Sukarare-Sade-Kute (Lombok Hari Terakhir)

13 Desember 2011

*lihat jam di bebeb* Oh, masih jam lima lewat.

Tapi kok ada sinar matahari mengintip lewat celah jendela yah?

Arrrggghhhh…ternyata jam si bebeb masih memakai Waktu Indonesia Barat *ya, gue tahu gue cukup dodol. Sudah hari ketiga, belum juga menyesuaikan jam dengan waktu setempat*. Yang artinya kalau waktu Lombok (Waktu Indonesia Tengah) ternyata sudah jam enam lewat. Yaaaahhhh..kelewatan deh sunrise-nya. Higs.. tapi enggak peduli, gue keluar dari kamar langsung jepret Pantai Senggigi pagi ini.

DSC02101

Setelah berkemas untuk pulang *tentunya dengan perasaaan tidak rela*, gue dijemput Pak Pandi untuk menuju Pantai Kute sebelum ke Bandara. Ya, Pulau Lombok juga punya pantai Kuta seperti di Bali. Bahkan katanya Kuta Lombok lebih bagus daripada yang di Bali. Walaupun begitu, pengunjungnya masih sepi. Wah, jadi tidak sabar ingin melihat keindahannya.

Sebelum ke Kute, Pak Pandi mengajak gue untuk mengunjungi beberapa tempat terlebih dulu. Pertama, Desa Sukarare. Desa yang terletak di Cakranegara, Lombok Tengah, merupakan penghasil tenun yang terkenal di Lombok. Ada dua jenis tenun yang gue tahu, Tenun Songket dan Tenun Ikat. Untuk tenun songket, yang menenun haruslah Perempuan. Karena menurut keyakinan mereka, jika pria yang mengerjakannya maka kelak dia tak akan bisa memiliki keturunan. Dan, untuk gadis yang tak bisa menenun belum boleh menikah lho.

DSC02105

Namun, khusus untuk tenun ikat, lelaki boleh mengerjakannya. Hasil tenun songket dan tenun ikat itu bisa berupa bahan untuk membuat pakaian, taplak meja, sajadah, sarung, dan hasil kerajinan lainnya. Proses pengerjaan tenun songket bisa memakan waktu mingguan hingga bulanan. . Harganya mulai dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Lama pengerjaan dan harga tergantung dari ukuran, keragaman corak, dan berapa banyak jenis benang yang dipakai. Biasanya gambar yang sering pada kerajinan tenun tersebut berupa gambar rumah adat Suku Sasak dan juga Cicak (hewan pembawa keberuntungan).

DSC02109

Setelah melihat dan membeli beberapa hasil kerajinan tenun, Pak Pandi mengantarkan gue ke Desa Sade, Pujut, Lombok Tengah. Desa ini merupakan desa asli berumur ratusan tahun dari suku asli setempat, Suku Sasak. Penduduk Desa Sade masih bersaudara dekat satu dengan lainnya. Seringnya mereka menikah dengan sesama penduduk Desa Sade lainnya untuk menjaga tradisi dan keturunan. Namun, tak ada sanksi buat mereka yang menikah dengan penduduk luar Desa Sade.

Penduduk Desa Sade sehari-harinya bekerja di sawah. Hasil tani biasanya untuk diginakan sendiri. Tapi jika ada kelebihan, mereka akan menjualnya ke desa sekitar.  Sedangkan untuk wanita setelah membantu suami di sawah, mereka menenun menenun. Alat menenun yang mereka pergunakan lebih sederhana dari apa yang saya lihat di Desa Sukarare. Dijadikannya Desa Sade tempat kunjungan wisata menambah penghasilan mereka. Baik dari penjualan hasil tenun dan kerajinan, juga dari biaya guide mengelilingi Desa Sade *seikhlasnya lho mau ngasih berapa*.

