Museum Nasional – Museum Joang ’45

24 Desember 2011

Setelah puas mengunjungi Monumen Nasional kami berjalan menuju Jalan Medan Merdeka Barat. Pukul sembilan lima belas, kami sampai juga di Museum Nasional atau yang biasa dikenal dengan Museum Gajah. Pemberian nama ini karena  di depan gedungnya ada patung gajah. Patung ini merupakan pemberian dari Yang Mulia Somdej Praparamintramaha Chulalongkorn. Raja Siam yang mengunjungi kota Batavia pada bulan Maret 1871 M.

DSC02292

Di pintu masuk, kami menitipkan tas yang dibawa. Tak lupa membeli tiket masuk seharga Rp 5000. Sedangkan tiket masuk untuk anak-anak seharga Rp 2.000 dan wisatawan mancanegara seharga Rp 10.000. Di pintu masuk, anda juga bisa membeli buku panduan. Sayangnya harganya cukup mahal yaitu 10 dollar amerika atau setara dengan Rp 80.000. Untuk biaya pemandu, gue kurang tahu, Tapi ada tur gratis dalam beberapa bahasa asing.

Jadwal tur Gratis Museum Nasional

Di dalam Museum Nasional ini terdapat dua gedung yaitu Gedung Gajah dan Gedung Arca. Pertama, kami memasuki Gedung Gajah terlebih dahulu. Gedung Gajah ini terbagi dari enam ruangan pameran koleksi yaitu sejarah, etnografi, geografi, pra sejarah, arkeologi dan numismatic/heraldic&keramik asing. Ketika masuk Gedung Gajah, kami melihat berbagai patung dan arca.

Arca seperti di Candi Borobudur*patung seperti yang ada di Candi Borobudur*

Ratu Sihita*Ratu Sihita*

Brahma*Brahma*

Taman Arca*Taman Arca*

Melihat patung-patung dengan detil pahatan yang luar biasa, Farah pun berujar “ Gila ya orang dulu, mahat batu ampe segitunya. Niat Abis!”, hehehehe… Kemudian kita masuk ke Ruangan Pameran Koleksi Etnografi yang berisikan benda-benda kebudayaan dari suku-suku di seluruh penjuru Indonesia. Banyak benda-benda menarik, di antaranya:

Patung Nenek Moyang*Patung Nenek Moyang masyarakat Tanimbar, Kabupaten Maluku Tenggara Barat. Patung ini digunakan untuk mengenang individu yang sudah meninggal. Terkadang gigi matanya dihias dengan kulit kerang*

Perahu Asmat*Perahu Asmat memiliki panjang 2.5 – 5 meter.Perahu ini bisa ditumpangi 5-6 orang.Perahu biasanya dihias dengan ukiran belalang sembah/manusia yang melambangkan nenek moyang.Ukiran di sisinya berupa motif spiral yang menggambarkan binatang kuskus*

Topeng Pelepah Sagu*Topeng Pelepah Sagu dari Papua. Topeng ini menggambarkan arwah nenek moyang yang digunakan untuk menari/pantomim dalam pertunjukan inisiasi*

Rumah Adat Batak Toba*Model rumah tinggal Suku Batak Toba*

Ketika melihat anting-anting yang dipakai oleh wanita di berbagai daerah, Farah kembali berujar “ Orang-orang Indonesia seneng banget nyiksa diri deh”, xixixixixi..itu karena antingnya besar dan terlihat berat. Lalu kami masuk ke Ruangan Pameran Koleksi Keramik. Kalau saja nyokap gue melihat koleksi keramik ini, pasti deh mau dibawa pulang. Ahahahaha..

Keramik*Porselin Kraak ini diekspor ke Eropa pada Periode Raja Wanli (1573-1619M). Di Indonesia ditemukan di Pasar Ikan(Jakarta) dan Banten*

Kami juga melihat berbagai benda dulu hanya kami tahu lewat buku sejarah di masa sekolah. Seperti Nekara dan Sarkofagus.

Nekara

Sarkofagus

Di lantai dua, ada koleksi perhiasan dari zaman kerajaan. Ada yang terbuat dari emas, perak dan perunggu. Kemudian berhiaskan batu-batu permata. Sayangnya di ruangan ini tidak boleh mengambil foto sehingga gue tak bisa menunjukkan apa yang gue lihat. Gue menyimpulkan bahwa suku melayu baik yang tinggal di Sumatera ataupun Kalimantan memiliki perhiasan yang lebih mewah dan beragam dibanding suku lainnya.

