Perkemahan Malam Tahun Baru ‘”Pulau Malinjo” (bag. 1)

31 Desember 2011- 1 Januari 2012

Dua impian gue di 2011 yaitu Naik ke pelataran puncak Monas dan Mengunjungi  Sea World Indonesia sudah terlaksana. Tersisa impian terakhir yang belum terlaksana yaitu mengunjungi salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Sebagai penduduk yang lahir dan besar di DKI Jakarta, gue belum pernah menjejakkan kaki di sana. Padahal Kepulauan Seribu merupakan bagian dari DKI Jakarta. Banyak teman yang bilang kalau pulau-pulau di Kepulauan Seribu memiliki pemandangan alam yang indah,. Pantainya berair jernih dan udaranya segar. Lain sekali dengan Jakarta daratan yang udaranya sudah terkontaminasi polusi cukup parah.

*sumber : beritapulauseribu.com *

Gue pun bercerita dengan teman-teman dekat tentang impian gue tersebut. Seakan Tuhan mendengar dan menjawab impian gue. Malam itu gue melihat twit Farah kalau dia berkeinginan untuk pergi bermalam tahun baru ke Pulau Malinjo, salah satu pulau di Kepulauan Seribu. Kemudian, gue mencari tahu tentang perjalanan tersebut di facebook. Penyelenggaranya adalah Travel Addict. Gue pun memutuskan ikut serta dalam perjalanan tersebut. Walau pada awalnya Farah tidak diperbolehkan ibunya, akhirnya disetujui juga karena bareng gue dan teman yang lain. Ya, kami juga mengajak Diah, Ayu dan Ijul untuk turut serta. Ketiganyapun ternyata mau ikut. Yippie..Akhirnya Geng Rempong akan berpetualang bersama..

Mengapa Geng Rempong? Karena kami rempong alias repot bin ribet menghadapai perjalanan kali ini. Gue sendiri tidak membayangkan sebelumnya kalau akan ikut berkemah. Dengan bodohnya gue membayangkan akan tidur di sebuah bangunan. Ya ampun, namanya juga kemah ya pasti di tenda dong ya. Maklum saja, gue terlalu excited jadinya tidak berpikiran jernih *pembenaran :p *. Sudah begitu, ternyata pulau tempat kami berkemah adalah pulau tak berpenghuni. Makin deg-degan sekaligus bersemangat deh menunggu hari H-nya.

Jujur saja, jangankan mendirikan tenda dengan pasak-pasaknya itu, untuk tali temali saja gue tidak mumpuni.  Gue  terakhir berkemah itu ketika kelas 3 SMA saat ada Latihan Dasar Kepemimpinan Siswa dalam rangka OSIS. Itupun di Bumi Perkemahan Cibubur yang penerangannya cukup memadai, jalannya beraspal dan tersedianya air bersih. Tenda juga memang sudah disiapkan dan makannya pun nasi kotak. Nah, kemah gue nanti akan berbeda jauh pastinya. Errrrr, jadi gimana nasib gue nantinya ya.

Itu baru soal mendirikan tenda, belum lagi kehebohan teman-teman gue yang lain. Sebut saja Farah dan Diah yang ribet mikirin gimana nanti kalau mau buang air kecil *kalau di laut, entar takut digigit hiu katanya. hadeh ada-ada aja*. Ribet soal sleeping bag yang tak ada satupun dari kita yang punya. Kalau kata Ijul, mending beli aja daripada minjem. Soalnya kan itu barang personal, mana kita tau kalo yang punya nggak aneh-aneh di dalemnya. Deuh Ijul, kepikiran aja sampe situ *dan pada akhirnya dia minjem juga loh, bukannya beli -__-“ *.  Ijul juga ribet mau bawa indomie, merica dan entah bahan makanan apa lagi. Farah dan Ijul yang bingung gimana caranya snorkeling dan kehebohan-kehebohan lainnya. Untung saja Githa *dedengkotnya travel addict* dengan sabar menjawab pertanyaan-pertanyaan heboh kami. Waktu itu sih gue mikirnya: “Kasihan Githa, dapat peserta lima orang, rempong semua. Hehehehe…”

Kamipun disuruh berkumpul di Pelabuhan Muara Angke di Jakarta Utara pukul 5.45 pagi. Gue, Farah dan Diah janjian bertemu pukul setengah 5 di tamini square *tentu saja di luarnya, kalau tamininya sih belum buka :p *. Sedangkan Ijul dan Ayu akan berangkat berdua dari kosan mereka yang berdekatan. Jam segitu saja buat kami sudah sangat pagi sekali, ujuk-ujuk  Githa memberitahukan kami untuk lebih cepat kumpul yaitu jam 5.30 pagi. Mempertimbangkan ketidaktahuan akan lokasi Muara Angke, kami memutuskan untuk berkumpul jam 4 pagi di pool burung biru di hek.

