padanya bagaimana pengalamannya tinggal di sini seorang diri. Tanpa listrik sehingga semua dilakukan secara tradisional dan berbagai hal yang pasti tak terbayangkan oleh gue.

Dikarenakan cuaca yang kurang bersahabat, kami yang sedianya akan snorkelilng sesampainya disini akhirnya batal. Tapi karena bajunya sudah terlanjur basah. Geng rempong dan juga beberapa teman lainnya memutuskan untuk pergi ke sisi lain dari pulau ini yang pantainya landai. Pasirnya putih dan airnya yang jernih menggoda gue untuk segara menyeburkan diri ke sana. Ternyata tak hanya gue yang tak sabar untuk segera bermain air, teman-teman gue sudah duluan. Hehehe.. siapa sih yang sanggup menahan godaan pasir putih dan air laut yang jernih.

DSC02624

DSC02631

DSC02685

DSC02699

DSC02656

Cukup lama juga kita bermain di pinggir pantai, hinggat tak terasa senja pun menyapa. Akhirnya kami duduk-duduk di pinggir pantai sekedar menikmati hembusan angin dan langit yang mulai menjingga. Ada saat-saat hening dimana kami berkutat dengan pemikiran sendiri. Mungkin merenungi apa yang sudah dijalani selama tahun 2011. Tahun yang sebentar lagi akan berakhir dan berganti menjadi 2012. Namun sebelum itu terjadi, kami akan melewati malam pergantian tahun di pulau ini. Malam spesial yang nantinya akan kami ingat sepanjang hidup kami.

menikmati senja*sumber: http://www.flickr.com/photos/49202608@N07/ (Ijul)*

DSC02676

(bersambung)

4 thoughts on “Perkemahan Malam Tahun Baru ‘”Pulau Malinjo” (bag. 2)

  1. Pingback: Malas-malasan di Pulau Macan | Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s