Mengenang Masa Kecil di Museum Layang-layang

11 Maret 2012

Kuambil buluh sebatang

Kupotong sama panjang

Kuraut dan kutimbang dengan benang

Kujadikan layang-layang

Bermain berlari

Bermain layang-layang

Berlari kubawa ke tanah lapang

Hatiku riang dan senang

Saat gue kecil, ada musim yang seru untuk ditunggu yaitu musim layangan. Musim ini dimulai ketika angin mulai berhembus cukup kencang tiap harinya. Jujur saja, gue bukanlah anak yang jago bermain layang-layang. Gue malah lebih suka mengejar layang-layang putus. Layang-layang yang kalah dari pertempuran satu lawan satu dengan layang-layang lain. Tidak lupa membawa sebilah bambu, siapa tahu layang-layang itu menyangkut di pepohonan atau kabel listrik. Seiring bertambahnya usia, gue pun meninggalkan permainan ini. Begitu juga mungkin dengan yang lain. Karena jarang sekali sekarang melihat pertarungan layang-layang di angkasa Jakarta. Toko langganan layang-layang yang dulu suka gue kunjungi sekarang pun berubah menjadi usaha fotokopi.

 DSCN1484

Kemudian, gue diingatkan akan layang-layang oleh undangan mas Yayok. Beliau mengundang gue untuk hadir di acara KPSI (komunitas Pecinta Seni dan Sastra Indonesia) yang diselenggarakan tiap bulannya di Museum Layang-layang. Namun, ada saja halangan untuk menghadiri acara tersebut. Karena ketertarikan gue akan museum tersebut tak tertahankan lagi, gue dan Ayu pun menyempatkan waktu untuk berkunjung ke Museum Layang-layang. Museum ini terletak di Jl. H. Kamang No.38, Pondok Labu Jakarta. Dari arah TB Simatupang belok ke Jl Raya Fatmawati sebelah Rumah Sakit Fatmawati lalu terus hingga bertemu Jl. H Kamang di kanan jalan. Di sini sudah ada penanda arah lokasi museum. Sehingga memudahkan anda untuk mencapai museum ini tanpa takut tersesat.

DSCN1440

Untuk masuk Museum Layang-Layang dikenakan biaya sebesar sepuluh ribu rupiah. Ini termasuk pemutaran video, touring museum dan membuat layang-layang paperfold. Pertama, kita memang diajak untuk menyaksikan video mengenai sejarah layang-layang dan kegiatan festival layang-layang baik di dalam ataupun di luar negeri. Kemudian setelah itu kita diajak untuk melihat koleksi layang-layang. Di sini kita bisa melihat berbagai jenis dan ukuran layang-layang. Ada yang sebesar dua ruas jari tangan dewasa hingga yang terbesar di Indonesia berukuran lebih dari sepanjang 25 meter. Bahan-bahannya juga bermacam-macam. Ada yang terbuat dari kertas dan ada juga dari daun. Di tiap daerah di Indonesia memiliki khas layang-layang dengan keunikannya masing-masing. Di musem ini juga terdapat koleksi layang-layang dari mancanegara seperti Malaysia, China dan lainnya.

DSCN1595

DSCN1469

DSCN1616

Kemudian setelah melihat koleksi layang-layang, biasanya anak-anak akan diajak untuk membuat layang-layang paperfold. Mereka akan merakit, menghias dan mewarnai layang-layang dengan alat dan bahan yang telah disediakan pihak museum. Tak hanya membuat layang-layang, kita juga bisa melakukan kegiatan lain seperti membuat keramik dan membatik. Juga melukis layang-layang, payung, keramik, kaus dan wayang. Kita boleh membawa pulang apa yang telah kita buat. Tentunya kegiatan tambahan ini membutuhkan biaya tambahan untuk penyediaan alat dan bahan serta jasa pendampingan.

DSCN1478

Museum Layang-layang ini dulunya merupakan rumah tempat tinggal Ibu Endang W. Puspoyo. Kemudian pada tanggal 21 maret 2003, beberapa bagian dari rumahnya dialihfungsikan menjadi museum. Ibu Endang selain mengoleksi layang-layang juga mengoleksi berbagai macam benda kebudayaan Indonesia. Mulai dari gamelan jawa, kereta kuda khas keraton, furnitur khas Jawa, guci-guci berbagai ukuran hingga berbagai jenis kain batik dari seluruh pelosok negeri ini. Kita juga bisa membeli berbagai macam gerabah yang dibuat di museum ini seperti mangkuk, piring, pajangan dan lain-lain.

DSCN1632

DSCN1634

DSCN1646

Pepohonan yang rindang membuat museum ini menjadi adem dan nyaman untuk dikunjungi. Luasnya museum ini juga bisa dijadikan tempat menyelenggarakan acara dengan kapasitas ratusan pengunjung. Mari ajak anak, adik atau keponakan untuk bermain ke museum ini. Mengenal permainan layang-layang yang mungkin sekarang ini sudah kalah pamor dengan game online. Ditambah lagi semakin jarang tanah lapang utuk bermain layang-layang. Jangan sampai nanti generasi penerus kita tak mengenal lagi permainan layang-layang. Ini sudah terlihat indikasinya ketika kemarin menyaksikan perlombaaan menyanyi di museum ini. Salah satu pesertanya sangat hapal lagu mancanegara tapi tidak hapal dengan lagu layang-layang. Miris sekali melihat peristiwa tersebut. Namun jangan khawatir, belum terlambat untuk mengenalkan layang-layang pada generasi penerus.  Yuk Sahabat, kita bermain layang-layang!

DSCN1623

DSCN1641

NB: Untuk foto selengkapnya bisa dilihat di sini.

8 thoughts on “Mengenang Masa Kecil di Museum Layang-layang

  1. @Bruziati: Iya, itu rumah beserta isinya kalau dinilai dengan uang bisa triliunan rupiah kali ya. *takjub*

    @Lompatlompat: Hayyuk, maen ke sana lagi. Pengen deh bikinin acara Goodreads Indonesia di sana. Enak banget tempatnya, luas dan adem.

  2. @Farah: Mari, kak.kita jadwalkan ke sini.. setelah itu kita makan es duren? deketan kan? hehehe..

    @Citra Rahman: Iya, SALUTE banget buat Ibu Endang.

    @Owlmilove: Ayo, kak ke sini, nanti kau panjatlah pohon-pohon di sana. :p

  3. Harun ada lagi Museum Pribadi di Kemang Timur, dgn benda-benda seni kelas dunia yg di dapat dr balai lelang internasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s