Pada hari H, masih dalam keadaan mengantuk, kami berkumpul di tempat janjian dengan ditemani hujan rintik-rintik *masih mending sih ngantuk, daripada Ijul yang enggak tidur sama sekali karena takut ketiduran*. Ternyata perjalanan dari taman mini ke muara angke tak begitu lama, sekitar jam 5lewat kami sudah tiba. Mungkin karena masih pagi juga, jalanan pun masih kosong. Sesampainya di sana, sudah banyak orang di pom bensin. Kelihatannya mereka seperti kami, yakni akan menghabiskan malam tahun baru di salah satu pulau di kepulauan seribu.

Setelah beribadah, kami melewati lorong becek yang mengarahkan kami menuju dermaga. Tak terlalu sulit menemukan perahu yang akan kami naiki yaitu perahu Dolphin. Sempat agak kaget melihat perahu yang akan membawa kami ke tempat tujuan. Perahu dari kayu dengan ukuran tidak terlalu besar dan terdiri dari 2 lantai. Kami menempati lantai atas yang untuk berdiri tegak saja tidak bisa dan harus menunduk. Kami pun langsung mencari posisi duduk. Beginilah tampang Diah, Farah dan Ijul yang masih cerah ceria kala itu.

DSC02589

Sejam kami menunggu hingga perahu yang kami tumpangi penuh. Rombongan kami sendiri terdiri dari 22 orang. Sungguh penumpangnya padat merapat. Penampakannya seperti sekumpulan imigran ilegal yang kabur dari kampung halaman karena perang. hehehe… Perahu Dolphin akan membawa kami ke Pulau Pramuka terlebih dahulu sebelum ke tempat tujuan kami, Pulau Harapan. Di awal perjalanan, semua masih sumringah dan terdengar suara tertawa dari berbagai sudut. Sampai akhirnya belum setengah perjalanan, perahu kami diombang-ambingkan ombak besar. Rasanya jauh lebih mencekam daripada naik kora-kora di Dunia Fantasi. Kalau kora-kora bergoyang dua arah (depan-belakang), sedangkan perahu yang kami naiki bergoyang ke segala arah.

Guncangan kapalnya luar biasa dahsyat. Mulailah banyak penumpang yang mengalami pusing dan mual. Tak perlu menunggu lama untuk mendengar dan melihat penumpang mengeluarkan isi perutnya. Gue sebenarnya bukan orang yang mudah mabuk laut. Tapi karena udara yang pengap dan melihat banyak orang mabuk dan teler, gue pun akhirnya ikutan mual. Karena takut muntah, akhirnya gue paksakan untuk merebahkan diri. Enggak peduli kaki orang ada di wajah gue, yang penting bisa tidur. Syukurlah, sesampainya di Pulau Pramuka, gue masih bisa bertahan tanpa muntah. Begitu juga dengan anggota Geng Rempong yang lain. Horeee, kereeeennn…

Di Pulau Pramuka, sebagian besar penumpang turun sehingga menyisakan banyak tempat bagi kami yang menuju Pulau Harapan. Udara tak lagi pengap sehingga bisa bernapas dengan lebih lega. Perjalanan kami menuju Pulau Harapan juga tidak terlalu menyeramkan karena ombaknyapun tak setinggi tadi. Mungkin bisa menjadi tips untuk lain kali jika ingin mengunjungi Kepulauan Seribu, pilihlah waktu pada musim kemarau. Sehingga laut akan lebih tenang dan ombak tak terlalu tinggi. Kemudian bepergian pada saat hari kerja juga lebih baik karena penumpang perahu tidak akan berdesakan. Kalau ternyata mudah mabuk laut, minumlah Antimo* iklan berbayar* sebelum perjalanan dimulai. Sebenarnya itu seperti obat tidur saja, sehingga selama perjalanan anda tidak akan begitu merasakan goyangan kapal.

Akhirnya setelah melewati pertualangan yang menyeramkan dan membuat gue berkali-kali berdoa mohon keselamatan, sampai juga kami di Pulau Harapan.

DSC02600

Perjalanan ke Pulau Harapan yang tadinya direncanakan tiga jam akhirnya memakan waktu hingga empat jam. Tak apalah setidaknya kami selamat sampai sini. Terlihat wajah lega di semua anggota rombongan kami. Bahkan teman saya Diah dan Farah masih sempat berfoto dengan wajah sumringah di dermaga Pulau Harapan.

DSC02597

Kami tak akan lama di sini, karena Pulau Harapan hanyalah tempat transit sebelum menuju tempat kami berkemah, Pulau Malinjo. (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s