Setelah itu kami beralih ke Gedung Arca. Dengan empat lantai, Gedung ini sebagian besar berisikan koleksi seperti di Gedung Gajah. Beberapa benda menarik yang gue temukan adalah:

DSC02286*Mongolid dari Song Keplek. Terkubur bersama spatula.

DSC02288*Keteklek atau Gamparan yang berasal dari Jawa Tengah dan Jawa Timur*

DSC02290*Prasasti Mulawarman*

Museum Nasional ini sangat cocok sekali untuk belajar tentang sejarah dan kebudayaan. Tak salah kalau banyak sekolah yang mengajak muridnya untuk mengunjungi museum ini. Yang perlu ditambahkan dari museum ini adalah penambahan pemandu yang bisa menjelaskan tentang koleksi museum ini. Untuk informasi lebih lengkap mengenai Museum Nasional dapat mengunjungi situs resmi mereka di http://www.museumnasional.or.id/

Tak terasa waktu bergulir dengan cepat. Sehingga gue dan Farah harus melanjutkan perjalanan kita ke museum berikutnya. Terlebih dahulu kami berjalan kaki menuju Jalan Medan Merdeka Timur untuk mampir ke Galeri Nasional. Di sana sedang ada pameran Jakarta Biennale #14. Namun, pamerannya akan gue laporkan di postingan yang berikutnya saja karena materinya yang cukup banyak.

Setelah beribadah di Galeri Nasional, kami menuju Museum Joang ’45 atau Gedung Joang ’45 yang terletak di Jalan Menteng Raya 31. Gedung Joang ’45 ini dulunya adalah hotel yang didirikan oleh keluarga “L.C. Schomper” di zaman pendudukan Belanda pada tahun 1920-an. Sekarang Gedung Joang’45 sedang dilakukan renovasi tetapi masih bisa dikunjungi.

DSC02359

Sebelum masuk gedung, kami menitipkan tas bawaan dan membayar tiket masuk seharga Rp 2.000. Gue menanyakan apakah boleh memotret. Bapak petugasnya menjawab boleh asalkan di gambarnya ada objek manusianya. Hmm, agak bingung kenapa sih. Mungkin ada hal-hal mistis tapi ya gue cuek ajalah. Berikut beberapa koleksi yang ada di dalam Gedung Joang ’45:

DSC02360

DSC02361*Perlengkapan Tentara Pelajar TRIP*

DSC02364*Tandu Jenderal Soedirman, entahlah ini asli atau enggak*

DSC02368*Mobil RI1*

DSC02369*Mobil RI2*

Karena tak banyak yang bisa dilihat, kami hanya sebentar saja di sana. Kami pun menuju ke Planetarium. Sayangnya tiketnya sudah habis. Sedangkan untuk pertunjukan terakhir, antriannya sudah panjang sekali. Akhirnya kami putuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum melanjutkan perjalanan. Selesai makan, mampir sebentar ke Galeri Cipta 2 TIM untuk melihat pameran Jakarta Biennale #14. Kemudian menuju Museum Sumpah Pemuda di Jalan Kramat Raya No.106. Ternyata museumnya sedang direnovasi dan ditutup untuk umum. Rencananya museum akan dibuka kembali pada awal tahun 2012.

DSC02386

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, akhirnya kami putuskan untuk menyelesaikan perjalanan dari museum ke museum di seputaran Jakarta Pusat. Walau badan lelah tapi perasaan kami senang sekali. Banyak ilmu yang kami dapatkan dari perjalanan kami kali ini. Berikutnya kami akan mencoba melakukan tur museum lagi. Kami memilih Kawasan Kota Tua untuk tujuan berikutnya. Semoga akan segera terlaksana. Amin!

NB: Foto Selengkapnya di sini.

5 thoughts on “Museum Nasional – Museum Joang ’45

  1. Pingback: Jelajah Taman Kota Pertama « Catatan Perjalanan Penggila Buku

  2. Pingback: Sumpah Pemuda – Selayaknya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s