DSC02123

Rumah di desa ini sangat sederhana. Biasanya terdiri dari satu hingga dua ruangan saja tiap rumahnya. Bale Tani memiliki dua ruangan. Bagian depan untuk tidur. Sedangkan bagian belakang yang letaknya lebih tinggi untuk dapur dan perempuan yang melahirkan. Atap rumahnya dari ilalang yang dikeringkan kemudian disusun rapat. Hebatnya atap ini tak akan bocor kalau hujan dan adem ketika panas terik. Atapnya lumayan tinggi, kurang lebih 3 meter dari tanah. Tapi pintunya hanya setinggi kurang dari 1.5meter. Katanya sih bukan penduduknya pendek-pendek tapi itu supaya mereka menunduk saat masuk rumah. Pose menunduk itu diartikan dengan memberikan hormat seperti halnya penduduk Jepang. Kemudian dindingnya ada yang terbuat dari anyaman bambu dan juga campuran dari semen dan tahi kerbau.*Kalau ada dinding yang bolong, tinggal plukkkk, ditambal pake tahi kerbau🙂 *

Sedangkan lantainya terbuat dari tanah liat. Tahi kerbau juga digunakan untuk mengepel lantai rumah seminggu sekali. Setelah dipel dengan tahi kerbau, kelak debu bisa hilang dan nyamuk pun tak ada *banyak yah gunanya tahi kerbau, hehe*. Sebenarnya, menarik sekali penggunaan tahi kerbau ini. Penduduk Desa Sade yang beragama islam seharusnya mengetahui kalau tahi merupakan najis. Sehingga sejatinya rumah mereka tak pernah dalam keadaan suci. Namun, jangan salah, mereka tetap melaksanakan ibadah lho. *Hayyo, siapa yang mau melakukan riset atas fenomena ini? Nanti bagi-bagi yah kalau sudah ada hasil risetnya*.

DSC02122

DSC02125

DSC02115

Nah rumah yang ada di foto atas ini luasnya cuma sekitar 2*2 meter. Katanya rumah ini dipergunakan bagi pasangan yang baru menikah. Nah, dimulai dengan bangunan yang kecil ini, mereka belajar bagaimana membangun rumah tangga dari awal.

Setelah berkeliling di Desa Sade, saatnya saya mengunjungi Pantai Kute Lombok. Menuju pantai ini, kita melewati Bandara Internasional Lombok. Dua puluh menit kemudian sampailah saya di Pantai Kute. Pak Pandi sengaja memilih lokasi pantai yang katanya sih pernah dipakai Rhoma Irama untuk keperluan syuting film *film apaan yak?*. Benar saja, pantai ini sepi sekali. Hanya saya lihat beberapa wisatawan asing yang melintas. Karena pantai ini langsung menghadap Samudera Hindia, ombaknya cukup besar dibandingkan pantai lainnya di Pulau Lombok. Oleh karena itu, banyak sekali wisatawan asing yang memanfaatkannya untuk berselancar. Pasir di pantai ini sebesar biji merica. Kalau kita gali lebih dalam, ukuran pasirnya akan lebih besar lagi.

DSC02128

DSC02146

Pak Pandi bilang, di Pantai Kute ini tiap tahunnya diselenggarakan upacara Bau Nyale. Penduduk akan mengambil cacing laut yang hanya muncul di pantai ini setahun sekali. Konon ceritanya ada seorang putri kerajaan yang dilamar oleh tiga pria. Putri ini tak bisa menentukan pilihan karena takut akan ada peperangan antara ketiganya. Akhirnya sang putri pun menceburkan dirinya ke laut. Nah, cacing laut inilah yang dipercaya merupakam jelmaan sang putri *deuh , kasihan ya putrinya berubah jadi cacing, udah gitu banyak lagi*. Cacing laut ini dikonsumsi baik dimasak terlebih dahulu atau dimakan mentah-mentah*buat obat katanya sih*.

*source: blog.khatulistiwa.info*

Tak terasa hari sudah sore dan gue harus segera ke Bandara. Rasanya masih ingin berlama-lama di Pulau Lombok yang indah ini. Keramahan penduduk, udara segar, lingkungan yang bersih dan sekali lagi pemandangan alam yang menakjubkan pasti akan gue rindukan selalu. Gue berjanji, suatu hari nanti akan kembali ke Pulau Lombok. Namun, sekarang gue harus kembali ke Jakarta dan kembali menjalani rutinitas pekerjaan. Tentunya kali ini dengan perasaaan dan pikiran yang segar.

Pulau Lombok, kau telah membuatku jatuh cinta..

NB: Foto Selengkapnya di sini.

4 thoughts on “Sukarare-Sade-Kute (Lombok Hari Terakhir)

  1. Sebenernya Pantai Kute di Lombok itu ombaknya tinggi, Rhe. Makanya pantainyanya tidak terlalu ramai dan biasanya hanya dipakai wisman untuk berselancar. begituuuu…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s