Monumen Nasional

24 Desember 2011

Setiap manusia mempunyai impian. Mereka berupaya untuk menjadikannya sebuah kenyataan. Begitu juga dengan gue dan sahabat gue, Farah. Impian kami berdua memang beda tetapi bisa dilakukan bersama dalam mewujudkannya. Impian Farah adalah ingin mengunjungi 27 museum sebelum usianya 27 tahun *tepatnya bulan September 2012*.

Ada tiga impian gue yang ingin diwujudkan sebelum pergantian tahun. Salah satunya adalah naik lift ke pelataran puncak Monumen Nasional ( Monas ). Gue sudah hidup 26 tahun lebih di kota Jakarta tercinta ini. Bahkan gue bekerja selama dua setengah tahun di gedung yang terletak di seberang Monas. Masa’ sih gue belum pernah naik ke pelataran puncak Monas itu. Meneyyedihkan banget😦

Kebetulan, Farah juga belum pernah naik. Jadilah kami merencanakan untuk pergi bersama mewujudkan impian kami. Ditambah lagi kami akan mengunjungi beberapa museum di seputaran Monas yang terletak di Jakarta Pusat. Apa saja museum yang  kami kunjungi? Mari kita mulai perjalanannya..

 Monumen Nasional (Monas)

DSC02173

Gue dan Farah mengawali perjalanan kami dari Halte Trans Jakarta Pinang Ranti. Pukul setengah delapan pagi kami sudah sampai di Halte Transjakarta Monas di Jalan Medan Merdeka Barat. Rencana awalnya adalah kami akan mengunjungi Museum Nasional terlebih dahulu sebelum ke Monas. Tapi karena Museum Nasional baru buka pukul setengah sembilan. Sedangkan jam operasional Monas ini adalah pukul 8 pagi hingga 3 sore. Maka kami memutuskan untuk ke Monas terlebih dahulu. Yang pertama kami lakukan adalah mencari pintu masuk. Maka bertanyalah kami dengan seseorang di Pos Polisi dekat halte.

Seseorang itu *gue enggak bilang dia polisi yah, hehe* menuntun kami ke  bagian belakang Pos Polisi. Dengan embel-embel “bukannya mau ngajarin yang nggak baik”, kami disuruh masuk melalui celah pagar yang tiangnya sudah dibengkokkan. Gue sih tadinya mau saja, yah daripada jauh muternya supaya bisa masuk Monas. Tapi setelah gue lihat gelengan kepala Farah *dan raut muka yang kayak pengen ngegampar seseorang itu*, akhirnya kami memutuskan untuk lewat pintu masuk yang sesungguhnya. Kami memilih pintu yang berada di tikungan antara Jalan Medan Merdeka Barat dan Medan Merdeka Selatan.

Tanpa banyak buang waktu kami menuju pintu masuk ke Tugu Monas. Setelah tanya sana-sini kami menemukan pintu masuknya yang berada di sebelah barat. Patokannya adalah patung Pangeran Diponegoro yang sedang berkuda. Dari situ, kami turun ke bawah lalu melalui lorong sebelum menemukan loket tiket masuk. Harga tiket masuk untuk anak-anak/pelajar/mahasiswa sebesar Rp.1000 sedangkan umum/dewasa sebesar Rp.2500. Tiket ini belum termasuk tiket untuk naik ke pelataran puncak Monas. Loket tiketnya pun berbeda, untuk tiket pelataran puncak Monas berada di pelataran dak Monas.

Sebelum naik ke pelataran dak, kita akan menemukan Museum Sejarah Nasional yang berisi diorama-diorama perjuangan. Tapi karena Farah sepertinya tak sabar ingin naik ke atas, jadi kami lewati saja *yang pada akhirnya Farah pun menyesal, buru-buru ajah sik*. Ada hal menarik yang gue lihat sebelum sampai pelataran dak Monas. Pertama ada mesin daur ulang sampah botol dan kaleng. Baru pertama kali lihat dan mudah-mudahan ke depannya bisa melihat mesin ini ada di mana-mana. Semoga bisa menjadi salah satu pemecahan persoalan sampah di Jakarta.

DSC02177

Kedua, ada alat/mesin yang berguna untuk memfasilitasi orang yang menggunakan kursi roda. Ini bagus sekali dan mesti disediakan banyak tempat umum. Sehingga semakin banyak tempat yang bisa dikunjungi orang yang menggunakan kursi roda tanpa merasa kesulitan.

DSC02179

Sampai di pelataran dak, kami membeli tiket lagi untuk naik lift ke pelataran puncak Monas. Harga tiket  untuk anak-anak/pelajar/mahasiswa sebesar Rp.3500 sedangkan umum/dewasa sebesar Rp.7500. Liftnya hanya satu dan maksimal mengangkut 11 penumpang. Jika anda berkunjung pada akhir pekan dan tidak mau antri panjang, datanglah sepagi mungkin seperti kami.  Karena kalau di atas pukul sembilan, antrian sudah mengular sangat panjang. Sesampainya di pelataran puncak Monas, kami disambut angin yang berhembus. Kabut tipis menyelimuti langit Jakarta saat itu tapi tak mengurangi indahnya pemandangan kota. Berikut pemandangan seputaran Monas dari berbagai arah:

DSC02187

DSC02188

DSC02191

DSC02193

Kami juga mencoba teropong yang ada di sana. Biayanya Rp.2000 yang akan ditukarkan koin untuk mengoperasikan teropong. Sayangnya pemandangannya agak buram. Entah karena memang langit sedang berkabut atau lensanya yang sudah kotor.

DSC02203

DSC02209

Lima belas menit kami ada di pelataran puncak Monas. Kemudian kami turun menggunakan lift menuju pelataran cawan Monas. Di sana juga saya menyempatkan foto kawasan di sekitar Monas.

DSC02214

DSC02216

DSC02218

DSC02221

Kemudian, di setiap sudut pagar Tugu Monas ada relief yang menggambarkan Indonesia. Setelah foto, kami pun keluar dari Tugu Monas menuju Museum Nasional di Jalan Merdeka Barat….

DSC02224

DSC02228

DSC02229

NB: Foto Selengkapnya di sini.

7 thoughts on “Monumen Nasional

  1. Pingback: Sea World Indonesia « Catatan Perjalanan Penggila Buku

  2. Pingback: Perkemahan Malam Tahun Baru ‘”Pulau Malinjo” (bag. 1) « Catatan Perjalanan Penggila Buku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s